RPN Perkuat Riset dan Inovasi Dukung Swasembada Gula Nasional
Jakarta, katakabar.com - PT Riset Perkebunan Nusantara memperkuat perannya sebagai pusat riset dan inovasi perkebunan dalam ekosistem Holding Perkebunan Nusantara (PTPN Group) untuk mendukung percepatan swasembada gula nasional. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Riset dan Inovasi Komoditas Tebu serta Pemanfaatan Hasilnya bersama PT Sinergi Gula Nusantara dan PT Triasindo Agro Sejahtera, yang dilaksanakan di Gedung Graha Nusa Tiga - Head Office Jakarta.
Kapasitas Pelabuhan Naik, Ekosistem Logistik Darat Diperkuat
Merauke, katakabar.com - Peningkatan kapasitas pelabuhan peti kemas perlu diikuti penguatan simpul logistik di sisi darat. Hal ini perlu dilakukan agar percepatan bongkar muat tidak justru memindahkan titik hambatan ke rantai distribusi berikutnya. Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM, Prof. Kuncoro Harto Widodo, mengatakan pertumbuhan arus peti kemas perlu diimbangi dengan penguatan seluruh simpul dalam ekosistem logistik.
PTPN Group Perkuat Ekosistem Kepemimpinan Perempuan di Industri Perkebunan
Jakarta, katakabar.com - PTPN IV Subholding PTPN III (Persero) perkuat kapasitas talenta perempuan lewat forum “Srikandi PalmCo: Women in Leadership – Speak to Lead, Lead to Inspire” yang digelar di Jakarta di akhir pekan lalu. Program tersebut menjadi bagian dari komitmen PTPN IV PalmCo dalam mendorong kesetaraan gender, serta memperkuat representasi perempuan pada level pengambilan keputusan. Inisiatif ini bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam menyiapkan talenta perempuan yang adaptif, kompeten, dan siap menjawab dinamika bisnis agribisnis. Industri perkebunan yang terus bertransformasi membutuhkan kepemimpinan yang mampu memadukan ketegasan, ketelitian, kemampuan beradaptasi, dan pemahaman menyeluruh terhadap tantangan bisnis. Forum tersebut tidak hanya menjadi ruang konsolidasi internal, tetapi bagian dari upaya membangun ekosistem Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mendukung lahirnya pemimpin-pemimpin perempuan di sektor perkebunan. Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, yang menjadi salah satu pembicara utama, mengatakan perempuan memiliki fondasi karakter yang kuat untuk memimpin sektor industri yang penuh tantangan. Menurutnya, terdapat sejumlah keunggulan komparatif yang dimiliki pekerja perempuan. Apabila dikembangkan secara optimal, keunggulan tersebut dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan perusahaan. "Perempuan memiliki daya tahan (resilience) yang lebih, serta tingkat ketelitian dan perhatian terhadap detail yang tinggi. Ini adalah hal-hal yang secara alamiah (by nature) sudah ada di dalam diri perempuan," kata Jatmiko saat mengisi sesi Creating Impact Through Ownership & Initiatives. Jatmiko mendorong para talenta perempuan di lingkungan PTPN IV PalmCo untuk berani tampil, menyampaikan gagasan, dan mengambil peran dalam kepemimpinan. “Kalian semua adalah pemimpin. Buat para pemimpin perempuan di PalmCo, jangan pernah ragu untuk speak up. Gunakan hati dalam bekerja, dan selalu jeli melihat peluang serta situasi yang ada,” jelasnya. Dalam menghadapi kompetisi bisnis, Jatmiko juga menyampaikan tiga pilar utama yang perlu dimiliki seorang pemimpin. Pilar pertama adalah walk the talk, yakni menjaga integritas melalui keselarasan antara perkataan dan tindakan. Pilar kedua adalah clear communication atau kemampuan membangun komunikasi yang jernih dan asertif kepada berbagai pihak. Adapun pilar ketiga adalah clear accountability sebagai landasan dalam menjalankan setiap tanggung jawab kepemimpinan. "Tanggung jawab itu penting. Jangan pernah lari dari tanggung jawab," tegas Jatmiko. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTPN IV PalmCo, sekaligus Ketua Srikandi PalmCo, Hilda Savitri, menyoroti salah satu tantangan dalam pengembangan kepemimpinan perempuan dapat berasal dari keraguan dalam diri sendiri. Karena itu, keberanian menjadi modal penting bagi perempuan untuk menghadapi berbagai batasan struktural maupun kultural di lingkungan profesional. Dalam pembukaan kegiatan, Hilda mengajak seluruh peserta untuk membangun keyakinan dan determinasi dalam mengambil peran kepemimpinan. "Hari ini adalah tentang bagaimana kita memiliki keberanian untuk mengambil peran, keberanian untuk menyampaikan ide dan gagasan, serta keberanian untuk berdiri dan menyuarakan apa yang kita yakini. Kita harus berani mengambil keputusan, dan yang terpenting adalah keberanian untuk mengatakan kepada diri sendiri bahwa saya mampu menjadi pemimpin," papar Hilda. Program “Srikandi PalmCo: Women in Leadership” dirancang untuk memperkuat kesiapan mental sekaligus keterampilan praktis para talenta perempuan. Dukungan dari tingkat holding ditunjukkan melalui kehadiran Direktur SDM & Umum PT Perkebunan Nusantara III (Persero), Endang Suraningsih. Rangkaian kegiatan juga dilengkapi dengan sesi Women Leader in Action Talkshow. Untuk meningkatkan kemampuan artikulasi dan persuasi peserta, PTPN IV PalmCo menghadirkan entrepreneur sekaligus Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Merry Riana. Melalui dua sesi bertajuk The Art of Public Speaking, Merry memberikan pelatihan mengenai teknik komunikasi publik yang efektif. Kemampuan berbicara di depan publik menjadi salah satu kompetensi penting bagi calon pemimpin perempuan agar mampu membangun kepercayaan pemangku kepentingan, memimpin negosiasi bisnis, dan merepresentasikan perusahaan pada tingkat nasional maupun global. Melalui program pengembangan kapasitas tersebut, PTPN IV PalmCo berharap dapat terus meningkatkan peran pemimpin perempuan yang tidak hanya kompeten secara teknis dan operasional, tetapi juga memiliki empati, ketegasan, kemampuan komunikasi, serta integritas. Penguatan talenta perempuan diharapkan turut mendukung transformasi PTPN Group dan membawa industri perkebunan Indonesia menjadi semakin inklusif, modern, serta berdaya saing.
