Pajak Kripto Indonesia Tembus Rp2,15 Triliun, Apa Artinya Bagi Industri? Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 24 September 2026 | 08:27 WIB

Pajak Kripto Indonesia Tembus Rp2,15 Triliun, Apa Artinya Bagi Industri?

Jakarta, katakabar.com - Transaksi aset kripto di Indonesia terus memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mencatat penerimaan pajak dari transaksi aset kripto mencapai Rp268,95 miliar hingga 31 Agustus 2026. Jika diakumulasikan sejak 2022, total penerimaan pajak dari transaksi aset kripto telah mencapai Rp2,15 triliun. Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP, Inge Diana Rismawanti, mengatakan, penerimaan pajak kripto sepanjang 2022 hingga Agustus 2026 mencapai Rp2,15 triliun. “Penerimaan pajak kripto telah mencapai Rp2,15 triliun,” ujar Inge, dikutip Jumat (18/9). Berdasarkan data DJP, penerimaan pajak dari transaksi aset kripto tercatat Rp246,54 miliar pada 2022. Angka tersebut kemudian mencapai Rp220,89 miliar pada 2023, meningkat menjadi Rp620,38 miliar pada 2024, dan mencapai Rp796,74 miliar sepanjang 2025. Sementara, hingga akhir Agustus 2026, penerimaan pajak dari transaksi aset kripto, seperti Bitcoin dan lainnya telah mencapai Rp268,95 miliar. PPh 22 Jadi Kontributor Terbesar Penerimaan pajak kripto hingga Agustus 2026 berasal dari dua jenis pungutan, yakni Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Dalam Negeri. DJP mencatat penerimaan PPh Pasal 22 dari transaksi aset kripto mencapai Rp1,27 triliun. Sementara itu, penerimaan PPN Dalam Negeri tercatat sebesar Rp881,82 miliar. Dengan demikian, PPh Pasal 22 menjadi kontributor terbesar terhadap total penerimaan pajak dari transaksi aset kripto. Penerimaan pajak kripto tersebut merupakan bagian dari penerimaan pajak ekonomi digital Indonesia. Secara keseluruhan, penerimaan pajak dari sektor ekonomi digital mencapai Rp57,23 triliun hingga 31 Agustus 2026. Selain aset kripto, penerimaan tersebut berasal dari Pajak Pertambahan Nilai Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PPN PMSE), pajak fintech, dan pajak yang dipungut melalui Sistem Informasi Pengadaan Pemerintah (Pajak SIPP). PPN PMSE menjadi penyumbang terbesar dengan penerimaan Rp44,05 triliun. Kemudian pajak SIPP mencapai Rp5,75 triliun dan pajak fintech sebesar Rp5,28 triliun. Industri Kripto Makin Terintegrasi CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai kontribusi pajak dari transaksi aset kripto menjadi salah satu indikator bahwa aktivitas aset digital semakin terintegrasi ke dalam sistem ekonomi formal. Menurut dia, perkembangan tersebut tidak hanya menunjukkan adanya aktivitas ekonomi yang semakin besar, tetapi juga mencerminkan meningkatnya keterhubungan industri aset digital dengan sistem perpajakan dan regulasi di Indonesia. “Penerimaan pajak kripto yang sudah mencapai Rp2,15 triliun menunjukkan bahwa aktivitas aset digital telah menjadi bagian dari ekonomi formal dan memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara. Ini juga menunjukkan bahwa ekosistem kripto di Indonesia semakin terintegrasi dengan sistem perpajakan dan regulasi,” ucap Yudho. Kata Yudho, kepastian regulasi dan perpajakan menjadi salah satu faktor penting dalam membangun ekosistem aset digital yang lebih terstruktur. “Bagi industri, kejelasan mekanisme perpajakan penting untuk menciptakan kepastian bagi pelaku usaha sekaligus mendorong kepatuhan. Di sisi lain, pemerintah juga memperoleh basis penerimaan yang semakin terukur dari perkembangan ekonomi digital,” jelasnya. Pemerintah sebelumnya menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 50 Tahun 2025 yang mengatur ketentuan perpajakan atas transaksi aset kripto. Dalam ketentuan tersebut, transaksi aset kripto melalui penyelenggara perdagangan dalam negeri dikenakan PPh Pasal 22 final sebesar 0,21 persen dari nilai transaksi. Perubahan ketentuan perpajakan tersebut juga menghapus pengenaan PPN atas transaksi jual beli aset kripto. Sementara itu, jasa tertentu dalam ekosistem aset kripto tetap memiliki ketentuan perpajakan sesuai dengan jenis transaksinya. Kepatuhan Jadi Bagian dari Pertumbuhan Industri Dengan semakin besarnya aktivitas perdagangan aset digital, aspek kepatuhan menjadi bagian penting dalam perkembangan industri kripto di Indonesia. CE FLOQ ini menilai pertumbuhan industri perlu berjalan seiring dengan transparansi dan kepastian regulasi agar perkembangan aset digital dapat berlangsung secara berkelanjutan. “Pertumbuhan industri ke depan tidak hanya soal meningkatnya jumlah transaksi, tetapi juga bagaimana ekosistem dapat berkembang dengan mengedepankan kepatuhan, transparansi, perlindungan konsumen, dan inovasi,” sebut Yudho. Menurut dia, meningkatnya kontribusi pajak dapat menjadi salah satu gambaran mengenai semakin formalnya aktivitas aset digital di Indonesia. “Ketika aktivitas aset digital semakin terdata dan terintegrasi dengan sistem ekonomi formal, ruang untuk membangun industri yang lebih transparan dan berkelanjutan juga semakin terbuka,” tandas Yudho.

Bitcoin Jadi Sorotan Lantaran Tembus US$87.000, Lantas Seberapa Tinggi BTC Melaju? Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 23 September 2026 | 14:07 WIB

Bitcoin Jadi Sorotan Lantaran Tembus US$87.000, Lantas Seberapa Tinggi BTC Melaju?

