Home / Sawit / 2nd IPORICE 2026, Direktur PAPSI: Sawit Komoditas Statrgis Nasional Pilar Ekonomi Hijau
2nd IPORICE 2026, Direktur PAPSI: Sawit Komoditas Statrgis Nasional Pilar Ekonomi Hijau
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung. Foto: Ist/katakabar.com.
Jakarta, katakabar.com - Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung menegaskan kelapa sawit tidak hanya komoditas strategis bagi perekonomian nasional, tetapi harus menjadi pilar penting mewujudkan ekonomi hijau (green economy) berkelanjutan.
"Kelapa sawit tidak hanya komoditas strategis bagi perekonomian nasional, tetapi harus menjadi pilar penting mewujudkan ekonomi hijau (green economy) berkelanjutan," tegas Tungkot di sesi diskusi 2nd Indonesia Palm Oil Research and Innovation Conference (IPORICE) 2025, dilansir dari laman mediaperkebunan.id, Sabtu (4/10).
Menurut Tungkot, konsep ekonomi hijau dan keberlanjutan memiliki perbedaan tipis tapi keduanya saling melengkapi. Pada praktiknya, produksi perkebunan sawit tidak hanya berorientasi aspek ekonomi tetapi kelestarian lingkungan.
“Paradigma baru green economy sebenarnya lahir dari sektor pertanian termasuk perkebunan. Sawit kita kenal saat ini bukan hanya soal minyak, tetapi biomassa dengan produktivitas mencapai 16 ton per hektare per tahun. Selama ini kita baru memanfaatkan minyaknya saja, dan itu sudah menjadikan Indonesia sebagai raja sawit dunia. Bayangkan, jika biomassa ini kita kelola optimal,” ujarnya.
Sejak 1980 lampau, FAO telah memperkenalkan konsep multifunctionality dalam sawit. Artinya, sawit tidak hanya memberikan manfaat ekonomi tetapi mencakup aspek sosial, lingkungan, dan keanekaragaman hayati.
Dari sisi sosial, perkebunan kelapa.sawit telah menciptakan jutaan lapangan kerja baik di tingkat nasional maupun internasional. Kehadiran 'emas hijau' ini terbukti menurunkan tingkat kemiskinan di daerah sentra produksi dan membentuk pusat-pusat pertumbuhan baru di pedesaan.
Sementara, dari aspek lingkungan sawit justru memiliki kemampuan penyerapan karbon dioksida lebih baik dibanding hutan, serta tingkat kehilangan biodiversitas yang lebih rendah dibandingkan minyak nabati lain.
Diterangkan Tungkot, tantangan ke depan memperbesar peran sawit dalam ekonomi hijau melalui inovasi dan teknologi. Penurunan emisi, peningkatan produktivitas, serta model ekspansi yang lebih ramah lingkungan menjadi kunci.
“Ke depan ekspansi kelapa.sawit masih ada tetapi tidak dengan cara lama. Kita menambah sawit sekaligus menambah hutan melalui konsep reforestasi. Inilah wajah baru green economy Indonesia,” bebernya.
Selain itu, hilirisasi menjadi langkah strategis memperluas peran kelapa sawit. Substitusi energi fosil dan material berbasis sawit dinilai dapat menjadi motor penggerak baru bagi green economy lintas sektor.
Dengan potensi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang dimiliki, Tungkot optimistis kelapa sawit terus menjadi komoditas unggulan sekaligus solusi global dalam transisi menuju ekonomi hijau.
“Tugas kita ke depan memperkuat green economy berbasis sawit agar manfaatnya tidak hanya dirasakan Indonesia, tetapi dunia,” tandasnya.








Komentar Via Facebook :