OSL Indonesia Perkuat Fokus Kebutuhan Investor di Tengah Volatilitas Global dan Industri Kripto Kian Matang
Jakarta, karakabar.com - Di tengah volatilitas pasar global, industri aset kripto justru menunjukkan tanda-tanda kematangan yang semakin kuat. Ketika wawancara dengan salah satu media nasional tanah air usung tema "Crypto Investment Trends Amid Global Volatility", Presiden Direktur OSL Indonesia, Ivan Arilito, menegaskan optimismenya terhadap arah baru industri yang lebih terstruktur, matang, dan berfokus pada kebutuhan investor. OSL Indonesia melihat pergeseran positif dalam perilaku investor, dari sekadar mengejar pergerakan harga, menuju pemahaman yang lebih matang soal profil risiko, diversifikasi aset, dan strategi jangka panjang. Infrastruktur yang semakin teratur dan partisipasi institusional yang terus tumbuh membawa industri ini menuju ekosistem yang jauh lebih terstruktur dan terpercaya. Menurut Ivan Arilito, dengan populasi masyarakat yang besar, adopsi aset kripto yang tinggi, serta kerangka regulasi yang terus menguat di bawah naungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Indonesia diharapkan dapat menjadi salah satu pusat pertumbuhan aset digital. Selaras dengan arah regulasi dan industri yang semakin matang, pergerakan aset-aset yang memiliki karakteristik yang cenderung stabil seperti Bitcoin, USDGO, USDT, dan XAUT yang lebih terukur juga membuka peluang diversifikasi baru bagi portofolio investor Indonesia. Dengan ini, investor aset kripto Indonesia dapat memperluas strategi investasi dan diversifikasi aset pilihannya. “Berdasarkan hal tersebut, inilah yang menjadi pondasi kami untuk menghadirkan lebih dari sekedar platform trading tetapi juga wadah bagi masyarakat Indonesia bertumbuh bersama. Sesuai dengan slogan yang kami miliki yakni ‘Built on Your Feedback, Empowered by Global Compliance’,” terang Ivan. Ia juga menjelaskan pihaknya berkomitmen untuk menghadirkan layanan pada platform yang berdasarkan pada kebutuhan investor, khususnya masyarakat Indonesia melalui layanan Voice of Customer (VoC). Dengan menggabungkan standar ekosistem global dan kepatuhan pada regulasi pasar aset kripto Indonesia, ia percaya OSL Indonesia dapat menjadi platform finansial yang berfokus pada kebutuhan pengguna. Selain, menghadirkan layanan VoC, OSL Indonesia juga menghadirkan dari sisi keamanan, Auth & Funding Upgrade. Yang menghadirkan peningkatan pada autentikasi serta keamanan proses deposit dan withdrawal. Pengembangan ini diharapkan menjadi bagian dari upaya OSL Indonesia untuk memperkuat perlindungan pengguna sekaligus merespons kebutuhan yang disampaikan oleh pengguna. Tentu sejalan dengan laju pertumbuhan industri aset kripto dan keberagaman kebutuhan investor, edukasi dan literasi terkait industri aset dan manajemen risiko menjadi tugas besar bagi setiap pelaku industri. Apalagi, mayoritas investor aset kripto saat ini didominasi oleh minat investor muda, dan terus bertambah. Di mana berdasarkan data dari Statistik Penyelenggara Perdagangan AKD AK Periode Juli 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat investor kripto RI bertambah menjadi 22,93 juta per 7M-2026. Melihat hal ini, OSL Indonesia akan menghadirkan layanan Market Buzz yang menyediakan informasi, data, dan perkembangan pasar secara real-time untuk membantu pengguna memahami sentimen dan pergerakan pasar tanpa hanya bergantung pada headline. Melalui pendekatan tersebut, OSL Indonesia ingin membangun platform yang tidak hanya membawa pengalaman dan standar global ke Indonesia, tetapi juga terus berkembang berdasarkan kebutuhan pengguna lokal. Namun, perlu dipahami bahwa perdagangan dan investasi aset digital memiliki risiko, termasuk fluktuasi harga, risiko kehilangan modal, likuiditas, teknologi, serta perubahan regulasi. Untuk itu, pengguna perlu memahami karakteristik dan risiko aset digital, melakukan riset secara mandiri, serta mempertimbangkan profil risiko dan kondisi masing-masing sebelum mengambil keputusan.
IIBF Taja Social dan Business Networking Evening, Perkuat Jejaring Bisnis Indonesia-India
Jakarta, katakabar.com - Indonesia India Business Forum (IIBF) bersama Indoindians menggelar Social dan Business Networking Evening Kamis (17/9) lalu di Nautilus Bar, Four Seasons Hotel Jakarta, yang mempertemukan anggota komunitas bisnis Indonesia-India untuk membangun koneksi, bertukar informasi, dan membuka peluang kolaborasi baru. Digelar dalam suasana santai, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi para tamu dari berbagai latar belakang profesional dan bisnis untuk saling berkenalan, bertukar ide, serta memperluas jejaring. Sejumlah profesional turut hadir, di antaranya Samit Ganguly, General Manager Four Seasons Hotel Jakarta; Rajat Sagar dari PT Infotech Solutions; Rakesh Jain dari eSamuel Sekuritas; Baskaran Jayabalan dari Southern Chemicals; dan masih banyak lagi. Dr. Bayu Perkenalkan Indonesia Open Network Salah satu sorotan dalam kegiatan tersebut adalah pengenalan singkat mengenai Indonesia Open Network (ION) oleh Dr. Bayu Prawira Hie, President Director of Indonesia Open Network (ION). Dr. Bayu memperkenalkan ION kepada para peserta sekaligus menjelaskan inisiatif tersebut dalam konteks upaya menghubungkan dan memperkuat ekosistem bisnis Indonesia. Tim ION juga hadir dalam kegiatan tersebut, memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mengenal lebih jauh mengenai inisiatif tersebut dan berinteraksi langsung dengan perwakilannya. Indonesia Open Network (ION) merupakan inisiatif infrastruktur digital terbuka dan interoperabel yang dikembangkan untuk mendukung ekosistem perdagangan digital Indonesia. ION mendapat dukungan dari Google.org dan melibatkan mitra ekosistem, termasuk Indosat Ooredoo Hutchison. Kehadiran ION menambahkan perspektif mengenai perkembangan ekonomi digital dalam kegiatan networking tersebut, sekaligus membuka ruang bagi para peserta untuk bertukar pandangan mengenai penguatan ekosistem bisnis Indonesia. Speed Networking Perluas Koneksi Kegiatan juga diisi dengan sesi Speed Networking yang mendorong para tamu untuk bertemu dengan peserta lainnya, bertukar kontak bisnis, dan memulai percakapan baru. Suasana kemudian dilanjutkan dengan interaksi yang lebih santai, percakapan antar peserta, serta penampilan live jazz yang semakin melengkapi suasana networking. Melalui kegiatan ini, IIBF dan Indoindians mempertemukan komunitas bisnis Indonesia-India dalam suasana informal yang mendorong dialog, koneksi baru, dan peluang kerja sama di masa mendatang.
