PMII Riau Soroti Sepuluh Persoalan Strategis Tentukan Arah Pembangunan Daerah
Pekanbaru, katakabar.com - Arah pembangunan Riau dinilai tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik. Persoalan lingkungan, konflik agraria, tata kelola sumber daya alam, pengelolaan anggaran, ketimpangan infrastruktur hingga kualitas sumber daya manusia masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian serius pemerintah daerah. Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Riau merangkum persoalan tersebut dalam 10 isu strategis yang dinilai penting untuk menjadi bahan evaluasi sekaligus pijakan dalam menentukan arah kebijakan pembangunan daerah. Ketua PKC PMII Riau, Ghulam Zaky, mengatakan pemetaan tersebut merupakan bagian dari upaya PMII membaca persoalan Riau secara lebih utuh. Menurutnya, berbagai persoalan daerah tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dan dapat memengaruhi kualitas pembangunan serta kesejahteraan masyarakat. “Kami tidak ingin melihat persoalan Riau secara parsial. Karhutla berkaitan dengan tata kelola lahan, konflik agraria berkaitan dengan kepastian hukum, sementara pertumbuhan ekonomi juga harus dilihat dari sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat,” ujar Ghulam. Sepuluh isu yang menjadi perhatian PMII Riau meliputi lingkungan dan karhutla; konflik agraria dan HGU; tata kelola sumber daya alam dan hilirisasi; APBD dan transparansi anggaran; BUMD dan optimalisasi PAD; pemerataan infrastruktur; tenaga kerja lokal; pendidikan dan kualitas SDM; penegakan hukum serta perlindungan kelompok rentan; dan pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Karhutla Tak Cukup Ditangani Saat Api Muncul Persoalan kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu perhatian utama PMII Riau. Organisasi mahasiswa tersebut menilai penanganan karhutla tidak boleh berhenti pada pemadaman ketika kebakaran telah terjadi. Menurut Ghulam, pencegahan, deteksi dini, pengawasan kawasan rawan, penegakan hukum, restorasi gambut dan pelibatan masyarakat harus ditempatkan sebagai satu rangkaian kebijakan. PMII Riau juga menilai pendekatan Green Policing perlu terus diperkuat dengan ukuran keberhasilan yang konkret. “Green Policing harus diterjemahkan ke dalam kerja yang terukur. Bukan hanya bagaimana memadamkan api, tetapi bagaimana mencegah kebakaran, memastikan kawasan rawan diawasi dan memastikan ada penegakan hukum ketika terjadi pelanggaran,” ucapnya. PMII mendorong penguatan sistem peringatan dini, optimalisasi pemantauan titik panas, pengawasan terhadap perusahaan pemegang konsesi, restorasi kawasan gambut terdegradasi serta penguatan koordinasi penanganan karhutla hingga tingkat kabupaten dan desa. Konflik Agraria dan HGU Perlu Data Terbuka Selain persoalan lingkungan, konflik agraria juga dinilai masih menjadi tantangan besar pembangunan Riau. Konflik yang berkaitan dengan HGU, kawasan hutan, perkebunan, tanah masyarakat dan tanah ulayat, menurut PMII, tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan administratif. Ghulam menilai pemerintah membutuhkan basis data konflik agraria yang terbuka dan dapat diverifikasi agar penyelesaian tidak berhenti pada persoalan di permukaan. “Yang dibutuhkan bukan hanya mediasi ketika konflik sudah terjadi. Pemerintah harus memiliki peta persoalan yang jelas, mengetahui status lahannya, siapa yang menguasai, apa dasar hukumnya dan bagaimana sejarah konflik tersebut,” ulasnya. PMII Riau mendorong evaluasi terhadap HGU yang bermasalah atau tidak produktif, penguatan mekanisme penyelesaian konflik, serta keterbukaan informasi mengenai status lahan dan perizinan. SDA Jangan Berhenti pada Aktivitas Ekstraktif Pada sektor sumber daya alam, PMII Riau menyoroti persoalan pertambangan ilegal, pengawasan perizinan, distribusi energi serta tata kelola hasil sumber daya alam. Kata Ghulam, Riau memiliki sumber daya yang besar, tetapi besarnya potensi tersebut harus diikuti dengan kemampuan daerah menciptakan nilai tambah. “Riau jangan hanya menjadi daerah penghasil bahan mentah. Hilirisasi harus memberikan nilai tambah bagi daerah sekaligus membuka ruang yang lebih besar bagi tenaga kerja dan pelaku usaha lokal,” jelasnya. PMII juga mendorong pengawasan yang lebih ketat terhadap aktivitas ekstraktif serta penindakan terhadap kegiatan yang melanggar ketentuan hukum. APBD Harus Bisa Diukur Manfaatnya Sementara, Sekretaris PKC PMII Riau, Supriadi, menyoroti tata kelola APBD, transparansi anggaran dan kinerja badan usaha milik daerah. Ia mengatakan, ukuran keberhasilan anggaran tidak berhenti pada terserapnya anggaran, tetapi harus dilihat dari manfaat dan hasil yang diterima masyarakat. “Masyarakat berhak mengetahui untuk apa anggaran digunakan, siapa penerima manfaatnya dan apa hasil yang dihasilkan. Transparansi anggaran harus berujung pada akuntabilitas,” tutur Supriadi. PMII Riau mendorong keterbukaan informasi sejak tahap perencanaan hingga evaluasi program. Pengawasan terhadap belanja yang tidak produktif juga dinilai perlu diperkuat. Pada sektor BUMD, PMII meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap perusahaan daerah yang tidak memberikan kontribusi optimal terhadap pendapatan daerah. Menurut PMII, BUMD seharusnya tidak hanya menjadi entitas bisnis milik pemerintah, tetapi juga instrumen untuk memperkuat perekonomian daerah dan meningkatkan PAD. Pemerataan Pembangunan Jangan Berhenti di Pusat Kota Persoalan infrastruktur juga masuk dalam daftar perhatian PMII Riau. Pembangunan jalan, jembatan, air bersih, sanitasi, listrik dan infrastruktur digital dinilai harus mempertimbangkan kesenjangan antarwilayah. Wilayah pesisir, kepulauan, pedalaman dan daerah yang jauh dari pusat pemerintahan, menurut PMII, harus mendapatkan perhatian yang proporsional. "Pembangunan tidak boleh hanya terlihat dari pusat pemerintahan. Ukurannya juga harus dilihat dari kondisi masyarakat yang berada jauh dari pusat pertumbuhan,” kata Supriadi. Investasi Harus Membuka Ruang bagi Tenaga Kerja Lokal Pada sektor ketenagakerjaan, PMII menilai investasi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas tenaga kerja daerah. Supriadi mengatakan pemerintah perlu memperkuat pelatihan, sertifikasi, program magang dan hubungan antara lembaga pendidikan dengan dunia industri. Menurutnya, masyarakat lokal tidak boleh hanya menjadi penonton ketika investasi masuk ke daerah. “Investasi harus menciptakan ruang bagi masyarakat lokal. Karena itu, peningkatan kualitas SDM dan kesempatan kerja harus dirancang sebagai satu kebijakan,” ujarnya. Selain lapangan kerja, PMII juga menyoroti pemerataan akses pendidikan dan beasiswa serta perlindungan terhadap hak-hak pekerja. Penegakan Hukum Harus Memberikan Rasa Aman Ketua Kopri PKC PMII Riau, Utari Nelviandi, menyoroti aspek penegakan hukum dan perlindungan kelompok rentan, khususnya perempuan dan anak. Menurut Utari, kualitas pembangunan tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh rasa aman dan kepastian hukum yang diterima masyarakat. “Penegakan hukum harus memberikan keadilan sekaligus rasa aman. Perempuan, anak dan kelompok rentan harus mendapatkan perlindungan ketika berhadapan dengan persoalan hukum,” terangnya. PMII mendorong penguatan kanal pengaduan, perlindungan identitas korban serta pendampingan hukum dan pemulihan bagi korban kekerasan. Pencegahan kekerasan seksual juga dinilai perlu diperkuat melalui edukasi dan sistem pelaporan yang mudah diakses serta memberikan jaminan keamanan bagi korban. Pertumbuhan Ekonomi Harus Terasa hingga Masyarakat Wakil Ketua I PKC PMII Riau, Hotib Sempura, menilai pertumbuhan ekonomi harus dilihat dari dampaknya terhadap masyarakat. Menurutnya, peningkatan aktivitas investasi tidak otomatis berarti kesejahteraan masyarakat meningkat apabila tidak diikuti penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan dan penguatan pelaku ekonomi lokal. “Pertumbuhan ekonomi harus menghasilkan manfaat yang lebih merata. UMKM, koperasi, petani, nelayan dan pelaku usaha lokal harus memiliki ruang untuk tumbuh dalam pembangunan Riau,” tukas Hotib. PMII mendorong perluasan akses permodalan, teknologi dan pasar bagi pelaku usaha lokal serta penguatan hilirisasi komoditas unggulan daerah. PMII Siap Mengawal, Bukan Sekadar Mengkritik Ghulam menegaskan sepuluh isu tersebut tidak dimaksudkan sebagai daftar kritik semata. PMII, kata dia, ingin menempatkan mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat sipil yang ikut mengawasi sekaligus menawarkan gagasan bagi pembangunan daerah. “Kami ingin menjadi mitra kritis pemerintah. Kalau ada kebijakan yang baik, tentu harus kita dukung. Kalau ada yang perlu dikoreksi, kami akan menyampaikan kritik sekaligus menawarkan alternatif,” bebernya. Ia mengatakan rekomendasi tersebut akan menjadi bagian dari agenda PMII Riau dalam mengawal berbagai kebijakan daerah melalui kajian, dialog publik dan ruang partisipasi masyarakat. Menurut Ghulam, pembangunan Riau pada akhirnya harus diukur bukan hanya dari seberapa besar anggaran yang dibelanjakan atau seberapa banyak proyek yang dibangun, tetapi dari seberapa jauh perubahan tersebut benar-benar dirasakan masyarakat. “Ukuran akhirnya sederhana: apakah pembangunan mampu membuat masyarakat lebih sejahtera, lingkungan lebih terlindungi, hukum lebih berkeadilan dan kesempatan ekonomi semakin terbuka. Di titik itulah kebijakan publik harus diuji,” tandas Ghulam.
