Home / Sawit / Isu UE Soal Keberlanjutan Sawit, BPDP Tangkis dengan Pemanfaatan Biochar dari Tankos
Isu UE Soal Keberlanjutan Sawit, BPDP Tangkis dengan Pemanfaatan Biochar dari Tankos
Foto: Istimewa/katakabar.com.
Jakarta, katakabar.com - Sebagai upaya menjawab isu-isu keberlanjutan selalu dicuatkan Uni Eropa kepada perkebunan kelapa sawit Indonesia. Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, menegaskan pemanfaatan biochar dari tandan kosong kelapa sawit oleh petani untuk penyubur tanaman.
Senior Analis Divisi UKMK Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Anwar Sadat, menjelaskan, biochar arang aktif dengan kandungan karbon yang cukup tinggi sehingga sangat ramah lingkungan lantaran berasal dari bahan-bahan organik.
"Jadi, dengan penggunaan biochar ini sebagai salah satu upaya kita menjawab isu-isu keberlanjutan yang digaungkan Uni Eropa terhadap sawit kita," kata Anwar, lewat keterangan resmi di Jakarta, dilansir dari laman ANTARA, Jumat (26/) sore.
Salah satu fungsi biochar, ulas Anwar, bisa mengikat hara dan air yang sangat bermanfaat bagi tanaman sawit, sehingga penggunaannya bisa mengurangi pemakaian pupuk kimia yang saat ini harganya sangat mahal.
"Penggunaan biochar bakal mengurangi biaya pemupukan," jelasnya ketika saksikan kegiatan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat atau Aspekpir praktikkan pembuatan biochar di Desa Bumi Kencana, Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.
Menurur data PASPI, sebut Anwar, satu ton tandan buah segar atau TBS bisa menghasilkan sekitar 22 persen tandan kosong kelapa sawit. Sehingga ini jadi potensi yang besar untuk dijadikan bahan baku pembuatan biochar.
"Tinggal nanti Aspekpir bisa melakukan kerja sama dengan pabrik kelapa sawit atau PKS untuk mendapatkan tandan kosong tersebut untuk dijadikan bahan baku biochar," ucapnya.
Di kegiatan itu BPDP mengapresiasi Aspekpir yang terus melakukan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi petani kelapa sawit sekaligus mempromosikan biochar kepada petani.
Ketua Umum Aspekpir Setiyono mengatakan, kegiatan yang melibatkan 110 petani sawit anggota Aspekpir di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan diharapkan mereka bisa membuat biochar secara mandiri karena bahan bakunya yakni tandan kosong sawit sangat melimpah.
Menurutnya, kelapa sawit yang ditanam di Kecamatan Sungai Lilin saat ini sudah satu siklus sehingga tingkat kesuburannya mulai berkurang, oleh karena itu diperlukan upaya untuk mengembalikan tingkat kesuburan tanah.
"Salah satunya dengan mengaplikasikan biochar dari tandan kosong sawit yang banyak tersedia di sekitar kita," beber Setiyono yang transmigran dari Kabupaten Kediri, Jawa Timur itu.
Sementara, praktisi pengguna biochar Arif Firmansyah menimpali, biochar memiliki nilai ekonomis, dan menjadi produk yang layak dipasarkan oleh siapa saja yang mampu memproduksi.
"Apalagi kebutuhan terhadap biochar tidak hanya terbatas pada individu atau perorangan atau kelompok tani, tapi rumah tangga, komunitas hingga perusahaan perkebunan," tuturnya.
Pembuatan biochar di Indonesia terus berkembang, sambungnya, baik yang skala kecil hingga pabrik berskala besar. Ini menunjukkan potensi biochar sebagai produk bernilai ekonomis yang dapat dimanfaatkan oleh siapapun.
"Petani kelapa sawit punya peluang untuk memanfaatkan biochar sebagai produk yang layak dipasarkan di sekitar tempat tinggal maupun pasar yang lebih luas,” terangnya.








Komentar Via Facebook :