Jakarta, katakabar.com - Bitcoin (BTC) kembali menjadi sorotan setelah menembus level US$86.000 dan sempat bergerak mendekati US$87.000 pada Selasa (22/9). Kenaikan tersebut membawa Bitcoin ke level tertinggi dalam sekitar delapan bulan sekaligus membuka perhatian pasar terhadap potensi pergerakan harga berikutnya. Data pasar menunjukkan Bitcoin sempat mencapai sekitar US$86.500–US$87.000, dengan penguatan harian sekitar 6%. Pergerakan ini terjadi setelah BTC sebelumnya bertahan di atas level US$80.000. Kenaikan Bitcoin juga berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas di pasar derivatif dan arus dana ke produk investasi Bitcoin. Data internal FLOQ menunjukkan open interest Bitcoin meningkat 9,38% dalam 24 jam menjadi sekitar US$61,33 miliar, sementara volume perdagangan gabungan meningkat 39%. Di pasar spot ETF Amerika Serikat, arus dana juga kembali menunjukkan momentum positif. Data mencatat ETF Bitcoin spot membukukan arus masuk bersih sekitar US$68,1 juta pada 21 September, setelah sebelumnya mencatat inflow sekitar US$433 juta pada 18 September. FOMO Bitcoin Kembali Meningkat Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah meningkatnya sentimen fear of missing out (FOMO). Coinpedia mengutip data Santiment yang menunjukkan FOMO Bitcoin telah mencapai level tertinggi sejak Desember 2024. Kondisi tersebut muncul ketika Bitcoin berhasil melewati sejumlah level teknikal penting. Berdasarkan analisis teknikal, Bitcoin telah menembus moving average 50 minggu di sekitar US$78.320 dan sebelumnya juga melewati swing high yang terbentuk pada Mei. Dalam skenario teknikal tersebut, level US$85.000 disebut sebagai target minimum dari pola kenaikan. Sementara itu, area US$88.600–US$92.220 menjadi zona target berikutnya, dengan potensi ekstensi hingga sekitar US$97.637 apabila momentum berlanjut. Tetapi, level-level tersebut merupakan proyeksi teknikal dan bukan jaminan bahwa Bitcoin akan mencapai harga tertentu. Pembelian Korporasi Ikut Menopang Sentimen Minat korporasi terhadap Bitcoin juga kembali menjadi perhatian. Strategy, perusahaan yang dikenal dengan strategi treasury Bitcoin, pada pekan yang berakhir 20 September membeli tambahan 950 BTC senilai sekitar US$75,7 juta. Pembelian tersebut membawa total kepemilikan Bitcoin Strategy menjadi 846.000 BTC. Berdasarkan laporan perusahaan, pembelian dilakukan dengan menggunakan kas perusahaan. Menurut CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, kombinasi antara arus dana institusional, pembelian korporasi, dan aktivitas pasar derivatif menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam membaca reli Bitcoin saat ini. “Kenaikan Bitcoin ke area US$87.000 menunjukkan bahwa momentum pasar kembali menguat setelah sebelumnya BTC mengalami tekanan di bawah US$80.000. Yang menarik bukan hanya pergerakan harganya, tetapi juga adanya kombinasi arus dana ETF, akumulasi korporasi, dan meningkatnya aktivitas di pasar derivatif,” ujar Yudho. Kata Yudho, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan Bitcoin saat ini memiliki beberapa katalis yang berjalan secara bersamaan. Namun, peningkatan FOMO juga perlu menjadi perhatian karena dapat membuat volatilitas meningkat apabila ekspektasi pasar bergerak terlalu cepat. “Di sisi lain, kenaikan yang berlangsung cepat juga perlu dibaca dengan hati-hati. Ketika FOMO meningkat dan posisi derivatif bertambah, ruang volatilitas menjadi lebih besar. Karena itu, level harga sebaiknya tidak dilihat sebagai kepastian arah pasar, melainkan sebagai area yang perlu dipantau bersama dengan volume, arus ETF, likuiditas, dan kondisi makroekonomi,” lanjutnya. US$90.000 Jadi Level yang Kembali Disorot Setelah berhasil melewati US$86.000, level US$90.000 kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Sejumlah analisis teknikal menempatkan US$88.600–US$92.220 sebagai area yang perlu diperhatikan apabila momentum kenaikan berlanjut. Pada kerangka waktu yang lebih pendek, area sekitar US$80.120 disebut sebagai level penting untuk mempertahankan struktur kenaikan jangka pendek. Sementara itu, jika terjadi koreksi, area US$82.000–US$84.000 menjadi salah satu zona yang dipantau pasar. Analisis lain yang dikutip Coinpedia juga menempatkan sekitar US$75.000 sebagai area dukungan yang lebih luas apabila koreksi berlangsung lebih dalam. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa setelah reli tajam, pasar Bitcoin kini berada dalam fase yang membutuhkan konfirmasi lanjutan, bukan sekadar melihat kenaikan harga dalam jangka pendek. Yudho menambahkan pasar kripto saat ini perlu melihat Bitcoin dalam konteks yang lebih luas. “Bitcoin sudah menunjukkan kemampuan untuk kembali berada di atas level teknikal penting, tetapi keberlanjutan tren akan sangat bergantung pada apakah permintaan spot dapat terus menopang harga. Jika kenaikan semakin banyak didorong leverage dan FOMO, risiko koreksi juga perlu diperhitungkan. Bagi investor, memahami volatilitas dan mengelola risiko tetap menjadi bagian penting ketika pasar bergerak cepat,” jelas Yudho. Dengan Bitcoin berada di sekitar US$86.000–US$87.000, perhatian pasar selanjutnya tertuju pada kemampuan BTC mempertahankan level tersebut sekaligus menguji area US$90.000. Di sisi lain, arus ETF, aktivitas korporasi, kondisi likuiditas, serta perkembangan makroekonomi akan menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi arah pasar berikutnya. Pergerakan harga aset kripto bersifat volatil dan memiliki risiko. Informasi dalam artikel ini bersifat edukasi dan bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli maupun menjual aset kripto.

Bitcoin Tembus US$80.000 Bikin Aset Kripto Ikut Reli dan Altcoin Menguat Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 22 September 2026 | 14:54 WIB

Bitcoin Tembus US$80.000 Bikin Aset Kripto Ikut Reli dan Altcoin Menguat

Jakarta, katakabar.com - Bitcoin kembali menunjukkan penguatan setelah berhasil menembus level psikologis US$80.000 pada perdagangan Jumat (18/9). Kenaikan tersebut diikuti sejumlah aset kripto lainnya, meski pasar sebelumnya menghadapi tekanan akibat keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan gagalnya rancangan undang-undang Clarity Act di Senat Amerika Serikat. Mengutip Yahoo Finance, Bitcoin (BTC) mencapai level tertinggi dalam dua minggu pada Jumat. Pergerakan ini menjadi perhatian karena terjadi setelah The Fed menaikkan suku bunga pada pekan yang sama. Di sisi lain, gagalnya Clarity Act yang sebelumnya diharapkan dapat memberikan kerangka regulasi federal bagi industri aset digital juga sempat menekan sentimen pasar. Bitcoin ke Atas US$80.000 Bitcoin sempat mengalami tekanan setelah hasil pemungutan suara terkait Clarity Act di Senat AS tidak memenuhi jumlah suara yang dibutuhkan untuk melanjutkan proses legislasi. Kondisi tersebut membuat harga Bitcoin turun hingga mendekati US$75.000 pada awal pekan. Tetapi, tekanan tersebut tidak berlangsung lama. Bitcoin kemudian mengalami pemulihan dan pada Jumat berhasil kembali menembus US$80.000. Yahoo Finance mencatat penguatan Bitcoin pada perdagangan tersebut mencapai sekitar 6% dan membawa aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar itu ke level tertinggi dalam dua minggu. Kenaikan Bitcoin juga berlangsung setelah The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Kenaikan tersebut menjadi yang pertama sejak 2023. Secara umum, suku bunga yang lebih tinggi dapat memberikan tekanan terhadap aset berisiko seperti saham teknologi dan aset kripto karena investor memiliki alternatif dengan imbal hasil yang lebih tinggi. Meski demikian, pasar kripto justru menunjukkan respons yang relatif kuat. Yahoo Finance mengutip Sean Farrell, Head of Digital Assets di Fundstrat, yang menilai pasar kripto mampu menyerap perubahan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih hawkish tanpa mengalami tekanan yang terlalu besar. Altcoin Ikut Menguat Pergerakan positif tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Sejumlah altcoin juga mencatat penguatan dalam periode yang sama. Berdasarkan data Yahoo Finance, Ether (ETH), Binance Coin (BNB), dan Solana (SOL) bahkan mencatat kenaikan yang lebih besar dalam periode satu bulan. Dalam sebulan terakhir hingga perdagangan Jumat, Ether tercatat menguat sekitar 35%, Binance Coin naik sekitar 25%, sedangkan Solana meningkat sekitar 41%. Pergerakan tersebut menunjukkan adanya rotasi minat investor ke aset digital selain Bitcoin. Kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan juga ikut terdorong. Yahoo Finance mengutip data CoinMarketCap yang menunjukkan total kapitalisasi pasar aset kripto mencapai sekitar US$2,66 triliun pada Jumat. Selain aset kripto konvensional, investor juga mulai memperhatikan aset digital berbasis tokenisasi. Pada perdagangan Jumat, sejumlah token yang merepresentasikan aset seperti saham Nvidia, Tesla, hingga indeks S&P 500 turut menjadi bagian dari aktivitas pasar digital. Faktor Teknis Dorong Penguatan Bitcoin Kenaikan Bitcoin ke atas US$80.000 juga tidak terlepas dari faktor teknis di pasar derivatif. Yahoo Finance mencatat bahwa trader derivatif menunjukkan sentimen bullish terhadap Bitcoin. Analis Bitget Wallet, Lacie Zhang, mengatakan arus dana masuk ke ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat serta aksi short covering ikut membantu Bitcoin melewati level US$80.000. Short covering terjadi ketika trader yang sebelumnya mengambil posisi untuk mengantisipasi penurunan harga menutup posisinya dengan membeli kembali aset tersebut. Kondisi ini dapat menciptakan tambahan tekanan beli dan mempercepat kenaikan harga dalam waktu singkat. Namun, penguatan yang didorong oleh faktor teknis tetap perlu dicermati karena keberlanjutan tren akan bergantung pada masuknya permintaan baru ke pasar. Pasar Kripto Masih Dihadapkan pada Risiko Meski Bitcoin kembali berada di atas US$80.000, pasar aset digital masih menghadapi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi pergerakan harga. Kebijakan moneter The Fed menjadi salah satu perhatian utama karena bank sentral AS masih diperkirakan melakukan perubahan suku bunga dalam periode mendatang. Selain itu, perkembangan regulasi aset digital di Amerika Serikat juga menjadi faktor penting. Gagalnya Clarity Act membuat arah pembentukan regulasi kripto di AS kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Di tengah kondisi tersebut, regulator seperti Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) disebut tetap melanjutkan upaya penyusunan aturan terkait aset digital. Bagi investor, pergerakan tersebut menunjukkan bahwa aset kripto tetap sangat sensitif terhadap perubahan sentimen pasar, kebijakan moneter, arus dana institusional, serta perkembangan regulasi. Karena itu, memahami faktor yang memengaruhi harga menjadi bagian penting sebelum mengambil keputusan investasi. Cek Pergerakan Kripto di Nanovest Pergerakan Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, dan Emas Digital saat ini bisa kamu cek di aplikasi Nanovest. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Saham AS, Nanovest dapat menjadi salah satu pilihan untuk mulai berinvestasi sekaligus mengeksplorasi berbagai aset kripto dalam satu aplikasi. Nanovest aplikasi investasi saham dan kripto yang menyediakan akses ke berbagai instrumen investasi. Bagi investor yang baru ingin memulai, Nanovest juga memiliki perlindungan dari risiko cybercrime dengan Asuransi Sinarmas. Nanovest berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Informasi lebih lanjut mengenai Nanovest dapat ditemukan melalui situs resminya. Aplikasi Nanovest juga tersedia di Play Store maupun App Store sehingga investor dapat mengakses berbagai informasi dan fitur investasi melalui perangkat masing-masing.

