Arah Harga Emas Terungkap, Dupoin Futures Soroti Area Support Krusial Internasional
Internasional
8 jam yang lalu

Arah Harga Emas Terungkap, Dupoin Futures Soroti Area Support Krusial

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas (XAUUSD) diproyeksikan masih memiliki peluang untuk mempertahankan tren kenaikan pada perdagangan, Senin (10/8). Hasil analisis terbaru dari Dupoin Futures, arah pergerakan logam mulia masih didukung oleh struktur teknikal yang positif meskipun dalam jangka pendek harga berpotensi mengalami koreksi terlebih dahulu. Menurut analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, pelemahan sementara tersebut bagian dari dinamika pasar yang normal, dan tidak mengubah prospek bullish selama level-level teknikal penting tetap mampu dipertahankan. Kajian teknikal Dupoin Futures, emas (XAUUSD) pada time frame Daily masih bergerak dalam kecenderungan tren naik. Setelah mencatatkan kenaikan dalam beberapa sesi terakhir, harga diperkirakan memiliki ruang untuk membentuk secondary trend atau fase koreksi sehat sebelum kembali melanjutkan penguatan. Koreksi ini dipandang sebagai proses konsolidasi yang lazim terjadi dalam tren bullish, sekaligus memberikan kesempatan bagi pasar untuk membangun momentum baru. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan area 4.227 hingga 4.232 menjadi zona support yang patut diperhatikan pelaku pasar. Bila harga bergerak turun menuju kisaran tersebut dan mampu bertahan, peluang munculnya kembali tekanan beli akan semakin besar. Dalam kondisi seperti itu, area support berpotensi menjadi titik awal bagi emas (XAUUSD) untuk melanjutkan kenaikan menuju level yang lebih tinggi. "Strategi yang lebih bijak saat ini adalah menunggu koreksi berlangsung sebelum mempertimbangkan pembelian baru. Langkah tersebut dinilai lebih ideal dibandingkan mengejar harga ketika sedang berada di level yang relatif tinggi. Koreksi yang terjadi justru dapat dimanfaatkan sebagai momentum akumulasi, selama tidak diikuti oleh perubahan struktur tren utama menjadi bearish," jelasnya. Sinyal positif lainnya datang dari indikator Moving Average (MA) 21 yang masih menunjukkan arah naik. Dalam analisis Dupoin Futures, indikator tersebut masih berfungsi sebagai dynamic support, yang mengindikasikan bahwa buyer tetap memiliki kendali atas pergerakan harga. Selama emas (XAUUSD) mampu bergerak di atas garis Moving Average tersebut, peluang kelanjutan tren bullish masih tetap terbuka. Tetapi, Dupoin Futures mengingatkan volatilitas pasar masih berpotensi meningkat dalam beberapa sesi mendatang. Oleh karena itu, trader disarankan tetap menerapkan manajemen risiko yang disiplin serta menunggu konfirmasi arah harga sebelum mengambil keputusan transaksi. Koreksi jangka pendek masih mungkin terjadi, tetapi selama support mampu bertahan, tekanan jual diperkirakan hanya bersifat sementara. Selain analisis teknikal, prospek harga emas (XAUUSD) juga didukung oleh sejumlah faktor fundamental yang berkembang di pasar global. Salah satu sentimen utama berasal dari pelemahan dolar Amerika Serikat setelah data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan hasil yang lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar. Kondisi tersebut memunculkan harapan bahwa Federal Reserve (The Fed) memiliki peluang lebih besar untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter apabila perlambatan ekonomi terus berlanjut. Masih menurut Dupoin Futures, melemahnya dolar AS memberikan keuntungan bagi harga emas (XAUUSD) karena membuat logam mulia menjadi lebih menarik bagi investor internasional. Ketika nilai tukar dolar menurun, biaya pembelian emas dalam mata uang lain menjadi relatif lebih murah sehingga permintaan berpotensi meningkat. Faktor lain yang turut menopang harga adalah penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury Yield). Turunnya yield membuat aset berbunga menjadi kurang menarik dibandingkan sebelumnya. Dalam kondisi tersebut, sebagian investor cenderung mengalihkan dananya ke aset yang dianggap mampu menjaga nilai investasi, termasuk emas (XAUUSD). Di sisi lain, situasi geopolitik global juga masih menjadi perhatian pelaku pasar. Ketidakpastian terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia, membuat permintaan terhadap aset safe haven tetap terjaga. Menurut Dupoin Futures, selama risiko geopolitik belum benar-benar mereda, minat investor terhadap emas berpotensi tetap tinggi sebagai instrumen lindung nilai. Fokus pasar berikutnya akan tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat, yang diperkirakan menjadi salah satu penentu arah pergerakan pasar keuangan dalam jangka pendek.  Dupoin Futures menilai apabila inflasi menunjukkan perlambatan, ekspektasi terhadap penurunan suku bunga The Fed akan semakin menguat. Skenario tersebut dapat menjadi katalis positif yang mendukung kelanjutan penguatan harga emas (XAUUSD). Sebaliknya, apabila inflasi kembali meningkat di atas perkiraan, peluang penguatan dolar AS dapat kembali terbuka sehingga ruang kenaikan emas menjadi lebih terbatas. Meski demikian, Dupoin Futures menilai bahwa selama faktor-faktor pendukung seperti pelemahan dolar, turunnya US Treasury Yield, dan tingginya permintaan terhadap aset safe haven masih bertahan, prospek jangka menengah emas (XAUUSD) tetap berada dalam kecenderungan positif. Secara keseluruhan, Dupoin Futures memproyeksikan bahwa harga emas (XAUUSD) masih berada dalam fase bullish meskipun terdapat peluang koreksi dalam waktu dekat. Area support 4.227 hingga 4.232 menjadi level penting yang perlu diperhatikan sebagai acuan untuk mengukur kekuatan tren. Selama harga mampu bertahan di atas area tersebut dan Moving Average 21 tetap mengonfirmasi arah naik, peluang emas (XAUUSD) untuk kembali melanjutkan penguatan dinilai masih terbuka. Kombinasi dukungan teknikal dan sentimen fundamental yang kondusif membuat Dupoin Futures tetap optimistis bahwa tren bullish pada harga emas (XAUUSD) berpotensi berlanjut setelah fase koreksi berakhir.

Prediksi Harga Emas Pekan Depan: Dupoin Futures Bidik Resistance 4.382 Internasional
Internasional
Minggu, 09 Agustus 2026 | 16:07 WIB

