Home / Pendidikan / Budak Rangau di Papan Seberan
Budak Rangau di Papan Seberan
Sekolah Dasar Negeri 028 Kelas Jauh Dusun Linong, Desa Petani, Kecamatan Bathin Solapan Kabupaten Bengkalis. foto. sahdan
Bathin Solapan (katakabar) - Meski sudah lusuh, bendera merah putih itu masih berkibar gagah, di puncak sebatang besi yang sudah karatan.
Bendera yang menjadi pertanda bahwa tanah tempat besi itu tertancap, masih Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 
Di belakang tiang itu, sejumlah bocah berbalut baju putih dan celana merah, nampak berlari ceria masuk ke gedung usang yang dibangun lewat urunan warga empat tahun silam.
Gedung yang terbuat dari papan seberan --- papan sisa dari pabrik pemotongan kayu yang tak layak jual --- yang sudah lapuk dimakan waktu. Tiang penyangga yang sudah terkelupas sana-sini digerogoti rayap.
Atap berkarat tanpa plafon dan lantai semen ringkih yang sudah pecah terinjak masa. Inilah SD Negeri 28 kelas jauh Dusun Linong Desa Petani Kecamatan Bathin Solapan Kabupaten Bengkalis, Riau.
Tempat belajar 108 orang siswa dari kelas 1-4. Mereka diasuh oleh 6 orang guru --- 1 orang Aparatur Sipil Negara (ASN), 1 honor Pemda dan 4 honor komite.
Sekolah ini masih di area operasional Pt Chevron Pacific Indonesia (CPI), hanya berjarak sekitar 200 meter dari jalan lintas kilometer 16 Rangau-Duri.
"Sekolah ini berdiri di atas tanah hibah bekas galian seluas 8000 meter persegi. Duit membangun tiga ruang belajar hasil urunan warga dusun pada 2013 silam," cerita Kepala Dusun Lubuk Linong, Karshandi kepada katakabar.com di sekolah itu kemarin siang.
Warga berinisiatif membangun sekolah itu kata Karshandi lantaran sekolah induk --- SDN 028 Mandau --- tidak mampu lagi menampung anak-anak usia sekolah dasar yang jumlahnya sudah melampaui quota.
Sudahlah begitu, jauhnya rentang kendali tadi membikin orang tua was-was lantaran jalan lintas Rangau rawan kecelakaan.
"Awal berdiri, jumlah siswa masih puluhan orang. Tapi seiring waktu, jumlahnya meningkat hingga sekarang mencapai 108 orang," katanya.
Dengan adanya sekolah jauh itu, masyarakat sangat terbantu. "Warga cukup berjalan kaki mengantar jemput anak sekolah," ujarnya.
Tapi sekarang, bangunan itu sudah mulai reot. Tiang bangunan dari kayu bulat sudah lapuk dimakan rayap, lantai semen rusak berganti tanah. Kuda-kuda dan atap tanpa plafon juga mengkawatirkan.
Begitu juga dengan kursi dan meja belajar anak-anak, sudah rusak dan berlubang. Meubeler di ruangan guru yang dibeli dari duit urunan warga juga sudah lapuk.
"Ada 2 WC di sudut sebelah kiri bangunan hasil bantuan perusahaan dan sumur bor bantuan Pemdes Petani. Begitulah keadaannya dan yang ada," terang Karshandi.
Bukan tak berusaha masyarakat memohon bantu kepada Pemerintah Bengkalis biar APBD Bengkalis menetes untuk merehab sekolah itu. Empat tahun belakangan, setiap Musyawarah Rencana Pembangunan, proposal selalu diajukan. "Tapi sampai sekarang belum ada tanggapan," Karshandi menarik nafas panjang.
Matanya menatap lekat bocah-bocah lugu itu. Bocah yang tidak mengerti politik, bocah Rangau yang tak pernah paham bahwa sejak berpuluh tahun lalu minyak di perut bumi nenek moyangnya terus menerus disedot.



Komentar Via Facebook :