Emas Gagal Tembus 4.355, Harga Berisiko Lanjut Melemah Internasional
Internasional
Rabu, 16 September 2026 | 11:12 WIB

Emas Gagal Tembus 4.355, Harga Berisiko Lanjut Melemah

Jakarta, katakabar.com - Harga emas dunia atau XAUUSD masih menghadapi tekanan pada perdagangan hari Selasa (15/9). Analisis Dupoin Futures mengatakan, pergerakan harga emas pada time frame Daily menunjukkan kecenderungan bearish yang masih cukup kuat. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai tekanan jual berpotensi berlanjut apabila harga belum mampu menembus sekaligus bertahan di atas level resistance penting 4.355. Menurut analisis Dupoin Futures, level 4.355 menjadi area yang perlu diperhatikan pelaku pasar karena dapat menjadi penentu arah pergerakan XAUUSD selanjutnya. Selama harga emas masih bergerak di bawah resistance tersebut, peluang terjadinya pelemahan masih terbuka. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan bearish masih mendominasi struktur pergerakan harga emas pada time frame Daily. Geraldo Kofit dari Dupoin Futures, menjelaskan apabila XAUUSD kembali mendapatkan tekanan jual dan tidak mampu melakukan breakout terhadap resistance 4.355, harga emas berpotensi melanjutkan penurunan menuju area support berikutnya. Dalam analisis Dupoin Futures, level 4.223 menjadi target support yang perlu diperhatikan karena berada di sekitar area Order Block dan Unfilled Order. Dengan demikian, prediksi harga emas hari ini menurut Dupoin Futures masih cenderung bearish. Selama tidak terdapat penguatan signifikan yang mampu membawa XAUUSD melewati resistance 4.355, peluang harga untuk menguji area 4.223 tetap terbuka. Pergerakan di sekitar kedua level tersebut menjadi penting untuk melihat apakah tekanan jual akan semakin kuat atau justru mulai kehilangan momentum. Dupoin Futures juga menilai reaksi harga ketika mendekati area 4.223 perlu menjadi perhatian. Jika support tersebut mampu menahan tekanan jual, XAUUSD berpotensi mengalami rebound atau konsolidasi. Sebaliknya, apabila harga emas berhasil menembus support tersebut, tekanan bearish dapat semakin terkonfirmasi dan membuka peluang pelemahan ke area yang lebih rendah. Selain faktor teknikal, pergerakan emas juga masih dipengaruhi oleh perkembangan fundamental global. Analisis Dupoin Futures menunjukkan bahwa penguatan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve menjadi salah satu faktor yang membebani harga emas. Ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi atau mengambil langkah yang lebih ketat dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS dan memberikan tekanan terhadap emas. Kondisi tersebut semakin diperhatikan karena harga emas tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika tingkat suku bunga dan imbal hasil obligasi Amerika Serikat meningkat, opportunity cost dalam memegang emas menjadi lebih tinggi. Oleh sebab itu, menurut Dupoin Futures, pergerakan dolar AS dan Treasury yield akan menjadi dua indikator penting yang dapat memengaruhi arah XAUUSD dalam jangka pendek. Di sisi lain, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah masih menjadi faktor yang berpotensi memberikan dukungan terhadap emas. Situasi geopolitik yang meningkat biasanya mendorong investor untuk mencari aset safe haven, termasuk emas. Namun, menurut analisis Dupoin Futures, dukungan dari faktor safe haven tersebut masih harus berhadapan dengan tekanan dari ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat. Kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah juga menjadi perhatian pasar. Harga minyak yang meningkat dapat menambah risiko inflasi global. Kondisi tersebut berpotensi membuat bank sentral, khususnya The Fed, lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya. Bagi harga emas, situasi tersebut dapat menjadi tekanan apabila pasar kembali meningkatkan ekspektasi terhadap suku bunga yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama. Lantaran itu, Dupoin Futures melihat arah pergerakan XAUUSD akan sangat bergantung pada keseimbangan antara sentimen safe haven dan tekanan dari dolar AS serta imbal hasil obligasi. Jika USD dan Treasury yield tetap tinggi, ruang penguatan emas dapat menjadi lebih terbatas. Sebaliknya, peningkatan ketidakpastian geopolitik yang signifikan dapat memberikan dorongan terhadap permintaan emas sebagai aset perlindungan. Secara keseluruhan, prediksi harga emas hari ini dari Dupoin Futures masih mengarah pada potensi pelemahan. Level 4.355 menjadi resistance utama yang perlu ditembus untuk mengurangi dominasi tekanan bearish. Selama XAUUSD belum mampu breakout dan bertahan di atas area tersebut, Dupoin Futures memperkirakan harga emas masih berpeluang melanjutkan penurunan menuju support 4.223. Pelaku pasar juga disarankan mencermati perkembangan keputusan dan komunikasi The Fed, pergerakan dolar AS, serta Treasury yield sebagai katalis utama. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan dinamika inflasi, Dupoin Futures menilai kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut akan menjadi penentu penting bagi arah harga emas berikutnya.