Indonesia dan IIT Madras Perkuat Kemitraan Strategis Bidang Riset, Inovasi dan Komersialisasi Teknologi Deep-Tech
Jakarta, katakabar.com - ndonesia’s Ministry of Higher Education, Science & Technology dan IIT Madras Global Research Foundation (IITM Global) tandatangani Memorandum of Understanding (MoU) di pekan pertama untuk memperkuat kerja sama di bidang pendidikan tinggi, riset strategis, inovasi, teknologi deep-tech, kewirausahaan, dan pengembangan talenta, sekaligus menandai langkah baru penguatan kemitraan strategis India dan Indonesia. Perjanjian tersebut ditandatangani dalam kunjungan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains & Teknologi Indonesia, Prof. Brian Yuliarto, ke Indian Institute of Technology Madras (IIT Madras). Kemitraan tersebut diformalkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Indian Institute of Technology Madras (IIT Madras) dalam kunjungan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains & Teknologi Indonesia, Prof. Brian Yuliarto. Perjanjian ini dirancang untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi kolaboratif, mempercepat komersialisasi solusi deep-tech, serta mendukung pengembangan talenta dan perusahaan yang berdaya saing global. Kolaborasi ini mempertemukan kemampuan IIT Madras di bidang riset, teknologi deep-tech, inovasi, dan kewirausahaan dengan prioritas pembangunan nasional Indonesia. Kedua pihak bertujuan mengembangkan solusi praktis dan dapat diperluas yang dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, kemandirian teknologi, dan pembangunan berbasis pengetahuan. Dari Riset Bersama hingga Komersialisasi Salah satu fokus utama kemitraan ini adalah menciptakan jalur yang lebih kuat antara lembaga penelitian dan sektor komersial, sehingga berbagai gagasan yang dikembangkan melalui riset akademik dapat bergerak melampaui laboratorium menuju startup, industri, dan penerapan ekonomi yang lebih luas. Melalui kemitraan ini, universitas-universitas di Indonesia diharapkan memperoleh lebih banyak peluang untuk berpartisipasi dalam riset bersama, pengembangan talenta, komersialisasi teknologi, dan program inovasi bersama IIT Madras Global Research Foundation. Bagi Indonesia, kolaborasi ini ditujukan untuk mendukung ambisi yang lebih luas dalam membangun ekonomi berbasis inovasi, di mana riset dapat menghasilkan nilai ekonomi yang nyata. Kemitraan ini juga berupaya memperkuat hubungan antara universitas, peneliti, mahasiswa, pengusaha, dan industri. “Indonesia telah menetapkan visi ambisius untuk menjadi ekonomi yang kompetitif secara global dan digerakkan oleh inovasi. Untuk mencapainya, diperlukan kemitraan yang kuat yang memberdayakan universitas, peneliti, mahasiswa, dan pengusaha untuk bekerja sama dengan institusi kelas dunia,” ujar Prof. Brian Yuliarto. “Tujuan kami bukan hanya menghasilkan riset yang unggul, tetapi juga mengubah gagasan menjadi startup, membantu startup tersebut berkembang menjadi industri yang kompetitif secara global, dan menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia,” jelasnya. Membangun Model Inovasi Selatan-Selatan Di luar proyek riset individual, perjanjian ini menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk membangun ekosistem inovasi yang dapat menjadi model bagi kemitraan Selatan-Selatan di masa depan. Kemitraan ini menggabungkan kemampuan riset dan teknologi IIT Madras yang telah diakui secara global dengan agenda pembangunan Indonesia, dengan tujuan menghasilkan solusi yang dapat diterapkan dalam skala luas. Kedua negara juga melihat kolaborasi ini sebagai peluang untuk menunjukkan bagaimana institusi dari negara-negara berkembang dapat bekerja sama dalam membangun kapasitas teknologi dan kewirausahaan yang lebih kuat. Prof. V. Kamakoti, Chairman IIT Madras Global Research Foundation sekaligus Director IIT Madras, mengatakan kemitraan ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap ekosistem riset dan inovasi IIT Madras serta kemampuannya untuk bekerja sama dengan mitra internasional dalam menghadapi berbagai tantangan dunia nyata. “Melalui IIT Madras Global Research Foundation, kami memperluas kemampuan kami melampaui batas-batas nasional untuk bersama-sama menciptakan solusi yang menjawab berbagai tantangan dunia nyata,” kata Prof. Kamakoti. Ia menambahkan bahwa kemitraan tersebut akan berkontribusi dalam membangun ekosistem riset, inovasi, dan kewirausahaan yang kompetitif secara global, sekaligus mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan dan memperkuat hubungan yang telah terjalin antara India dan Indonesia. MoU Diteken Pejabat Senior Kedua Negara MoU tersebut ditandatangani oleh Prof. Raghunathan Rengaswamy, Director IIT Madras Global Research Foundation, dan Madhav Narayan, CEO and Director IIT Madras Global Research Foundation, mewakili IITM Global, bersama Dr. Mohammad Fauzan Adziman, Director General of Research and Development dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains & Teknologi Indonesia. Penandatanganan tersebut turut disaksikan oleh Prof. V. Kamakoti, Prof. Brian Yuliarto, Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty, Prof. Preeti Aghalayam, Dean of Global Engagement IIT Madras, serta para dekan dan dosen IIT Madras, pejabat senior pemerintah dari India dan Indonesia, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Perjanjian ini merupakan tindak lanjut dari pembicaraan bilateral antara Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto, di mana kedua pemimpin kembali menegaskan komitmen untuk memperluas kerja sama di bidang pendidikan tinggi, sains, teknologi, inovasi, dan kewirausahaan. IIT Madras sebagai Pusat Riset dan Inovasi Global Didirikan pada 1959 oleh Pemerintah India sebagai Institute of National Importance, IIT Madras telah mengembangkan ekosistem akademik dan riset yang luas, mencakup 18 departemen akademik dan sejumlah pusat riset interdisipliner tingkat lanjut. Institusi ini menawarkan program sarjana dan pascasarjana di berbagai bidang serta memiliki lebih dari 650 dosen dan 10.000 mahasiswa, dengan mahasiswa yang berasal dari 18 negara. Institusi tersebut juga telah membangun ekosistem kewirausahaan yang kuat melalui dukungan IITM Incubation Cell. Diakui sebagai Institution of Eminence pada 2019, IIT Madras menempati peringkat pertama dalam kategori Overall selama tujuh tahun berturut-turut dalam India Rankings 2025. IIT Madras juga mempertahankan posisi pertama dalam kategori Engineering Institutions selama 10 tahun berturut-turut sejak 2016 hingga 2025. Selain itu, IIT Madras menempati peringkat pertama dalam kategori Sustainability Development Goals yang diperkenalkan pada 2025 dan juga meraih posisi pertama dalam kategori Innovations, meningkat dari peringkat kedua pada tahun sebelumnya. Pada 2023, IIT Madras menjadi IIT pertama yang mendirikan kampus internasional di Zanzibar, Tanzania, yang dikenal sebagai IIT Madras Zanzibar. Melalui kemitraan baru ini, kemampuan riset dan inovasi IIT Madras akan semakin terhubung dengan ekosistem pendidikan tinggi dan inovasi nasional Indonesia, menciptakan peluang baru bagi peneliti, mahasiswa, dan pengusaha dari kedua negara untuk berkolaborasi dalam pengembangan teknologi dan solusi yang memiliki dampak ekonomi dan sosial lebih luas.
