SEC Buka Jalan bagi Tokenisasi Saham AS, Bittime Cermati Perkembangan Pasar Internasional
Internasional
21 jam yang lalu

SEC Buka Jalan bagi Tokenisasi Saham AS, Bittime Cermati Perkembangan Pasar

Jakarta, katakabar.com - Bittime, Gerbang Indonesia Menuju Aset Global yang terdaftar dan diawasi OJK, mencermati perkembangan Tokenized US Stocks setelah SEC memberikan jalur regulasi sementara untuk perdagangan saham yang ditokenisasi. Seiring persiapan regulasi tokenisasi RWA di Indonesia, Bittime terus mengikuti perkembangan aset global sekaligus menghadirkan akses terhadap 34 Tokenized U.S. Stocks bagi pengguna Indonesia dengan mengedepankan kepatuhan, edukasi, dan pemahaman risiko.

Bitcoin Turun ke US$84.000, FLOQ: Pasar Masih Sensitif Pada Suku Bunga Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 26 September 2026 | 14:09 WIB

Bitcoin Turun ke US$84.000, FLOQ: Pasar Masih Sensitif Pada Suku Bunga

Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin (BTC) mengalami tekanan pada perdagangan di pekan keempat September 2026. BTC turun sekitar 2 persen, dan bergerak di kisaran US$84.000 setelah sebelumnya gagal menembus level US$87.000. Koreksi terjadi ketika imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun melonjak hingga 5,11 persen, level tertinggi sejak 2007.  Kenaikan yield obligasi AS menjadi salah satu perhatian utama pasar karena dapat meningkatkan daya tarik aset berpendapatan tetap sekaligus memperketat kondisi likuiditas bagi aset berisiko, termasuk aset kripto. Laporan data pasar terbaru yang FLOQ rangkum menunjukkan, BTC sempat menyentuh sekitar US$84.425 setelah mengalami penurunan 2,06 perse  dalam sehari. Di sisi teknikal, area US$83.520 menjadi salah satu level support yang diperhatikan pasar. Jika tekanan jual berlanjut dan level tersebut ditembus, BTC berpotensi menguji area US$81.000.  Yield Treasury Jadi Perhatian Pasar Lonjakan yield US Treasury terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi dan ekspektasi kebijakan moneter AS. Data pasar menunjukkan yield US Treasury 10 tahun naik sekitar 15 basis poin dalam 24 jam hingga mencapai 5,11 persen.  Kondisi tersebut membuat investor kembali memperhatikan hubungan antara kebijakan suku bunga, imbal hasil obligasi, dan aset berisiko. Ketika yield meningkat, sebagian investor dapat memilih instrumen berpendapatan tetap dengan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi sehingga tekanan terhadap aset berisiko seperti saham teknologi dan kripto dapat meningkat. Menurut CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai pergerakan Bitcoin saat ini perlu dilihat dalam konteks makroekonomi yang lebih luas, bukan hanya dari pergerakan harga BTC. “Koreksi Bitcoin ke area US$84.000 menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan pergerakan yield Treasury. Ketika yield 10 tahun menembus 5 persen, investor kembali melakukan penyesuaian terhadap tingkat risiko dan imbal hasil di berbagai kelas aset,” jelas Yudho. Kata Yudho, kenaikan yield tidak serta-merta mengubah fundamental Bitcoin dalam jangka panjang. Namun, dalam jangka pendek, kondisi tersebut dapat meningkatkan volatilitas karena investor melakukan rebalancing portofolio. “Hal yang perlu diperhatikan bukan hanya apakah Bitcoin turun hari ini, tetapi bagaimana pasar merespons setelah tekanan makro tersebut mereda. Selama permintaan struktural terhadap Bitcoin tetap ada, koreksi dapat menjadi bagian dari proses price discovery. Karena itu, investor perlu membedakan antara tekanan jangka pendek akibat kondisi makro dan perubahan fundamental aset,”lanjutnya. Arus ETF Bitcoin Masih Menunjukkan Permintaan Institusional Di tengah koreksi harga, minat terhadap produk investasi Bitcoin berbasis spot ETF di Amerika Serikat masih terlihat kuat. Pada 21 September 2026, ETF Bitcoin spot AS mencatat arus dana masuk bersih sekitar US$998,95 juta, menjadi salah satu arus masuk harian terbesar sejak Oktober 2025. BlackRock IBIT mencatat inflow sekitar US$381,37 juta, disusul ARKB sekitar US$289,12 juta dan FBTC sekitar US$238,84 juta.  Data tersebut menunjukkan bahwa koreksi harga belum sepenuhnya diikuti oleh pelemahan permintaan institusional. Bahkan, arus masuk ETF Bitcoin pada September masih mencatat nilai positif secara keseluruhan.  Bagi Yudho, kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam membaca arah pasar berikutnya. “Arus masuk ETF yang tetap besar menunjukkan bahwa di balik volatilitas harga, masih terdapat permintaan dari investor dengan horizon yang lebih panjang. Jadi, pasar saat ini menghadapi dua kekuatan sekaligus: tekanan jangka pendek dari kenaikan yield dan permintaan struktural yang masih terlihat dari produk ETF,” ulasnya. Level US$83.500 Jadi Perhatian Berikutnya Dari sisi teknikal, area US$87.000 masih menjadi resistance penting setelah BTC gagal mempertahankan momentum kenaikannya. Sementara itu, level sekitar US$83.500 menjadi area support yang perlu diperhatikan. Penembusan support tersebut dapat membuka ruang koreksi lebih lanjut menuju US$81.000.  Yudho menambahkan, volatilitas Bitcoin kemungkinan masih tinggi selama pasar global merespons perkembangan yield, inflasi, kebijakan bank sentral, dan kondisi geopolitik. “Untuk beberapa waktu ke depan, volatilitas kemungkinan masih menjadi bagian dari pasar. Investor sebaiknya tidak hanya terpaku pada satu level harga, tetapi juga memperhatikan likuiditas, arus ETF, kebijakan moneter, serta perkembangan ekonomi global sebagai satu kesatuan,” sebutnya.