Peluang Harga Emas Bisa Tembus 4.500, Ini Analisis Dupoin Futures Internasional
Internasional
Minggu, 13 September 2026 | 07:30 WIB

Peluang Harga Emas Bisa Tembus 4.500, Ini Analisis Dupoin Futures

Jakarta, katakabar.com - Harga emas atau XAUUSD diprediksi masih punga peluang untuk melanjutkan penguatan pada perdagangan  Kamis (10/9). Analisis Dupoin Futures menunjukkan adanya potensi pembentukan pola double bottom pada grafik harian yang dapat menjadi sinyal positif bagi pergerakan harga emas. Dalam skenario tersebut, XAUUSD berpeluang bergerak menuju area resistance terdekat di level 4.479 hingga 4.510. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengatakan peluang penguatan harga emas masih terbuka selama XAUUSD mampu mempertahankan area support penting. Berdasarkan analisis Dupoin Futures, zona support yang perlu diperhatikan berada di kisaran 4.366 hingga 4.340. Menurut Geraldo Kofit dari Dupoin Futures, selama harga emas tidak menembus area support tersebut, struktur pergerakan pada time frame Daily masih memberikan indikasi bullish. Kondisi ini membuat area 4.479–4.510 menjadi target resistance yang berpotensi diuji apabila momentum beli terus berlanjut. Analisis Dupoin Futures melihat pola double bottom sebagai salah satu faktor teknikal yang mendukung peluang kenaikan XAUUSD. Pola tersebut biasanya terbentuk setelah harga mengalami tekanan dan kemudian menemukan area yang mampu menahan penurunan sebanyak dua kali. Apabila harga mampu bergerak lebih tinggi dari area neckline, peluang terjadinya pembalikan tren menuju level yang lebih tinggi akan semakin terbuka. Dalam konteks pergerakan saat ini, Dupoin Futures menilai area support 4.366–4.340 menjadi batas penting bagi skenario bullish tersebut. Selama harga masih bertahan di atas zona itu, tekanan beli berpotensi tetap mendominasi. Sebaliknya, apabila support tersebut berhasil ditembus, skenario kenaikan yang disampaikan dalam analisis Dupoin Futures perlu dievaluasi kembali karena dapat membuka ruang bagi pelemahan lebih lanjut. Selain faktor teknikal, pergerakan harga emas juga dipengaruhi oleh sejumlah sentimen fundamental. Berdasarkan rangkuman berita Reuters, emas masih memperoleh dukungan dari pelemahan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik akibat perkembangan konflik di Timur Tengah. Situasi tersebut membuat aset emas tetap menarik bagi investor yang mencari instrumen safe haven di tengah meningkatnya risiko global. Dupoin Futures melihat perkembangan dolar AS sebagai salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam perdagangan XAUUSD. Ketika dolar AS mengalami tekanan, emas yang dihargai dalam mata uang tersebut cenderung menjadi lebih menarik bagi pemegang mata uang lainnya. Kondisi ini dapat memberikan dukungan tambahan terhadap harga emas. Di sisi lain, Dupoin Futures juga menilai pelaku pasar perlu mencermati perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat. Investor kini menunggu rilis data Producer Price Index (PPI) AS pada hari ini dan Consumer Price Index (CPI) pada Jumat. Kedua indikator tersebut berpotensi memberikan gambaran baru mengenai tekanan inflasi dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed. Data inflasi menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap keputusan suku bunga The Fed. Berdasarkan pemberitaan Reuters, peluang kenaikan suku bunga saat ini berada di sekitar 60%. Ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat membatasi penguatan emas, terutama apabila kenaikan suku bunga mendorong imbal hasil Treasury AS semakin tinggi. Kenaikan yield Treasury menjadi tantangan bagi emas karena instrumen tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga. Dengan demikian, apabila imbal hasil obligasi AS terus meningkat, sebagian investor dapat mengalihkan perhatian ke aset berbasis dolar yang menawarkan tingkat pengembalian lebih tinggi. Namun, menurut analisis Dupoin Futures, tekanan dari kenaikan yield dan ekspektasi suku bunga masih perlu dilihat bersama dengan kondisi teknikal XAUUSD. Jika dolar AS tetap melemah dan ketidakpastian geopolitik terus meningkat, permintaan terhadap emas berpotensi tetap kuat. Dengan mempertimbangkan analisis Dupoin Futures dan perkembangan sentimen pasar, Geraldo Kofit memperkirakan XAUUSD masih memiliki peluang untuk bergerak naik selama area support 4.366–4.340 tetap bertahan. Jika momentum bullish semakin kuat, harga emas berpotensi menguji resistance 4.479–4.510. Sebaliknya, apabila harga menembus support 4.340, pelaku pasar perlu mewaspadai perubahan struktur harga karena tekanan jual dapat kembali meningkat. Itu sebabnya, Dupoin Futures menilai respons XAUUSD terhadap area support dan resistance tersebut menjadi kunci untuk melihat arah pergerakan emas selanjutnya, terutama menjelang rilis data ekonomi penting Amerika Serikat.

Bitcoin Masuki Pekan Penentuan, Mampukah Kembali Tembus US$85.000? Internasional
Internasional
Kamis, 10 September 2026 | 12:07 WIB

Bitcoin Masuki Pekan Penentuan, Mampukah Kembali Tembus US$85.000?