Hisense Paparkan Strategi Pertumbuhan Berbasis AI Bentuk Era Baru Kehidupan Cerdas
Tiongkok, katakabar.com - Hisense sebagai merek global elektronik dan peralatan rumah tangga, perkenalkan strategi pertumbuhan berbasis AI. Bersama strategi ini, Hisense siap memasuki babak baru pengembangan global untuk terus mendorong inovasi, menghadirkan kehidupan yang cerdas, dan menciptakan nilai jangka panjang bagi konsumen. Pada Final FIFA World Cup 2026™ di New York, Hisense menggelar Hisense Global Partner Conference 2026. Momen ini menjadi wadah bagi Hisense untuk merangkul para konsumen dan mitra global dalam memperkenalkan visi masa depan di era AI. “AI telah mengubah segalanya, dan kita semua adalah bagian dari perubahan ini,” ujar Fisher Yu, CEO Hisense Group. “Di era AI, kita harus menyambut gelombang besar ini. Kami memperkuat strategi perusahaan melalui lima pilar utama: memperluas rekam jejak di seluruh rantai nilai AI; mentransformasi perangkat pintar menjadi pendamping rumah cerdas melalui inovasi skenario berbasis AI; mempertahankan pemasaran olahraga jangka panjang untuk memperkuat merek global; mengutamakan pendekatan berbasis layanan demi meningkatkan pengalaman pengguna; serta memperdalam glokalisasi guna menciptakan nilai jangka panjang bagi pelanggan dan mitra kami,” imbuhnya. Di dalam pusat strategi, Hisense adalah wujud komitmen jangka panjang dalam perkembangan AI. Hisense tengah membangun ekosistem AI terintegrasi yang mencakup seluruh rantai nilai. “Ketika kami memetakan Hisense ke dalam arsitektur ini, visi kami jelas membangun kembali seluruh bisnis kami berbasis AI,” jelas Yu. Di saat yang sama, Hisense memacu pertumbuhan di berbagai sektor seperti AI Hub, semikonduktor, energi cerdas, teknologi laser, hingga elektronik otomotif, sembari terus memperkuat lini bisnis perangkat pintarnya. Bagi konsumen, inovasi ini melahirkan era baru tempat perangkat rumah tangga bertransformasi menjadi pendamping cerdas. Bukan lagi sekadar alat, perangkat ini mampu membaca situasi, memahami preferensi personal, berinteraksi secara alami, dan bertindak secara proaktif. “Perangkat biasa sekadar menerima instruksi. Sebaliknya, seorang pendamping hadir untuk memahami Anda, membaca kebutuhan Anda, dan menciptakan kehangatan di rumah. Inilah masa depan yang sedang kami bentuk,” pungkas Yu. Visi ini telah hadir di seluruh ekosistem Hisense. Didukung V AI OS, TV Hisense dapat membaca keinginan pengguna dan menghadirkan tontonan favorit di saat yang paling pas. Tak hanya untuk hiburan, ekosistem ConnectLife menyatukan berbagai peralatan rumah tangga agar bertindak pintar dalam urusan dapur, perawatan pakaian, kenyamanan udara, hingga penghematan energi. Perpaduan fungsi AI ini menghadirkan kehangatan dan kemudahan baru di tengah keluarga. Berupaya memperkuat merk globalnya, Hisense menyatukan konsumen di seluruh dunia denegan kemitraan olahraga jangka panjang, melalui bahasa universal yang dipahami semua orang. “Sangat menyenangkan melihat mitra kami terus melangkah ke depan, menawarkan teknologi canggih seperti LED mutakhir, serta mendukung operasional VAR di setiap level pertandingan,” ungkap Romy Gai, Chief Business Officer FIFA. “Harvey Norman sangat mengapresiasi kemitraan dengan Hisense, terutama atas investasi global perusahaan yang berkelanjutan dalam teknologi mutakhir, inovasi, dan penguatan merek,” ucap Haydon Myers, Executive General Manager Electrical, Harvey Norman Australia. "Komitmen Hisense terhadap standar premium global terbukti lewat kemitraannya di tiga Piala Dunia FIFA berturut-turut. Komitmen jangka panjang inilah yang terus memperkuat merek Hisense sekaligus menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi konsumen, mitra ritel, dan industri secara luas,” imbuhnya. Investasi jangka panjang Hisense di dunia olahraga global tumbuh berdampingan dengan perjalanannya di ranah internasional. Memasuki era baru, di mana AI meredefinisikan berbagai industri, Hisense akan terus menyinergikan teknologi mutakhir, kemitraan global, serta inovasi yang mengedepankan kebutuhan pengguna untuk menciptakan pengalaman hidup cerdas yang lebih bermakna.