Jumat Keliling, Polres Kepulauan Meranti Sasar 26 Msjid Perkuat Pesan Kamtibmas
Kepulauan Meranti, katakabar.com - Jajaran Polres Kepulauan Meranti bersama empat Polsek gelar Jumat Keliling secara serentak di 26 masjid, Jumat (18/9). Kegiatan yang melibatkan 1.525 jemaah tersebut diisi dengan sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), serta imbauan menjaga kerukunan menjelang Pilkades serentak Oktober 2026. Kegiatan yang dipimpin Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Gede Prasetia Adi Sasmita, di Masjid Al Istiqomah, Desa Insit, Kecamatan Tebing Tinggi Barat. Di hadapan 120 jemaah, Kapolres mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman karhutla dan menjaga keamanan lingkungan. "Saya mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Kepulauan Meranti untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, tidak memerun atau membakar sampah, serta segera melaporkan apabila menemukan adanya titik api atau kegiatan yang berpotensi menimbulkan kebakaran," ujar AKBP Gede Adi. Selain jajaran Polres, kegiatan serupa digelar di sejumlah masjid oleh polsek jajaran. Polsek Rangsang Barat melaksanakan Jumat Keliling di lima masjid dengan jumlah 510 jemaah. Kegiatan tersebut dipimpin Kapolsek Rangsang Barat, Ipda Sukardi. Berikurnya, Polsek Merbau menggelar kegiatan di delapan masjid dengan total 350 jemaah. Polsek Tebing Tinggi Barat menyambangi enam masjid dengan jumlah 290 jemaah. Kegiatan di wilayah tersebut dipimpin Kapolsek Tebing Tinggi Barat, Ipda Dominikus Turnip, Sementara, Polsek Rangsang melaksanakan Jumat Keliling di enam masjid dengan jumlah 255 jemaah. Kegiatan dipimpin Kapolsek Rangsang,m AKP Aguslan. Pada kegiatan tersebut, Kapolres juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan perbedaan pilihan dalam Pilkades sebagai pemicu konflik. "Mari kita laksanakan Pilkades serentak dengan damai, jujur, tertib, dan penuh rasa kekeluargaan. Hindari penyebaran berita bohong atau hoaks, ujaran kebencian, provokasi, serta tindakan yang dapat memicu konflik di tengah masyarakat," pesannya. Di Masjid Al Istiqomah Desa Insit, kegiatan turut diisi dengan pembagian ratusan paket makanan dan minuman melalui program Jumat Berkah, penyerahan sarana kontak dan tali asih kepada pengurus masjid, serta makan bersama warga.
BRICS 2026: Perkuat Suara Global South dari New Delhi
New Delhi, katakabar.com - Negara-negara BRICS perkuat komitmen untuk membangun kerja sama yang lebih tangguh, inklusif, dan berorientasi pada pembangunan melalui Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke 18 di New Delhi, India. Pertemuan yang berlangsung dari 12 hingga 13 September 2026 tersebut menghasilkan Deklarasi New Delhi, yang menjadi arah bersama negara-negara BRICS dalam memperkuat kerja sama politik dan keamanan, ekonomi dan keuangan, serta hubungan antar masyarakat. KTT tahun ini digelar di bawah kepemimpinan India usung tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability.” Presiden Republik Indonesia, H Prabowo Subianto turut hadir dalam KTT tersebut sebagai salah satu pemimpin negara anggota BRICS. Di pertemuan itu, Prabowo menekankan kekuatan kolektif BRICS dapat digunakan untuk perkuat ketahanan global sekaligus memberikan manfaat yang lebih besar bagi negara-negara berkembang. “BRICS mewakili setengah dari seluruh umat manusia dan bagian yang besar dari perekonomian global serta perdagangan global. BRICS menyatukan pasar-pasar terbesar di dunia dan para produsen energi utama. Hal ini memberikan kita kekuatan kolektif yang sangat besar,” jelas Prabowo. BRICS dan Perubahan Tatanan Global BRICS telah berkembang jauh dari kelompok ekonomi yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, dan China. Setelah Afrika Selatan bergabung, kelompok tersebut kemudian mengalami ekspansi dan kini mencakup negara-negara seperti Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Indonesia. Perluasan tersebut membuat BRICS memiliki cakupan kepentingan yang semakin beragam. Forum ini tidak lagi hanya berbicara mengenai perdagangan dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menyentuh isu teknologi, energi, pangan, perubahan iklim, pendidikan, kesehatan, hingga reformasi tata kelola global. Deklarasi New Delhi menegaskan kembali komitmen BRICS terhadap multilateralisme dan sistem internasional yang lebih representatif. Negara-negara anggota juga menyerukan partisipasi yang lebih bermakna bagi negara-negara berkembang dan emerging markets dalam proses pengambilan keputusan global. Global South Harus Ikut Membentuk Aturan Sebagai Ketua BRICS 2026, India mendorong agar BRICS menjadi salah satu wadah untuk memperkuat suara negara-negara berkembang. Dalam sesi KTT mengenai tata kelola global dan penguatan multilateralisme, Perdana Menteri India Narendra Modi menyoroti ketimpangan antara besarnya dampak yang dirasakan Global South dan keterwakilannya dalam pengambilan keputusan dunia. “Global South berada di barisan terdepan dalam menghadapi krisis global, tetapi berada di barisan belakang dalam pengambilan keputusan,” ucap Modi. Modi menyerukan agar negara-negara Global South tidak hanya menjadi rule-taker, tetapi berkembang menjadi rule-shaper dalam tata kelola global. BRICS, menurutnya, dapat menjadi platform untuk memperkuat kapasitas negara-negara berkembang. Pandangan tersebut sejalan dengan Deklarasi New Delhi yang menekankan pentingnya memperluas partisipasi dan representasi negara-negara berkembang dalam institusi internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ekonomi dan Ketahanan Menjadi Fondasi Deklarasi New Delhi menekankan pentingnya rantai pasok yang lebih tangguh serta peningkatan kapasitas produksi negara berkembang agar dapat masuk ke segmen manufaktur dan produksi bernilai tambah lebih tinggi. Kerja sama tersebut juga mencakup transfer teknologi, peningkatan kapasitas industri, fasilitasi perdagangan, dan investasi. BRICS juga melanjutkan