Pendidikan
Sorotan terbaru dari Kategori Pendidikan
Tiorita Lepas 85 Pramuka Langkat ke Jambore Nasional XII
Langkat, katakabar.com – Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Langkat Tiorita Br. Surbakti, SH melepas 85 kontingen Kwartir Cabang (Kwarcab) Langkat yang akan mengikuti Jambore Nasional (Jamnas) XII 2026 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Cibubur, Jakarta Timur.
Holding PTPN Dukung Kampus Berbasis Perkebunan, Arya Sandhiyudha Jadi Mahasiswa Angkatan Pertama Magister ITSI
Medan, katakabar.com - Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyudha, secara resmi mendaftarkan diri sebagai mahasiswa angkatan pertama pada Program Magister (S2) Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian, Institut Teknologi Sawit Indonesia (ITSI) untuk Tahun Akademik 2026-2027. Keikutsertaan jajaran direksi Subholding Perkebunan Nusantara ini merupakan bentuk dukungan terhadap program pascasarjana perdana di kampus tersebut, mengingat ITSI merupakan institusi pendidikan tinggi yang juga bernaung di bawah PTPN Group. “Pengembangan industri perkebunan, khususnya kelapa sawit, kini menghadapi tantangan yang multidimensi, mulai dari aspek teknis agronomi hingga penyelesaian isu sosial dan ekonomi secara komprehensif. Keikutsertaan saya di angkatan pertama ini adalah wujud komitmen continuous learning untuk terus memperluas perspektif, sekaligus bentuk dukungan terhadap eksistensi ITSI sebagai kawah candradimuka SDM perkebunan yang unggul,” ujar Arya Sandhiyudha. Menurut Arya, kehadiran program beridentitas Magister Berbasis Industri Perkebunan dan Keberlanjutan di ITSI merupakan ruang akademik yang relevan bagi para profesional, praktisi, maupun pembuat kebijakan dalam memperdalam keilmuan yang sejalan dengan peta jalan bisnis sawit nasional. Di sisi lain, pembukaan Program Magister (S2) Sosial Ekonomi Pertanian ini menjadi babak baru bagi ITSI. Rektor ITSI, Dr. Purjianto, SE, MM, menyambut baik antusiasme pendaftar pada angkatan pertama ini, yang sejalan dengan visi transformasi kampus untuk memberikan kontribusi yang lebih luas. “Pembukaan program studi ini merupakan wujud komitmen ITSI dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta menjawab tantangan pembangunan sektor pertanian dan perkebunan yang semakin kompleks dan dinamis. Ini juga menjadi tonggak awal bagi ITSI dalam memperluas peran dan kontribusinya di bidang pendidikan tinggi berbasis perkebunan,” jelas Dr. Purjianto. Diketahui, lulusan dari program magister ini nantinya akan menyandang gelar Magister Pertanian (M.P.). Guna mendukung kelancaran akademik bagi kalangan pekerja, aparatur negara, maupun profesional, ITSI menerapkan skema perkuliahan hybrid yang memadukan kelas luring dan daring. Mahasiswa akan mendapatkan bimbingan dari tenaga pengajar yang merupakan kolaborasi antara akademisi dan praktisi di industri perkebunan. Beragam fasilitas penunjang juga telah disiapkan di kampus ITSI yang berlokasi di Jalan Willem Iskandar, Medan. Mahasiswa pascasarjana dapat memanfaatkan ruang kelas eksekutif, plantation class, perpustakaan, hingga student lounge. Lebih jauh, program ini juga memfasilitasi mahasiswa dengan jejaring dunia usaha dan industri, peluang riset, serta opsi benchmarking ke luar negeri. Pendaftaran penerimaan mahasiswa baru Program Magister ITSI Tahun Akademik 2026/2027 saat ini masih terbuka. Program ini dapat diikuti oleh lulusan sarjana (S1) dari berbagai disiplin ilmu. Calon mahasiswa yang berminat dapat mengakses informasi pendaftaran secara daring melalui portal resmi pmb.itsi.ac.id atau menghubungi layanan konsultasi di 0821-8391-2114. Sebagai bagian dari ekosistem Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), PTPN IV PalmCo mendukung penguatan kapasitas sumber daya manusia sebagai fondasi penting dalam mendorong transformasi, inovasi, dan keberlanjutan industri perkebunan nasional. Pengembangan SDM melalui kolaborasi antara dunia usaha dan institusi pendidikan diharapkan dapat memperkuat daya saing sektor perkebunan Indonesia di tingkat global.