Bittime Soroti Hasil FOMC September 2026 dan Dampaknya Pada Pasar Kripto Nasional
Nasional
Minggu, 20 September 2026 | 11:33 WIB

Bittime Soroti Hasil FOMC September 2026 dan Dampaknya Pada Pasar Kripto

Jalarta, katakabar.com - Bittime bahas hasil FOMC September 2026 dan pengaruhnya terhadap pergerakan pasar kripto serta sentimen investor. Dalam kondisi pasar yang dinamis, Bittime Futures menawarkan perdagangan futures aset kripto dengan pilihan posisi Long dan Short. Bittime Futures dapat menjadi salah satu pilihan bagi pengguna untuk menyesuaikan strategi perdagangan dengan kondisi pasar, dengan tetap memperhatikan penggunaan leverage, manajemen risiko, dan karakteristik perdagangan Futures. Bittime, Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang menghadirkan ekosistem 3-in-1 berupa Spot, Staking, dan Futures dalam satu platform yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mencermati perkembangan terbaru pergerakan perdagangan di pasar kripto serta peluang bagi investor melalui Bittime Futures. Hal ini menyusul hasil keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) Amerika Serikat pada September 2026.  Federal Reserve (The Fed) menaikkan target suku bunga federal funds sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00% dalam rapat FOMC pada 15 hingga 16 September 2026 lalu. Berdasarkan pernyataan resmi Federal Reserve, keputusan tersebut diambil ketika inflasi masih berada pada level tinggi, sementara aktivitas ekonomi AS terus berkembang dengan solid.  FOMC dan Pengaruhnya terhadap Pasar Kripto Kebijakan suku bunga The Fed menjadi salah satu faktor makroekonomi yang diperhatikan pelaku pasar kripto. Perubahan suku bunga dapat memengaruhi biaya pendanaan, kondisi likuiditas, serta minat investor terhadap aset berisiko. Suku bunga yang lebih tinggi dapat membuat kondisi keuangan lebih ketat dan memengaruhi minat terhadap aset seperti kripto, sementara ekspektasi kebijakan yang lebih longgar dapat meningkatkan risk appetite. Selain keputusan suku bunga, pasar juga mencermati arah kebijakan dan proyeksi The Fed. Berdasarkan proyeksi ekonomi FOMC September 2026, median proyeksi federal funds rate berada di 4,1% pada akhir 2026, sementara proyeksi inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) berada di 3,7%. Perubahan ekspektasi menjadi penting karena pasar dapat merespons bukan hanya keputusan FOMC, tetapi juga bagaimana keputusan tersebut dibandingkan dengan ekspektasi sebelumnya. Reuters melaporkan bahwa kenaikan suku bunga 25 basis poin telah banyak diantisipasi pasar, sehingga perhatian investor beralih pada sinyal kebijakan berikutnya dan proyeksi inflasi The Fed. Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, menuturkan perkembangan kebijakan moneter dapat memengaruhi sentimen pasar karena pelaku pasar tidak hanya mencermati keputusan suku bunga saat ini, tetapi juga arah kebijakan berikutnya.  “Hasil FOMC September menunjukkan bahwa perkembangan inflasi masih menjadi salah satu pertimbangan penting dalam arah kebijakan moneter The Fed. Bagi pasar kripto, keputusan suku bunga dan ekspektasi terhadap kebijakan berikutnya dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen serta volatilitas pasar,” ujar Ryan.   Bitcoin dan Ethereum Bergerak Menguat Berdasarkan data dari CoinMarketCap pada 18 September 2026 pagi, Bitcoin berada di kisaran harga US$76.698, menguat 0,42% dalam 24 jam terakhir, tetapi masih melemah 0,40% dalam sepekan. Sementara, pada periode yang sama, Ethereum berada di kisaran US$2.456, menguat 1,24% dalam 24 jam dan 0,15% dalam sepekan. Pergerakan tersebut menunjukkan pasar kripto tetap dinamis setelah keputusan FOMC. Selain suku bunga, pelaku pasar dapat mencermati data inflasi, kondisi ekonomi, likuiditas, serta komunikasi The Fed mengenai arah kebijakan berikutnya. “Pergerakan harga aset kripto tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor. Karena itu, memahami perkembangan ekonomi makro dan potensi volatilitas menjadi bagian penting dalam aktivitas perdagangan aset digital,” ucap Ryan.  Bittime Futures di Tengah Dinamika Pasar Di tengah kondisi pasar yang dinamis, Bittime Futures menyediakan akses terhadap perdagangan futures aset kripto yang memungkinkan pengguna mengambil posisi Long maupun Short. Fitur tersebut dapat menjadi salah satu pilihan bagi pengguna dalam mengelola posisi sesuai dengan strategi dan pandangan terhadap pergerakan pasar yang memungkinkan pengguna mengambil posisi Long maupun Short.  Pengguna dapat menyesuaikan strategi perdagangan dengan kondisi pasar dan pandangan masing-masing, dengan tetap mempertimbangkan risiko yang melekat pada perdagangan Futures. Namun, perdagangan Futures memiliki risiko yang lebih tinggi karena penggunaan leverage dapat memperbesar potensi keuntungan sekaligus potensi kerugian. Pengguna perlu memahami mekanisme Futures dan menerapkan manajemen risiko sesuai dengan kemampuan masing-masing. “Setiap produk memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda. Bagi pengguna yang mempertimbangkan perdagangan Futures, penting untuk memahami mekanisme Long dan Short, penggunaan leverage, serta risiko yang menyertainya,” sebut Ryan.