pembahasan mengenai sistem pembayaran lintas batas dan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan serta investasi antaranggota, dengan tetap mempertimbangkan prioritas nasional masing-masing negara. Prabowo menilai kekuatan kolektif BRICS dapat menjadi modal untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi serta menciptakan peluang pembangunan bagi negara-negara berkembang. Dari Teknologi hingga Riset BRICS juga memberikan perhatian besar terhadap perkembangan sains, teknologi, dan inovasi. Deklarasi New Delhi menempatkan kerjasama Science, Technology and Innovation (STI) sebagai salah satu penggerak pembangunan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan. Negara-negara anggota mendukung kerja kelompok-kelompok kerja STI serta pengembangan BRICS Science and Research Repository sebagai platform berbagi pengetahuan dan hasil penelitian. Melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia menawarkan pemanfaatan infrastruktur dan fasilitas riset unggulan kepada periset, perguruan tinggi, industri, dan peneliti dari negara-negara anggota BRICS. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat mobilitas peneliti dan mendorong lahirnya kolaborasi riset yang lebih konkret. Pendidikan Menjadi Investasi Jangka Panjang Selain ekonomi dan teknologi, pendidikan menjadi bagian penting dari upaya BRICS membangun sumber daya manusia. Deklarasi New Delhi mendorong peningkatan kualitas dan aksesibilitas pendidikan, program pertukaran dan beasiswa pada tingkat sarjana maupun pascasarjana, termasuk dalam bidang Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM). BRICS Network University menjadi salah satu mekanisme yang didukung untuk memperkuat kerjasama akademik dan penelitian antarnegara. Jaringan tersebut mendorong program bersama, mobilitas akademik, serta pertukaran pengetahuan lintas disiplin. Menariknya, agenda pendidikan BRICS juga mencakup tahap paling awal dalam perkembangan manusia. Deklarasi mendorong pertukaran praktik terbaik dalam Early Childhood Care and Education (ECCE) serta Foundational Literacy and Numeracy (FLN). Penggunaan teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan (AI), dalam pendidikan juga didorong dengan prinsip aman, etis, dan berpusat pada manusia. Indonesia Memperkuat Posisi di BRICS Bagi Indonesia, KTT BRICS 2026 menjadi salah satu momentum penting setelah Indonesia bergabung sebagai anggota penuh. Kehadiran Presiden RI di New Delhi menunjukkan upaya Indonesia untuk mengambil peran aktif dalam forum yang semakin berpengaruh terhadap pembahasan ekonomi dan tata kelola global. Pemerintah Indonesia menempatkan keanggotaan BRICS sebagai bagian dari upaya memperkuat kerja sama multilateral dan membangun kemitraan strategis dengan negara-negara berkembang. Indonesia memiliki kepentingan untuk memastikan keanggotaannya menghasilkan kerja sama konkret, mulai dari perdagangan dan investasi hingga pangan, energi, teknologi, riset, dan pengembangan sumber daya manusia. Dengan pasar yang luas dan sumber daya yang dimiliki negara-negara BRICS, Indonesia memiliki peluang untuk memperluas kerja sama ekonomi sekaligus membangun kapasitas nasional melalui pertukaran teknologi, pengetahuan, dan sumber daya manusia. Deklarasi New Delhi dan Tantangan ke Depan Deklarasi New Delhi menjadi salah satu hasil utama KTT BRICS 2026. Dokumen tersebut mencakup agenda yang luas, mulai dari reformasi tata kelola global dan kerja sama ekonomi hingga teknologi, pendidikan, perubahan iklim, kesehatan, dan hubungan antar masyarakat. Dengan anggota yang memiliki sistem politik, struktur ekonomi, serta kepentingan nasional yang berbeda, konsensus menjadi faktor penting dalam menjaga efektivitas kerja sama. Karena itu, keberhasilan BRICS tidak hanya akan diukur dari banyaknya deklarasi yang dihasilkan, tetapi dari sejauh mana kesepakatan tersebut dapat diterapkan melalui program, investasi, pertukaran pengetahuan, dan kerja sama lintas negara. Dari Suara Menjadi Aksi Dua dekade setelah pembentukannya, BRICS kini memasuki fase yang berbeda. Ekspansi keanggotaan telah memperluas cakupan kelompok tersebut, sementara agenda kerja sama semakin masuk ke berbagai aspek yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. India, melalui kepemimpinannya pada 2026, mendorong BRICS untuk memperkuat ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan. Indonesia, sebagai anggota penuh, memiliki kesempatan untuk ikut membentuk agenda tersebut sekaligus memastikan kepentingan negara berkembang tetap mendapat tempat dalam pembahasan global. Bagi negara-negara Global South, tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa peningkatan suara juga diikuti dengan peningkatan pengaruh. Prabowo melihat kekuatan tersebut sebagai sesuatu yang harus diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat. “Ketahanan kita harus memberikan manfaat bagi rakyat kita dan untuk memberikan manfaat bagi rakyat kita, kita harus mampu mengubah kerentanan kita menjadi peluang. Kelemahan kita menjadi kekuatan,”sebut Prabowo dalam KTT BRICS. Menurut Prabowo, BRICS memiliki kesempatan untuk menyatukan sumber daya, kapasitas produktif, kemampuan teknologi, dan pasar yang dimiliki negara-negara anggotanya untuk menghasilkan perubahan yang nyata bagi dunia. Pandangan tersebut bertemu dengan pesan yang disampaikan Modi dalam menutup sesi mengenai tata kelola global. Bagi India, masa depan BRICS bukan sekadar tentang seberapa besar suara yang dimiliki kelompok tersebut, tetapi bagaimana suara itu diterjemahkan menjadi pengaruh dan kemitraan yang lebih setara. “Jika masa depan kita adalah milik bersama, maka hak untuk membentuk masa depan itu pun harus menjadi milik bersama. From voice to impact. From privilege to partnership," tegas Presiden RI ke 8. Pesan tersebut menjadi salah satu gagasan utama India dalam kepemimpinan BRICS 2026: mengubah suara menjadi dampak dan privilese menjadi kemitraan.
