Home / Sawit / FORTASBI Berharap Penerapan B40 Dibikin dari Sawit Tersertifikasi
FORTASBI Berharap Penerapan B40 Dibikin dari Sawit Tersertifikasi
Foto Istimewa/katakabar.com.
Jakarta, katakabar.com - Forum Petani Sawit Berkelanjutan Indonesia atau FORTASBI berharap penerapan B40 bisa dorong harga Tanda Buah Segar atau TBS di tingkat petani. Sehingga, kebijakan baru pemerintah tersebut secara nyata berdampak pada kesejahteraan petani kelapa sawit swadaya.
"Dengan implementasi B40 ini, petani kelapa sawit swadaya harus merasakan dampaknya. Bahkan, rantai pasok idealnya melibatkan TBS dari petani sawit swadaya berkelanjutan," kata Kepala Sekretariat FORTASBI, Rukaiyah Rafik, lewat rilis media, dilansir dari EMG, Kamis (2/1).
Menurutnya, FORTASBI terus mendorong penerapan good agricultural practices atau GAP, dan sertifikasi sawit berkelanjutan agar petani sawit swadaya bisa meningkatkan produktivitas kebun dan produknya diterima oleh pasar global.
Selain itu, ujarnya, FORTASBI tengah mendorong hilirisasi sawit di tingkat petani sawit swadaya. Salah satunya adanya pabrik CPO yang dimiliki kelompok petani sawit berkelanjutan atau yang telah memiliki sertifikasi ISPO atau RSPO.
"Hadirnya pabrik CPO sangat memungkinkan petani melakukan hilirisasi produk kelapa sawit berkelanjutan. Hal ini tidak terwujud kalau tidak ada dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, terutama pemerintah," jelasnya.
Ditegaskan Rukaiyah, FORTASBI pada 2025 ini bakal terus fokus membangun dampak (impact) untuk sawit berkelanjutan, dan berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan lainnya agar petani sawit swadaya merasakan dampak positif dari berbagai kebijakan tata kelola sawit berkelanjutan.
"B40 idealnya dihasilkan dari produk bersertifikat. Maksudnya agar B40 tidak hanya mengurangi penggunaan BBM fosil yang berdampak pada iklim, tapi juga dihasilkan dari bahan baku kelapa sawit yang berkelanjutan," bebernya.
Diketahui, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral atau ESDM terapkan Biodiesel 40 (B40) mulai awal 2025. B40 bahan bakar campuran solar sebanyak 60 persen dan bahan bakar nabati atau BBN dari kelapa sawit sebanyak 40 persen.
Ditargetkan bakal diproduksi sebanyak 15,62 juta kiloliter B40 sepanjang tahun 2025. Angka tersebut diklaim pemerintah mencakup distribusi ke seluruh Indonesia. Saat ini kesiapan dari sisi bahan baku dan rantai pasok menjadi prioritas utama pemerintah.
PT Pertamina (Persero) selaku pelaksana kebijakan pemerintah ini telah menyiapkan dua kilang utama untuk mendukung produksi B40, yakni Refinery Unit III Plaju di Palembang dan Refinery Unit VII Kasim di Papua. Sementara pencampuran bahan bakar solar dengan bahan bakar nabati akan dilakukan oleh PT Pertamina Patra Niaga.








Komentar Via Facebook :