Prediksi Harga Emas Pekan Depan: Dupoin Futures Bidik Resistance 4.382

Jakarta, katakabar.com -  Pergerakan harga emas (XAUUSD) diperkirakan masih memiliki peluang untuk melanjutkan tren penguatan pada pekan depan. Berdasarkan analisis terbaru dari Dupoin Futures, struktur teknikal pada grafik harian masih menunjukkan dominasi tren bullish, meskipun harga saat ini telah memasuki area resistance yang berpotensi memicu koreksi jangka pendek. Menurut analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, pelemahan sementara bukan berarti mengubah arah tren utama, melainkan dapat menjadi kesempatan bagi pelaku pasar untuk mencari level masuk yang lebih ideal sebelum harga kembali melanjutkan kenaikan. Dalam kajian teknikal Dupoin Futures, emas (XAUUSD) pada time frame Daily masih mempertahankan pola pergerakan naik yang cukup kuat. Kenaikan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir mencerminkan bahwa minat beli masih mendominasi pasar. Tetapi, setelah reli yang cukup signifikan, harga kini berada di kawasan resistance sehingga peluang terjadinya aksi ambil untung atau profit taking semakin besar. Situasi tersebut dinilai sebagai bagian yang wajar dalam siklus pergerakan pasar dan belum memberikan sinyal perubahan tren menjadi bearish. Analis Dupoin Futures menjelaskan strategi terbaik bagi trader bukanlah mengejar harga ketika berada di level tinggi, melainkan menunggu fase koreksi yang sehat sebelum kembali melakukan akumulasi. Dalam proyeksinya, area 4.179 menjadi support penting yang patut diperhatikan pada pekan depan. Apabila harga bergerak turun menuju level tersebut dan mampu membentuk swing low, maka kondisi itu dapat menjadi sinyal bahwa tekanan jual mulai mereda dan buyer kembali mengambil alih kendali pasar. Menurut Dupoin Futures, terbentuknya swing low di sekitar support akan menjadi konfirmasi tambahan bahwa tren bullish masih valid. Oleh karena itu, koreksi yang terjadi justru dipandang sebagai peluang untuk memperoleh harga beli yang lebih kompetitif dibandingkan melakukan pembelian ketika harga sedang berada di area resistance. Selama harga mampu bertahan di atas area support tersebut, Dupoin Futures menilai arah pergerakan emas (XAUUSD) masih cenderung positif. Target kenaikan berikutnya diproyeksikan berada di kisaran 4.331 sebagai resistance utama. Jika momentum beli kembali meningkat dan harga berhasil menembus level tersebut dengan dukungan volume transaksi yang kuat, maka peluang penguatan diperkirakan berlanjut menuju 4.382, yang menjadi target resistance selanjutnya dalam skenario bullish. Dupoin Futures juga mengingatkan bahwa investor sebaiknya tidak hanya berfokus pada fluktuasi harga harian. Dalam kondisi tren naik yang masih terjaga, koreksi jangka pendek sering kali menjadi bagian dari proses pembentukan tren yang lebih sehat. Selama struktur harga masih membentuk pola kenaikan dan tidak menembus area support penting, prospek bullish dinilai tetap lebih dominan dibandingkan potensi pembalikan arah. Selain faktor teknikal, prospek harga emas (XAUUSD) pada pekan depan juga akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen fundamental yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar. Salah satu perhatian utama investor adalah rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat, yang menjadi indikator penting untuk mengukur kondisi pasar tenaga kerja sekaligus memberikan gambaran mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Menurut analisis Dupoin Futures, menjelang pengumuman data NFP, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas berpotensi meningkat karena investor cenderung mengambil posisi yang lebih defensif di tengah ketidakpastian pasar. Kondisi tersebut dapat memberikan dukungan tambahan bagi harga emas (XAUUSD), terutama apabila pelaku pasar memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Sentimen positif lainnya datang dari penurunan harga minyak dunia yang dinilai mampu mengurangi tekanan inflasi. Bersamaan dengan itu, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury Yield) juga menunjukkan kecenderungan melemah. Menurut Dupoin Futures, kombinasi kedua faktor tersebut dapat meningkatkan daya tarik emas karena menurunkan keuntungan relatif dari aset berbasis bunga dan membuka peluang bagi investor untuk kembali meningkatkan kepemilikan logam mulia. Pergerakan harga emas (XAUUSD) selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh hasil rilis data NFP. Dupoin Futures menilai bahwa apabila data ketenagakerjaan Amerika Serikat dirilis lebih rendah dari ekspektasi pasar, peluang The Fed untuk memangkas suku bunga akan semakin besar. Skenario tersebut berpotensi menekan penguatan dolar AS sekaligus memberikan dorongan baru bagi harga emas untuk melanjutkan reli menuju target resistance yang telah diproyeksikan. Di sisi lain, apabila data NFP menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan, pasar kemungkinan akan kembali memperkirakan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut dapat memperkuat dolar AS dan membatasi ruang kenaikan emas (XAUUSD) dalam jangka pendek. Meski demikian, selama harga masih bertahan di atas area support penting dan belum terjadi perubahan struktur tren, Dupoin Futures menilai bahwa potensi koreksi tetap bersifat sementara. Secara keseluruhan, Dupoin Futures memproyeksikan bahwa prospek harga emas (XAUUSD) pada pekan depan masih berada dalam jalur bullish. Koreksi menuju area 4.179 dipandang sebagai bagian dari pergerakan yang sehat dan berpotensi menjadi momentum akumulasi apabila muncul konfirmasi swing low. Dengan dukungan meningkatnya permintaan aset safe haven, pelemahan US Treasury Yield, serta potensi perubahan ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve setelah rilis data Nonfarm Payrolls, Dupoin Futures menilai peluang emas (XAUUSD) untuk melanjutkan penguatan menuju area 4.331 hingga 4.382 masih terbuka lebar selama sentimen pasar tetap mendukung.

Harga Emas Berpotensi Menguat Meski Sentimen Safe Haven Berkurang Internasional
Internasional
Minggu, 09 Agustus 2026 | 12:11 WIB