Era AI, Syahrul Aidi Dorong Wartawan Perkuat Kompetensi dan Pahami Regulasi
Kampar, katakabar.com - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia wartawan (jurnalistik). Teknologi ini dapat membantu percepat kerja pers, tetapi juga menghadirkan tantangan baru, mulai dari akurasi informasi, deepfake, keamanan digital, perlindungan data hingga kebutuhan regulasi. Hal itu menjadi pembahasan dalam Webinar Merajut Nusantara bertajuk “Jurnalisme di Era AI: Antara Kebebasan Pers, Keamanan Digital, dan Regulasi” yang digelar melalui zoom meeting, Rabu (16/9). Anggota Komisi I DPR RI, Syahrul Aidi Maazat hadir sebagai keynote speaker di kegiatan tersebut. Webinar dipandu moderator Indah Hudiria dan menghadirkan dua pemateri, yakni Woro Indah Widi Astuti, pakar dan praktisi dari Bakti Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, serta Aza El Munadiyan, akademisi sekaligus Ketua STIM Budi Bakti. Dalam pemaparannya, Woro Indah Widi Astuti membahas pentingnya pemerataan infrastruktur telekomunikasi, termasuk pembangunan dari wilayah pinggiran, dalam menghadapi perkembangan jurnalisme di era digital. Sementara, Aza El Munadiyan menyampaikan perspektif akademik terkait penataan regulasi penyiaran di tengah berlangsungnya konversi dan transformasi digital. Syahrul Aidi menekankan pentingnya peningkatan kompetensi jurnalis, terutama memahami berbagai regulasi yang berkaitan dengan profesi jurnalistik di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI. Menurutnya, jurnalis perlu memahami secara utuh Undang-Undang Pers, regulasi penyiaran, aturan terkait teknologi dan media, serta berbagai regulasi baru yang berpotensi bersinggungan dengan aktivitas jurnalistik. "Jurnalis tentu membutuhkan pemahaman tentang Undang-Undang Pers, Undang-Undang Penyiaran, maupun regulasi terkait teknologi dan media yang mereka berkecimpung di sana,” ujar Syahrul Aidi. Ia mengatakan perkembangan teknologi semakin cepat membuat pengetahuan dan kapasitas insan pers juga perlu terus diperbarui. Itu sebabnya, forum seperti webinar tersebut dinilai penting sebagai sarana meningkatkan pemahaman jurnalis sekaligus membuka ruang bagi mereka untuk menyampaikan aspirasi terkait kebutuhan regulasi. “Pengetahuan itu perlu di-upgrade. Pada kesempatan ini kita memfasilitasi agar para jurnalis, khususnya di Riau, bisa mendapatkan pemahaman secara utuh terkait regulasi yang sedang dibahas di DPR RI, baik mengenai digital, media penyiaran maupun hal-hal yang berkaitan dengan itu,” jelasnya. Syahrul Aidi juga mengajak para jurnalis aktif memberikan masukan mengenai regulasi yang dibutuhkan di tengah perkembangan teknologi digital. Aspirasi dari kalangan pers, ucapnya, penting untuk menjadi bahan dalam mempersiapkan regulasi yang mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus tetap memberikan perlindungan terhadap profesi jurnalistik. “Silakan ditampung hal-hal yang menjadi aspirasi teman-teman jurnalis agar kemudian bisa kita kaitkan dengan regulasi, sehingga kita bisa mempersiapkan regulasinya,” imbuhnya. Ia menyebut isu AI saat ini tidak hanya menjadi perhatian di tingkat nasional, tetapi juga telah dibahas dalam berbagai forum internasional. Melalui Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP), isu AI turut menjadi perhatian karena memiliki keterkaitan erat dengan media, penyiaran dan jurnalistik. “AI ini isu global dan sudah dibahas di forum-forum global, di IPU misalnya. AI sangat erat hubungannya juga dengan penyiaran, dengan media, dengan jurnalistik,” bebernya. Kata Syahrul Aidi, pihaknya juga telah menyurati pimpinan DPR RI terkait dorongan agar regulasi di bidang teknologi informasi dan komunikasi terus diperkuat dan dibahas sesuai perkembangan zaman. Ia kembali meminta masukan dari kalangan jurnalis agar penguatan regulasi ke depan tetap memperhatikan kepentingan profesi jurnalistik dan prinsip kebebasan pers. “Kami sudah menyurati pimpinan. Mudah-mudahan secepatnya, dan tentu juga meminta masukan kepada teman-teman jurnalis,” tukasnya. Peningkatan kapasitas jurnalis dalam memahami teknologi dan regulasi, sambungnya, menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas pers di tengah transformasi digital. Jurnalis tidak hanya dituntut mampu memanfaatkan teknologi, tetapi juga memahami risiko dan tanggung jawab yang menyertainya. “Profesi jurnalis tetap bisa menjadi profesi yang betul-betul menjadi pilar demokrasi. Salah satu pilar demokrasi itu adalah media, tentunya dalam hal ini adalah para jurnalis,” tegasnya. Webinar berlangsung interaktif. Peserta mengikuti pemaparan dan sesi diskusi dengan antusias. Sejumlah persoalan terkait pemanfaatan AI, keamanan digital, regulasi penyiaran, kebebasan pers serta tantangan jurnalisme di era digital turut dibahas. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman jurnalis mengenai perkembangan teknologi sekaligus mendorong pemanfaatan AI secara bertanggung jawab dalam menjalankan tugas jurnalistik. Forum ini juga menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif parlemen, pemerintah, praktisi dan akademisi dalam membahas perkembangan teknologi, kebutuhan regulasi, keamanan digital, serta keberlangsungan kebebasan pers di Indonesia.