Bittime Soroti Dampak Keputusan FOMC terhadap Pasar Kripto Internasional
Internasional
Jumat, 18 September 2026 | 10:31 WIB

Bittime Soroti Dampak Keputusan FOMC terhadap Pasar Kripto

Jakarta, katakabar.com - Bittime menyoroti dampak keputusan FOMC terhadap pergerakan Bitcoin, Ethereum, dan pasar kripto, termasuk pengaruh suku bunga, ekspektasi kebijakan moneter, serta sentimen pasar. Di tengah potensi perubahan volatilitas setelah keputusan The Fed, Bittime Futures menyediakan akses perdagangan futures dengan posisi long maupun short untuk menghadapi berbagai kondisi pasar. Artikel ini juga membahas data long/short dan open interest sebagai gambaran positioning pelaku pasar serta risiko yang perlu diperhatikan dalam futures trading. Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menilai keputusan FOMC dapat memengaruhi pergerakan aset kripto seperti Bitcoin dan Ethereum melalui perubahan suku bunga, ekspektasi kebijakan moneter, likuiditas, dan sentimen pasar.  Tetapi, dampaknya tidak selalu berarti harga kripto akan naik atau turun secara langsung. Respons pasar juga bergantung pada apakah keputusan The Fed sesuai dengan ekspektasi, serta bagaimana pelaku pasar menilai arah kebijakan moneter berikutnya. Berdasarkan jadwal resmi Federal Reserve, FOMC menggelar pertemuan pada 15–16 September 2026 waktu AS. Selain keputusan suku bunga, pasar juga akan mencermati pernyataan dan proyeksi ekonomi The Fed untuk melihat arah kebijakan berikutnya. Mengapa FOMC Dapat Memengaruhi Aset Kripto? Pengaruh FOMC terhadap aset kripto tidak hanya berasal dari keputusan suku bunga, tetapi juga dari perubahan ekspektasi pasar. Data ekonomi seperti inflasi menjadi salah satu indikator yang diperhatikan karena dapat mengubah perkiraan terhadap arah kebijakan The Fed. Hal tersebut terlihat pada Juni 2026. Berdasarkan laporan CoinDesk pada Juli 2026 data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan membuat probabilitas kenaikan suku bunga The Fed turun dari 43% menjadi 13%. Pada saat yang sama, Bitcoin naik sekitar 3,6% ke sekitar US$64.800, sedangkan Ether naik sekitar 5,3%.  Menjelang FOMC September, perhatian pasar kembali tertuju pada perkembangan inflasi. Reuters melaporkan bahwa CPI AS pada Agustus naik 0,4% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan. Perkembangan tersebut mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan September. “FOMC menjadi salah satu faktor makroekonomi yang penting untuk diperhatikan karena keputusan dan komunikasi The Fed dapat memengaruhi ekspektasi pasar. Namun, dampaknya terhadap aset kripto tetap perlu dilihat bersama faktor ekonomi dan kondisi pasar lainnya,” kata Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn.  Respons Bitcoin dan Ethereum Tidak Selalu Sama Pergerakan Bitcoin dan Ethereum setelah FOMC dapat bergantung pada bagaimana keputusan The Fed dibandingkan dengan ekspektasi yang telah terbentuk. Keputusan yang sesuai dengan perkiraan pasar dapat menghasilkan respons yang berbeda dibandingkan kebijakan yang lebih hawkish atau dovish dari perkiraan. Selain itu, dampak kebijakan moneter dapat tercermin sebelum keputusan FOMC diumumkan karena pelaku pasar terus menyesuaikan posisi berdasarkan data ekonomi terbaru. “Yang perlu diperhatikan bukan hanya keputusan suku bunganya, tetapi juga bagaimana keputusan tersebut dibandingkan dengan ekspektasi pasar. Pernyataan dan proyeksi The Fed juga dapat menjadi perhatian karena memberikan gambaran mengenai arah kebijakan berikutnya,” ulas Ryan. Meski demikian, FOMC bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi harga aset kripto. Kondisi ekonomi AS, pergerakan dolar, likuiditas global, arus dana, sentimen pasar, serta perkembangan di industri kripto juga dapat memengaruhi pergerakan Bitcoin, Ethereum, dan aset lainnya. Data Derivatif Memberikan Gambaran Sentimen Pasar Selain pergerakan harga, data pasar derivatif seperti long/short positions dan open interest dapat memberikan gambaran tambahan mengenai positioning pelaku pasar di tengah ketidakpastian. Berdasarkan data pasar global (Binance/USA) yang diamati pada 15 September 2026 sore, sebanyak 73,76% investor mengambil posisi long pada kontrak ETHUSDT perpetual, sementara 26,24% berada pada posisi short. Long/Short Ratio tercatat sebesar 2,81. Sementara, pada kontrak BTCUSDT perpetual, sebanyak 58,88% akun secara global berada pada posisi long, sedangkan 41,12% mengambil posisi short. Rasio long/short tercatat 1,43. Posisi long dan short menunjukkan eksposur pelaku pasar terhadap pergerakan harga, sedangkan open interest menunjukkan jumlah kontrak derivatif yang masih terbuka. Data tersebut dapat digunakan untuk memahami perubahan positioning sebelum dan setelah agenda ekonomi penting seperti FOMC. Namun, data positioning bukan merupakan indikator pasti mengenai arah harga. Posisi dapat berubah dengan cepat ketika volatilitas meningkat setelah rilis data ekonomi atau keputusan bank sentral. “Data long, short, dan open interest dapat memberikan konteks mengenai sentimen serta aktivitas di pasar derivatif. Tetapi data tersebut tidak dapat dianggap sebagai kepastian arah harga karena positioning dapat berubah dengan cepat ketika kondisi pasar berubah,” terang Ryan. Di tengah kondisi pasar yang dapat berubah setelah agenda ekonomi penting, Bittime Futures menyediakan akses terhadap perdagangan futures aset kripto yang memungkinkan pengguna mengelola posisi long maupun short. Fleksibilitas tersebut dapat digunakan untuk menghadapi berbagai kondisi pasar, tetapi futures trading juga memiliki risiko, termasuk risiko dari pergerakan harga dan penggunaan leverage. Pengguna perlu memahami karakteristik produk dan risikonya sebelum melakukan transaksi. Pada akhirnya, FOMC dapat menjadi salah satu katalis bagi pasar kripto, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan pergerakan harga. Memahami kebijakan The Fed, data ekonomi AS, ekspektasi pasar, dan kondisi pasar secara keseluruhan tetap penting untuk melihat dinamika aset kripto secara lebih menyeluruh.