Harga Emas Berpotensi Menguat Meski Sentimen Safe Haven Berkurang

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas (XAUUSD) diproyeksikan masih memiliki ruang untuk melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Kamis (6/8). Dari analisis terbaru dari Dupoin Futures, prospek kenaikan logam mulia tersebut semakin menguat setelah muncul sejumlah sinyal teknikal yang mengindikasikan dominasi buyer masih sangat solid. Tetapi, arah pergerakan harga diperkirakan tetap diwarnai volatilitas karena pelaku pasar terus mencermati perkembangan geopolitik, pergerakan dolar Amerika Serikat, serta ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan secara teknikal emas (XAUUSD) pada time frame Daily berhasil menunjukkan perubahan struktur harga yang sangat positif. Setelah beberapa waktu bergerak dalam fase konsolidasi, harga akhirnya mampu menembus area tersebut dan mengonfirmasi kelanjutan tren naik. "Keberhasilan keluar dari fase sideways menjadi salah satu indikasi bahwa tekanan beli kembali mendominasi pasar dan membuka peluang penguatan menuju level yang lebih tinggi," ujarnya. Menurutnya, sinyal bullish semakin diperkuat oleh keberhasilan harga keluar dari pola Bullish Pennant, yang dikenal sebagai salah satu pola kelanjutan tren (continuation pattern). Pola ini sering kali menjadi petunjuk setelah fase konsolidasi berakhir, harga memiliki peluang untuk kembali bergerak searah dengan tren utama. Dalam kondisi saat ini, breakout dari pola tersebut memperlihatkan bahwa optimisme pelaku pasar terhadap harga emas (XAUUSD) masih terjaga dan potensi reli lanjutan tetap terbuka. Selain breakout dari Bullish Pennant, sambungnya, Dupoin Futures juga mencermati terbentuknya pola Double Bottom, yang semakin memperkuat peluang pembalikan arah menjadi bullish. Pola tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual mulai kehilangan kekuatan, sementara buyer secara bertahap mengambil alih kendali pasar. Kombinasi dua pola teknikal tersebut memberikan konfirmasi yang cukup kuat bahwa tren kenaikan emas (XAUUSD) masih berada dalam jalur yang positif. Dalam proyeksi Dupoin Futures, target kenaikan terdekat berada di area 4.354, yang menjadi resistance penting dalam pergerakan harga saat ini. Apabila level tersebut berhasil ditembus dengan dukungan volume transaksi yang memadai, maka peluang penguatan diperkirakan berlanjut menuju 4.483 sebagai target resistance berikutnya. "Selama momentum beli tetap terjaga, skenario bullish masih menjadi acuan utama bagi pelaku pasar dalam jangka pendek hingga menengah," imbuh Geraldo Dupoin Futures mengingatkan kenaikan yang cukup agresif juga berpotensi memunculkan aksi ambil untung atau profit taking. Oleh sebab itu, investor dan trader tetap disarankan untuk memperhatikan level resistance yang ada sebagai area evaluasi terhadap kekuatan tren yang sedang berlangsung. Koreksi jangka pendek masih mungkin terjadi, tetapi selama struktur bullish tetap terjaga, peluang kenaikan lanjutan dinilai masih lebih dominan. Dari sisi fundamental, Dupoin Futures melihat harga emas (XAUUSD) pada sesi perdagangan Asia diperkirakan bergerak mixed karena pasar masih dipengaruhi oleh sentimen yang saling berlawanan. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Laporan mengenai proses diplomasi yang dinilai berjalan cukup positif berpotensi mengurangi permintaan terhadap aset safe haven, termasuk emas, karena meningkatnya optimisme terhadap stabilitas geopolitik. Di sisi lain, pelemahan dolar Amerika Serikat masih menjadi faktor yang memberikan dukungan bagi harga emas (XAUUSD). Nilai tukar dolar yang bertahan di dekat level terendah dalam beberapa pekan terakhir membuat emas menjadi lebih menarik bagi investor global karena harganya relatif lebih murah bagi pemegang mata uang selain dolar AS. Kondisi ini dinilai mampu menjaga minat beli terhadap logam mulia meskipun sentimen safe haven mulai sedikit mereda. Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor juga tertuju pada arah kebijakan Federal Reserve. Menurut Dupoin Futures, setiap perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga akan berdampak langsung terhadap pergerakan dolar AS maupun imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Apabila muncul sinyal bahwa The Fed akan lebih akomodatif atau membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter, maka tekanan terhadap dolar berpotensi meningkat sehingga memberikan ruang lebih besar bagi harga emas (XAUUSD) untuk melanjutkan kenaikannya. Sebaliknya, apabila data ekonomi Amerika Serikat kembali menunjukkan hasil yang kuat dan mendorong ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama, maka ruang kenaikan emas dapat menjadi lebih terbatas. Dalam situasi tersebut, investor cenderung mengalihkan dana ke aset berbasis dolar yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dibandingkan emas. Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai prospek harga emas (XAUUSD) masih cenderung positif. Breakout dari fase sideways, keberhasilan keluar dari pola Bullish Pennant, serta konfirmasi Double Bottom menjadi kombinasi sinyal teknikal yang memperkuat peluang kenaikan menuju area 4.354 dan bahkan 4.483 apabila momentum beli tetap berlanjut. Kendati demikian, investor tetap disarankan untuk memantau perkembangan negosiasi geopolitik, arah pergerakan dolar AS, serta kebijakan Federal Reserve, karena faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu utama apakah reli emas (XAUUSD) mampu berlanjut atau justru mengalami fase konsolidasi dalam waktu dekat.

Safe Haven Kembali Diburu, Dupoin Futures Prediksi Harga Emas Menguat Internasional
Internasional
Sabtu, 08 Agustus 2026 | 12:09 WIB

Safe Haven Kembali Diburu, Dupoin Futures Prediksi Harga Emas Menguat

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas (XAUUSD) diperkirakan masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan pada perdagangan di pekan kedua Agustus 2026. Menurut analisis terbaru dari Dupoin Futures, momentum kenaikan dinilai masih cukup solid setelah muncul konfirmasi teknikal yang menunjukkan bahwa tekanan beli kembali mendominasi pasar. Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mewaspadai sejumlah faktor eksternal, terutama penguatan dolar Amerika Serikat, perkembangan geopolitik global, serta arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang dapat memengaruhi volatilitas harga dalam jangka pendek. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan secara teknikal emas (XAUUSD) pada time frame Daily memberikan sinyal positif setelah berhasil keluar dari fase konsolidasi yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Kata Geraldo, terbentuknya pola Bullish Pennant menjadi salah satu indikasi bahwa tren naik sebelumnya masih memiliki peluang untuk berlanjut. Pola tersebut semakin terkonfirmasi setelah harga mampu melakukan breakout dari area konsolidasi, sebuah sinyal yang umumnya dipandang sebagai awal dari fase penguatan berikutnya. Dalam pandangan Dupoin Futures, keberhasilan breakout tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek kenaikan harga emas (XAUUSD). Setelah sempat bergerak dalam rentang yang terbatas, buyer kini kembali menunjukkan dominasinya sehingga membuka peluang bagi harga untuk melanjutkan reli menuju level yang lebih tinggi. Selama tidak muncul tekanan jual yang signifikan, skenario bullish masih dinilai sebagai arah pergerakan yang lebih dominan. Optimisme tersebut juga didukung oleh indikator Stochastic yang masih bergerak naik menuju area overbought. Menurut Dupoin Futures, kondisi tersebut menunjukkan bahwa momentum beli masih terus berkembang dan belum memperlihatkan tanda-tanda pelemahan yang berarti. Walaupun posisi overbought sering dikaitkan dengan potensi koreksi jangka pendek, indikator tersebut juga dapat mencerminkan kuatnya tren naik apabila didukung oleh volume transaksi dan sentimen pasar yang positif. Selain indikator momentum, Moving Average (MA) 21 juga menjadi perhatian utama dalam analisis Dupoin Futures. Saat ini, garis MA 21 telah berubah fungsi menjadi dynamic support, yang memperkuat struktur bullish pada emas (XAUUSD). Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang untuk melanjutkan kenaikan dinilai masih tetap terbuka. Area support dinamis ini sekaligus menjadi acuan penting bagi trader untuk mengukur validitas tren yang sedang berlangsung. Berdasarkan kombinasi berbagai indikator teknikal tersebut, Dupoin Futures memproyeksikan bahwa harga emas (XAUUSD) berpotensi menguji area resistance 4.135 dalam waktu dekat. Jika level tersebut berhasil ditembus dengan konfirmasi yang kuat, maka peluang penguatan diperkirakan berlanjut menuju 4.202, yang menjadi target resistance berikutnya. Meskipun demikian, investor tetap disarankan untuk tidak mengabaikan potensi koreksi teknikal yang sewaktu-waktu dapat terjadi setelah kenaikan yang cukup tajam. Dari sisi fundamental, Dupoin Futures menilai bahwa prospek harga emas (XAUUSD) masih dipengaruhi oleh kombinasi sentimen positif dan negatif yang membuat pergerakan harga berpotensi berlangsung fluktuatif. Pada sesi perdagangan Tokyo, harga emas diperkirakan bergerak mixed, seiring pasar yang masih menimbang perkembangan geopolitik di satu sisi dan kekuatan dolar AS di sisi lainnya. Sentimen positif bagi emas (XAUUSD) masih berasal dari meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven. Kekhawatiran pasar kembali meningkat setelah muncul laporan mengenai menipisnya stok rudal presisi jarak jauh milik Amerika Serikat akibat konflik dengan Iran. Menurut Dupoin Futures, kondisi tersebut memicu meningkatnya kehati-hatian investor terhadap risiko geopolitik, sehingga permintaan terhadap instrumen lindung nilai seperti emas berpotensi tetap terjaga. Tetapi, Dupoin Futures juga mengingatkan bahwa ruang kenaikan harga emas (XAUUSD) dapat menjadi lebih terbatas apabila dolar Amerika Serikat kembali menguat. Penguatan mata uang AS didorong oleh sejumlah data ekonomi yang menunjukkan ketahanan ekonomi Amerika Serikat, sehingga meningkatkan ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve belum akan terburu-buru melakukan pelonggaran kebijakan moneter. Dalam situasi tersebut, aset berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil. Selain perkembangan dolar AS, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada sejumlah data ekonomi lanjutan dari Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis dalam waktu dekat. Menurut Dupoin Futures, data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai prospek kebijakan suku bunga The Fed pada beberapa bulan mendatang. Apabila data ekonomi menunjukkan pelemahan atau muncul sinyal yang lebih dovish dari bank sentral AS, peluang pelemahan dolar dapat meningkat sehingga memberikan dorongan tambahan bagi harga emas (XAUUSD). Sebaliknya, jika data ekonomi kembali melampaui ekspektasi, tekanan terhadap emas berpotensi meningkat karena investor akan kembali memburu aset berbasis dolar. Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai prospek harga emas (XAUUSD) masih cenderung positif selama struktur teknikal tetap terjaga. Konfirmasi pola Bullish Pennant, keberhasilan breakout dari area konsolidasi, dukungan Moving Average 21 sebagai dynamic support, serta indikator Stochastic yang masih mengarah naik menjadi kombinasi sinyal yang memperkuat peluang kenaikan menuju area 4.135 hingga 4.202. Meskipun demikian, investor dan trader tetap disarankan untuk mencermati perkembangan geopolitik global, pergerakan dolar AS, serta hasil rilis data ekonomi Amerika Serikat karena faktor-faktor tersebut berpotensi memengaruhi arah harga emas (XAUUSD) dan menentukan apakah momentum bullish mampu berlanjut dalam beberapa sesi perdagangan mendatang