India dan Indonesia Perkuat Kerja Sama Pertambangan, Bidik Mineral Kritis dan Peluang Hilirisasi
Jakarta, katakabar.com - India dan Indonesia mendorong penguatan kerja sama di sektor pertambangan dan batu bara dengan memperluas kolaborasi dari perdagangan komoditas menuju investasi, teknologi, mineral kritis, industri hilir, dan keamanan rantai pasok. Peluang tersebut dibahas dalam roundtable “Boosting India-Indonesia Collaboration in Mining and Coal Sectors” di Tagore Hall, New Chancery, Kedutaan Besar India di Jakarta, 11 September 2026. Pertemuan mempertemukan pejabat pemerintah, perusahaan pertambangan, asosiasi industri, investor, kontraktor, dan pemangku kepentingan dari kedua negara. Indonesia menawarkan sumber daya mineral yang besar, sementara India memiliki kemampuan industri, teknologi, investasi, dan kebutuhan pasar yang terus berkembang. India Ingin Menjadi Mitra, Bukan Sekadar Pembeli Bahan Mentah Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menegaskan bahwa India tidak tertarik hanya mendapatkan akses bahan baku. “Kami tidak tertarik hanya mengambil bahan mentah. Kami ingin bermitra dengan Anda, dan kami ingin menjadi mitra dalam kemajuan Anda," kata Sandeep. Menurutnya, kebijakan hilirisasi Indonesia telah mengubah lanskap investasi. Perusahaan India perlu melihat Indonesia bukan hanya sebagai sumber mineral, tetapi juga sebagai tempat membangun fasilitas pengolahan, manufaktur, dan industri bernilai tambah. Mineral Kritis Jadi Area Strategis Baru Vivek Kumar Bajpai, Joint Secretary, Ministry of Mines, Government of India, menjelaskan transformasi sektor pertambangan India melalui eksplorasi, pengelolaan data geologi, keterlibatan swasta, dan pengembangan pengolahan mineral. India juga memberikan perhatian besar terhadap National Critical Mineral Mission (NCMM), yang mencakup eksplorasi, lelang blok, akuisisi aset luar negeri, fasilitas pengolahan, daur ulang, serta penelitian dan pengembangan. “Perusahaan-perusahaan India sangat tertarik untuk datang ke Indonesia dan melakukan investasi di sini,” kata Bajpai. Langkah berikutnya, menurutnya, adalah mempertemukan perusahaan India dengan proyek dan mitra yang tepat di Indonesia. Batu Bara Tetap Strategis, India Dorong Modernisasi Bhuvaneshwari S., Deputy Secretary, Ministry of Coal, Government of India, menjelaskan batu bara masih berperan penting dalam sistem energi India. Namun, pemerintah mendorong reformasi kebijakan, modernisasi teknologi, serta pemanfaatan batu bara untuk menghasilkan nilai tambah. India membuka sektor pertambangan batu bara melalui commercial mining dan mendorong penggunaan AI, GPS, GIS, serta sistem pemantauan terintegrasi. Melalui National Coal Gasification Mission, India juga mengembangkan teknologi untuk mengubah batu bara menjadi produk dan bahan baku industri, dengan tetap memperhatikan lingkungan dan keselamatan. Indonesia Punya Potensi Besar Mineral Kritis Debdutta Ganguly, President Director PT HDJ Consultant Indonesia, menilai Indonesia memiliki posisi strategis dalam industri pertambangan global, termasuk batu bara, nikel, tembaga, emas, bauksit, dan timah. Indonesia telah mengidentifikasi 47 mineral kritis, sementara India memiliki sekitar 30. Nikel, kobalt, tembaga, grafit, timah, dan rare earth elements menjadi sejumlah mineral yang memiliki kepentingan bagi kedua negara. Ganguly mendorong kedua negara segera menentukan proyek prioritas. “Identifikasi beberapa proyek prioritas. Kita cocokkan kemampuan India dengan proyek-proyek di Indonesia. Kemudian kita dapat meluncurkan dua atau tiga proyek percontohan," ucapnya. APNI Buka Peluang bagi Perusahaan India Meidy Katrin Lengkey, Secretary General Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), memaparkan pesatnya perkembangan industri nikel Indonesia. Menurutnya, sekitar 450 perusahaan tambang nikel aktif berproduksi, sementara hilirisasi telah mendorong pembangunan berbagai fasilitas pengolahan dan pemurnian. Indonesia kini memasok sekitar 65 persen kebutuhan nikel dunia. Tetapi, Meidy menyoroti dominasi investor China di sektor hilir. “Sayangnya, sejak program hilirisasi dimulai, kita dapat melihat bahwa sekitar 90 persen sektor hilir berasal dari China," timpalnya. Kondisi tersebut membuka ruang bagi India untuk menjadi mitra baru Indonesia, tidak hanya di nikel tetapi juga 47 mineral kritis yang telah diidentifikasi Indonesia. Dari Nikel Menuju Produk Bernilai Tambah Kamlesh Kumar, COO Tata Power Indonesia, menilai peluang nikel seharusnya tidak hanya diarahkan untuk menambah kapasitas produksi. Sejumlah segmen telah menghadapi oversupply, sehingga peluang lebih menarik dapat berada pada tahapan lebih tinggi dalam rantai nilai. Selain nickel pig iron (NPI), perusahaan dapat mempertimbangkan bahan kimia dan material yang digunakan dalam rantai nilai baterai. Tembaga, timah, bauksit, dan coal gasification juga dinilai memiliki peluang kerja sama. Ashok Mitra, mantan CEO Kaltim Prima Coal (KPC), menambahkan bahwa gasifikasi batu bara bukan konsep