Peringatan Bos AI Guncang Pasar, Investor Mulai Waspadai Saham Teknologi Teknologi
Teknologi
Rabu, 16 September 2026 | 09:34 WIB

Peringatan Bos AI Guncang Pasar, Investor Mulai Waspadai Saham Teknologi

Jakarta, katakabar.com - Perkembangan industri kecerdasan buatan (AI) kembali menjadi perhatian pasar setelah sejumlah pemimpin perusahaan AI terbesar di dunia mulai menyerukan agar laju pengembangan teknologi tersebut tidak dilakukan tanpa batas. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran investor dan menekan saham-saham yang selama beberapa tahun terakhir menjadi pendorong utama reli sektor teknologi. CEO Anthropic Dario Amodei menjadi salah satu tokoh yang paling vokal. Ia menyerukan agar industri AI memperlambat pengembangan teknologi frontier untuk memberikan lebih banyak waktu bagi perusahaan, pemerintah, dan peneliti untuk memastikan sistem AI dapat dikembangkan dengan lebih aman. Seruan tersebut kemudian mendapat dukungan dari CEO OpenAI, Sam Altman serta Elon Musk. Situasi ini menjadi perhatian pasar karena Anthropic dan OpenAI merupakan bagian penting dari ekosistem AI yang selama ini mendorong investasi besar-besaran pada chip, pusat data, cloud computing, dan infrastruktur teknologi. Kekhawatiran Terhadap Perkembangan AI Dalam pernyataannya, Amodei memperingatkan bahwa kemampuan model AI berkembang sangat cepat dan dapat menimbulkan risiko yang semakin sulit dikendalikan. Ia bahkan memperingatkan bahwa sistem AI dapat memperoleh kemampuan untuk mengambil alih aktivitas internet dalam waktu relatif singkat apabila perkembangannya tidak dikelola dengan baik. Anthropic kemudian mendorong pendekatan yang lebih terkoordinasi untuk mengembangkan teknologi AI. Salah satu gagasannya adalah meningkatkan pengawasan independen dan evaluasi keamanan terhadap model AI sebelum teknologi tersebut dikembangkan lebih jauh. Sam Altman juga menyatakan dukungan terhadap gagasan tersebut. CEO OpenAI itu mengatakan bahwa pengembangan AI perlu dilakukan dengan ritme yang lebih terukur dan menyambut ide penggunaan evaluator independen yang memiliki akses cukup untuk menilai keamanan model. Pernyataan dari dua perusahaan AI terkemuka ini menjadi penting karena selama beberapa tahun terakhir industri teknologi justru berlomba meningkatkan kemampuan model AI secepat mungkin. Saham AI Mulai Tertekan Kekhawatiran mengenai kemungkinan perlambatan perkembangan AI langsung berdampak terhadap sentimen pasar. Saham perusahaan yang memiliki keterkaitan erat dengan AI dan infrastruktur pusat data mengalami tekanan di sejumlah pasar global. Di Asia, SoftBank menjadi salah satu saham yang mengalami penurunan tajam dengan koreksi sekitar 13,2%. Saham perusahaan semikonduktor seperti Kioxia dan SK Hynix juga ikut tertekan. Di Eropa, ASML turun sekitar 4%, sementara saham teknologi global secara umum mengalami pelemahan. Tekanan tersebut menunjukkan bahwa investor tidak hanya memperhatikan perusahaan pembuat model AI, tetapi juga seluruh rantai pasok yang mendapatkan manfaat dari meningkatnya investasi AI. Selama ini, perkembangan AI telah menjadi salah satu alasan perusahaan teknologi dan cloud meningkatkan belanja modal untuk membeli chip, membangun pusat data, serta memperluas kapasitas komputasi. Jika perkembangan AI melambat, investor mulai mempertanyakan apakah tingkat investasi tersebut masih dapat menghasilkan keuntungan sesuai ekspektasi. Ancaman bagi “AI Trade” Fenomena tersebut berpotensi mengubah apa yang selama ini dikenal sebagai AI trade di pasar saham. Investor sebelumnya banyak membeli saham perusahaan yang dianggap akan menjadi penerima manfaat dari ledakan AI. Nvidia menjadi salah satu contoh utama karena chip GPU perusahaan digunakan secara luas untuk menjalankan dan melatih model AI. Perusahaan cloud, pusat data, produsen memori, hingga pemasok energi juga ikut mendapatkan sentimen positif dari meningkatnya kebutuhan komputasi. Namun, apabila pengembangan AI mulai diperlambat karena alasan keamanan, regulasi, atau keterbatasan infrastruktur, asumsi pertumbuhan yang sangat agresif dapat kembali dipertanyakan. Investor kini perlu melihat apakah investasi AI yang sangat besar benar-benar dapat menghasilkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang sebanding. Kekhawatiran tersebut semakin relevan karena pembangunan infrastruktur AI membutuhkan modal dalam jumlah sangat besar. Bukan Berarti AI Akan Berhenti Meski demikian, seruan untuk memperlambat pengembangan AI tidak berarti industri tersebut akan berhenti berkembang. Justru, pendekatan yang lebih hati-hati dapat menjadi upaya untuk membuat pertumbuhan AI lebih berkelanjutan dalam jangka panjang. Anthropic sendiri masih memiliki prospek bisnis yang kuat dan tengah mempersiapkan rencana penawaran umum perdana atau IPO di Nasdaq. Perusahaan tersebut juga telah mencatat beberapa kuartal dengan profitabilitas yang meningkat. Di sisi lain, OpenAI terus mengembangkan berbagai produk dan layanan AI untuk konsumen maupun perusahaan. Dengan demikian, fokus pasar kemungkinan akan bergeser dari sekadar seberapa cepat kemampuan AI berkembang menjadi seberapa aman, efisien, dan menguntungkan teknologi tersebut dapat diterapkan. Apa Artinya bagi Investor? Perubahan sentimen ini menjadi pengingat bahwa tren besar di pasar saham tetap memiliki risiko. Perusahaan yang berada di pusat perkembangan AI memang memiliki potensi pertumbuhan besar, tetapi valuasi saham juga sangat bergantung pada ekspektasi investor terhadap pertumbuhan tersebut. Jika ekspektasi berubah, harga saham dapat ikut bergerak meskipun fundamental perusahaan belum mengalami perubahan besar. Karena itu, investor perlu memperhatikan tidak hanya perkembangan teknologi, tetapi juga regulasi, belanja modal perusahaan, permintaan chip, pembangunan data center, serta kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari investasi AI. Pergerakan Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, dan Emas Digital saat ini bisa kamu cek di aplikasi Nanovest. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Saham AS, Nanovest dapat menjadi pilihan untuk mulai berinvestasi sekaligus mengeksplorasi berbagai koin kripto lainnya. Nanovest merupakan aplikasi investasi saham dan kripto yang dapat menjadi pilihan bagi investor di Indonesia. Bagi investor yang baru ingin memulai berinvestasi, kamu juga tidak perlu khawatir karena Nanovest memiliki perlindungan dari risiko cybercrime dengan Asuransi Sinarmas. Nanovest berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Informasi lebih lanjut dapat kamu kunjungi melalui website Nanovest. Aplikasi Nanovest juga sudah tersedia di Play Store maupun App Store. Dengan munculnya peringatan dari para pemimpin industri AI, investor kini memiliki alasan baru untuk melihat kembali prospek saham teknologi. Perlombaan AI kemungkinan masih akan berlanjut, tetapi pertanyaannya bukan lagi hanya siapa yang dapat mengembangkan AI paling cepat, melainkan siapa yang mampu melakukannya secara aman, efisien, dan menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Apple Masuk ke Pasar Foldable, Bisakah iPhone Duo Saingi Samsung? Teknologi
Teknologi
Selasa, 15 September 2026 | 10:28 WIB