Jakarta, katakabar.com - Masih bergerak di sekitar level US$79.000 setelah reli menuju US$82.000 belum mampu berlanjut. Meski momentum jangka pendek cenderung tertahan, peluang Bitcoin untuk kembali menguji US$85.000 masih terbuka seiring pasar bersiap menghadapi sejumlah agenda ekonomi penting Amerika Serikat (AS) dalam beberapa hari ke depan. Data internal FLOQ menunjukkan Bitcoin diperdagangkan sekitar US$79.522, dengan rentang perdagangan 24 jam antara US$79.081 hingga US$80.494. Sementara itu, dalam tujuh hari terakhir, BTC sempat bergerak hingga US$82.108 sebelum kembali terkoreksi. CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai kondisi saat ini menempatkan Bitcoin pada fase konsolidasi penting. Menurutnya, area US$82.000 menjadi salah satu level yang perlu ditembus agar momentum kenaikan menuju US$85.000 kembali mendapatkan konfirmasi. “Bitcoin saat ini berada dalam fase menunggu katalis baru. Area US$82.000 menjadi level yang cukup penting karena beberapa kali menjadi resistance. Jika level tersebut berhasil ditembus dengan volume dan permintaan yang kuat, peluang untuk melihat Bitcoin kembali menguji US$85.000 akan semakin terbuka,” kata Yudho. Jalan Menuju US$85.000 Masih Terbuka Secara teknikal, Bitcoin masih menghadapi resistance di kisaran US$80.000 hingga US$82.000. Kemampuan BTC merebut kembali area tersebut akan menjadi salah satu sinyal penting untuk menentukan apakah tren pemulihan dapat berlanjut. Sentimen pasar terhadap kemungkinan kenaikan juga masih relatif positif. Laporan mencatat pasar prediksi pergerakan Bitcoin sebelumnya memberikan probabilitas sekitar 77% bahwa BTC akan melewati US$85.000 sebelum 2 Oktober 2026. Meski demikian, probabilitas di prediction market bersifat dinamis dan bukan merupakan proyeksi harga yang pasti. Yudho mengatakan target US$85.000 masih realistis apabila beberapa katalis makro bergerak sesuai harapan pasar. “Untuk menuju US$85.000, Bitcoin tidak hanya membutuhkan faktor teknikal. Pasar juga membutuhkan dukungan dari sisi likuiditas dan sentimen makro. Karena itu, pergerakan minggu ini penting untuk melihat apakah investor kembali meningkatkan eksposur terhadap aset berisiko atau justru memilih lebih defensif menjelang keputusan The Fed,” jelasnya. Arus Dana ETF Masih Jadi Penopang Di tengah volatilitas harga, permintaan institusional terhadap Bitcoin masih menunjukkan sinyal positif. ETF Bitcoin di AS membukukan net inflow sekitar US$175 juta pada 4 September, menandai tiga sesi berturut-turut arus dana positif. BlackRock IBIT menyumbang sekitar US$117 juta, sedangkan Fidelity mencatat arus masuk sekitar US$57,22 juta. Sehari sebelumnya, total inflow ETF Bitcoin bahkan mencapai sekitar US$731 juta. Menurut Yudho, kesinambungan arus dana ETF menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena dapat menunjukkan bahwa investor institusional masih memiliki minat terhadap Bitcoin meskipun volatilitas jangka pendek meningkat. “ETF inflow menjadi salah satu indikator yang menarik karena memperlihatkan bahwa permintaan institusional masih ada ketika Bitcoin mengalami konsolidasi. Apabila tren arus masuk ini berlanjut, tekanan dari sisi permintaan bisa membantu Bitcoin mempertahankan struktur kenaikannya dan kembali mencoba resistance yang lebih tinggi,” katanya. Bitcoin Hadapi Tiga Ujian Besar Pekan Ini Selain pergerakan harga, perhatian investor pekan ini akan tertuju pada serangkaian agenda ekonomi AS yang berpotensi mengubah ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. Ujian pertama datang dari pasar obligasi AS. Departemen Keuangan AS dijadwalkan melelang kembali Treasury Note tenor 10 tahun pada 9 September 2026, dengan settlement pada 15 September. Hasil lelang menjadi penting karena permintaan yang lemah berpotensi mendorong imbal hasil obligasi lebih tinggi, sementara permintaan yang kuat dapat membantu menahan kenaikan yield. Pada hari yang sama, kebijakan baru Treasury untuk meningkatkan kapasitas program buyback obligasi berjangka panjang juga mulai berlaku. Treasury meningkatkan batas maksimum operasi liquidity-support buyback dari US$2 miliar menjadi setidaknya US$4 miliar per operasi untuk sejumlah surat utang berjangka panjang. Kebijakan ini berlaku mulai 9 September hingga awal November. Setelah itu, pasar kripto akan menghadapi dua laporan inflasi utama. Bureau of Labor Statistics (BLS) dijadwalkan merilis Producer Price Index (PPI) Agustus pada 10 September, disusul Consumer Price Index (CPI) Agustus pada 11 September. CPI AS terakhir tercatat meningkat 3,4% secara tahunan pada Juli. Data tersebut menjadi semakin penting setelah laporan ketenagakerjaan AS menunjukkan nonfarm payroll bertambah 162.000 pada Agustus, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,1%. Kondisi pasar tenaga kerja yang masih relatif kuat membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat. “PPI dan CPI akan menjadi dua data yang sangat penting. Jika inflasi menunjukkan tanda-tanda mereda, pasar bisa kembali melihat ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif ke depan. Sebaliknya, inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi dapat mendorong yield dan dolar AS naik, yang biasanya menjadi tantangan bagi aset berisiko termasuk Bitcoin,” jelas Yudho. FOMC Jadi Penentu Arah Berikutnya Puncak perhatian pasar kemudian akan tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September 2026. Federal Reserve dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya pada 16 September, disertai pembaruan proyeksi ekonomi dan jalur suku bunga dari para pejabat The Fed. Menurut Yudho, keputusan suku bunga saja belum tentu menjadi faktor terpenting. Panduan The Fed mengenai prospek inflasi, ekonomi, dan arah suku bunga berikutnya juga berpotensi menentukan sentimen pasar hingga akhir September. “Pasar pada akhirnya tidak hanya melihat apakah The Fed menaikkan atau mempertahankan suku bunga. Investor akan membaca bagaimana The Fed melihat inflasi dan arah kebijakan beberapa bulan ke depan. Nada yang lebih dovish dapat menjadi katalis positif bagi likuiditas pasar, sementara sikap yang tetap hawkish berpotensi membuat Bitcoin bertahan dalam fase konsolidasi lebih lama,” ucap Yudho. Dengan kondisi tersebut, US$82.000 menjadi resistance penting yang perlu diperhatikan dalam jangka pendek. Keberhasilan Bitcoin menembus dan mempertahankan level tersebut dapat membuka kembali peluang menuju US$85.000. Sebaliknya, apabila tekanan makro kembali meningkat, Bitcoin masih berpotensi bergerak volatil di sekitar area US$79.000 dan menguji support yang lebih rendah. Namun, kombinasi antara arus dana ETF yang masih positif, minat institusional, serta rangkaian katalis makro dalam beberapa hari ke depan membuat September berpotensi menjadi periode penting dalam menentukan fase berikutnya bagi Bitcoin. “Kami melihat September sebagai periode yang akan memberikan lebih banyak kejelasan mengenai arah pasar. US$85.000 masih sangat mungkin dicapai, tetapi jalannya tidak akan linear. Investor perlu memperhatikan data makro, arus dana institusional, dan bagaimana Bitcoin merespons level-level penting, bukan hanya mengejar pergerakan harga dalam satu atau dua hari,” sebut Yudho. Disclaimer: Materi ini disampaikan untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan merupakan rekomendasi atau ajakan untuk membeli maupun menjual aset kripto.

Emas Gagal Tembus 4.440, Harga Emas Berpotensi Anjlok ke 4.365–4.331 Internasional
Internasional
Rabu, 09 September 2026 | 13:07 WIB

Emas Gagal Tembus 4.440, Harga Emas Berpotensi Anjlok ke 4.365–4.331

Jakarta, katakabar.com - Harga emas atau XAUUSD masih berpotensi mengalami tekanan pada perdagangan Senin (7/9). Analisis Dupoin Futures, Geraldo Kofit selaku analis Dupoin Futures melihat harga emas pada time frame Daily masih memiliki ruang untuk melanjutkan pelemahan menuju area support 4.365 hingga 4.331. "Prospek tersebut muncul setelah XAUUSD gagal menembus resistance di level 4.440 dan membentuk pola ABC Correction," kata Geraldo. Dupoin Futures menilai kegagalan emas melewati resistance 4.440 menjadi sinyal penting dalam membaca arah pergerakan harga berikutnya. Level tersebut sebelumnya menjadi area yang harus ditembus apabila XAUUSD ingin mempertahankan momentum penguatan. Tetapi, lantaran harga kembali tertahan di bawah resistance, tekanan jual berpotensi mengambil alih dan membawa emas menuju level support yang lebih rendah. Dalam analisis Dupoin Futures, terbentuknya pola ABC Correction juga menunjukkan bahwa XAUUSD masih berada dalam fase koreksi. Pola tersebut memberikan indikasi bahwa harga memiliki peluang untuk melanjutkan penurunan sebelum menemukan area yang dapat menjadi titik pantulan. Lantaran itu, area 4.365–4.331 menjadi zona penting yang perlu diperhatikan pelaku pasar dalam perdagangan emas hari ini. Geraldo memperkirakan harga dapat terlebih dahulu menguji support 4.365 apabila tekanan jual terus berlanjut. Jika support tersebut tidak mampu menahan penurunan, XAUUSD berpotensi bergerak lebih rendah menuju 4.331. Bila harga mampu bertahan di zona tersebut dan muncul kembali minat beli, peluang terjadinya rebound tetap terbuka. Meski demikian, selama XAUUSD belum mampu menembus 4.440, Dupoin Futures masih melihat risiko koreksi sebagai skenario yang patut diwaspadai. Pergerakan emas hari ini juga tidak terlepas dari dinamika pasar global. Harga emas berada di sekitar US$4.410 per troy ounce dan menghadapi sejumlah sentimen yang saling berlawanan. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah kenaikan harga minyak yang dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta gangguan di sekitar Strait of Hormuz. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi karena energi merupakan salah satu komponen penting dalam aktivitas ekonomi. Jika harga minyak bertahan tinggi, pasar dapat kembali memperhitungkan risiko tekanan inflasi yang lebih persisten. Kondisi tersebut menjadi penting bagi harga emas karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve. Dupoin Futures melihat kebijakan The Fed masih menjadi salah satu faktor utama yang menentukan pergerakan XAUUSD. Setelah data tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan hasil yang lebih kuat, ekspektasi pasar terhadap suku bunga kembali menjadi perhatian. Suku bunga yang berpotensi lebih tinggi dapat memberikan dukungan terhadap dolar AS dan yield Treasury, yang pada saat bersamaan dapat membatasi daya tarik emas. Ketika yield Treasury meningkat, investor memiliki alternatif aset dengan imbal hasil yang lebih tinggi sehingga biaya peluang memegang emas ikut meningkat. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap harga logam mulia. Karena itu, dalam analisis Dupoin Futures, arah pergerakan yield Treasury dan dolar AS menjadi dua indikator yang perlu terus dicermati untuk menentukan potensi XAUUSD dalam jangka pendek. Di sisi lain, pelemahan dolar AS dan turunnya yield Treasury dapat memberikan ruang bagi emas untuk kembali menguat. Apabila ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mulai berkurang, tekanan terhadap XAUUSD berpotensi mereda. Situasi tersebut dapat menjadi katalis bagi emas untuk melakukan pemulihan dari area support. Perhatian pasar kini mulai bergeser ke data inflasi Amerika Serikat, terutama Consumer Price Index atau CPI. Data tersebut menjadi penting setelah laporan tenaga kerja AS memberikan sinyal yang relatif kuat. Menurut Dupoin Futures, pelaku pasar akan mencermati apakah tekanan harga di Amerika Serikat masih cukup tinggi untuk memengaruhi keputusan The Fed pada pertemuan September. Jika CPI menunjukkan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, pasar berpotensi meningkatkan kembali ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga yang lebih ketat. Skenario tersebut dapat memberikan dukungan bagi dolar AS dan yield Treasury sekaligus meningkatkan tekanan terhadap XAUUSD. Kondisi ini akan memperkuat risiko harga emas untuk menguji area 4.365–4.331 seperti yang diproyeksikan Dupoin Futures. Sebaliknya, apabila data CPI menunjukkan perlambatan inflasi, peluang pelonggaran kebijakan The Fed dapat kembali menjadi perhatian. Ekspektasi tersebut berpotensi menekan dolar AS dan yield Treasury sehingga memberikan dukungan bagi harga emas. Dalam kondisi demikian, XAUUSD dapat memperoleh momentum untuk kembali naik dan menguji resistance 4.440. Faktor geopolitik juga masih menjadi elemen penting dalam pergerakan emas. Ketegangan AS-Iran dan kondisi di sekitar Strait of Hormuz berpotensi meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Ketidakpastian geopolitik biasanya mendorong investor mencari aset yang dinilai lebih defensif. Namun, Dupoin Futures menilai pengaruh geopolitik terhadap emas perlu dilihat bersamaan dengan dampaknya terhadap harga minyak dan inflasi. Kenaikan minyak akibat ketegangan geopolitik dapat meningkatkan risiko inflasi, yang kemudian berpotensi membuat The Fed lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan. Dengan demikian, sentimen geopolitik tidak selalu memberikan dampak satu arah terhadap harga emas. Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat pergerakan XAUUSD berpotensi berlangsung volatil. Dari sisi teknikal, Dupoin Futures masih melihat peluang pelemahan setelah harga gagal menembus resistance 4.440 dan membentuk pola ABC Correction. Sementara dari sisi fundamental, arah dolar AS, yield Treasury, ekspektasi suku bunga, data CPI, serta perkembangan konflik AS-Iran akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga emas. Berdasarkan analisis Geraldo Kofit dari Dupoin Futures, area 4.365–4.331 menjadi target support yang perlu diperhatikan jika tekanan jual berlanjut. Selama XAUUSD belum mampu menembus kembali level 4.440, skenario koreksi masih menjadi perhatian utama Dupoin Futures untuk perdagangan hari ini. Pelaku pasar perlu mencermati respons harga ketika mendekati area support tersebut. Jika 4.365–4.331 mampu bertahan, peluang rebound dapat kembali terbuka. Namun, apabila support tersebut ditembus, tekanan bearish berpotensi semakin kuat. Dengan demikian, menurut Dupoin Futures, pergerakan emas hari ini akan sangat bergantung pada keseimbangan antara tekanan dari ekspektasi suku bunga dan permintaan safe haven akibat risiko geopolitik.