Tekanan Jual Belum Mereda, Dupoin Futures Prediksi Harga Emas Rentan Terkoreksi Internasional
Internasional
Jumat, 07 Agustus 2026 | 11:05 WIB

Tekanan Jual Belum Mereda, Dupoin Futures Prediksi Harga Emas Rentan Terkoreksi

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas (XAUUSD) diproyeksikan masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan Selasa (4/8). Dari analisis terbaru dari Dupoin Futures, peluang koreksi dinilai masih lebih dominan karena hingga kini harga belum mampu menembus area resistance yang menjadi batas penting untuk mengubah arah tren. Menurut analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, kondisi teknikal saat ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih cenderung melakukan aksi jual setiap kali harga mencoba menguat. Selama belum ada konfirmasi penembusan resistance, emas (XAUUSD) diperkirakan masih berpotensi bergerak menuju area support berikutnya. Dalam kajian teknikal Dupoin Futures, pergerakan emas (XAUUSD) pada time frame Daily masih mencerminkan dominasi tren bearish. Harga terus bergerak di bawah area resistance 4.075, sekaligus belum mampu melewati Moving Average (MA) 21 yang saat ini berfungsi sebagai dynamic resistance. Situasi tersebut memperlihatkan setiap percobaan kenaikan masih menghadapi tekanan jual yang cukup besar sehingga ruang untuk melanjutkan tren bullish masih relatif terbatas. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan kegagalan harga untuk ditutup di atas resistance 4.075 menjadi salah satu sinyal bahwa buyer belum memiliki kekuatan yang cukup untuk mengambil alih kendali pasar. Sebaliknya, seller masih memanfaatkan setiap penguatan sebagai momentum untuk kembali melakukan distribusi. Lantaran itu, ujar Gealdo, Dupoin Futures memandang bias pergerakan harga emas (XAUUSD) masih mengarah ke bawah hingga muncul sinyal teknikal yang mampu mengubah struktur tren secara lebih meyakinkan. Berdasarkan proyeksi yang disusun Dupoin Futures, area 4.018 menjadi target support terdekat yang patut diperhatikan investor. Level tersebut diperkirakan menjadi zona penting yang dapat menentukan arah pergerakan selanjutnya. Apabila tekanan jual terus berlanjut hingga harga menembus support tersebut, bukan tidak mungkin pelemahan berkembang menjadi koreksi yang lebih dalam. Jika buyer mampu mempertahankan area tersebut dengan munculnya respons beli yang kuat, emas (XAUUSD) masih memiliki peluang untuk melakukan pemantulan atau technical rebound dalam jangka pendek. Meskipun peluang rebound tetap terbuka, Dupoin Futures menilai bahwa kenaikan tersebut masih berpotensi bersifat sementara selama harga belum mampu kembali bergerak di atas resistance utama. Dengan kata lain, setiap penguatan masih perlu dikonfirmasi melalui breakout yang valid agar dapat mengubah proyeksi dari bearish menjadi bullish. Selain struktur harga, posisi Moving Average 21 juga menjadi indikator yang terus diperhatikan oleh Dupoin Futures. Selama harga tetap bergerak di bawah garis rata-rata tersebut, tekanan bearish dinilai masih mendominasi pasar. Hal ini memperkuat pandangan bahwa pelaku pasar sebaiknya tetap mencermati area resistance sebagai acuan utama sebelum mengambil keputusan investasi maupun perdagangan jangka pendek. Dari sisi fundamental, Dupoin Futures melihat bahwa arah harga emas (XAUUSD) masih akan dipengaruhi oleh beberapa faktor global, terutama pergerakan dolar Amerika Serikat, imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury Yield), serta ekspektasi pasar terhadap langkah kebijakan Federal Reserve (The Fed). Ketiga faktor tersebut masih menjadi penentu utama sentimen investor di pasar logam mulia. Apabila dolar AS tetap menunjukkan penguatan dan US Treasury Yield bertahan pada level tinggi, maka tekanan terhadap emas (XAUUSD) diperkirakan masih akan berlanjut. Dalam kondisi tersebut, investor cenderung memilih instrumen berbasis dolar yang menawarkan imbal hasil lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga. Akibatnya, permintaan terhadap logam mulia berpotensi melemah sehingga membatasi peluang kenaikan harga. Sebaliknya, Dupoin Futures menilai bahwa pelemahan dolar AS atau penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dapat menjadi katalis positif bagi harga emas (XAUUSD). Ketika biaya peluang untuk memiliki emas menurun, minat investor terhadap aset safe haven biasanya meningkat. Kondisi ini berpotensi memberikan ruang bagi harga untuk kembali menguat, terutama jika didukung oleh perubahan sentimen pasar yang lebih kondusif. Pelaku pasar juga diperkirakan akan menaruh perhatian besar pada serangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis dalam waktu dekat. Data inflasi, pasar tenaga kerja, aktivitas manufaktur, hingga komentar para pejabat Federal Reserve akan menjadi indikator penting dalam menentukan arah kebijakan suku bunga berikutnya. Masih menurut Dupoin Futures, apabila data ekonomi kembali menunjukkan hasil yang solid, ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga yang tetap tinggi akan semakin menguat. Situasi tersebut berpotensi memperkuat dolar AS sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas (XAUUSD). Di sisi lain, apabila data ekonomi menunjukkan perlambatan atau pernyataan pejabat The Fed mengarah pada kebijakan moneter yang lebih akomodatif, peluang pelemahan dolar AS dapat kembali terbuka. Kondisi tersebut berpotensi menjadi angin segar bagi emas (XAUUSD) karena meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai. Secara keseluruhan, Dupoin Futures memproyeksikan bahwa prospek harga emas (XAUUSD) hari ini masih cenderung berada dalam tekanan bearish. Selama harga belum mampu menembus resistance 4.075 dan masih bergerak di bawah Moving Average 21, peluang pelemahan menuju support 4.018 dinilai tetap menjadi skenario yang paling berpeluang terjadi. Meski demikian, investor tetap disarankan untuk mencermati perkembangan fundamental global, khususnya pergerakan dolar AS, US Treasury Yield, data ekonomi Amerika Serikat, serta arah kebijakan Federal Reserve, karena faktor-faktor tersebut dapat memicu perubahan sentimen pasar dan memengaruhi arah harga emas (XAUUSD) dalam beberapa sesi perdagangan mendatang.