Apple Masuk ke Pasar Foldable, Bisakah iPhone Duo Saingi Samsung?

Jakarta, katakabar.com - Persaingan di industri smartphone semakin menarik setelah Samsung mengungkap adanya peningkatan signifikan jumlah pengguna iPhone yang beralih ke perangkat foldable Galaxy. Momentum ini datang tepat ketika Apple akhirnya memasuki pasar smartphone lipat dengan memperkenalkan iPhone Duo pada September 2026. Kondisi tersebut membuka babak baru persaingan dua raksasa teknologi. Samsung selama bertahun-tahun telah membangun posisi di pasar foldable, sementara Apple baru mulai masuk ke segmen tersebut. Bagi investor, perkembangan ini juga menjadi perhatian karena keberhasilan atau kegagalan produk foldable berpotensi memengaruhi prospek bisnis serta pergerakan saham kedua perusahaan. Pengguna iPhone Mulai Beralih ke Samsung Samsung menyebut tingkat perpindahan pengguna iOS ke seri Galaxy Z Fold8 mencapai 1,6 kali lebih tinggi dibandingkan tingkat perpindahan ke generasi Fold7 dan Flip7 tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa perangkat foldable Samsung mulai memiliki daya tarik yang lebih besar di kalangan pengguna iPhone. Di Amerika Serikat, sekitar 30% pembeli Galaxy Z Flip8 disebut berasal dari pengguna perangkat merek lain. Menariknya, sebagian besar dari mereka merupakan konsumen yang baru pertama kali membeli smartphone foldable. Samsung juga berupaya membuat proses perpindahan dari iPhone menjadi lebih mudah. Melalui pembaruan fitur Smart Switch, pengguna iPhone dapat memindahkan data ke perangkat Galaxy menggunakan pemindaian kode QR tanpa perlu memasang aplikasi tambahan. Langkah tersebut menjadi strategi penting bagi Samsung karena salah satu hambatan terbesar dalam berpindah ekosistem adalah proses transfer data dan adaptasi terhadap sistem operasi baru. Samsung Punya Keunggulan sebagai Pelopor Samsung mulai memasuki pasar foldable pada 2019 melalui Galaxy Fold. Artinya, perusahaan Korea Selatan tersebut memiliki pengalaman sekitar tujuh tahun dalam mengembangkan dan memasarkan perangkat dengan layar lipat. Keunggulan sebagai pelopor memungkinkan Samsung memiliki waktu lebih panjang untuk mengembangkan desain, mekanisme engsel, software, serta pengalaman pengguna pada perangkat foldable. Apple kini harus menghadapi tantangan untuk mengejar pengalaman tersebut. Namun, masuknya Apple ke pasar foldable juga dapat memperluas ukuran pasar secara keseluruhan karena basis pengguna iPhone yang sangat besar. Menurut Counterpoint Research, Samsung diproyeksikan tetap memimpin pasar foldable pada 2026 dengan pangsa sekitar 32%, sedangkan Apple diperkirakan langsung mengambil sekitar 25% setelah memasuki pasar tersebut. Huawei juga masih menjadi pemain penting, khususnya di pasar China. Apple Akhirnya Hadirkan iPhone Duo Setelah bertahun-tahun menjadi bahan rumor, Apple akhirnya memperkenalkan perangkat foldable pertamanya yang diberi nama iPhone Duo pada acara 9 September 2026. Perangkat tersebut dibanderol mulai US$1.999 untuk kapasitas 256 GB dan mencapai US$3.199 untuk varian 2 TB. iPhone Duo memiliki layar internal berukuran sekitar 7,6 inci dan layar eksternal 5,4 inci dengan bodi berbahan titanium. Harga tersebut menjadikan iPhone Duo sebagai salah satu perangkat paling premium yang pernah diperkenalkan Apple. Pre-order dijadwalkan dimulai pada 16 Oktober, sementara penjualan perdana berlangsung pada 23 Oktober di Amerika Serikat dan lebih dari 70 negara lainnya. Peluncuran tersebut juga menjadi momen penting bagi CEO baru Apple, John Ternus, yang baru menggantikan Tim Cook pada 1 September 2026. Karena itu, iPhone Duo bukan hanya produk baru, tetapi juga menjadi salah satu ujian awal bagi arah Apple di bawah kepemimpinan baru. Saham Apple Menghadapi Efek “Sell the News” Meski peluncuran iPhone Duo menjadi perhatian besar, reaksi pasar terhadap saham Apple tidak langsung positif. Saham Apple ditutup di sekitar US$315,34, turun 0,28% setelah acara peluncuran. Pola tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Analis Bank of America Wamsi Mohan mencatat bahwa saham Apple pernah turun pada hari setelah peluncuran produk dalam 10 dari 24 acara sebelumnya. Fenomena ini sering disebut sebagai “sell the news”, ketika investor yang telah membeli saham berdasarkan ekspektasi positif sebelum sebuah acara memilih merealisasikan keuntungan setelah katalis tersebut benar-benar terjadi. Tetapi, secara historis, penurunan tersebut tidak selalu berlangsung lama. Data yang dikutip Yahoo Finance menunjukkan bahwa pergerakan saham Apple dalam pola serupa cenderung berbalik dalam rentang sekitar 30 hingga 60 hari. Persaingan Foldable Jadi Katalis Baru Persaingan antara Samsung dan Apple di pasar foldable menjadi menarik karena keduanya memiliki kekuatan yang berbeda. Samsung memiliki pengalaman lebih panjang serta portofolio foldable yang sudah berkembang. Sementara itu, Apple mempunyai basis pengguna iPhone yang sangat besar dan ekosistem produk yang terintegrasi. Jika Apple mampu meyakinkan pengguna iPhone untuk melakukan upgrade ke iPhone Duo, perangkat tersebut berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru. Sebaliknya, jika konsumen tetap memilih perangkat Samsung karena harga, pengalaman foldable, atau fleksibilitas Android, Samsung berpeluang mempertahankan keunggulannya. Bagi investor, perkembangan ini menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan karena persaingan produk dapat berdampak pada penjualan, pendapatan, hingga sentimen terhadap saham perusahaan teknologi. Pantau Saham AS dan Aset Investasi di Nanovest Pergerakan Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, dan Emas Digital saat ini bisa kamu cek di aplikasi Nanovest. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Saham AS, Nanovest dapat menjadi pilihan untuk mulai berinvestasi sekaligus mengeksplorasi berbagai koin kripto lainnya. Nanovest merupakan aplikasi investasi saham dan kripto yang dapat menjadi pilihan bagi investor di Indonesia. Bagi para investor yang baru ingin memulai berinvestasi, kamu juga tidak perlu khawatir karena Nanovest memiliki perlindungan dari risiko cybercrime dengan Asuransi Sinarmas. Nanovest berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Informasi lebih lanjut dapat kamu kunjungi melalui www.nanovest.io. Aplikasi Nanovest juga sudah tersedia di Play Store maupun App Store, sehingga investor dapat mengakses berbagai pilihan aset investasi melalui satu aplikasi. Persaingan Apple dan Samsung di pasar foldable pada akhirnya bukan hanya soal siapa yang memiliki teknologi layar lipat terbaik. Perkembangan ini juga menjadi gambaran bagaimana perusahaan teknologi besar terus mencari sumber pertumbuhan baru di tengah pasar smartphone yang semakin kompetitif. Bagi investor, respons konsumen terhadap iPhone Duo dan kemampuan Samsung mempertahankan pengguna iPhone akan menjadi cerita yang menarik untuk dipantau sepanjang 2026.