baru di Indonesia, tetapi masih menghadapi tantangan ekonomi proyek, kebutuhan investasi, serta ketersediaan batu bara yang sesuai. Adani Dorong Perusahaan India Lebih Agresif Siddharth Taparia, Country Head Adani Indonesia, mengatakan perusahaan India perlu melihat peluang lebih luas dan tidak hanya berfokus pada batu bara. Nikel, tembaga, dan bauksit dapat menjadi pintu masuk baru. Ia menilai perusahaan China telah bergerak sangat agresif dengan membawa modal, teknologi, peralatan, dan kemampuan engineering. “Kita harus lebih agresif.” Namun, perusahaan yang masuk ke Indonesia juga harus memahami ekosistem lokal dan memberikan nilai tambah. Danantara Melihat Peluang dari Tambang hingga Baterai Suryadi Wijaya, Director Investment Danantara, mengatakan peluang investasi dapat dikembangkan melalui co-investment dan kemitraan dengan investor strategis, dengan tetap berorientasi pada commercial return. Rantai nilai tersebut mencakup pengolahan mineral, material baterai, anode, cathode, battery cell, hingga kendaraan listrik. Indonesia juga membutuhkan diversifikasi teknologi agar tidak bergantung pada satu pendekatan atau sumber teknologi. Mineral Kritis Bukan Sekadar “Dig and Sell” Naveen Chandralal, Director PT Amman, menekankan bahwa mineral kritis membutuhkan perspektif jangka panjang. “Mineral kritis bukan sekadar dig and sell," tuturnya. Pengembangan mineral kritis membutuhkan fasilitas pengolahan, modal besar, teknologi, dan kepastian pasar. Tembaga, misalnya, semakin penting bagi India seiring meningkatnya kebutuhan industri. Indonesia dapat menjadi mitra strategis karena memiliki sumber daya dan pengalaman dalam operasi pertambangan berskala besar. Tantangan Pasokan Nikel Arief Perdana Kusumah, Chairman Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), menyoroti konsentrasi pasar nikel Indonesia ke China. Ia menyebut sekitar 93 persen produksi logam nikel Indonesia mengalir ke China. Arief juga menyoroti kebutuhan impor bijih nikel dari Filipina, terutama karena Maluku Utara menghadapi defisit bijih di tengah terkonsentrasinya kapasitas pengolahan nikel di wilayah tersebut. Salah satu opsi yang dibahas untuk menjamin pasokan adalah long-term offtake agreement dengan produsen yang telah beroperasi. Pilihan lainnya adalah kepemilikan saham atau akuisisi fasilitas yang sudah beroperasi. Meidy menjelaskan bahwa impor bijih dari Filipina berkaitan dengan karakteristik bijih yang dibutuhkan fasilitas pengolahan dan dapat dicampur dengan bijih domestik. Di tengah oversupply pada sejumlah segmen, Indonesia dinilai perlu semakin berfokus pada nilai tambah. Peluang bagi Kontraktor Pertambangan India Roundtable juga membahas peluang bagi perusahaan India untuk masuk sebagai kontraktor pertambangan maupun melalui model Mine Developer and Operator (MDO). Kuhan Selvaretnam, Director Sumbar Mitra Jaya, memberikan perspektif dari sisi kontraktor pertambangan Indonesia. Menurutnya, Indonesia telah berkembang pesat dari sisi teknologi pertambangan. “Dari perspektif pertambangan, Indonesia sudah cukup maju. Kita memiliki akses terhadap teknologi terbaru, baik untuk alat berat, pengawasan tambang, pengembangan tambang dan sebagainya," katanya. Ia juga melihat perbedaan model kontraktor Indonesia dan MDO di India sebagai peluang untuk saling belajar. Kuhan turut mengapresiasi perkembangan regulasi pertambangan India dan upaya menuju praktik pertambangan batu bara yang lebih ramah lingkungan. Saatnya Mengubah Dialog Menjadi Aksi Bijay Selvaraj, Deputy Chief of Mission Kedutaan Besar India di Jakarta, menilai forum tersebut mempertemukan keahlian dari pembuat kebijakan, perusahaan, investor, perbankan, dan Danantara. “Sudah menjadi sangat jelas bahwa Indonesia adalah tempat di mana hampir segala sesuatu terjadi dalam hal pertambangan. Anda dapat menyebut mineral apa pun, dan mineral itu ada di sini,” tukasnya. Menurutnya, peluang tersebut harus berjalan bersama kebijakan hilirisasi dan transisi menuju industri yang lebih bersih. “Kita tidak bisa hanya berada di apa yang disebut sebagai ruang kotor. Kita harus masuk ke ruang yang bersih dan juga menunjukkannya,” bebernya. India Mining Week Jadi Forum Lanjutan Selvaraj mengundang pelaku industri Indonesia untuk melanjutkan pembicaraan melalui India Mining Week pada 15 hingga 17 November 2026. Forum tersebut diharapkan menjadi kesempatan untuk mengidentifikasi peluang investasi dan kemitraan yang lebih konkret. Pertemuan di Jakarta menunjukkan bahwa kerja sama pertambangan India dan Indonesia mulai bergerak melampaui perdagangan komoditas. Batu bara tetap menjadi bagian penting, tetapi peluang masa depan semakin mengarah pada mineral kritis, hilirisasi, teknologi, pengolahan, manufaktur, investasi bersama, dan keamanan rantai pasok. Tantangan berikutnya adalah mengubah komplementaritas kedua negara menjadi proyek nyata dengan menentukan proyek prioritas, mempertemukan perusahaan yang tepat, dan membangun proyek percontohan sebagai dasar kemitraan industri jangka panjang.