Harga Emas Gagal Tembus 4.464, Akankah Jatuh ke 4.396? Internasional
Internasional
Kamis, 03 September 2026 | 15:11 WIB

Harga Emas Gagal Tembus 4.464, Akankah Jatuh ke 4.396?

Jakarta, katakabar.com - Harga emas atau XAUUSD diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pekan pertama September 2026. Soalnya menurut analisis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, pergerakan emas pada time frame H4 belum menunjukkan kekuatan yang cukup untuk melanjutkan penguatan. Harga belum berhasil ditutup di atas resistance 4.464 dan justru membentuk swing high baru. Kondisi tersebut, ujarnya, menjadi indikasi bahwa tekanan jual masih cukup kuat, sehingga Dupoin Futures memperkirakan XAUUSD berpotensi bergerak turun menuju area support 4.415 hingga 4.396. Secara teknikal, kata Geraldo, Dupoin Futures melihat level resistance 4.464 sebagai salah satu area penting dalam pergerakan harga emas saat ini. Upaya buyer untuk membawa harga melewati level tersebut belum menghasilkan breakout yang meyakinkan. Kegagalan tersebut menunjukkan seller masih mampu menahan kenaikan XAUUSD. "Selama harga belum mampu menembus dan bertahan di atas resistance tersebut, Dupoin Futures menilai peluang koreksi masih terbuka pada perdagangan," ucapnya. Pembentukan swing high baru turut menjadi perhatian dalam analisis Dupoin Futures. Kondisi tersebut menunjukkan pergerakan harga belum memberikan konfirmasi kuat mengenai perubahan tren menuju bullish. Ketika harga gagal melanjutkan kenaikan setelah membentuk swing high, tekanan jual berpotensi kembali muncul. Dalam skenario tersebut, Dupoin Futures melihat XAUUSD berpeluang bergerak menuju support terdekat di 4.415. Apabila tekanan jual semakin kuat, Dupoin Futures memproyeksikan pelemahan dapat berlanjut menuju level 4.396. Area tersebut menjadi support berikutnya yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar. Respons harga ketika mencapai kisaran 4.415–4.396 akan menjadi penting untuk menentukan apakah XAUUSD berpotensi mengalami rebound atau justru melanjutkan penurunan ke level yang lebih rendah. Masih Dupoin Futures, support 4.415 dan 4.396 dapat menjadi area yang menentukan arah pergerakan emas selanjutnya. Jika buyer kembali masuk dan mampu mempertahankan harga di atas support, terdapat peluang terjadinya pemulihan dalam jangka pendek. Namun, apabila tekanan bearish berhasil membawa harga menembus support tersebut, Dupoin Futures menilai risiko pelemahan lanjutan akan semakin terbuka. Di luar faktor teknikal, Dupoin Futures melihat harga emas masih sensitif terhadap perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat. Pasar terus mencermati arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) setelah komentar hawkish Kevin Warsh dalam agenda Jackson Hole sebelumnya. Pernyataan tersebut membuat investor kembali memperhitungkan kemungkinan perubahan suku bunga pada September, sehingga pergerakan dolar AS dan Treasury Yield menjadi perhatian utama. Kenaikan US Treasury Yield berpotensi memberikan tekanan terhadap emas. Dupoin Futures menjelaskan bahwa ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat, aset tersebut menjadi relatif lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil. Kondisi tersebut dapat meningkatkan opportunity cost dalam memegang emas dan mendorong sebagian investor mengurangi eksposurnya terhadap logam mulia. Pergerakan dolar AS juga menjadi faktor yang diperhatikan Dupoin Futures. Ekspektasi suku bunga The Fed yang lebih tinggi dapat memberikan dukungan terhadap dolar AS. Jika dolar kembali menguat, harga emas berpotensi menghadapi tekanan karena emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Situasi tersebut dapat memperkuat tekanan bearish yang terlihat pada grafik teknikal XAUUSD. Tetapi, Dupoin Futures menilai terdapat faktor lain yang berpotensi membatasi pelemahan emas, yaitu meningkatnya risiko geopolitik. Eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi perhatian pasar dan berpotensi meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven. Dalam kondisi ketidakpastian geopolitik, investor biasanya meningkatkan perhatian terhadap emas sebagai salah satu instrumen lindung nilai. Kondisi geopolitik tersebut membuat arah harga emas tidak hanya ditentukan oleh faktor suku bunga dan yield. Dupoin Futures melihat apabila ketegangan AS-Iran semakin meningkat, permintaan safe haven dapat memberikan dukungan terhadap XAUUSD. Sentimen tersebut berpotensi menahan laju penurunan meskipun secara teknikal harga masih berada dalam tekanan. Di sisi lain, Dupoin Futures menilai pelaku pasar perlu memperhatikan perkembangan data ekonomi Amerika Serikat berikutnya. Data ekonomi dapat memengaruhi kembali ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. Data yang menunjukkan ekonomi AS tetap kuat berpotensi memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dan memberikan tekanan terhadap emas. Sebaliknya, data yang lebih lemah dapat mengurangi tekanan terhadap XAUUSD melalui perubahan ekspektasi kebijakan moneter. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Dupoin Futures masih melihat prospek harga emas hari ini cenderung bearish dalam jangka pendek. Kegagalan XAUUSD menembus resistance 4.464 menjadi salah satu sinyal utama yang mendukung skenario tersebut. Selama harga masih bergerak di bawah resistance tersebut, Dupoin Futures memproyeksikan peluang pelemahan menuju support 4.415 hingga 4.396 masih terbuka. Pelaku pasar perlu mencermati perkembangan harga ketika memasuki area support tersebut. Jika support mampu bertahan, Dupoin Futures melihat peluang rebound masih dapat terjadi. Apabila XAUUSD menembus area 4.396, tekanan jual berpotensi semakin kuat. Pada saat yang sama, perkembangan Treasury Yield, dolar AS, kebijakan The Fed, serta eskalasi AS-Iran dapat meningkatkan volatilitas harga emas. Dengan demikian, Dupoin Futures memproyeksikan XAUUSD berpotensi melemah menuju 4.415–4.396 pada perdagangan hari ini. Resistance 4.464 menjadi level penting yang perlu diperhatikan untuk melihat potensi perubahan momentum. Selama resistance tersebut belum berhasil ditembus secara meyakinkan, Dupoin Futures masih menempatkan skenario koreksi sebagai proyeksi utama, dengan perkembangan kebijakan The Fed dan sentimen safe haven menjadi faktor fundamental yang dapat memengaruhi pergerakan harga emas sepanjang perdagangan.