Mengapa IDBW 2026 di JICC Jadi Investasi Bisnis Paling Strategis 2026
Jakarta, katakabar.com - Indonesia kini tengah bergerak cepat menjadi pusat keuangan digital baru di Asia Tenggara. Sebagai respons terhadap momentum tersebut, gelaran Indonesia Blockchain Week (IDBW) 2026 yang akan berlangsung pada 12 hingga 13 Agustus 2026 di JICC hadir sebagai titik temu bisnis paling strategis tahun ini. Ajang ini menjadi kesempatan krusial bagi para pemimpin perusahaan dan investor untuk membangun jaringan eksklusif langsung dengan para pembuat keputusan global, sekaligus mengeksekusi peluang komersial nyata dari tren adopsi DeFi serta tokenisasi aset dunia nyata (Real-World Asset/RWA) Fase spekulasi di pasar Web3 global perlahan mulai usai. Menariknya, Indonesia justru bergerak cepat mengambil tongkat estafet untuk menjadi pusat keuangan digital baru di Asia Tenggara. Transisi aset kripto menjadi komersial di bawah regulasi formal saat ini bukan lagi sekadar eksperimen teknologi, melainkan realitas ekonomi baru yang wajib diantisipasi oleh para pelaku industri. Melihat pertumbuhan pasar domestik yang terus melonjak dalam berbagai laporan global, Jakarta kini resmi menjadi magnet baru bagi masuknya modal institusional internasional. Merespons momentum besar tersebut, Indonesia Blockchain Week (IDBW) 2026 kembali digelar pada 12–13 Agustus 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC). Usung tema “Turning Infrastructure into Impact”, gelaran tahun ini dirancang sebagai titik temu strategis bagi para pemimpin korporasi, investor, dan pembuat kebijakan untuk mengeksekusi peluang bisnis riil. Bagi eksekutif perusahaan dan founders, hadir di IDBW 2026 menjadi langkah komersial paling krusial tahun ini. Berikut adalah tiga alasan utamanya: 1. Memangkas Birokrasi Lewat Jalur Networking Langsung Membangun koneksi bisnis lewat platform digital sering kali terbentur dinding birokrasi yang kaku. Di JICC, hambatan tersebut dipangkas. Menghadirkan lebih dari 100 pembicara internasional, acara ini membuka akses langsung bagi para pelaku bisnis lokal untuk berdiskusi, bernegosiasi, dan membangun kemitraan strategis dengan para pendiri protokol global serta investor institusi di area eksklusif seperti VIP Lounge. 2. Fokus pada Dampak Riil: Tokenisasi RWA dan DeFi IDBW 2026 menggeser fokus industri dari yang tadinya sekadar membahas potensi teknologi menjadi pembuktian hasil ekonomi yang nyata. Salah satu topik utama yang akan dibedah adalah implementasi Real-World Asset (RWA) atau tokenisasi aset dunia nyata serta Decentralized Finance (DeFi) institusional. Sesi ini akan mengupas tuntas bagaimana perusahaan dapat memanfaatkan efisiensi blockchain untuk mengoptimalkan likuiditas aset tanpa harus terjebak dalam kerumitan teknis di balik layarnya. 3. Membaca Arah Tren Pasar dan Strategi Pendanaan Hadir di acara ini memberikan kesempatan bagi para pelaku bisnis untuk membaca arah tren pasar Web3 dan blockchain menjelang tahun 2027 sebelum menjadi konsumsi publik. Bagi investor, forum ini menjadi ruang yang tepat untuk memantau langsung proyek-proyek digital paling potensial di Asia Tenggara sekaligus bertemu dengan para inovator di balik proyek tersebut. Informasi Pendaftaran: Jangan hanya menjadi penonton dari balik meja kerja. Pendaftaran tiket saat ini telah dibuka bagi perusahaan, investor, dan inovator digital yang ingin mengamankan posisi strategis di pusat ekonomi digital Asia Tenggara. Amankan Akses IDBW 2026 Sekarang Untuk informasi lebih lanjut dan pemesanan tiket, silakan kunjungi situs resmi di www.indonesiablockchainweek.comatau ikuti akun resmi LinkedIn Indonesia Blockchain Week.
Bittime Sambut Peta Jalan IAKD OJK Langkah Strategis Perkuat Industri Aset Digital
Jakarta, katakabar.com - Bittime sambut positif penyusunan Roadmap (Peta Jalan) IAKD 2026–2031 oleh OJK sebagai langkah strategis perkuat ekosistem aset digital Indonesia. Roadmap ini dinilai memberikan kepastian regulasi yang mendorong inovasi, perlindungan investor, dan daya saing industri, sejalan dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap tokenisasi aset. Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD), Bittime menyambut positif langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang tengah menyusun Roadmap Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD) 2026-2031. Pengumuman itu disampaikan OJK saat Simposium Nasional dan Forum Konsultasi Stakeholder IAKD pada 2 Juli 2026 lalu. OJK menuturkan, Roadmap tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam memperkuat ekosistem aset digital Indonesia sekaligus mendorong inovasi yang tetap mengedepankan tata kelola dan perlindungan investor. Roadmap IAKD akan menjadi arah pengembangan industri aset keuangan digital Indonesia dengan mencakup berbagai agenda strategis, seperti pengembangan tokenisasi aset dan stablecoin, penguatan keamanan siber, transaksi Over-the-Counter (OTC), hingga pengembangan Single Investor Identifier (SID). Langkah tersebut sejalan dengan tren penguatan regulasi aset digital di berbagai negara, termasuk penerapan Markets in Crypto-Assets (MiCA) di Uni Eropa serta pembahasan Digital Asset Market Clarity Act (Clarity Act) di Amerika Serikat. Roadmap Dinilai Perkuat Kepastian Inovasi Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, mengatakan penyusunan Roadmap IAKD menunjukkan komitmen OJK dalam membangun industri aset digital yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus memberikan kepastian bagi pelaku industri untuk terus berinovasi. "Kami sambut baik penyusunan Roadmap IAKD OJK 2026–2031. Kepastian arah kebijakan menjadi faktor penting bagi pelaku industri untuk menghadirkan inovasi yang tetap mengedepankan tata kelola, perlindungan investor, dan keberlanjutan industri aset digital," ujar Ryan. OJK menyusun roadmap tersebut dengan empat prinsip utama, yaitu Affordability, Integrity, Agility, dan Sovereignty sebagai fondasi pengembangan ekosistem IAKD. Menurut Ryan, pendekatan tersebut sejalan dengan arah regulasi global yang semakin menitikberatkan pada keseimbangan antara inovasi dan perlindungan investor. "Penerapan MiCA di Uni Eropa menunjukkan bahwa regulasi yang jelas mampu memperkuat kepercayaan investor sekaligus membuka ruang bagi inovasi. Kami melihat Indonesia berada pada jalur yang positif melalui Roadmap IAKD yang diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri aset digital nasional," ucapnya. Sejalan dengan perkembangan tersebut, Bittime juga melihat meningkatnya minat masyarakat terhadap inovasi tokenisasi aset. Data awal Bittime menunjukkan kepemilikan Tokenized US Stocks meningkat 106% dalam 48 jam setelah peluncuran flexible staking untuk Tokenized saham AS, dengan sekitar 96% dana baru mengalir ke tokenized NVIDIA, Meta, dan Microsoft. Untuk mendukung tren tersebut, Bittime kembali menghadirkan kampanye Tokenized US Stocks dengan SpaceX Token (SPCXX) sebagai insentif utama berdasarkan preferensi pengguna pada kampanye sebelumnya. Pengguna juga tetap dapat memperoleh reward hingga 7% melalui flexible staking.
