Semarang, katakabar.com - Prof. Dr. Ngatindriatun, M.P. Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Ekonomi dan Guru Besar ke 30 yang dikukuhkan Binus University. Prof. Atin saat ini Lecturer Specialist-Profesor Digital Business pada Binus Business School.
Upacara pengukuhan digelar pada Rabu (17/4) lalu di Kampus Binus @Semarang yang dipimpin Ketua Senat dan Rektor Binus University, Dr. Nelly, S.Kom., MM. CSCA, serta dihadiri Kepala LLDIKTI Wilayah III, Kepala LLDIKTI Wilayah VI, Perwakilan Pimpinan Daerah, Dewan Guru Besar, Guru Besar Tamu, perwakilan industri dan tamu undangan.
“Sangat bersyukur, di tahun 2024 ini, Binus University sudah mengukuhkan sebanyak tiga Guru Besar, dan Prof. Atin Guru Besar ke 30 yang dikukuhkan Binus University. Luar biasa, Binus @Semarang yang baru ada 2 angkatan mahasiswa, namun sudah memiliki Guru Besar,” kata Dr. Nelly, S.Kom., M.M., CSCA, Rektor BINUS University.
Prof. Atin salah satu Guru Besar yang patut dibanggakan. Usulan Beliau berjalan lancar tanpa melalui proses revisi atau perbaikan. Beliau merupakan Guru Besar ke 97 di lingkungan LLDIKTI III Jakarta,” timpal Prof. Dr. Toni Toharudin, S.Si., M.Sc., Kepala LLDIKTI III Jakarta dalam sambutannya.
Indonesia berhasil mencatat surplus perdagangan produk pertanian pada 2022 sebesar 275,15 triliun. Di mana rentang Januari-Juni 2023, nilai ekspor produk pertanian mencapai Rp258,46 triliun dengan surplus sebesar Rp74,35 triliun.
"Tapi, peningkatan produktivitas pertanian Indonesia masih belum berbasis nilai tambah,” ujar Profesor Ngatindriatun buka materi orasi ilmiahnya dengan mengemukakan kontradiksi antara surplus perdagangan dengan produktivitas pertanian di Indonesia dinilai masih belum berbasis nilai tambah.
Menurutnya, pertanian Indonesia saat ini dihadapkan sejumlah permasalahan seperti terbatasnya akses teknologi modern, rendahnya produktivitas, kurangnya infrastruktur, perubahan iklim yang mengganggu pola tanam, serta ketimpangan akses pasar.
Prof. Atin berpendapat Smart Farming 5.0 yang mengakselerasikan teknologi maju dapat mengoptimalkan sumber daya dan mengurangi dampak lingkungan, merevolusi produksi pangan dan mendorong keberlanjutan dalam menghadapi pertumbuhan populasi perkotaan.
Smart Farming biasanya mengacu pada pemanfaatan teknologi digital, seperti IoT, cloud computing, robotika, sensor, kecerdasan buatan bidang pertanian serta metaverse. Teknologi Smart Farming 5.0 mengubah paradigma pertanian yang berkemajuan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan. Keberadaan Smart Farming memiliki dampak multisegi lingkungan hidup, sosial dan ekonomi. Hal ini sejalan dengan tujuan Pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang didefinisikan PBB sebagai agenda pembangunan global yang komprehensif dan inklusif.
"Tujuannya untuk mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan melindungi bumi untuk generasi mendatang," ulasnya.

Dalam pembangunan pertanian berkelanjutan, implementasi kebijakan, program, dan kegiatan, sambungnya, mesti memperhatikan keselarasan antara aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.
"Akselerasi Smart Farming 5.0 Melibatkan Aktor Penta Helix Dengan keunggulan Smart Farming tersebut, membutuhkan kolaborasi penta helix. Pemerintah adalah sebagai regulator, fasilitator, penyedia layanan untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan sektor pertanian," ucapnya.
Akademisi pada perguruan tinggi, tuturnya, dapat mengintegrasikan teknologi dan ilmu pengetahuan terkini ke dalam sektor pertanian. Kegiatan tridharma perguruan tinggi dalam ketahanan pangan khususnya pengembangan Smart Farming 5.0 harus menyatukan keilmuan multidisipliner klaster ekonomi, pertanian dan teknik.
Sedang, kelembagaan dan industri berperan dalam transformasi melalui beberapa cara, seperti holding, konsolidasi, dan modernisasi pertanian, menumbuhkan pengusaha muda pertanian lokal profesional, serta kerja sama antara kelompok tani, gapoktan, koperasi pertanian, dan perusahaan mitra berupa BUMN, BUMD, BUMDes, dan swasta.
Tidak kalah penting, media memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesadaran, mendidik, dan memotivasi para pemangku kepentingan, terutama petani dalam penerapan teknologi pertanian cerdas. Melalui kampanye media, petani dapat diberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana teknologi seperti sensor, drone, dan IoT dapat meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan pertanian mereka.
Kontribusi Terapan dalam Dukungan Smart Farming 5.0 Di akhir orasi ilmiah, Prof. Atin menekankan visinya menciptakan model pertanian yang tidak hanya berteknologi maju yang berkelanjutan secara ekonomi dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Beliau mengembangkan proyek riset dengan membuat prototype platform digitalisasi pertanian melalui Pengembangan Desain Prototype Aplikasi B-Horti Untuk Edukasi Dan Pemantauan Tanaman Hortikultura yang saat ini sedang dalam proses penerbitan sertifikat HKI.
Diharapkan dedikasinya akan memperkuat Binus @Semarang sebagai pusat pendidikan yang mengusung teknologi metaverse dan akan diintegrasikan ke dalam pelatihan pertanian, layanan penyuluhan, dan platform pasar virtual.
Menciptakan model pertanian yang tidak hanya berteknologi maju tapi berkelanjutan secara ekonomi dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Pengembangan SDM menjadi bagian penting dan menjadi salah satu dari delapan strategic objective BINUS University, yakni Binusian dan Technology sebagai ukuran penting dari Visi Binus 2035, a world class university, fostering and empowering the society in building and serving the nation.
Tidak hanya mendorong peningkatan karier Faculty Member (FM), tetapi juga sekaligus menfasilitasi bahkan melakukan program percepatan bagi FM untuk mencapai jenjang akademis sebagai Profesor atau Guru Besar. Hal ini sudah diimplementasikan dalam tiga tahun terakhir yang sangat disyukuri sudah menghasilkan banyak karya terutama bertambahnya jumlah Associate Profesor dan Profesor.
Kontak: Gandy Pratama gandy.jaya@binus.edu 0815 1949 8085
Dikukuhkan Jadi Guru Besar Ilmu Ekonomi, Prof Ngatindriatun Gagas Smart Farming 5.0 Dukung SDGs
Diskusi pembaca untuk berita ini