Berawal dari Jadi Ojol, Rayyan Kenal Kripto hingga Tembus Coinfest Asia 2026 Lifestyle
Lifestyle
Jumat, 28 Agustus 2026 | 15:03 WIB

Berawal dari Jadi Ojol, Rayyan Kenal Kripto hingga Tembus Coinfest Asia 2026

Bali, katakabar.com - Siang-siang Rayyan biasanya dihabiskan di atas sepeda motor. Pemuda berusia 23 tahun yang lahir di Bali itu berpindah dari satu titik ke titik lain, mengikuti pesanan yang muncul di layar ponselnya sebagai pengemudi ojek daring.  Tetapi, satu perjalanan membawanya lebih jauh dari sekadar alamat tujuan.  Semua bermula ketika salah seorang karyawan FLOQ menggunakan jasa Rayyan. Seperti banyak percakapan singkat antara pengemudi dan penumpang, obrolan awalnya berlangsung sederhana. Hingga pembicaraan mengarah pada pekerjaan, investasi, dan aset kripto.  Dari percakapan itu, karyawan FLOQ mengetahui Rayyan ternyata sedang memulai perjalanan investasinya. Kripto bukan sesuatu yang sepenuhnya asing baginya. Ia sudah lebih dulu mengenalnya melalui berbagai konten edukasi di internet, salah satunya dari Akademi Crypto, platform pembelajaran yang membahas aset kripto dan ekosistemnya.  Rasa ingin tahu itu kemudian mendorongRayyan membuka akun di FLOQ.  Ia tidak langsung menjadi trader yang setiap hari memandangi pergerakan grafik harga. Justru sebaliknya. Rayyan mengaku masih belum berani melakukan trading aktif.  Ia memilih berjalan perlahan. Alih-alih mengejar pergerakan harga jangka pendek, Rayyan menggunakan pendekatan dollarcost averaging (DCA), yakni membeli aset kripto tertentu secara bertahap dalam periode tertentu. Di sela aktivitasnya sebagai pengemudi ojol, ia juga terus mengikuti konten edukasi untuk memahami dunia yang baru dimasukinya itu.  Bagi Rayyan, langkah pertamanya di kripto bukan dimulai dari keberanian mengambil risiko besar, melainkan dari belajar.  Undangan Membuka Pintu Lebih Lebar  Pertemuan sederhana antara pengemudidan penumpang tersebut kemudian berkembang menjadi pengalaman yang tidakdiduga Rayyan.  Sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat belajarnya, FLOQ mengundang Rayyan menghadiri Coinfest Asia 2026. Festival kripto tersebut berlangsung pada 20 hingga 21 Agustus 2026 lalu di Melasti Beach, Bali, dan mempertemukan pelaku industri, komunitas, pengembang, hingga trader dariberbagai negara.  Bagi seseorang yang sebelumnya mengenal kripto terutama melalui layar ponsel, kesempatan itu menawarkan pengalaman berbeda.  Di Coinfest Asia, Rayyan dapat melihat dunia kripto bukanhanya tentang harga Bitcoin yang naik dan turun. Di baliknya terdapat komunitas, perusahaan teknologi, pengembang blockchain, pelaku industrikeuangan, regulator, hingga orang-orang yang sedang membangun berbagai layanan berbasis aset digital.  Perjalanan itu seakan mempertemukan dua dunia.  Di satu sisi adalah keseharian Rayyan di jalanan Bali, menerima pesanan demi pesanan melalui aplikasi. Di sisi lain adalah sebuah industri digital yang berkembang cepat dan semakin banyak diakses masyarakat melaluiperangkat yang sama: ponsel di genggaman.  Cerita Rayyan menjadi potret kecil dari perubahan yang sedang berlangsung di Indonesia.  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah akun konsumen pedagang aset keuangan digital telah mencapai 22,69 juta pada Juni 2026. Pada bulan yang sama, nilai transaksi aset kripto tercatat Rp28,58 triliun, meningkat 24,20 persen dibanding bulan sebelumnya.  Angka tersebut menunjukkan bahwa aset kripto semakin dekat dengan masyarakat. tetapi, semakin mudahnya akses juga membawa pekerjaan rumah lain: literasi.  Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 yang dilakukan OJK bersama Badan Pusat Statistik mencatat indeks inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 80,51 persen. Sementara indeks literasi keuanganberada pada 66,46 persen.  Jarak antara akses dan pemahaman itu menjadi penting. Memiliki aplikasi keuangan di ponsel belum tentu berarti seseorang telah memahami produk yang digunakan, termasuk risiko di dalamnya.  Di sinilah perjalanan Rayyan menjadi relevan.  Ia tidak memulai dengan transaksi besar atau keputusan yang rumit. Ia memulai dengan menonton, membaca, bertanya, kemudian mencoba memahami sebelum mengambil langkah berikutnya.  Kripto Tidak Mengenal Profesi  CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis, melihat cerita semacam Rayyan sebagai gambaran bagaimana teknologi finansial dapat menjangkau masyarakat dengan latar belakang yang semakin beragam.  “Bagi kami, cerita Rayyan menunjukkan akses terhadap aset digital tidak seharusnya dibatasi oleh profesi atau latar belakang. Yang paling penting adalah bagaimana seseorang memulainya dengan pengetahuan, memahami risikonya, lalu mengambil keputusan sesuai dengan kemampuan masing-masing,” ujar Yudho.  Menurut Yudho, perkembangan industri aset digital juga perlu dibarengi dengan semakin luasnya akses terhadap pendidikan finansial.  “Teknologi bisa membuka akses, tetapi edukasi yang membuat akses tersebut menjadi lebih bermakna. Kami ingin semakin banyak orang merasa bahwa mereka boleh belajar, boleh bertanya, dan tidak perlu menjadi ahli keuangan terlebih dahulu untuk mulai memahami aset digital,” ucapnya.  Pandangan tersebut sejalan dengan misi FLOQ yang menyebut ingin membuat perjalanan menuju investasi aset digital menjadi lebih sederhana dan inklusif. Perusahaan itu sendiri telah mencatat sekitar 1,8 juta pengguna setelah satu tahun beroperasi.  Di tengah pertumbuhan tersebut, cerita Rayyan menunjukkan wajah lain dari adopsi kripto Indonesia.  Bukan tentang layar perdagangan dengan deretan angka. Bukan pula tentang siapa yang memiliki modal paling besar.  Melainkan tentang bagaimana pengetahuan yang sebelumnya terasa jauh kini dapat ditemukan lewat sebuah video, aplikasi, percakapan dengan orang asing, bahkan perjalanan singkat mengantar seorang penumpang.  Bagi Rayyan, perjalanan itu masih berada di awal.  Ia masih bekerja sebagai pengemudi ojol. Masih menjalani rutinitasnya di jalanan Bali. Masih mempelajari kripto sedikit demi sedikit dan memilih pendekatan investasi yang menurutnya lebih nyaman dibanding trading aktif.  Tetapi, kini ada satu hal yang berbeda.  Ponsel yang sehari-hari membantunya menemukan penumpang dan mencari penghasilan juga telah menjadi pintu masuk menuju pengetahuan finansial yang lebih luas.   Sebuah perjalanan yang bermula dari jalanan Bali, lalu membawanya ke tengah pertemuan industri kripto dunia di pulau tempat ia dilahirkan.