ITE Group Hadir di Jakarta, Lihat Indonesia Mitra Strategis Perluas Akses Bisnis ke Pasar Rusia
Tangerang, katakabar.com - Sebagai penyelenggara pameran bisnis internasional (B2B) terbesar di Rusia, ITE Group terus memperluas kolaborasi dengan negara-negara yang memiliki potensi ekspor tinggi, termasuk Indonesia. Melihat pertumbuhan perdagangan bilateral yang semakin kuat serta daya saing produk manufaktur Indonesia di pasar global, ITE Group memilih Indonesia sebagai salah satu negara prioritas dalam pengembangan partisipasi internasional pada pamerannya. Didirikan pada 1991 silam, ITE Group menyelenggarakan lebih dari 30 pameran internasional setiap tahun yang mencakup berbagai sektor industri, mulai dari konstruksi, bahan bangunan, kemasan, makanan dan minuman, pariwisata, hingga teknologi. Setiap tahunnya, ekosistem ITE mempertemukan lebih dari 500.000 pengunjung profesional, 10.000 eksibitor internasional, serta didukung database lebih dari 2,5 juta kontak bisnis, menjadikannya salah satu platform B2B terbesar di kawasan Rusia, area CIS, dan negara-negara sekitarnya. Melalui rangkaian pameran unggulan seperti MosBuild, Woodex, Aquaflame, MITT, RosUpack, WorldFood, dan DairyTech, serta platform digital ITE Connect, perusahaan Indonesia memiliki akses langsung kepada importir, distributor, kontraktor, retailer, hingga para pemangku kepentingan utama di pasar Rusia. Kunjungan ITE Group yang dipimpin CEO Dmitry Zavgorodniy ke Jakarta pada 08 Juli 2026 merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memperkuat hubungan dagang Indonesia dan Rusia sekaligus memperkenalkan berbagai peluang bisnis yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha Indonesia melalui jaringan pameran internasional ITE. Dalam MosBuild Forum Jakarta 2026 yang diselenggarakan di Garuda 2, ICE BSD City, juga menghadirkan narasumber lain seperti dari International Sales Director of ITE Group, PT Tatalogam Lestari, dan PT Eurotrans Logistics Indonesia. Forum ini dibuka dengan sambutan oleh Robi Handoko selaku Kepala Bidang Bahan Kimia dan Bahan Bangunan, Direktorat Pengembangan Ekspor Produk Manufaktur, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. “Kementerian Perdagangan sangat menyambut baik adanya MosBuild ini karena memiliki tujuan untuk dapat meningkatkan eksplorasi Indonesia ke pasar global khusus nya dalam produk bangunan seperti material bangunan, konstruksi, dan juga produk bahan pembangunan Indonesia khususnya di pasar Eurasia dan Rusia.” ujarnya. Keputusan ITE Group untuk memperkuat kehadirannya di Indonesia, didukung oleh meningkatnya hubungan perdagangan kedua negara. Pada tahun 2025, nilai ekspor Indonesia ke Rusia meningkat 42,7% atau mencapai US$1,88 miliar, mencerminkan semakin besarnya peluang bagi produk Indonesia untuk memasuki pasar Rusia. ITE Group melihat sejumlah sektor unggulan Indonesia yang memiliki peluang pertumbuhan signifikan. Salah satunya adalah produk kayu, yang mencatat kenaikan ekspor hingga 156% atau mencapai USD 23,9 juta pada 2025. Sebaliknya, ekspor furnitur Indonesia ke Rusia masih mencapai sekitar USD 3,8 juta, atau hanya 0,17% dari total impor furnitur Rusia. Kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang pasar yang sangat besar bagi produsen furnitur Indonesia, terutama setelah berkurangnya pemasok dari negara-negara lain. "Indonesia memiliki basis manufaktur yang sangat besar dan semakin mendapat perhatian di pasar Rusia. Kami melihat peluang besar untuk mempertemukan perusahaan-perusahaan Indonesia dengan pembeli, distributor, dan mitra bisnis melalui ekosistem pameran ITE. Tidak hanya melalui MosBuild, tetapi juga berbagai pameran sektor lainnya yang didukung oleh platform digital ITE Connect, sehingga hubungan bisnis dapat dimulai bahkan sebelum pameran berlangsung," kata Dmitry Zavgorodniy, CEO ITE Group. MosBuild merupakan salah satu flagship event dalam portofolio ITE Group sekaligus pameran bangunan dan interior terbesar di Rusia dan area CIS. Pameran ini memberikan akses langsung kepada target pasar seperti wholesaler, retailer, perusahaan konstruksi, arsitek, hingga pengembang properti. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan dari Darryl Pawsey, International Sales Director of ITE Group yang menyampaikan bahwa "Ini bukan hanya tentang datang ke pameran dan bertemu pembeli, ada kesempatan untuk menjelajahi pasar, industri, bertemu arsitek, bertemu desainer, dan mendapatkan gambaran serta pemahaman mengenai apa yang sedang terjadi." Melalui keikutsertaan dalam MosBuild, perusahaan Indonesia tidak hanya memperoleh akses langsung kepada buyer dan pelaku industri di Rusia, tetapi juga memperoleh wawasan mengenai kebutuhan pasar, tren industri, struktur distribusi, serta peluang pengembangan bisnis di kawasan Rusia dan CIS. Pada penyelenggaraan tahun 2026, MosBuild berhasil menghadirkan 87.995 total pengunjung dengan 1.250 eksibitor dari 51 negara. Peserta MosBuild dapat merasakan berbagai akses eksklusif selama pameran berlangsung seperti area networking khusus berupa Decorium Conference. Kurun beberapa tahun terakhir, MosBuild mencatat peningkatan partisipasi dari negara-negara baru yang sebelumnya belum pernah mengikuti pameran sebelum tahun 2022. Indonesia secara resmi menjadi salah satu negara peserta baru setelah untuk pertama kalinya berpartisipasi dalam penyelenggaraan MosBuild 2026. Perusahaan dari Indonesia ini, yaitu PT Tatalogam Lestari yang merupakan perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur untuk baja lapis. Pada kegiatan ini, PT Tatalogam Lestari memberikan testimonial setelah mengikuti MosBuild 2026. “MosBuild itu kita dibekali dengan yang namanya platform digital ITE Connect. Jadi kita dikonekkan dengan calon customer kita. Jadi selama kita pameran sampai 3 bulan ke depan, itu merupakan suatu keuntungan bagi kita yang mengikuti acara MosBuild tersebut. Jadi beberapa hasil yang kita dapatkan, terus terang pastinya adalah lead customer. Baik itu dari manufaktur, distributor, retailer, aplikator, kontraktor, ataupun arsitek lokal Rusiada, bahkan dari negara-negara lain yang datang seperti dari Turki, dan negara-negara Eropa sekitar Rusia” ucap Hengky Prasetia, selaku Account Manager, PT Tatalogam Lestari. Partisipasi tersebut mencerminkan semakin besarnya potensi produk Indonesia untuk bersaing di pasar Rusia. Indonesia memiliki kapabilitas manufaktur yang sangat besar di berbagai kategori yang ditampilkan pada MosBuild, mulai dari furnitur, produk interior, komponen kayu, keramik, sanitasi, pencahayaan, material dekoratif, bahan bangunan hingga teknologi konstruksi. Bagi peserta yang berminat untuk mengikuti MosBuild, PT Eurotrans Logistik Indonesia menjelaskan proses pengiriman logistik pameran dari Indonesia menuju Rusia. Disampaikan Theresia Sumanti, General Manager PT Eurotrans Logistik Indonesia terkait dengan peluang yang akan didapatkan oleh para manufaktur perusahaan di Indonesia untuk mengikuti pameran MosBuild di Rusia, Eurotrans dapat membantu dari segi logistik pengiriman hingga sampai ke lokasi pameran di tempat yang sudah ditentukan, dan setelah selesai pameran kargo akan dipulangkan kembali ke Indonesia. Sebagai mitra resmi ITE Group di Indonesia, PT Debindomulti Adhiswasti akan mendampingi perusahaan yang berminat mengikuti MosBuild 2027, mulai dari konsultasi mengenai pilihan paviliun, persiapan pameran, strategi promosi, serta pemanfaatan platform ITE Connect untuk melakukan business matching sebelum pameran berlangsung. MosBuild 2027 diselenggarakan pada 30 Maret hingga 2 April 2027 lalu di Crocus Expo, Moskow. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui laman resmi, mosbuild.com. Jadwal event dari ITE Group dapat diakses melalui, ite.group/en/calendar. Perusahaan di Indonesia dapat memperoleh informasi resmi melalui PT Debindomulti Adhiswasti dengan Bapak Majid Satriansyah pada alamat email berikut, [email protected].