Harga Emas Terancam Lanjut Turun? Dupoin Futures Ungkap Level Kunci Wajib Dipantau Internasional
Internasional
Kamis, 06 Agustus 2026 | 11:51 WIB

Harga Emas Terancam Lanjut Turun? Dupoin Futures Ungkap Level Kunci Wajib Dipantau

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas (XAUUSD) diperkirakan masih berada dalam fase yang penuh tekanan pada perdagangan di pekan pertama Agustus 2026. Menurut analisis terbaru dari Dupoin Futures, peluang pelemahan masih lebih besar dibandingkan potensi kenaikan setelah harga kembali gagal mempertahankan momentum bullish di area resistance penting. Kondisi ini, ujar analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menunjukkan pelaku pasar masih cenderung melakukan aksi jual sehingga emas (XAUUSD) berpotensi melanjutkan koreksi menuju area support terdekat. Meskipun demikian, investor tetap perlu mengantisipasi perubahan sentimen yang dapat muncul dari perkembangan data ekonomi Amerika Serikat maupun arah kebijakan bank sentral, yang berpotensi memicu volatilitas tinggi di pasar logam mulia. Dalam analisis teknikal Dupoin Futures, pergerakan emas (XAUUSD) pada time frame Daily masih memperlihatkan dominasi tren bearish. Salah satu penyebab utamanya adalah kegagalan harga untuk ditutup di atas level resistance 4.104, yang hingga kini masih menjadi penghalang utama bagi upaya pembalikan arah menuju tren bullish. Selama harga tetap bergerak di bawah level tersebut, peluang terjadinya pelemahan dinilai masih lebih besar dibandingkan potensi penguatan yang berkelanjutan. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan bahwa sinyal pelemahan semakin diperkuat oleh kemunculan pola candlestick Bearish Engulfing. Pola ini umumnya dianggap sebagai salah satu indikasi tekanan jual mulai kembali menguasai pasar setelah upaya kenaikan harga gagal dipertahankan. Kehadiran pola tersebut di sekitar area resistance memperlihatkan bahwa seller masih memiliki kontrol terhadap arah pergerakan emas (XAUUSD), sehingga ruang kenaikan dalam jangka pendek menjadi lebih terbatas. Selain pola candlestick, Dupoin Futures juga menyoroti indikator Stochastic yang masih bergerak turun. Pergerakan indikator tersebut mengindikasikan momentum bearish belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Selama belum muncul sinyal pembalikan yang valid dari indikator teknikal maupun perubahan struktur harga, Dupoin Futures menilai skenario pelemahan masih menjadi proyeksi yang paling realistis. Berdasarkan proyeksi teknikal tersebut, Dupoin Futures memperkirakan harga emas (XAUUSD) berpotensi bergerak menuju support 4.010 sebagai target terdekat. Area ini menjadi level yang sangat penting untuk diamati oleh pelaku pasar karena dapat menjadi penentu arah pergerakan berikutnya. Jika tekanan jual terus berlanjut dan support tersebut gagal dipertahankan, bukan tidak mungkin koreksi akan berkembang lebih dalam. Sebaliknya, apabila muncul respons beli yang kuat di sekitar area tersebut, emas (XAUUSD) berpotensi mengalami rebound teknikal meskipun peluang tersebut masih membutuhkan konfirmasi tambahan. Dari sisi fundamental, Dupoin Futures menilai bahwa arah pergerakan emas (XAUUSD) masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika dolar Amerika Serikat dan pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury Yield). Ketika dolar AS menguat dan yield obligasi bertahan pada level tinggi, daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil cenderung berkurang. Dalam situasi seperti itu, sebagian investor biasanya mengalihkan dana ke aset berbasis dolar yang menawarkan potensi imbal hasil lebih menarik. Di sisi lain, perhatian pasar saat ini juga tertuju pada berbagai data ekonomi penting dari Amerika Serikat, termasuk data inflasi, pasar tenaga kerja, aktivitas manufaktur, hingga pernyataan para pejabat Federal Reserve. Masih menurut Dupoin Futures, seluruh data tersebut akan menjadi acuan utama investor dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed pada periode mendatang. Jika data ekonomi kembali menunjukkan hasil yang lebih kuat dari ekspektasi, peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama akan semakin besar. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat dolar AS sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas (XAUUSD). Tetapi, Dupoin Futures juga melihat adanya peluang perubahan sentimen apabila data ekonomi Amerika Serikat mulai menunjukkan perlambatan. Jika inflasi terus melandai atau indikator ekonomi lainnya melemah, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga berpotensi meningkat. Situasi tersebut dapat mendorong pelemahan dolar AS dan penurunan US Treasury Yield, yang pada akhirnya menjadi katalis positif bagi emas (XAUUSD). Selain faktor ekonomi, perkembangan geopolitik global juga tetap menjadi perhatian utama. Ketidakpastian yang meningkat akibat konflik internasional maupun risiko ekonomi global dapat kembali memicu permintaan terhadap aset safe haven, termasuk emas (XAUUSD). Dalam kondisi seperti itu, tekanan jual yang berasal dari penguatan dolar AS berpotensi tertahan oleh meningkatnya minat investor terhadap logam mulia sebagai instrumen perlindungan nilai. Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai prospek harga emas (XAUUSD) masih cenderung bearish selama belum mampu menembus resistance 4.104. Pola Bearish Engulfing yang terbentuk, didukung oleh indikator Stochastic yang masih bergerak turun, menunjukkan bahwa dominasi seller masih cukup kuat untuk mempertahankan tekanan terhadap harga. Oleh karena itu, Dupoin Futures memproyeksikan area 4.010 sebagai target support yang layak dicermati dalam waktu dekat. Meski peluang rebound teknikal tetap terbuka apabila muncul sentimen positif dari data ekonomi atau pelemahan dolar AS, investor disarankan tetap berhati-hati dan menunggu konfirmasi yang lebih kuat sebelum mengubah bias menjadi bullish. Dengan terus memantau perkembangan fundamental global dan sinyal teknikal, pelaku pasar dapat menyusun strategi yang lebih terukur dalam menghadapi pergerakan harga emas (XAUUSD) pada perdagangan hari ini.