Kemampuan Bahasa Inggris Anak Indonesia Masih Jadi Tantangan, Pendekatan Pembelajaran Perlu Berubah
Jakarta, katakabar.com - Artikel yang dipublikasikan Talentics.id, sekitar 90 persen dari lebih dari 12.000 pencari kerja yang mengikuti asesmen kemampuan bahasa Inggris berada pada level B1 atau bahkan lebih rendah berdasarkan standar Common European Framework of Reference for Languages (CEFR). Temuan tersebut menunjukkan masih banyak lulusan yang belum memiliki kompetensi bahasa Inggris yang memadai untuk memenuhi tuntutan dunia kerja global. Kondisi tersebut mendorong pentingnya pembelajaran bahasa Inggris yang tidak hanya berfokus pada penguasaan materi, tetapi juga menyesuaikan proses belajar dengan perkembangan psikologis anak agar kemampuan berbahasa dapat dibangun sejak dini secara lebih efektif. Menjawab kebutuhan tersebut, LEAP English dan Digital menghadirkan pendekatan pembelajaran yang dirancang sesuai tahapan perkembangan peserta didik. Lembaga kursus bahasa Inggris yang berlokasi di Surabaya Timur ini mengembangkan kurikulum yang menyesuaikan metode belajar dengan karakteristik usia siswa sehingga proses belajar berlangsung lebih alami, menyenangkan, dan efektif. Pada jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah dasar, pembelajaran dikemas melalui pendekatan fun learning berbasis aktivitas dan media visual interaktif. Metode ini dirancang untuk memanfaatkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan dunia bermain anak sehingga mereka dapat mempelajari bahasa Inggris tanpa merasa terbebani. Sedang, bagi siswa tingkat sekolah menengah hingga peserta homeschooling, materi pembelajaran dikembangkan menjadi lebih analitis, kritis, dan terstruktur. Pendekatan ini bertujuan mempersiapkan peserta didik menghadapi kebutuhan akademik sekaligus meningkatkan kemampuan komunikasi yang dibutuhkan di dunia profesional. Selain materi yang disesuaikan dengan usia, LEAP juga membangun lingkungan belajar yang kolaboratif. Melalui diskusi kelompok dan berbagai aktivitas interaktif, peserta didik didorong untuk berani berkomunikasi, bekerja sama, serta membangun kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa Inggris di situasi nyata. Pendekatan tersebut didukung oleh tiga nilai utama yang menjadi landasan proses pembelajaran di LEAP, yaitu Empower, Evolve, dan Educate. Ketiga nilai tersebut diterapkan untuk membantu siswa mengembangkan rasa percaya diri, terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, serta memperoleh pembelajaran yang terarah sesuai tujuan akademik masing-masing. "Sejak mengikuti kelas di LEAP, kemampuan bahasa Inggris putri saya meningkat cukup pesat. Ia kini lebih percaya diri berbicara dan mulai menggunakan grammar yang lebih baik. Menurut saya, perkembangan tersebut sebanding dengan proses belajar yang dijalani di LEAP," ujar salah satu orang tua siswa. Selain program General English, LEAP juga menghadirkan LEAP Xperience, sebuah program yang mengintegrasikan kemampuan bahasa Inggris dengan berbagai keterampilan abad ke-21. Program ini memadukan pelatihan public speaking berbahasa Inggris, pengembangan kepemimpinan, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, serta pembentukan karakter sebagai changemaker, yang dilengkapi dengan sertifikat internasional. Penguatan keterampilan tersebut sejalan dengan kebutuhan dunia kerja masa depan. Berdasarkan laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum, kemampuan seperti berpikir analitis, kreativitas, kepemimpinan, komunikasi, dan kemampuan memecahkan masalah menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan di berbagai sektor pekerjaan. Melalui pendekatan pembelajaran yang mengombinasikan penguasaan bahasa Inggris dengan pengembangan keterampilan abad ke 21, LEAP berharap dapat membantu mempersiapkan lebih banyak generasi muda Indonesia agar memiliki bekal yang lebih kuat untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja yang semakin kompetitif di tingkat global.