PTPN Group Terus Perkuat Branding Produk Hilir
Jakarta, katakabar.com - PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I), subholding PTPN III (Persero) terus perkuat strategi branding dan pemasaran produk hilir sebagai bagian dari akselerasi hilirisasi serta peningkatan nilai tambah komoditas perkebunan. Regulasi yang membuka peluang bagi badan usaha milik negara (BUMN) untuk memperluas bisnis hingga menyasar konsumen akhir dan pasar ritel menjadi momentum strategis bagi PTPN I untuk mendekatkan produk-produknya kepada masyarakat. Direktur Utama PTPN I, Abdul Rivai Ras, mengatakan perusahaan memiliki sejarah panjang sebagai produsen berbagai produk konsumen berkualitas yang reputasinya telah dikenal hingga pasar Eropa dan Amerika. “Kita memiliki sejarah panjang sebagai produsen consumer goods dengan reputasi yang sudah dikenal hingga Eropa sejak zaman Belanda. Teh Walini, Kopi Banaran, Cerutu Golden Djawa, Cerutu Deli Nusantara, dan berbagai produk perkebunan lainnya merupakan merek-merek yang memiliki nama besar. Namun, ketika BUMN tidak lagi menyentuh pasar hingga sektor riil, pamor merek-merek tersebut perlahan tertinggal dari merek swasta yang bergerak lebih agresif. Sekarang saatnya kita kembali memperkuat posisi itu sejalan dengan program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah,” ujar Abdul Rivai Ras di Jakarta, di suatu perbincangan di pekan pertama September 2026. Abdul Rivai Ras mengakui, membangkitkan kembali kejayaan merek-merek PTPN I di tengah persaingan pasar yang semakin ketat bukan pekerjaan mudah. Namun, tren pasar saat ini memberikan peluang besar karena konsumen semakin mengutamakan kualitas, keamanan pangan, reputasi produk, serta keberlanjutan lingkungan. “Kesadaran masyarakat terus meningkat seiring membaiknya tingkat kesejahteraan. Konsumen kini tidak hanya membeli produk, tetapi juga memilih kualitas, keamanan pangan, reputasi premium, dan proses produksi yang ramah lingkungan. Karena itu, kami akan terus memperkuat branding seluruh produk ritel PTPN I, mulai dari Teh Walini, Kopi Banaran, Kopi Rollaas, Cerutu Golden Djawa, Cerutu Deli Nusantara, hingga produk-produk unggulan lainnya,” ucapnya. Menurut Abdul Rivai Ras, program hilirisasi yang menjadi salah satu agenda prioritas Presiden Prabowo Subianto merupakan peluang strategis bagi PTPN I untuk meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan. Hilirisasi, menurutnya, tidak cukup berhenti pada proses produksi, tetapi harus mampu membangun merek, memperluas akses pasar, dan menciptakan pengalaman yang mendorong konsumen terus memilih produk PTPN I. “Hilirisasi tidak berhenti ketika produk selesai diproduksi. Hilirisasi baru berhasil ketika produk sampai ke tangan konsumen, digunakan, dibeli kembali, dan menjadi pilihan utama masyarakat. Di situlah nilai tambah benar-benar tercipta,” jelasnya. Dekatkan Produk kepada Konsumen PTPN I memiliki modal kuat untuk mengakselerasi strategi tersebut. Selain didukung portofolio merek yang telah dikenal luas, perusahaan memiliki belasan ribu karyawan yang tersebar di berbagai wilayah operasional. “Kita tidak boleh hanya bangga memiliki Teh Walini, Kopi Rollaas, Kopi Banaran, Cerutu Golden Djawa, maupun Cerutu Deli Nusantara. Produk-produk itu harus semakin dekat dengan masyarakat. Transformasi dimulai dari diri kita sendiri. Belasan ribu insan PTPN I harus menjadi pelanggan pertama, duta pertama, sekaligus pemasar pertama bagi produk kebanggaan perusahaan,” ujarnya. Sebagai bagian dari penguatan ekosistem pemasaran, PTPN I akan memperluas penggunaan produk-produknya di seluruh lingkungan perusahaan, mulai dari kantor, ruang rapat, mess karyawan, guest house, hingga destinasi wisata yang dikelola perusahaan. “Kalau kita sendiri belum bangga menyajikan produk PTPN I kepada tamu, bagaimana masyarakat akan mengenal kualitasnya? Setiap fasilitas perusahaan harus menjadi etalase yang memperkenalkan kekuatan merek-merek PTPN I,” ulasnya. Selain memperluas penggunaan produk di lingkungan internal, PTPN I akan mengembangkan gerai dan café berbasis produk hilir pada sejumlah aset strategis perusahaan. Konsep tersebut dirancang sebagai ruang yang mengintegrasikan promosi, pengalaman pelanggan, dan aktivitas perdagangan dalam satu ekosistem bisnis. Melalui gerai tersebut, pengunjung dapat menikmati cerutu premium Indonesia yang dipadukan dengan kopi dan teh produksi PTPN I, sekaligus memperoleh berbagai produk unggulan perusahaan. “Kami ingin menghadirkan lebih dari sekadar café. Kami ingin membangun sebuah destinasi yang menjadi rumah bagi merek-merek PTPN I, tempat masyarakat dapat menikmati kualitas produk sekaligus melakukan transaksi. Di situlah promosi, pengalaman pelanggan, dan bisnis bertemu dalam satu ekosistem,” kata Abdul Rivai Ras. Jadikan Aset sebagai Mesin Pertumbuhan Pengembangan gerai akan memanfaatkan aset-aset strategis perusahaan yang berada di Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya, dan Makassar. Optimalisasi aset tersebut akan menjadi bagian dari strategi pertumbuhan perusahaan sekaligus memperkuat jangkauan pasar produk-produk PTPN I. “Setiap aset PTPN I harus menjadi mesin pertumbuhan. Aset tidak boleh hanya menjadi bangunan yang dimiliki perusahaan, tetapi harus menjadi pusat aktivitas ekonomi yang memperkuat merek, menggerakkan hilirisasi, dan menciptakan sumber pendapatan baru yang berkelanjutan,” tegasnya. Abdul Rivai Ras optimistis sinergi antara penguatan merek, optimalisasi aset, dan keterlibatan seluruh insan perusahaan akan mempercepat transformasi bisnis PTPN I. Melalui strategi tersebut, Holding Perkebunan Nusantara mendorong produk-produk unggulan PTPN I semakin dekat dengan masyarakat, memperluas pangsa pasar, dan meningkatkan daya saing perusahaan di pasar nasional maupun internasional.