Bitcoin Jebol Support US$64.000, Tiga Tekanan Besar Ini Bisa Picu Volatilitas Baru Internasional
Internasional
Rabu, 05 Agustus 2026 | 12:30 WIB

Bitcoin Jebol Support US$64.000, Tiga Tekanan Besar Ini Bisa Picu Volatilitas Baru

Jakarta, katakabar.com - Pasar aset kripto kembali menghadapi tekanan setelah harga Bitcoin atau BTC turun ke kisaran US$63.900, di penghujung Juli 2026. Dalam tujuh hari terakhir, aset kripto terbesar tersebutterkoreksi sekitar 2,7% dan sempat menyentuh level terendah US$62.785, sekaligus menembus area support penting di US$64.000.  Berdasarkan laporan Market Outlook FLOQ, pelemahan Bitcoin saat ini tidak hanya dipengaruhi satu faktor. Setidaknya terdapat tiga tekanan utama yang membayangi pasar, yaitu meningkatnya ekspektasi kenaikansuku bunga Amerika Serikat, eskalasi konflik di Timur Tengah, serta melemahnya struktur teknikal BTC setelah support US$64.000 ditembus.  CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa investor kembali mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.  “Pasar sedang menghadapi kombinasi tekanan makroekonomi, geopolitik, dan teknikal secara bersamaan. Penembusan level US$64.000 menjadi penting karena menunjukkan sentimen pasar belum cukup kuatuntuk mempertahankan momentum pemulihan Bitcoin,” jelas Yudho.  The Fed Tahan Suku Bunga Tetapi Pasar Justru Makin Hawkish  Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75% pada pertemuan 29 Juli 2026 lalu. Keputusan tersebut merupakan penahanan suku bunga untuk kelima kalinya secara berturut-turut.  Tetapi, keputusan tersebut tidak serta-merta dibaca sebagai sinyal pelonggaran oleh pelaku pasar. Tiga pejabat regional The Fed justru memberikan suara untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.  Akibatnya, probabilitas kenaikan suku bunga pada September meningkat menjadi sekitar 72,3%, lebih tinggi dibandingkan kisaran 54–63% dalam dua pekan sebelumnya. Kondisi ini berpotensi mempertahankan tekananterhadap Bitcoin dan aset berisiko lainnya.  Menurut Yudho, investor perlu melihat lebih jauh dari sekadar keputusan The Fed untuk menahan suku bunga. “Kata ‘menahan’ tidak selalu berarti dovish. Dalam pertemuan kali ini, komposisi voting dan pernyataan The Fed justru memperlihatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan ketidakpastian global. Selama ekspektasi kenaikan suku bunga masih tinggi, ruang penguatan aset kripto kemungkinan tetap terbatas,” jelasnya.  Konflik AS-Iran Dorong Harga Minyak Melonjak  Tekanan tambahan datang dari meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Jeda serangan yang dimulai pada 27 Juli hanya bertahan sekitar dua hari sebelum kembali terjadi eskalasi.  Pada 29 Juli 2026, Iran dilaporkan menembakkan rudal balistik ke pangkalan udara Amerika Serikat di Yordania. Amerika Serikat dan Arab Saudi kemudian membalas dengan menyerang kelompok pro-Iran di Irak timur.  Ketegangan tersebut turut mendorong harga minyak dunia. Harga Brent meningkat sekitar 3,42% menjadi US$86,97 per barel, sedangkan West Texas Intermediate atau WTI naik sekitar 3,58% menjadi US$82,09 per barel.  Kenaikan harga energi dikhawatirkan dapat kembali mendorong tekanan inflasi global dan memperkuat alasan bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.  “Dalam jangka pendek, harga minyak kini menjadi salah satu indikator eksternal yang perlu diperhatikan investor kripto. Apabila konflik terus mengganggu distribusi minyak melalui Selat Hormuz, kekhawatiran inflasidapat meningkat dan memperburuk sentimen terhadap aset berisiko,” jelas Yudho.  Meski demikian, pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai pengelolaan lalu lintas di Selat Hormuz masih menjadi salah satu saluran diplomatik yang dapat membantu meredakan tekanan harga minyak.  Arus Dana ETF Bitcoin Belum Stabil  Dari sisi institusional, produk exchange-traded fund atau ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat masih mencatatkan arus dana masuk selama tiga pekan berturut-turut. Pada pekan hingga sekitar 24 Juli 2026 lalu, ETF Bitcoin mencatatkan net inflow sekitar US$33,8 juta.  Tetapi, tren tersebut kehilangan momentum pada akhir pekan. ETF Bitcoin mencatatkan arus keluar sekitar US$225,1 juta pada Kamis dan US$240 juta pada Jumat, memutus rangkaian tujuh hari arus dana masuk.  Sementara itu, ETF Ethereum membukukan arus masuk mingguan sekitar US$104 juta, atau sekitar tiga kali lebih besar dibandingkan total arus masuk mingguan ETF Bitcoin. Data tersebut mengindikasikan adanyarotasi modal ke Ethereum, meskipun belum dapat dipastikan sebagai tren jangka panjang.  “Arus dana ETF menunjukkan minat institusional belum menghilang, tetapi tingkat sensitivitasnya terhadap kebijakan suku bunga masih sangat tinggi. Investor besar terlihat lebih selektif dan cepat melakukanpenyesuaian menjelang rilis data ekonomi penting,” ucap Yudho.  Bitcoin Berpotensi Bergerak di Rentang US$62.800–US$65.700  Dari sisi teknikal, level US$62.800 menjadi support terdekat yang perlu diperhatikan setelah Bitcoin menembus US$64.000. Sementara itu, area US$65.700 hingga US$66.500 menjadi zona resistensi yang perlu dilewatiuntuk membuka peluang pemulihan lebih lanjut.  Menurut Yudho, pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek kemungkinan masih berada dalam rentang konsolidasi yang lebar. “Selama Bitcoin belum mampu kembali dan bertahan di atas US$65.700, pasar masih berisikomengalami tekanan lanjutan. Di sisi lain, area US$62.800 menjadi level penting karena penembusan yang konsisten di bawah area tersebut dapat membuka ruang koreksi yang lebih dalam,” imbuhnya.  Pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah agenda penting pada awal Agustus, termasuk data ISM Manufacturing PMI, ADP Employment Report, ISM Services PMI, serta laporan ketenagakerjaan Amerika Serikatpada 7 Agustus.  Rilis data tersebut akan menjadi indikator penting untuk mengukur apakah kebijakan hawkish The Fed mendapat dukungan dari kondisi ekonomi Amerika Serikat.  “Investor sebaiknya tidak terburu-buru menyimpulkan arah pasar hanya berdasarkan satu indikator. Kondisi saat ini membutuhkan pengelolaan risiko yang lebih disiplin karena data tenaga kerja, harga minyak, dan perkembangan geopolitik dapat memicu perubahan sentimen secara cepat,” sebut Yudho.  Sebagai bagian dari komitmennya dalam meningkatkan literasi aset digital, FLOQ juga menyediakan platform edukasi yang dapat diakses oleh siapa saja melalui kanal FLOQ Academy. Kanal ini menghadirkan berbagaimateri untuk membantu masyarakat memahami pergerakan pasar, strategi investasi aset kripto, serta perkembangan teknologi blockchain dan Web3 secara lebih mudah, terstruktur, dan relevan dengan kondisi pasar terkini. Disclaimer: Informasi dalam siaran pers ini disusun berdasarkan data publik yang tersedia hingga 30 Juli 2026. Investasi aset kripto memiliki risiko tinggi, termasuk potensi kerugian akibat volatilitas harga pasar. Seluruhinformasi yang disampaikan dalam siaran pers ini bersifat umum dan hanya ditujukan untuk keperluan informasi. Informasi ini bukan merupakan ajakan, penawaran, saran, maupun rekomendasi untuk membeli, menjual, atau melakukan investasi pada aset kripto tertentu.   FLOQ mengimbau masyarakat untuk selalu melakukan riset secara mandiri (Do Your Own Research/DYOR) dan mempertimbangkan setiap keputusan investasi secara matang sesuai dengan profil risiko, tujuan investasi, serta kemampuan finansial masing-masing. Masyarakat juga diharapkan tidak menggunakan dana yang berada di luar batas kemampuan dalam melakukan transaksi aset kripto.