Termasuk 4 Profil Pelajar Manakah Siswa Anda? Singkap Perilaku Tersembunyi Saat Ujian Lewat Data Digital
Jakarta, katakabar.com - Dalam sebuah studi yang menargetkan sebuah sekolah negeri di Indonesia, SPRIX Education Foundation melaksanakan TOFAS, sebuah tes perhitungan berbasis komputer. Dengan menganalisis data log digital secara real-time (waktu nyata), seperti kecepatan menjawab dan akurasi seiring berjalannya waktu, kami mengungkap bagaimana siswa berinteraksi dengan soal-soal ujian. Melalui penelitian ini, kami telah mengidentifikasi empat profil perilaku yang berbeda di antara para siswa, bahkan pada mereka yang mencapai nilai akhir yang serupa. Meskipun ujian tertulis tradisional secara efektif mengukur nilai yang dicapai siswa, ujian tersebut membuat proses sebenarnya mengenai bagaimana siswa berjuang selama ujian menjadi tidak terlihat. Dengan mengalihkan fokus dari nilai akhir ke proses pengerjaan ujian, pendekatan berbasis data ini mengidentifikasi hambatan belajar yang mendasarinya. Memberdayakan para pendidik dengan wawasan diagnostik ini memungkinkan sekolah untuk bergerak melampaui umpan balik yang seragam, serta memberikan bimbingan yang sangat personal dan berorientasi pada proses, yang disesuaikan dengan kebutuhan unik masing-masing siswa. 1. Perjuangan Tersembunyi di Balik Nilai Ujian Serupa Ujian tertulis tradisional sangat efektif untuk mengukur nilai yang dicapai siswa, tetapi ujian ini sebagian besar tidak memperlihatkan proses sebenarnya mengenai bagaimana siswa berjuang saat mengerjakannya. Apakah mereka kehabisan waktu? Apakah mereka panik dan asal menebak? Apakah mereka menyerah begitu saja pada topik yang rumit? Untuk mengungkap hambatan belajar yang tersembunyi ini, SPRIX Education Foundation melakukan sebuah studi menggunakan Test of Fundamental Academic Skills (TOFAS) —sebuah penilaian perhitungan dasar digital berdurasi 40 menit— di sebuah sekolah negeri di Indonesia. Dengan melacak data log digital secara real-time (waktu nyata) seperti kecepatan menjawab dan tingkat jawaban kosong, penelitian ini mengungkapkan kenyataan yang jelas: Meskipun siswa mencapai nilai yang serupa, perilaku mereka yang sebenarnya saat ujian dan tantangan manajemen waktu yang mereka hadapi bisa sangat berbeda. Untuk menavigasi temuan ini, laporan ini disusun menjadi tiga bagian. Pertama, kami menguraikan empat profil pelajar berbeda yang diidentifikasi melalui analisis kami. Kedua, kami menyajikan bukti empiris —metrik digital spesifik selama durasi 40 menit— yang memvalidasi kelompok-kelompok ini. Terakhir, kami mendiskusikan bagaimana wawasan diagnostik ini dapat mengubah instruksi dari sekadar umpan balik yang seragam menjadi dukungan yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa. 2. Empat Profil Pelajar yang Diidentifikasi Melalui Data Melalui analisis terhadap 165 siswa kelas 8, kami menemukan perilaku siswa dalam mengerjakan ujian diklasifikasikan ke dalam empat pola berbeda yang ditunjukkan pada Gambar 1. Penilaian ini berupa ujian digital berdurasi 40 menit yang terdiri dari 60 pertanyaan; detail lebih lanjut mengenai konten ini akan dijelaskan pada bagian berikutnya. Berikut adalah pandangan lebih dekat mengenai karakteristik unik dari masing-masing