Bitcoin-Ethereum Terkoreksi, Pelaku Pasar Cermati Suku Bunga The Fed Ekonomi
Ekonomi
Senin, 14 September 2026 | 19:03 WIB

Bitcoin-Ethereum Terkoreksi, Pelaku Pasar Cermati Suku Bunga The Fed

Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin dan Ethereum mengalami koreksi di tengah dinamika pasar aset kripto dan perhatian pelaku pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Lantaran itu, menjelang FOMC Meeting September 2026, investor perlu mencermati perkembangan ekonomi global serta memahami risiko volatilitas sebelum mengambil keputusan investasi. Pergerakan harga aset kripto masih menunjukkan dinamika di tengah berbagai sentimen ekonomi global. Berdasarkan data CoinMarketCap pada 11 September 2026 pagi, Bitcoin berada di kisaran US$76.695, melemah 1,88% dalam 24 jam terakhir dan 5,00% dalam sepekan. Sementara itu, Ethereum berada di sekitar US$2.452, terkoreksi 0,51% dalam 24 jam dan 2,16% dalam sepekan. Bittime, Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menilai pergerakan tersebut menunjukkan bahwa investor perlu mencermati berbagai sentimen yang dapat memengaruhi kondisi pasar aset kripto. Investor Cermati Sentimen Suku Bunga The Fed Sejumlah perkembangan makroekonomi turut menjadi perhatian pelaku pasar, salah satunya adalah perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) setelah data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan kondisi ekonomi yang relatif kuat. Melansir situs resmi Federal Reserve, The Fed dijadwalkan akan menggelar FOMC meeting pada 15-16 September 2026. Mengutip pemberitaan The Block pada 7 September 2026 lalu, ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) kembali meningkat setelah laporan pekerjaan AS menunjukkan penambahan 162.000 lapangan kerja pada Agustus. Perubahan ekspektasi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury dan menjadi salah satu faktor yang dicermati pasar aset berisiko, termasuk kripto. “Pergerakan Bitcoin dan Ethereum saat ini menunjukkan bahwa pasar masih cukup dinamis. Kenaikan secara mingguan tidak serta-merta menghilangkan potensi volatilitas dalam jangka pendek. Investor perlu mencermati berbagai faktor yang dapat memengaruhi pasar sebelum mengambil keputusan,” ujar Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn. Investor Perlu Mencermati Volatilitas Pasar Pergerakan harga aset kripto dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi makroekonomi, kebijakan moneter, perkembangan geopolitik, hingga sentimen pasar. Karena itu, perubahan harga dalam jangka pendek perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Pemahaman terhadap kondisi pasar juga menjadi bagian penting bagi investor dalam menentukan keputusan investasi. Investor perlu mempertimbangkan tujuan investasi, tingkat toleransi terhadap risiko, serta kondisi pasar sebelum mengambil keputusan. “Pasar aset kripto memiliki karakteristik volatilitas yang perlu dipahami oleh investor. Pergerakan harga dalam jangka pendek dapat berubah seiring dengan munculnya data ekonomi maupun sentimen global. Karena itu, penting bagi investor untuk melakukan pertimbangan secara menyeluruh dan menyesuaikan keputusan dengan profil risikonya,” ucap Ryan.