Holding PTPN Perkuat Kolaborasi Global, PT RPN Gelar IRRDB Socio-Economic Seminar 2026 Internasional
Internasional
Selasa, 04 Agustus 2026 | 11:39 WIB

Holding PTPN Perkuat Kolaborasi Global, PT RPN Gelar IRRDB Socio-Economic Seminar 2026

Bali, katakabar.com - PT Riset Perkebunan Nusantara melalui Pusat Penelitian Karet, entitas dari Holding Perkebunan Nusantara, bekerja sama dengan International Rubber Research and Development Board (IRRDB) gelar IRRDB Socio-Economic Seminar 2026 pada 30 Juni hingga 2 Juli 2026 di Hotel Aryaduta, Kuta, Bali. Usung tema "Strengthening Economic Resilience and Value Addition in the Global Natural Rubber Supply Chain", seminar ini menjadi forum internasional yang mempertemukan para peneliti, pembuat kebijakan, pelaku industri, akademisi, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk membahas tantangan serta peluang dalam pengembangan industri karet alam global. Seminar ini dihadiri sejumlah tamu yang mewakili pemerintah, asosiasi industri, dan organisasi internasional, di antaranya Wakil Sekretaris Jenderal IRRDB, Dr. Wan Abdul Rahaman, Direktur Hasil Hutan dan Industri Perkebunan Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian RI, Direktur Sabah Rubber Industry Board (Malaysia), Ketua International Rubber Consortium (IRCo), Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO), dan Ketua Asosiasi Produsen Ban Indonesia (APBI). Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut semakin menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dan lintas negara dalam mendorong kemajuan industri karet alam yang berdaya saing dan berkelanjutan. Seminar dibuka dengan sambutan dari Direktur PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN), Dr. Iman Yani Harahap, yang menyoroti berbagai tantangan global yang saat ini memengaruhi industri karet, mulai dari ketidakpastian geopolitik hingga meningkatnya biaya produksi. Dr. Iman Yani Harahap menyampaikan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah telah memberikan dampak nyata terhadap pasar energi dunia, yang berujung pada kenaikan harga minyak serta meningkatnya biaya produksi di berbagai sektor. "Sebagai produsen karet alam terbesar kedua di dunia, Indonesia menghadapi tantangan berupa meningkatnya biaya logistik, transportasi, serta harga pupuk yang semakin membebani sektor perkebunan karet. Melalui seminar ini, kami berharap lahir berbagai gagasan, rekomendasi, dan solusi praktis untuk menjawab tantangan sosial ekonomi yang terus berkembang dalam industri karet global," ujar Dr. Iman Yani Harahap. Seminar ini diikuti lebih dari 80 peserta yang berasal dari negara Jepang, Malaysia, Thailand, India, Singapura, Sri Lanka, Vietnam dan Indonesia. Peserta berasal dari berbagai kalangan, termasuk lembaga penelitian, perusahaan perkebunan dan industri karet, asosiasi petani, organisasi internasional, lembaga pembangunan, perguruan tinggi, serta instansi pemerintah dan perbankan. Kehadiran beragam institusi tersebut mencerminkan kuatnya sinergi kolaborasi lintas negara dan lintas sektor dalam mendukung pengembangan industri karet alam yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan berdaya saing. Selama tiga hari pelaksanaan seminar, peserta mengikuti pemaparan materi utama, sesi teknis, diskusi ilmiah, dan berbagi pengalaman yang menghadirkan para pakar dari negara-negara anggota IRRDB, organisasi internasional, akademisi, serta pelaku industri karet. Melalui penyelenggaraan seminar ini, IRRDB bersama PT Riset Perkebunan Nusantara berharap dapat memperkuat sinergi internasional dalam merumuskan strategi yang mampu meningkatkan ketahanan ekonomi, keberlanjutan, nilai tambah, serta daya saing industri karet alam di tingkat global.

Wow! RI Tawarkan 180 Kawasan Industri kepada Investor Rusia di INNOPROM 2026 Internasional
Internasional
Minggu, 02 Agustus 2026 | 10:09 WIB