profil: Profil A (Penjawab Stabil) Performa: Tinggi (Nilai Rata-rata: 81,1% / 60 siswa). Perilaku: Kecepatan yang stabil dan terkontrol di sepanjang ujian, tetapi membiarkan pertanyaan yang sangat rumit kosong di bagian paling akhir. Profil B (Kesulitan Waktu) Performa: Menengah-Rendah (Nilai Rata-rata: 42,9% / 66 siswa). Perilaku: Terburu-buru di menit-menit terakhir, dan tingkat jawaban kosong terus meningkat seiring bertambah rumitnya topik. Profil C (Penebak Cepat) Performa: Menengah-Rendah (Nilai Rata-rata: 39,6% / 17 siswa). Perilaku: Lonjakan kecepatan menjawab yang tiba-tiba di pertengahan ujian, dengan hampir tidak ada jawaban kosong meskipun akurasinya menurun. Profil D (Cepat Menyerah) Performa: Rendah (Nilai Rata-rata: 29,9% / 22 siswa). Perilaku: Kecepatan awal yang sangat cepat, namun akurasinya sangat rendah di sepanjang ujian. 3. Bukti: Melacak 40 Menit Perilaku Pengerjaan Ujian Apa yang diselesaikan oleh para siswa? Studi ini menggunakan TOFAS Level 5, sebuah penilaian perhitungan dasar digital yang menggabungkan format pilihan ganda dan isian bebas. Dalam durasi 40 menit, para siswa mengerjakan 60 pertanyaan yang mengevaluasi lima topik matematika yang berbeda: 1. Bilangan Positif dan Negatif [misalnya, -7+6 dan (+28)÷(-4)] 2. Bentuk Aljabar [misalnya, 4x×(-6) dan (9x-1)-(-2x-8)] 3. Persamaan [misalnya, x+6 = 2 dan -4x+34 = -5+9x] 4. Ekspresi Dasar [misalnya, 4a-b+2a+3b dan 3(4x-3y)-5(x-4y)] 5. Sistem Persamaan [misalnya, 3x-2y=14 & 2x+2y=6] Bagaimana profil-profil ini diidentifikasi? Menggunakan data log TOFAS, yang direkam setiap 2 menit, kami menggabungkan tingkat akurasi kumulatif dan kecepatan menjawab siswa ke dalam interval 10 menit (Q1, Q2, Q3, dan Q4). Daripada membagi siswa berdasarkan kriteria subjektif atau sekadar ambang batas nilai, kedua metrik deret waktu ini dianalisis menggunakan teknik pembelajaran mesin statistik yang dikenal sebagai Latent Profile Analysis (LPA). Lebih lanjut, setelah profil terbentuk, kami memeriksa tingkat jawaban kosong mereka di kelima topik matematika tersebut untuk menguraikan karakteristik masing-masing kelompok. Data spesifik yang mendorong terbentuknya masing-masing profil, yang digabungkan dalam Gambar 2 —yang melacak (a) akurasi kumulatif, (b) kecepatan menjawab dari waktu ke waktu, dan (c) tingkat jawaban kosong di lima topik matematika— dirinci di bawah ini: Profil A (Penjawab Stabil / Nilai Rata-rata: 81,1% / 60 siswa) Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 (a), siswa-siswa ini mempertahankan tingkat akurasi yang tinggi sepanjang ujian, mencapai 85,6% pada menit ke-40. Gambar 2 (b) menunjukkan kecepatan menjawab yang stabil dan terkontrol sekitar 1,5 pertanyaan per menit. Gambar 2 (c) mengungkapkan bahwa kelompok ini mencatat tingkat kekosongan 16,8% pada topik terakhir (Sistem Persamaan). Pola ini menunjukkan bahwa siswa berprestasi tinggi ini mungkin memprioritaskan akurasi daripada sekadar menyelesaikan semua soal, membiarkan pertanyaan yang sangat rumit tetap kosong alih-alih mengandalkan tebakan acak saat waktu hampir habis. Profil B (Kesulitan Waktu / Nilai Rata-rata: 42,9% / 66 siswa) Gambar 2 (b) menunjukkan peningkatan tajam dalam kecepatan menjawab mereka pada 10 menit terakhir (mencapai