Makna Strategis Kunjungan Modi ke Indonesia bagi Asia
Oleh: Rajiv Bhatia Jakarta, katakabar.com - Setelah melewati perjalanan panjang yang diwarnai kedekatan, periode saling menjauh, hingga hubungan yang sempat berkembang di bawah potensi sebenarnya, India dan Indonesia kini memasuki babak baru dalam kemitraan strategis mereka. Sejak kedua negara meningkatkan hubungan menjadi Comprehensive Strategic Partnership pada 2018, berbagai upaya terus dilakukan untuk memberikan makna yang lebih besar bagi hubungan bilateral tersebut. Momentum itu semakin menguat setelah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025 yang dinilai sukses membuka babak baru kerjasama kedua negara. Sejauh mana kemajuan yang telah dicapai dalam 18 bulan terakhir dan bagaimana hubungan tersebut akan berkembang ke depan akan semakin terlihat ketika Perdana Menteri India Narendra Modi mengunjungi Jakarta pada pekan pertama Juli. Indonesia menjadi salah satu tujuan dalam lawatan tiga negaranya, bersama Australia dan Selandia Baru. Kunjungan ini juga berlangsung saat penting dalam dinamika kawasan. Sebelumnya, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi lebih dahulu melakukan kunjungan ke India. Rangkaian diplomasi tersebut menunjukkan semakin besarnya perhatian India terhadap kawasan Indo-Pasifik. Di tengah munculnya tanda-tanda melemahnya komitmen Amerika Serikat terhadap Indo-Pasifik maupun Quadrilateral Security Dialogue (Quad), dialog Modi dengan para pemimpin empat negara demokrasi utama di kawasan memiliki arti strategis yang jauh melampaui hubungan bilateral semata. Saat ini, hubungan India dan Indonesia berada pada kondisi yang sangat kondusif. Tidak terdapat sengketa besar ataupun isu yang berpotensi mengganggu hubungan kedua negara. Hubungan personal antara Perdana Menteri Modi dan Presiden Prabowo juga terjalin dengan baik. Prabowo dikenal mengapresiasi berbagai kebijakan pembangunan yang dijalankan Modi di India, sementara Modi melihat Presiden Prabowo memiliki pendekatan yang lebih seimbang dan realistis dalam memandang peran Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik. Kedekatan tersebut memberikan ruang bagi kedua pemimpin untuk mendorong para pejabat pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya agar mempercepat implementasi berbagai agenda kerja sama yang telah disepakati. Semangat tersebut tercermin dalam Pertemuan Komisi Bersama (Joint Commission Meeting) India–Indonesia ke-8 yang digelar pada 7 Juni lalu dan dipimpin bersama oleh Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar dan Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono. Setelah melakukan peninjauan menyeluruh terhadap hubungan bilateral, kedua menteri mengidentifikasi berbagai peluang baru untuk memperkuat kerja sama di berbagai bidang, mulai dari politik, pertahanan dan keamanan, kemaritiman, perdagangan dan investasi, farmasi dan kesehatan, ekonomi digital, energi, konektivitas, antariksa, pendidikan, pelayanan konsuler, kebudayaan, hingga hubungan antar masyarakat. Dari hasil pertemuan tersebut, besar kemungkinan kunjungan Modi ke Jakarta akan menghasilkan sejumlah nota kesepahaman baru sekaligus peta jalan yang lebih jelas untuk memperdalam hubungan kedua negara dalam beberapa tahun mendatang. Tetapi, arti penting kunjungan ini sesungguhnya jauh melampaui penandatanganan berbagai kesepakatan. India dan Indonesia diperkirakan akan semakin menyelaraskan pandangan mereka terhadap berbagai perkembangan global, terutama setelah perang di Ukraina dan Timur Tengah, serta munculnya kemungkinan membaiknya hubungan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Jika dinamika tersebut benar-benar berkembang, dampaknya akan sangat besar bagi kawasan Indo-Pasifik, tempat India dan Indonesia sama-sama memainkan peran penting. Indo-Pasifik merupakan rumah bersama bagi India dan Indonesia, sebagaimana juga bagi Jepang, Australia, Filipina, dan Korea Selatan. Keenam negara tersebut memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga stabilitas dan keamanan kawasan sebagai fondasi bagi kesejahteraan ekonomi masyarakatnya. Dalam situasi ketika sejumlah forum kerja sama seperti Quad mulai menghadapi tantangan internal akibat berkurangnya perhatian Amerika Serikat, muncul kebutuhan akan wadah konsultasi politik dan diplomatik baru yang lebih inklusif bagi negara-negara demokrasi utama di kawasan. Inilah salah satu dimensi strategis yang layak dicermati selama kunjungan Modi ke Jakarta. Di bidang pertahanan, terdapat harapan baru bahwa kedua negara akhirnya akan mencapai kesepakatan mengenai rencana pembelian rudal jelajah supersonik BrahMos oleh Indonesia. Menteri Pertahanan India Rajesh Kumar Singh sebelumnya mengungkapkan dalam forum Shangri-La Dialogue bahwa negosiasi mengenai transaksi tersebut telah mendekati tahap final. Apabila terealisasi, kerja sama tersebut berpotensi menjadi tonggak penting dalam hubungan pertahanan kedua negara dan membuka jalan bagi peningkatan kerja sama industri pertahanan di masa mendatang. Di bidang ekonomi, target peningkatan perdagangan bilateral dari 30 miliar dolar AS menjadi 50 miliar dolar AS memang belum tercapai sesuai jadwal. Meski demikian, target tersebut tetap menjadi agenda penting karena akan memperkuat keterkaitan ekonomi kedua negara melalui perdagangan dan investasi yang lebih produktif. Kerja sama dalam pengembangan mineral kritis serta perdagangan digital juga diperkirakan akan menjadi salah satu fokus utama pembahasan kedua pemimpin. Pernyataan bersama yang akan dikeluarkan setelah pertemuan diperkirakan akan memberikan gambaran mengenai strategi kedua pemerintah dalam mewujudkan target-target tersebut. Di era diplomasi plurilateral yang semakin berkembang, India dan Indonesia juga dipastikan akan membahas cara memperkuat koordinasi dalam berbagai forum internasional seperti G20, BRICS, maupun Indian Ocean Rim Association (IORA). Keanggotaan Indonesia sebagai anggota baru BRICS membuka peluang besar untuk memperdalam kerja sama dengan India sebagai salah satu anggota pendiri organisasi tersebut. Di sisi lain, India juga memerlukan dukungan Indonesia dalam menyukseskan penyelenggaraan KTT BRICS mendatang di New Delhi. Dalam konteks kawasan, India juga diperkirakan akan menyoroti semakin eratnya hubungan dengan ASEAN, di mana Indonesia selama ini memainkan peran sentral. Kedua pemimpin kemungkinan juga akan bertukar pandangan mengenai perkembangan situasi di Myanmar. Perbedaan pendekatan masih terlihat antara ASEAN yang tetap mengedepankan implementasi Konsensus Lima Poin dan kebijakan India yang mulai beradaptasi dengan realitas politik baru di Myanmar, sebagaimana tercermin dari kunjungan resmi pemimpin Myanmar Min Aung Hlaing ke New Delhi beberapa waktu lalu. Sementara itu, pengumuman India mengenai Great Nicobar Project pada 1 Mei lalu juga memberikan dimensi baru bagi hubungan kedua negara. Proyek yang bertujuan menjadikan Kepulauan Andaman dan Nicobar sebagai pusat maritim dan ekonomi strategis tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan Indonesia mengingat kedekatan geografis kedua wilayah. Pada konteks yang sama, kedua negara juga memiliki kepentingan bersama untuk memperkuat konektivitas kawasan dan mendorong pengembangan Bay of Bengal Initiative for Multi-Sectoral Technical and Economic Cooperation (BIMSTEC). Indonesia dapat memainkan peran yang lebih besar dalam mewujudkan visi terbentuknya komunitas ekonomi Teluk Benggala yang lebih terintegrasi. Berbagai isu tersebut sesungguhnya telah menjadi pembahasan dalam dua putaran Dialog Track 1.5 antara Gateway House: Indian Council on Global Relations dari Mumbai dan Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia yang diselenggarakan di Mumbai dan Jakarta pada September 2024 dan September 2025. Rekomendasi yang dihasilkan dari dialog tersebut bahkan mendapat pengakuan resmi dan dicantumkan dalam pernyataan bersama India dan Indonesia pada Januari 2025. Kini, kedua ibu kota telah memiliki berbagai gagasan kebijakan yang bersifat visioner sekaligus pragmatis. Tantangan berikutnya bukan lagi mencari ide baru, melainkan menerjemahkan berbagai gagasan tersebut menjadi langkah nyata yang mampu mempererat hubungan India dan Indonesia, sekaligus memperkuat keterhubungan antara Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Peran Enterprise dan Wholesale MoraRepublic Kian Strategis bagi Ekonomi Digital Indonesia