Bitcoin Bertahan di US$78.000, September Jadi Ujian Besar Pasar Kripto Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 01 September 2026 | 14:05 WIB

Bitcoin Bertahan di US$78.000, September Jadi Ujian Besar Pasar Kripto

Jakarta, katakabar.com - Bitcoin (BTC) memasuki akhir Agustus dengan volatilitas tinggi setelah sempat menembus level psikologis US$80.000. Setelah sentuh area tertinggi di atas US$81.000 pada pekan lalu, Bitcoin kini diperdagangkan di kisaran US$78.300, menunjukkan pasar mulai melakukan konsolidasi setelah reli kuat sepanjang paruh kedua Agustus. Data CoinGecko mencatat rentang perdagangan Bitcoin dalam 24 jam terakhir berada di sekitar US$77.314 hingga US$78.310. Pergerakan tersebut sekaligus menandai perubahan fokus pasar. Jika sebelumnya investor dibayangi pertanyaan apakah Bitcoin mampu kembali menembus US$80.000, perhatian kini bergeser pada apakah level tersebut dapat direbut kembali dan dipertahankan di tengah ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat. Dalam Market Outlook FLOQ, Bitcoin sebelumnya tercatat mengalami reli sekitar 26% dari level US$62.700 pada 12 Agustus hingga menyentuh US$81.235, dengan US$80.000 menjadi level psikologis penting bagi kelanjutan tren. Namun, FLOQ juga telah mengingatkan bahwa posisi long yang semakin padat dan volume yang mulai melandai membuat Bitcoin rentan terhadap koreksi. Risiko tersebut mulai terlihat setelah pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh di Jackson Hole pada 28 Agustus. Warsh menegaskan inflasi AS masih berada di atas target 2% dan menyebut perkembangan inflasi dalam beberapa bulan terakhir belum cukup menunjukkan perbaikan tren yang berarti. Ia juga menekankan bahwa The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila inflasi tidak bergerak menuju target dengan kecepatan yang memadai. Pasar merespons pernyataan tersebut sebagai sinyal yang cenderung hawkish. Bitcoin sempat turun ke bawah US$77.000 sebelum kembali stabil di area US$78.000 pada akhir pekan. CEO & Founder FLOQ Yudhono Rawis, menilai koreksi setelah Bitcoin menembus US$80.000 tidak serta-merta menghilangkan prospek positif aset kripto, namun menunjukkan bahwa fase berikutnya akan sangat ditentukan oleh fundamental makro dan kekuatan permintaan investor. “Reli Bitcoin sepanjang Agustus menunjukkan bahwa minat investor terhadap aset kripto masih sangat kuat. Namun, setelah gagal bertahan di atas US$80.000, pasar sekarang masuk ke fase pembuktian. Investor perlu melihat apakah permintaan spot dan arus dana institusional tetap mampu menyerap volatilitas yang datang dari kebijakan The Fed,” kataYudho. Arus Dana Institusional Jadi Penopang Salah satu faktor yang menopang reli Bitcoin sepanjang Agustus adalah kembalinya arus modal institusional melalui produk exchange-traded fund (ETF) kripto. Market Outlook FLOQ mencatat ETF Bitcoin dan Ethereum di Amerika Serikat membukukan sekitar US$2,71 miliar inflow bersih pada pekan yang berakhir 24 Agustus, menjadi salah satu pekan terkuat sepanjang 2026. Bitcoin mengambil porsi terbesar dengan sekitar US$1,92 miliar. Meski demikian, tren tersebut mulai menunjukkan tanda pendinginan. Data Farside Investors menunjukkan ETF Bitcoin spot AS mencatat net outflow sekitar US$201,9 juta pada 28 Agustus, setelah beberapa hari sebelumnya konsisten membukukan arus masuk positif. Menurut Yudho, perubahan tersebut membuat data ETF menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam beberapa pekan ke depan. “Penting saat ini bukan hanya melihat Bitcoin naik atau turun dalam satu hari. Pasar perlu melihat apakah demand institusional tetap konsisten. Jika arus ETF kembali positif ketika Bitcoin berada di area US$77.000–US$80.000, itu bisa menjadi indikasi bahwa investor besar masih melihat koreksi sebagai kesempatan untuk membangun posisi,” tuturnya. September Bisa Jadi Bulan Penentu Memasuki September, pasar kripto diperkirakan masih akan menghadapi sederet katalis makroekonomi. Data ketenagakerjaan AS untuk Agustus dijadwalkan dirilis pada 4 September, disusul Consumer Price Index (CPI) Agustus pada 11 September. Keduanya akan menjadi data penting menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15 hingga 16 September 2026 nanti. Kombinasi data tenaga kerja, inflasi dan respons The Fed berpotensi menentukan apakah investor kembali meningkatkan eksposur ke aset berisiko seperti Bitcoin atau justru mengambil posisi lebih defensif. Hal ini menjadi semakin penting setelah Warsh menegaskan bahwa The Fed tidak ingin terlalu bergantung pada forward guidance. Ia menilai pasar seharusnya lebih banyak mengambil kesimpulan sendiri berdasarkan perkembangan ekonomi dibanding hanya menunggu sinyal mengenai langkah bank sentral berikutnya. Dalam konteks tersebut, volatilitas Bitcoin menjelang keputusan FOMC berpotensi tetap tinggi. “September kemungkinan menjadi bulan yang jauh lebih data driven. Pasar akan sangat sensitif terhadap angka tenaga kerja dan inflasi AS. Jika data menunjukkan ekonomi mulai mendingin tanpa inflasi kembali melonjak, ruang bagi aset berisiko untuk kembali menguat akan terbuka. Sebaliknya, inflasi yang tetap tinggi dapat memperpanjang tekanan terhadap Bitcoin dan aset kripto lainnya,” jelas Yudho. US$80.000 Masih Jadi Level Kunci Dalam jangka pendek, area US$80.000–US$81.000 diperkirakan tetap menjadi zona penting untuk Bitcoin. Keberhasilan menembus dan bertahan di atas area tersebut dapat memperkuat kembali momentum bullish. Sebaliknya, selama Bitcoin masih berada di bawah US$80.000, pasar berpotensi tetap bergerak dalam fase konsolidasi sembari menunggu katalis berikutnya. Outlook FLOQ sebelumnya juga menempatkan arus ETF sebagai salah satu sinyal positif utama bagi tren jangka menengah Bitcoin, meskipun investor tetap perlu mewaspadai koreksi setelah kenaikan harga yang cepat dalam waktu singkat. Yudho menilai investor sebaiknya tidak menjadikan satu level harga sebagai satu-satunya dasar keputusan investasi. “Untuk beberapa minggu ke depan, pertanyaannya bukan sekadar apakah Bitcoin bisa kembali ke US$80.000. Yang lebih penting adalah apakah US$80.000 nantinya dapat berubah dari resistance menjadi support. Kalau itu terjadi bersamaan dengan arus institusional yang kuat dan kondisi makro yang lebih kondusif, struktur pasar untuk kuartal berikutnya akan menjadi jauh lebih menarik,” sebut Yudho. Agenda ekonomi AS yang padat sepanjang September, arah Bitcoin dalam beberapa pekan mendatang berpotensi menjadi barometer penting bagi sentimen pasar aset digital menuju kuartal terakhir 2026. Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli, menjual, atau memperdagangkan aset digital. Harga aset digital dapat berubah dengan cepat dan memiliki risiko kerugian.