sekitar 2,45 pertanyaan/menit). Akibatnya, akurasi kumulatif mereka turun menjadi 46,1% pada Gambar 2 (a). Mengenai Gambar 2 (c), tingkat jawaban kosong mereka terus meningkat seiring berjalannya topik, mencapai 9,8% pada topik terakhir. Tren peningkatan ini, dikombinasikan dengan kecepatan akhir yang terburu-buru, mungkin menunjukkan bahwa siswa-siswa ini pada awalnya mencoba mengerjakan pertanyaan tanpa melewatinya, tetapi saat waktu semakin mendesak, mereka semakin sering melewati soal-soal rumit sambil secara bersamaan mempercepat ritme mereka untuk menyelesaikan pertanyaan yang tersisa. Profil C (Penebak Cepat / Nilai Rata-rata: 39,6% / 17 siswa) Gambar 2 (b) mengungkapkan bahwa kecepatan menjawab mereka melonjak tajam pada interval 20–30 menit. Namun, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 (a), akurasi mereka menurun pada periode yang sama. Lebih lanjut, Gambar 2 (c) menunjukkan bahwa tingkat jawaban kosong mereka tetap mendekati nol (1,0% pada topik terakhir). Kombinasi kecepatan yang sangat tinggi, jawaban kosong yang nyaris nol, dan penurunan drastis pada akurasi kumulatif ini mungkin mengindikasikan "menebak dengan cepat" —sebuah perilaku di mana siswa berhenti memecahkan masalah secara sungguh-sungguh saat menghadapi konsep yang rumit dan dengan cepat memasukkan jawaban acak hanya agar dapat melewati ujian. Sebagai hasilnya, mereka pada dasarnya selesai lebih awal, yang menyebabkan aktivitas pengerjaan ujian yang sangat minim pada interval 10 menit terakhir. Profil D (Cepat Menyerah / Nilai Rata-rata: 29,9% / 22 siswa) Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 (a), akurasi kumulatif mereka konsisten menjadi yang terendah di antara semua kelompok sepanjang ujian berlangsung. Terlepas dari akurasi yang rendah ini, Gambar 2 (b) mengungkapkan bahwa kecepatan menjawab mereka pada interval 0–10 (Q1) dan 10–20 (Q2) menit sebenarnya adalah yang tercepat di antara semua kelompok, sebelum turun tajam setelahnya. Kombinasi kecepatan awal yang paling cepat dan akurasi terendah ini menunjukkan bahwa siswa-siswa tersebut terburu-buru dalam mengerjakan soal-soal awal tanpa perhitungan yang memadai. 4. Dari "Belajar Lebih Keras" Menjadi Dukungan yang Disesuaikan Dengan ujian tertulis tradisional, nilai yang rendah biasanya menghasilkan saran yang seragam, seperti "belajar lebih keras" atau "lakukan lebih banyak latihan soal.". Namun, setelah profil siswa diidentifikasi melalui data proses digital, para guru dapat menerapkan pendekatan pengajaran yang sama sekali berbeda bahkan untuk siswa dengan nilai rendah yang serupa. Sebagai contoh, Profil A (Penjawab Stabil) dapat didorong untuk mencoba menyelesaikan soal-soal matematika yang lebih rumit dan aplikatif, sembari menerima panduan tentang strategi alokasi waktu untuk ujian-ujian penting; selain itu, terus melanjutkan latihan soal dasar juga sangat dianjurkan guna meningkatkan kecepatan berhitung mereka agar mereka dapat menyelesaikan seluruh ujian tepat waktu. Profil B (Kesulitan Waktu) dapat memperoleh manfaat dari pendekatan ganda: mempraktikkan latihan dasar untuk meningkatkan kecepatan perhitungan inti mereka, bersama dengan saran mengenai alokasi waktu sehingga mereka tidak terburu-buru saat berada di bawah