Jakarta, katakabar.com - MoraRepublic menghadirkan solusi digital terintegrasi yang mencakup konektivitas bisnis, jaringan backbone nasional, data center, serta berbagai layanan Enterprise yang dirancang untuk mendukung transformasi digital pelanggan. Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang terus meningkat mendorong kebutuhan dunia usaha terhadap infrastruktur digital yang semakin andal. Di tengah aktivitas bisnis yang kian terhubung, perusahaan tidak hanya membutuhkan konektivitas yang cepat, tetapi juga fondasi digital yang mampu mendukung operasional secara aman, efisien, dan berkelanjutan. Untuk membahas perkembangan tersebut, Edward Anwar, Chief Enterprise & Wholesale Officer MoraRepublic, hadir sebagai narasumber dalam program Selamat Pagi Indonesia di Metro TV, Rabu (24/6). Di kegiatan tersebut, ia membagikan pandangannya mengenai perubahan kebutuhan digital dunia usaha serta peran solusi Enterprise dan infrastruktur Wholesale dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Menurut Edward, digitalisasi kini telah berkembang menjadi bagian penting dari strategi bisnis perusahaan. Kemampuan untuk beroperasi secara cepat, aman, dan efisien menjadi faktor yang menentukan daya saing di tengah perkembangan teknologi yang semakin dinamis. "Digitalisasi sudah bukan tren. Ini sudah menjadi mesin utama bagi perusahaan untuk bertahan dan bersaing. Perusahaan saat ini membutuhkan fondasi digital yang mampu mendukung operasional secara real-time, aman, dan efisien," ujar Edward. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, MoraRepublic menghadirkan solusi digital terintegrasi yang mencakup konektivitas bisnis, jaringan backbone nasional, data center, serta berbagai layanan Enterprise yang dirancang untuk mendukung transformasi digital pelanggan. Dimana, jaringan MoraRepublic diproyeksikan pada akhir tahun 2026 akan menjangkau lebih dari 186 kota dan kabupaten di Indonesia yang tentunya ditopang dengan dukungan teknis selama 24 jam. Selain melalui layanan Enterprise, MoraRepublic juga berperan dalam mendukung ekosistem digital nasional melalui lini bisnis Wholesale. Edward mengibaratkan infrastruktur Wholesale sebagai "jalan tol" digital yang memungkinkan operator telekomunikasi, penyedia layanan internet, dan berbagai pelaku industri digital menghadirkan layanan kepada pelanggan secara lebih efisien dan andal. Semakin berkembang ekonomi digital Indonesia, semakin besar pula kebutuhan terhadap infrastruktur yang mampu menghubungkan berbagai wilayah dan mendukung pertukaran data dalam skala besar. Melalui portofolio solusi Enterprise yang komprehensif, MoraRepublic mendukung berbagai kebutuhan pelanggan, mulai dari konektivitas bisnis, data center, managed service, hingga keamanan siber. Solusi tersebut telah dimanfaatkan oleh beragam sektor, seperti perbankan, pemerintahan, manufaktur, kesehatan, pendidikan, hospitality, dan industri lainnya yang membutuhkan infrastruktur digital yang andal untuk mendukung operasional dan pertumbuhan bisnis. Melalui penguatan kapabilitas Enterprise dan Wholesale, MoraRepublic berkomitmen untuk terus menghadirkan infrastruktur dan layanan digital yang relevan dengan kebutuhan pelanggan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam mendukung percepatan transformasi digital sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.
Siap-siap! Narendra Modi Bakal Kunjungi Indonesia, Tandai Babak Baru Kemitraan Strategis Indonesia dan India
Jakarta, katakabar.com - Pemerintah Indonesia mulai mempersiapkan kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India, Narendra Modi, yang dijadwalkan berlangsung pada Juli 2026 mendatang. Kunjungan tersebut diperkirakan akan menjadi momentum penting dalam memperkuat hubungan bilateral sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara Indonesia dan India. Dilansir dari The Jakarta Post, persiapan kunjungan Modi menjadi salah satu agenda utama yang dibahas dalam Sidang Komisi Bersama (Joint Commission Meeting/JCM) Indonesia–India ke-8 yang berlangsung di New Delhi pada akhir pekan lalu. Dalam pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono bertemu dengan Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar untuk membahas perkembangan hubungan bilateral dan sejumlah agenda strategis kedua negara. Selain membahas persiapan kunjungan Modi ke Jakarta, kedua menteri juga bertukar pandangan mengenai berbagai bidang kerja sama, termasuk perdagangan, ketahanan pangan, energi, dan urusan maritim yang selama ini menjadi fokus hubungan Indonesia dan India. Menurut Sugiono, rencana kunjungan tersebut mencerminkan komitmen kuat kedua negara untuk terus memperdalam hubungan yang telah terjalin selama bertahun-tahun. “Rencana kunjungan ini mencerminkan komitmen untuk semakin memperdalam hubungan bilateral antara kedua negara dan memberikan manfaat nyata bagi rakyat kedua negara,” kata Sugiono. Kunjungan Balasan Setelah Lawatan Presiden RI ke India Kunjungan Modi ke Indonesia akan menjadi kunjungan balasan atas lawatan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke India pada Januari 2025. Saat itu, Prabowo melakukan kunjungan resmi pertamanya ke India sejak menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Dalam kunjungan tersebut, Prabowo mengadakan pertemuan bilateral dengan Modi dan menghadiri perayaan Hari Republik India ke 76 sebagai tamu kehormatan. Pertemuan kedua pemimpin menghasilkan komitmen untuk memperkuat kerja sama di berbagai sektor strategis, termasuk pertahanan dan perdagangan. Rencana kunjungan Modi juga menjadi kelanjutan dari komunikasi intensif antara kedua pemimpin yang pertama kali bertemu di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Brasil pada November 2024. Hubungan yang semakin erat antara Jakarta dan New Delhi dinilai menjadi fondasi penting bagi penguatan kerjasama kedua negara di tengah dinamika kawasan Indo-Pasifik yang terus berkembang. Indonesia Mitra Penting Kebijakan Act East India Dalam pertemuan JCM di New Delhi, Jaishankar menegaskan pentingnya posisi Indonesia dalam kebijakan luar negeri India, khususnya dalam strategi Act East Policy yang selama ini menjadi salah satu pilar diplomasi India di Asia Tenggara. Menurut Jaishankar, kunjungan Presiden Prabowo ke India pada awal tahun lalu telah memberikan energi baru bagi hubungan bilateral kedua negara. “Kunjungan Presiden Prabowo telah memberikan dorongan baru bagi hubungan bilateral kita,” kata Jaishankar. Ia juga menegaskan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis dalam upaya India memperkuat keterlibatan ekonomi dan strategisnya di kawasan. “Indonesia adalah pilar utama dari Kebijakan Bertindak ke Timur (Act East Policy) India,” ujarnya. Pernyataan tersebut mencerminkan pentingnya Indonesia bagi India, tidak hanya sebagai mitra ekonomi, tetapi juga sebagai mitra strategis di kawasan Asia Tenggara. Dorong Kerja Sama Lebih Konkret Dalam pertemuan tersebut, kedua negara kembali menegaskan komitmen untuk memperkuat kerja sama di bawah kerangka Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia–India. Kerja sama tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari politik, pertahanan dan keamanan, perdagangan, pariwisata, pendidikan, hingga pertukaran budaya. Selain isu-isu strategis, kedua pihak juga membahas sejumlah peluang kerja sama yang lebih konkret. Salah satunya adalah ketertarikan India untuk mengamankan pasokan pupuk dari Indonesia guna mendukung kebutuhan sektor pertaniannya. Indonesia dan India juga membahas upaya memperkuat konektivitas maritim, termasuk potensi kerja sama yang melibatkan Pelabuhan Sabang di Aceh. Lokasi pelabuhan tersebut dinilai strategis karena berada dekat dengan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Sugiono menegaskan hubungan Indonesia dan India harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh kedua negara. “Kemitraan antara Indonesia dan India harus menghasilkan kerja sama yang lebih konkret dan saling menguntungkan,” tegasnya. Bagian dari Tur Indo-Pasifik Sejumlah media India melaporkan bahwa kunjungan Modi ke Indonesia akan menjadi bagian dari rangkaian lawatan ke kawasan Indo-Pasifik yang juga mencakup Selandia Baru dan Australia. Tur tersebut disebut bertujuan untuk memperkuat hubungan ekonomi dan pertahanan India dengan sejumlah negara mitra di kawasan yang semakin penting dalam peta geopolitik global. Dengan persiapan yang kini mulai dilakukan kedua pemerintah, kunjungan Narendra Modi ke Indonesia pada Juli mendatang diharapkan dapat menjadi langkah penting dalam mempererat hubungan bilateral sekaligus memperkuat implementasi Kemitraan Strategis Komprehensif yang telah dibangun oleh Indonesia dan India selama bertahun-tahun.