Bitcoin Tembus US$74.000, Sinyal Menuju US$80.000 Makin Kuat! Internasional
Internasional
Kamis, 27 Agustus 2026 | 08:05 WIB

Bitcoin Tembus US$74.000, Sinyal Menuju US$80.000 Makin Kuat!

Jakarta, katakabar.com - Bitcoin (BTC) kembali membuat pasar kripto bergairah. Aset kripto terbesar dunia itu melonjak sekitar 7,9 persen Jumat (21/8), hingga diperdagangkan di kisaran US$74.409 atau sekitar Rp1,31 miliar, setelah sebelumnya bergerak dari sekitar US$63.000 menuju area US$75.000 dalam waktu kurang dari dua hari. Lonjakan ini membawa kembali level US$80.000 ke radar investor. Namun, berbeda dengan reli yang hanya ditopang euforia jangka pendek, pergerakan Bitcoin kali ini didorong kombinasi beberapa katalis besar: membaiknya likuiditas global, kembalinya dana institusional melalui ETF Bitcoin spot, serta gelombang likuidasi posisi short. Salah satu pemicu terbesarnya datang dari Amerika Serikat (AS). Pada 19 Agustus 2026, Departemen Keuangan AS mengumumkan akan meningkatkan setidaknya dua kali lipat ukuran operasi pembelian kembali atau buyback obligasi pemerintah berjangka panjang. Batas pembelian yang sebelumnya maksimal US$2 miliar per operasi dinaikkan menjadi setidaknya US$4 miliar, efektif mulai 9 September hingga 4 November 2026. Kebijakan tersebut menyasar obligasi dengan tenor 10 hingga 30 tahun dan ditujukan untuk memberikan dukungan likuiditas di pasar obligasi jangka panjang. Pengumuman itu sempat menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan melemahkan dolar AS, kondisi yang secara umum memberikan ruang lebih besar bagi aset seperti Bitcoin dan emas untuk menguat. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai reli Bitcoin kali ini menjadi menarik karena tidak hanya berasal dari satu faktor. “Kita melihat tiga mesin bekerja hampir bersamaan. Likuiditas makro mendapat sentimen positif, investor institusional kembali mengakumulasi Bitcoin melalui ETF spot, lalu posisi short yang terlalu besar dipaksa keluar dari pasar. Kombinasi seperti ini membuat kenaikan harga menjadi sangat cepat,” ujar Yudho. Dana Institusi Kembali Masuk Sinyal kuat lainnya datang dari pasar ETF Bitcoin spot di AS yang mencatat arus dana bersih sebesar US$517,19 juta pada 19 Agustus, menjadi inflow harian terbesar sejak 4 Mei 2026. BlackRock IBIT memimpin dengan sekitar US$284,7 juta, disusul ARK 21Shares ARKB sebesar US$77,7 juta dan Fidelity FBTC sekitar US$62,4 juta. Masuknya lebih dari setengah miliar dollar AS dalam satu hari memberi indikasi bahwa kenaikan Bitcoin tidak sepenuhnya berasal dari spekulasi investor ritel. Menurut Yudho, aliran ETF menjadi salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan dalam beberapa hari ke depan. “Kalau ingin menilai apakah reli ini punya napas lebih panjang, jangan hanya melihat candle hijau atau persentase kenaikan harian. Perhatikan apakah inflow ETF tetap berlanjut. Konsistensi permintaan spot jauh lebih penting untuk menjaga tren dibandingkan reli yang hanya berasal dari leverage,” ucap Yudho. Short Seller “Terbakar”, Reli Makin Kencang Setelah Bitcoin menembus sejumlah level resistance, kenaikan harga kemudian diperbesar oleh fenomena short squeeze. Lebih dari US$3,1 miliar posisi short kripto dilikuidasi ketika harga bergerak cepat ke atas. Investor yang sebelumnya bertaruh harga akan turun terpaksa menutup posisi, yang pada akhirnya menambah tekanan beli di pasar. Besarnya pergerakan tersebut juga menjadi perhatian perusahaan analitik blockchain Glassnode. Pergerakan penutupan harian Bitcoin tercatat sekitar 5,8 standar deviasi di atas volatilitas 30 harinya, menjadi pergerakan naik sebesar itu yang terbesar sejak Oktober 2023. Artinya, reli yang terjadi kali ini tergolong tidak biasa, bahkan untuk ukuran Bitcoin yang dikenal sebagai aset dengan volatilitas tinggi. Bitcoin Menuju US$80.000? Secara teknikal, Bitcoin kini telah meninggalkan zona resistance penting US$69.000-US$70.000 dan bergerak di atas level psikologis US$72.000. Selama harga mampu mempertahankan area tersebut sebagai support, peluang Bitcoin melanjutkan penguatan menuju US$76.000-US$80.000 tetap terbuka. Level US$80.000 juga mulai kembali masuk ke dalam proyeksi sejumlah pengamat pasar. Yudho perkirakan Bitcoin berpotensi memasuki akhir tahun 2026 di sekitar US$80.000 sebelum memasuki fase penguatan yang lebih besar pada tahun berikutnya. Namun, Yudho mengingatkan bahwa US$80.000 sebaiknya dibaca sebagai skenario, bukan kepastian. “US$80.000 sekarang semakin dekat secara teknikal, tetapi pasar tidak bergerak dalam garis lurus. Setelah kenaikan hampir vertikal, konsolidasi atau koreksi sehat sangat mungkin terjadi. Selama Bitcoin mampu menjaga area sekitar US$72.000 dan permintaan spot tetap kuat, skenario menuju US$76.000 hingga US$80.000 masih terbuka,” jelasnya. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan momentum di atas US$72.000 dapat membuka ruang koreksi kembali ke area US$70.000 hingga sekitar US$68.000. September Bisa Jadi Penentu Selain faktor harga, investor juga mulai memperhatikan perkembangan regulasi di Amerika Serikat. Salah satu katalis yang menjadi perhatian adalah perkembangan CLARITY Act, regulasi yang bertujuan memberikan struktur lebih jelas mengenai pembagian pengawasan pasar aset digital di AS. Laporan pasar menyebut pemungutan suara di Senat dijadwalkan pada 15 September 2026. Bila dikombinasikan dengan arus masuk ETF yang berkelanjutan dan kondisi likuiditas yang mendukung, perkembangan regulasi positif dapat memberikan katalis lanjutan bagi pasar kripto. Tetapi, CEO FLOQ ini menilai investor tetap perlu menjaga ekspektasi. “Momentum Bitcoin sedang sangat kuat, tetapi justru ketika pasar bergerak cepat, disiplin menjadi semakin penting. Jangan mengejar harga hanya karena takut tertinggal. Perhatikan fundamental, likuiditas, regulasi, dan sesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko masing-masing,” imbuh Yudho. Dengan Bitcoin kembali mendekati area US$75.000, pasar kini menghadapi pertanyaan berikutnya: apakah reli ini hanya ledakan akibat short squeeze, atau awal perjalanan Bitcoin menuju US$80.000 dan level yang lebih tinggi? Jawabannya kemungkinan akan ditentukan oleh satu hal yang tidak bisa dihasilkan dari likuidasi semata: apakah pembeli riil dan dana institusional tetap bertahan setelah euforia mereda.