tekanan waktu. Untuk Profil C (Penebak Cepat), data berfungsi sebagai indikator diagnostik, yang memungkinkan para guru untuk menentukan konsep-konsep spesifik di mana siswa kemungkinan besar kehilangan fokus. Sementara itu, Profil D (Cepat Menyerah) menandakan adanya potensi kebutuhan untuk mengulang kembali konsep-konsep dasar untuk mencegah rasa frustrasi di awal dan membantu mereka membangun kembali kepercayaan diri melalui langkah-langkah yang dapat dicapai. Dengan cara ini, data penilaian digital tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga sebagai sistem pendukung yang memperingatkan para guru akan hambatan-hambatan yang mendasari permasalahan siswa. Harus diakui, keempat profil yang diidentifikasi dalam studi awal ini hanya mewakili klasifikasi dasar yang luas. Seiring dengan semakin banyaknya siswa secara global yang berpartisipasi dalam penilaian digital ini, kumpulan data yang terus berkembang akan memungkinkan kita untuk menemukan pola perilaku yang lebih rinci. Memperluas penelitian ini untuk menganalisis data besar (big data) pada skala yang lebih luas pada akhirnya akan memberikan sebuah alat yang ampuh untuk memberdayakan para guru di seluruh dunia dalam memberikan pengajaran yang sangat dipersonalisasi.
Pertamina EP Rantau Field Hadirkan Senyum dan Harapan di Hari Anak Nasional, Tangis Haru Iringi Penampilan Anak Berkebutuhan Khusus
Aceh Tamiang, katakabar.com - Sebanyak 120 anak berkebutuhan khusus dari SLBN Pembina Aceh Tamiang merayakan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 bersama Pertamina EP Rantau Field dalam suasana penuh kehangatan dan haru, Kamis (30/7/2026).
Plt. Bupati Langkat Ajak Al Washliyah Perkuat Pendidikan, Dakwah, dan Sosial
Langkat, katakabar.com – Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Langkat Tiorita Br. Surbakti, SH melalui Sekretaris Daerah (Sekda) H. Amril, S.Sos., M.AP menghadiri pelantikan Pengurus Daerah (PD) Al Jam'iyatul Washliyah Kabupaten Langkat periode 2026–2031 di Jentera Malay, Selasa (28/7/2026).
Diskominfo Kota Binjai Susun Standar Pelayanan untuk Perkuat Kualitas Pelayanan Publik
Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Binjai terus berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Pimpin Peringatan Hari Anak Nasional, Plt. Bupati Tiorita Tegaskan Lima Prinsip Perlindungan Anak
Langkat, katakabar.com – Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Langkat, Tiorita Br. Surbakti, SH, memimpin Upacara Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026 di Halaman Kantor Bupati Langkat, Senin (27/7/2026).
Bunda PAUD Kota Binjai Hadiri Kelas Parenting dan PMT di TK Kartika Yon Arhanud 11 Binjai
Bunda PAUD Kota Binjai, Dra. Hj. Nurhayati Amir Hamzah, menghadiri kegiatan Kelas Parenting dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi peserta didik TK Kartika 1-19 Yon Arhanud 11/WBY Binjai
Peringati HANI dan Hari Anak Nasional, Tiorita Tegaskan Komitmen Lindungi Generasi Muda dari Narkoba
Langkat, katakabar.com – Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Tiorita Br. Surbakti, menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Langkat untuk melindungi generasi muda dari ancaman penyalahgunaan narkotika sekaligus menjamin terpenuhinya hak-hak anak.