Mineral Strategis Indonesia Mesin Pendongkrak Daya Saing Industri
Jakarta, katakabar.com - Pengelolaan mineral strategis di Indonesia semakin progresif, ditandai dengan proyek hilirisasi yang terus berjalan sekaligus kuatnya kinerja operasional perusahaan-perusahaan tambang nasional. Kinerja positif yang dibukukan perusahaan-perusahaan dalam Grup MIND ID sepanjang kuartal I 2026 menjadi sinyal kuat pengelolaan mineral strategis nasional akan memainkan peran semakin besar dalam memperkuat daya saing industri Indonesia dan memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Di tengah tantangan ekonomi global dan tekanan pasar komoditas yang masih berlanjut, sejumlah anggota Grup MIND ID mampu mencatatkan pertumbuhan produksi dan penjualan yang solid. Kinerja tersebut memperlihatkan bagaimana komoditas strategis seperti timah, nikel, tembaga, emas, bauksit, alumina, dan batu bara tetap menjadi fondasi penting bagi pembangunan industri nasional. Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch, Ferdy Hasiman, menilai kinerja operasional anggota Grup MIND ID sepanjang tiga bulan pertama tahun ini menunjukkan arah yang positif dan konsisten. "Kuartal I ini lumayan bagus. Hanya mungkin belum terlalu maksimal karena Freeport belum maksimal produksinya. Kontribusi dividen dari Freeport lumayan besar. Lalu dari Antam, labanya besar. Saya juga mengapresiasi PT Timah. Ini menjadi sejarah karena baru kuartal I saja sudah mencetak laba lebih dari Rp1 triliun. Ini sangat baik," jelas Ferdy. Kata Ferdy, di antara capaian paling menonjol datang dari PT Timah Tbk. Perseroan berhasil meningkatkan produksi bijih timah hingga 96 persen menjadi 6.312 ton Sn dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3.224 ton. Produksi logam timah juga meningkat 82 persen menjadi 5.630 metrik ton, sementara penjualan logam timah melonjak 113 persen menjadi 6.009 metrik ton. Kinerja tersebut memperlihatkan semakin kuatnya posisi Indonesia sebagai salah satu produsen timah utama dunia. Di sektor mineral hilir, PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) mencatatkan kemajuan signifikan pada bisnis bauksit dan alumina. Penjualan bauksit meningkat 9 persen menjadi 593.476 wet metric ton (wmt), sedangkan produksi Chemical Grade Alumina (CGA) naik 13 persen menjadi 49.566 ton dan penjualannya meningkat 11 persen menjadi 49.072 ton. Capaian tersebut menunjukkan semakin pentingnya peran hilirisasi dalam menciptakan nilai tambah mineral di dalam negeri. Sementara, PT Vale Indonesia Tbk berhasil meningkatkan volume penjualan nikel sebesar 15 persen menjadi 45 ribu ton pada kuartal I 2026. Kinerja ini menjadi indikator kuat bahwa permintaan terhadap mineral kritis untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik dan energi bersih masih terus bertumbuh. Di sisi lain, PT Freeport Indonesia masih menghadapi dampak insiden mud rush yang terjadi pada September 2025. Produksi tembaga tercatat 95 juta pound dan produksi emas sebesar 92 ribu ounce. Tetapi, perusahaan tetap mempertahankan operasional dan melanjutkan berbagai proyek strategis yang akan memperkuat posisi Indonesia dalam industri pengolahan tembaga dan logam mulia bernilai tambah. Menurut Ferdy, capaian tersebut menunjukkan bahwa komoditas strategis seperti nikel, emas, timah, tembaga, dan batu bara masih menjadi penopang penting bagi penguatan industri nasional. Apalagi kebutuhan dunia terhadap mineral kritis terus meningkat seiring perkembangan industri kendaraan listrik, energi terbarukan, dan teknologi tinggi. "Capaian tersebut menunjukkan bahwa komoditas strategis seperti nikel, emas, timah, tembaga, dan batu bara masih menjadi penopang penting bagi penguatan industri nasional. Apalagi, kebutuhan dunia terhadap mineral kritis terus meningkat seiring perkembangan industri kendaraan listrik, energi terbarukan, dan teknologi tinggi," bebernya. Selain didukung kinerja operasional, penguatan daya saing industri nasional juga ditopang oleh sejumlah proyek strategis yang dijalankan anggota Grup MIND ID. Proyek-proyek tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral melalui hilirisasi dan pengembangan industri pengolahan di dalam negeri. Di sektor tembaga, PT Freeport Indonesia terus melanjutkan pengembangan tambang bawah tanah Grasberg di Papua serta pengoperasian fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) di Gresik. Kehadiran PMR menjadi tonggak penting karena memungkinkan pemurnian emas dan perak dilakukan di dalam negeri sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional. Pada komoditas batu bara, PT Bukit Asam (PTBA) melanjutkan pengembangan proyek hilirisasi Dimethyl Ether (DME) yang diproyeksikan menjadi substitusi impor LPG nasional. Proyek ini menjadi salah satu agenda strategis pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah batu bara sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. "Seperti proyek DME milik PTBA. Dana negara sudah dikucurkan melalui injeksi modal. Hanya pertanyaannya, apakah PTBA bisa melanjutkan proyek itu? Karena sebelumnya investor asing sudah mundur," ucap Ferdy. Ia berharap proyek tersebut dapat berjalan dengan model bisnis yang sehat dan memberikan manfaat ekonomi yang optimal. "Kita berharap proyek ini memang ekonomis dan tidak membebani keuangan PTBA ke depan," ujarnya. Di sektor mineral kritis, ANTAM mempercepat pengembangan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek ini menjadi bagian penting dalam meningkatkan nilai tambah bauksit nasional melalui produksi alumina di dalam negeri. Selain itu, ANTAM juga terlibat dalam pembangunan proyek ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi di Halmahera Timur bersama Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Huayou, yang diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik global. "Lalu PT Antam di Halmahera Timur juga harus berjalan lebih baik. Selain itu ada proyek alumina di Mempawah yang harus segera diselesaikan. Kalau realisasi proyek-proyek tersebut berjalan cepat, ke depan kinerja mereka akan semakin baik," ulas Ferdy lagi. Sedang, PT Timah juga mulai mengembangkan potensi logam tanah jarang atau rare earth elements (REE) melalui pengolahan mineral ikutan monasit. Meski masih berada pada tahap pilot project, pengembangan REE dinilai strategis karena komoditas tersebut menjadi bahan baku penting bagi industri elektronik, energi terbarukan, kendaraan listrik, hingga teknologi pertahanan. "Proyek tanah jarang itu memang belum berjalan. Masih tahap pilot project. Cuma isunya sekarang, kalau memang mau berjalan, akan bermitra dengan siapa?" Tuturnya. Keberhasilan proyek-proyek hilirisasi mineral tidak hanya ditentukan oleh kesiapan perusahaan, tetapi juga kepastian regulasi dan iklim investasi yang kondusif. "Investasi akan berjalan kalau kebijakannya stabil. Kalau hari ini berubah, besok berubah lagi, investor akan memilih tidak masuk," imbuhnya. Ferdy menilai percepatan penyelesaian proyek-proyek strategis tersebut akan menjadi faktor penentu bagi kemampuan Indonesia keluar dari ketergantungan ekspor bahan mentah. Semakin banyak komoditas yang diolah di dalam negeri, semakin besar nilai tambah, investasi, lapangan kerja, dan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang dapat diciptakan. Masih Ferdy menilai sinergi yang dibangun MIND ID sebagai holding industri pertambangan telah berjalan sesuai perannya dalam memperkuat ekosistem bisnis anggota grup. "Sebenarnya dari awal sinerginya sudah bagus. MIND ID sudah berperan sebagai holding dan leader. Tugasnya mengontrol dan memastikan ekosistem berjalan dengan baik," tambahnya. Kombinasi antara kinerja operasional yang solid, proyek hilirisasi yang terus bergerak, dan penguatan rantai pasok mineral strategis dinilai akan semakin memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Dengan fondasi tersebut, mineral strategis nasional tidak hanya menjadi sumber penerimaan negara, tetapi juga motor penggerak daya saing industri dan pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.