Wow! RI Tawarkan 180 Kawasan Industri kepada Investor Rusia di INNOPROM 2026

Rusia, katakabar.com - Indonesia terus memperkuat promosi kawasan industri sebagai destinasi investasi global. Dalam ajang INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menawarkan potensi kawasan industri nasional kepada pemerintah dan pelaku usaha Rusia sebagai pintu masuk pengembangan klaster industri internasional yang saling menguntungkan. “Pengembangan kawasan industri merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mempercepat pemerataan industrialisasi sekaligus memperkuat daya saing manufaktur nasional. Kawasan industri memainkan peranan penting dalam mempercepat transformasi industri nasional, ekosistem terintegrasi yang mendukung hilirisasi, peningkatan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja, hingga daya saing industri nasional di tingkat global” ujar Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita pada sesi Business Talk - Panel Discussion Dialogue between Russian and Indonesian SEZs/Industrial Estate: Regulatory Harmonization and The Development of International Industrial Clusters di Ekaterinburg, Rusia, di pekan kedua Juli 2026 lalu. Optimisme tersebut didukung oleh kinerja kawasan industri yang terus menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, kawasan industri berhasil menarik investasi sebesar Rp6.744,58 triliun atau tumbuh 9,26 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus menyerap sekitar 2,35 juta tenaga kerja. Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin RI, Tri Supondy menegaskan bahwa harmonisasi regulasi menjadi fondasi penting untuk menciptakan iklim investasi kawasan industri yang semakin kondusif antara Indonesia dan Rusia. "Harmonisasi regulasi antara Indonesia dan Rusia menjadi kunci untuk memastikan setiap investasi kawasan industri berjalan efisien, transparan, dan saling menguntungkan bagi kedua negara. Kami berharap dialog ini dapat menjadi landasan bagi kemitraan jangka panjang, tidak hanya dalam hal investasi, tetapi juga transfer pengetahuan dan pengembangan kapasitas kawasan industri kedua negara," ucap Tri. Diskusi tersebut mempertemukan perwakilan pemerintah, asosiasi kawasan industri, serta pengelola kawasan industri dari Indonesia dan Rusia guna membahas peluang kerja sama investasi, pengembangan kawasan industri, serta pembentukan kawasan industri yang saling terhubung (klaster industri internasional). Hingga triwulan II 2026, Indonesia memiliki 180 kawasan industri yang menampung hampir 12 ribu perusahaan atau tenan. Pengembangan kawasan industri dilakukan melalui empat pendekatan utama, yakni kawasan berteknologi tinggi, kawasan berbasis hilirisasi sumber daya alam, kawasan hemat air di luar Pulau Jawa, serta kawasan padat karya di Pulau Jawa guna meningkatkan efisiensi sistem logistik nasional. Untuk memperkuat daya tarik investasi, pemerintah juga menyediakan berbagai insentif fiskal dan nonfiskal. Fasilitas tersebut meliputi kemudahan perizinan berusaha berbasis risiko, status kawasan industri sebagai Objek Vital Nasional yang memberikan kepastian keamanan investasi, pemberian Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) bagi industri tertentu, program restrukturisasi mesin dan peralatan industri, serta berbagai insentif perpajakan seperti investment allowance, tax allowance, super tax deduction untuk kegiatan riset dan pelatihan vokasi, hingga pembebasan bea masuk mesin dan bahan baku melalui skema masterlist. Selain itu, Indonesia juga menawarkan tingkat upah yang kompetitif di sejumlah wilayah industri sebagai salah satu daya tarik bagi investor manufaktur. Sebagai contoh keberhasilan pengembangan kawasan industri, Kemenperin turut memaparkan Kendal Special Economic Zone (Kendal SEZ). Kawasan yang dikembangkan melalui kerja sama Jababeka & Co. dan Sembcorp Urban Development Singapura tersebut telah menjadi salah satu kawasan industri dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia. Hingga 2025, Kendal SEZ mencatatkan investasi kumulatif sebesar Rp187,05 triliun dan menyerap lebih dari 76 ribu tenaga kerja. Saat ini, Kendal SEZ telah menampung 142 badan usaha dari berbagai negara, dengan sektor fesyen, otomotif, energi terbarukan, dan elektronika sebagai sektor dominan. Tingginya tingkat okupansi kawasan mendorong pengembangan Ecosystem Hub seluas 1.200 hektar yang akan mencakup pusat riset dan inovasi, kawasan industri berkelanjutan, kawasan komersial, serta permukiman terpadu. Pengembangan tersebut diproyeksikan mampu menyerap hingga 250 ribu tenaga kerja dengan tambahan investasi sekitar Rp370 triliun. Selain menawarkan infrastruktur industri yang lengkap, Kendal SEZ juga membuka peluang kolaborasi di bidang pengembangan sumber daya manusia melalui kerja sama dengan sejumlah politeknik vokasi serta pengembangan digitalisasi pengelolaan kawasan industri. Dialog mengenai harmonisasi regulasi ini melengkapi penandatanganan Nota Kesepahaman antara Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) dan Association of Clusters, Technology Parks and SEZs of Russia yang dilakukan sehari sebelumnya di Ekaterinburg. Kesepahaman tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat kemitraan Indonesia dan Rusia dalam pengembangan kawasan industri, peningkatan investasi, serta pembentukan klaster industri internasional yang berdaya saing.

RI Teken 7 MoU di INNOPROM 2026 Demi Tembus Pasar Eurasia Internasional
Internasional
Sabtu, 01 Agustus 2026 | 18:05 WIB

RI Teken 7 MoU di INNOPROM 2026 Demi Tembus Pasar Eurasia

Jakarta, katakabar.com - Pemerintah Republik Indonesia terus mendorong perluasan jaringan pasar industri domestik ke kancah global. Langkah strategis ini terlihat nyata melalui partisipasi aktif Indonesia sebagai negara mitra (Partner Country) dalam pameran industri internasional INNOPROM 2026 yang berlangsung di Yekaterinburg, Rusia. "Indonesia membawa agenda industri yang tegas, yaitu mempercepat hilirisasi mulai dari mineral kritis dan manufaktur maju, hingga energi, ketahanan pangan, dan kawasan industri," ujar Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam sambutannya pada acara Business Forum: Russia–Indonesia Industrial Dialogue di Yekaterinburg, Rusia, di penghujung pekan pertama Juli 2026 lalu. Agus juga menambahkan Indonesia sangat optimistis untuk memperdalam kemitraan teknologi dengan Rusia, serta mengintegrasikan manufaktur bernilai tambah tinggi ke dalam pasar Eurasia. Sektor manufaktur atau Industri Pengolahan (IP) terbukti masih menjadi penopang utama atau tulang punggung perekonomian nasional. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sektor IP pada Triwulan I Tahun 2026 mencatatkan pertumbuhan yang positif sebesar 5,04 persen. Angka pertumbuhan ini lebih tinggi jika kita bandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang menyentuh angka 4,55 persen. Selain itu, sektor IP memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, yaitu mencapai 19,07 persen atau setara dengan Rp1.179,62 triliun. Kinerja memukau ini juga terlihat dari realisasi investasi pada Triwulan I Tahun 2026, di mana sektor IP menyumbang hingga 36,49 persen atau senilai Rp182,04 triliun. Tidak hanya dari sisi modal, sektor ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang sangat masif, yakni sebanyak 20,04 juta orang per Februari 2026. Sementara pada sektor perdagangan internasional, kontribusi ekspor IP pada periode Januari–Februari 2026 mendominasi hingga 83,61 persen dengan nilai penjualan mencapai Rp622,68 triliun. Hubungan ekonomi antara Indonesia dan Rusia sendiri memperlihatkan perkembangan yang sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Nilai total perdagangan bilateral kedua negara tumbuh sebesar 5,4 persen hingga mencapai USD 4,8 miliar pada tahun 2025. Nilai ekspor produk Indonesia ke Rusia pun melonjak tajam sebesar 7,5 persen dengan total nilai sekitar USD 1,8 miliar pada tahun 2025. Indonesia secara rutin mengekspor komoditas unggulan seperti karet, kopi, coklat, teh, alas kaki, komponen elektronik, serta produk kimia. Sebaliknya, Indonesia mengimpor komoditas penting dari Rusia seperti pupuk, besi, baja, sereal, kimia organik, hingga pesawat terbang. Lebih lanjut, pelaksanaan forum bisnis ini mengangkat tiga topik kunci, antara lain Joint industrial projects, Investment opportunities for industrial companies in Russia and Indonesia, dan Tools and mechanisms to support exporters. “Saya yakin forum hari ini akan membawa kedua negara, khususnya sektor industri dapat berkolaborasi secara konkret melalui inisiasi proyek-proyek kerja sama yang saling menguntungkan dan berkelanjutan” tambah Menperin. Guna memperkokoh jalinan kerja sama strategis ini, kedua negara sepakat menandatangani tujuh dokumen perjanjian atau Memorandum of Understanding (MoU) baru di bidang industri. Dokumen tersebut meliputi kerja sama antara Kementerian Perindustrian dengan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia, serta lima dokumen kerjasama teknis dan komersial yang melibatkan pelaku usaha seperti Ikatan Perusahaan Industri Galangan Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO), PT PCM Kabel Indonesia, PT Athira Maritim Indonesia, Perkumpulan Industri Komponen Kapal Indonesia (PIKKI) bersama United Industrial Corporation AK Bars dan MoU antara PT Minang Jordanindo dengan CHETRA LLC, serta nota kesepahaman antara Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia dengan the Association of Clusters dan Technology Parks, and SEZs of the Russian Federation (ACTPRF). Kerja sama baru ini melengkapi dua MoU terdahulu yang sudah berjalan sejak Desember 2025 di bidang galangan kapal dan studi krisotil asbestos. Peran Indonesia sebagai Partner Country diharapkan dapat menjadi landasan kuat untuk membangun kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan, baik bagi Indonesia dan Rusia maupun pada skala global, ditengah tantangan geoekonomi dan geopolitik.