Transaksi Kripto Turun 33 Persen, Tapi Investor Bertambah: Pasar RI Masih Menjanjikan! Ekonomi
Ekonomi
Minggu, 30 Agustus 2026 | 16:14 WIB

Transaksi Kripto Turun 33 Persen, Tapi Investor Bertambah: Pasar RI Masih Menjanjikan!

Jakarta, katakabar.com - Pasar kripto Indonesia tengah menghadapi situasi yang cukup unik. Nilai transaksi mengalami penurunan tajam, tetapi jumlah investor justru terus bertambah di tengah tekanan daya beli masyarakat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai transaksi aset kripto sepanjang semester I/2026 mencapai Rp150,60 triliun, turun 33,56% secara tahunan dari Rp226,68 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, jumlah investor aset kripto meningkat dari 20,19 juta orang pada Desember 2025 menjadi 22,69 juta orang pada Juni 2026. Artinya, ada tambahan sekitar 2,5 juta investor hanya dalam enam bulan. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai kondisi tersebut menunjukkan minat masyarakat terhadap kripto belum hilang, tetapi pola investasinya mulai berubah akibat tekanan ekonomi. “Basis investor tetap tumbuh meski nilai transaksinya turun. Ini menunjukkan masyarakat masih masuk ke pasar kripto, hanya saja dengan nilai transaksi yang lebih kecil karena tekanan daya beli,” ujar Yudho. Menurutnya, pelemahan transaksi tidak hanya dipengaruhi kondisi domestik. Kapitalisasi pasar kripto global juga sempat turun sekitar 45%, dari sekitar US$4,2 triliun pada Oktober 2025 menjadi US$2,3 triliun pada Maret 2026. Karena itu, penurunan transaksi di Indonesia dinilai lebih mencerminkan kombinasi tekanan ekonomi domestik dan pelemahan pasar global, bukan penurunan minat terhadap aset kripto secara struktural. Kelas Menengah Tertekan Pola Investasi Berubah Tekanan daya beli menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi aktivitas investasi. Jumlah kelompok aspiring middle class atau calon kelas menengah tercatat meningkat dari 137,5 juta orang pada 2024 menjadi 142 juta orang pada 2025, atau sekitar 50,4% dari total penduduk Indonesia. Yudho menjelaskan, ketika ketahanan finansial rumah tangga melemah, alokasi dana untuk instrumen berisiko seperti kripto cenderung ikut berkurang. “Kripto bukan kebutuhan primer. Ketika kondisi ekonomi rumah tangga tertekan, masyarakat secara alami akan menjadi lebih konservatif dalam berinvestasi,” ulasnya. Tetapi, kondisi tersebut tidak berarti masyarakat meninggalkan pasar kripto. Sebaliknya, investor mulai bertransaksi dengan nominal lebih kecil, lebih selektif, dan lebih berhati-hati. Perubahan ini juga terjadi bersamaan dengan turunnya posisi Indonesia dalam peringkat adopsi kripto global, dari sebelumnya peringkat ketiga menjadi peringkat ketujuh berdasarkan laporan Chainalysis. Persaingan Industri Makin Ketat Di tengah tekanan transaksi, minat pelaku industri terhadap pasar Indonesia masih tinggi. Hingga pertengahan 2026, OJK telah mengizinkan 32 entitas dalam ekosistem perdagangan aset kripto, dengan lebih dari 1.200 aset kripto legal diperdagangkan. Masuknya pemain global ke Indonesia juga menunjukkan pasar domestik masih dinilai memiliki potensi pertumbuhan. Menurut Yudho, kondisi tersebut membuat perusahaan kripto perlu mengubah strategi. Fokus tidak lagi hanya pada akuisisi pengguna, tetapi juga memperdalam transaksi dan menghadirkan produk yang sesuai dengan perubahan karakter investor. Salah satu peluang datang dari tokenized stocks. Volume perdagangan tokenized stocks secara global melonjak dari US$831 juta pada Juli 2025 menjadi US$54 miliar pada Juni 2026. Produk ini dinilai menarik karena memberikan eksposur terhadap saham perusahaan global seperti Tesla atau Nvidia, sehingga dapat menjadi alternatif bagi investor yang menginginkan instrumen dengan karakter berbeda dari aset kripto murni. Selain itu, pasar derivatif atau futures juga masih memiliki ruang pertumbuhan besar. Volume perdagangan derivatif kripto global pada kuartal II/2026 mencapai US$12,7 triliun, jauh di atas volume spot sebesar US$1,95 triliun. Sementara itu, kontribusi derivatif terhadap transaksi kripto nasional baru sekitar 22%. “Strategi yang relevan adalah mengombinasikan tokenized stocks untuk menjangkau investor yang lebih konservatif dan produk derivatif untuk menangkap pertumbuhan aktivitas trader,” jelas Yudho. Literasi Jadi Kunci Yudho menambahkan, membesarnya kelompok calon kelas menengah juga dapat menjadi peluang jangka panjang bagi industri kripto. Namun, pertumbuhan investor harus dibarengi dengan peningkatan literasi keuangan. “Pertumbuhan jumlah investor jangan hanya berhenti pada angka partisipasi. Yang lebih penting adalah memastikan masyarakat memahami risiko dan mampu mengambil keputusan investasi secara lebih matang,” ucapnya. Menurutnya, tekanan ekonomi saat ini bukan berarti prospek industri kripto Indonesia hilang. Sebaliknya, kondisi ini menjadi momentum bagi pelaku industri untuk membangun basis investor yang lebih luas, teredukasi, dan berkelanjutan. “Pasar Indonesia masih prospektif. Tantangannya adalah bagaimana industri bisa menyesuaikan produk, memperluas edukasi, dan membangun kepercayaan investor untuk jangka panjang,” sebut CEO FLOQ.