Oleh Agung Marsudi
Solo, katakabar.com - Para capres yang sekarang muncul, setakat ini masih jual omongan, sembari "gandulan", tentu rasanya hambar, sedikit kecut, tidak seperti rasa emping jagung, Watu Gunung.
Meski Anies dan Ganjar, sudah terang-terangan. Prabowo terkesan pendiam, terlihat hati-hati, agaknya belajar dari Megawati. Diam itu emas, ejekan tak perlu dibalas.
Jika emping jagung itu dicampur dengan lontong medan, nasi uduk, opor ayam, soto daging sapi, sop tunjang, rawon, atau bubur ayam Cianjur, masing-masing akan memberi aroma dan rasa tersendiri.
Boleh jadi Anies enak, Ganjar gurih, Prabowo renyah. Yang penting ketiganya asli rasa Indonesia. Calon presiden boleh menawarkan barang dagangan apa saja, kepada rakyat. Sebab, tidak ada paksaan dalam memilih. Pilihan itu soal rasa, soal hati, soal "taste".
Kabarnya, ada yang memastikan Jokowi tak "endorse" pilihan capres ke relawan.
Jadi bukan jamuan malam para petinggi ASEAN saja yang bisa menikmati, "taste of archipelago". Hati-hati dengan lidah rakyat. Rakyat punya "taste" sendiri, dan gak butuh diajari. Apatah dimobilisasi. Suka dan tidak suka itu merdeka.
Dari pemilu ke pemilu, dari pilpres ke pilpres, rakyat sudah hafal urusan trik, dan perangai politik. Mencari calon pemimpin yang mengayomi, tak mudah. Apalagi melindungi segenap bangsa Indonesia, dan seluruh tumpah darah Indonesia.
Kepercayaan rakyat itu mahal harganya. Indonesia bangsa besar, para pendahulu berpesan, "Boleh kita tidak punya uang. Tapi tidak boleh, tidak punya harga diri".
Bersekutu dengan oligarki, mengkhianati konstitusi. Berhentilah mengigau, presiden itu petugas partai. Sebab ia dipilih langsung oleh rakyat.
Capres Enak, Gurih, Renyah
Diskusi pembaca untuk berita ini