Home / Sawit / Kala Perusahaan Kelapa Sawit Didorong Melantai di Bursa Saham
Kala Perusahaan Kelapa Sawit Didorong Melantai di Bursa Saham
Foto: Istimewa/katakabar.com.
Jakarta, katakabar.com - Perusahaan perkebunan kelapa sawit banyak beroperasi di Indonesia didorong agar semakin go public, terutama dengan cara melantai di bursa saham yang dikelola PT Bursa Efek Indonesia atau BEI.
“Perlu digarisbawahi o public bukan untuk mencari dana semata,” kata Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna, saat menyampaikan kata sambutan di acara penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding atau MoUntentang Peningkatan Pemahaman Pasar Modal, belum lama ini di Jakarta.
Penandatanganan MoU itu, dilansir dari laman mediaperkebunan.id, Jumat (26/9), adalah antara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI bersama PT BEI, dan ditujukan untuk mendorong industri kelapa sawit nasional agar memanfaatkan pasar modal.
Penandatanganan MoU dilakukan Sunandar, Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko BEI, Risa E Rustam, Direktur Keuangan Sumber Daya Manusia atau SDM, dan Umum BEI, dan Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono.
Lepas penandatangan MoU, dilanjutkan workshop 'Go Big With Go Public', yang dihadiri sekitar 40 peserta perusahaan anggota GAPKI dengan narasumber yang berkompeten, seperti Sofiyan Adhi KD, Head of Potential Listing Development BEI), Bernadus Sumargo, Senior Executive Director Mandiri Sekuritas.
Ada pula Kurniadi Patriawan, Direktur PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk, serta Evelyn Satyono yang saat ini diketahui dipercaya sebagai Head of Investor Relations PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk.
Menurut I Gede Nyoman, perusahaan sawit yang go public sebuah gerakan menuju pertumbuhan berkelanjutan, baik membangun kredibilitas, memperluas jaringan bisnis, serta membuka peluang baru baik di tingkat nasional maupun internasional.
Kata I Gede Nyoman, kerja sama ini menjadi langkah yang sangat penting untuk mendorong anggota GAPKI memanfaatkan pasar modal sebagai sarana pengembangan bisnis berkelanjutan, memperkuat daya saing global, serta meningkatkan kredibilitas industri sawit Indonesia.
"Kerja sama ini difokuskan pada upaya peningkatan pemahaman mengenai pasar modal dan penanaman modal serta bersinergi dalam memberikan informasi kepada perusahaan, menyelenggarakan seminar, lokakarya atau workshop, dan edukasi pasar modal," ujarnya.
Menurutnya, melalui go public diharapkan pasar industri kelapa sawit semakin dapat memberikan kontribusi nyata mendukung perekonomian yang berkelanjutan.
Di acara itu, dua perusahaan sawit anggota GAPKI yang hadir memberikan testimoni mengenai manfaat dan keuntungan yang telah dirasakan langsung setelah masuk ke bursa saham. Mulai dari proses persiapan go public yang harus dilakukan, tantangan yang dihadapi, hingga hal-hal paling hectic dalam proses tersebut.
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, berharap sharing pengalaman tersebut semakin menginspirasi perusahaan kelapa sawit anggota GAPKI lainnya untuk masuk ke bursa. Ia menyatakan, antusiasme perusahaan sawit untuk masuk ke bursa saham itu memang sangat bermanfaat.
Apalagi, jelasnga, akan banyak kontribusi positif yang dapat diperankan GAPKI bagi masyarakat, negara dan perekonomian nasional mengingat peran strategis industri sawit.
“Industri kelapa sawit merupakan salah satu pilar penting perekonomian Indonesia sekaligus penyedia lapangan kerja besar,” terang Eddy.
Saat ini, ulas Eddy, lebih dari 16 juta kepala keluarga menggantungkan hidupnya pada sektor ini. Memasuki semester I 2025, kinerja industri sawit menunjukkan trend positif.
Ia memaparkan produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil atau CPO dan minyak inti sawit atau palm kernel oil atau PKO yang meningkat dari 26,18 juta ton di tahun 2024 menjadi 27,89 juta ton di tahun 2025 atau naik 6,5 persen. Sementara, tuturnya, konsumsi dalam negeri juga tumbuh 6,2 persen, dari 11,48 juta ton menjadi 12,27 juta ton.
“Fakta tersebut menegaskan Indonesia tidak hanya sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, tetapi konsumen terbesar. Kontribusi industri ini terhadap pasar minyak nabati global sangat signifikan,” bebernya.
Ketua Umum GAPKI selanjutnya menekankan, seiring perkembangan global, industri sawit untuk semakin transparan untuk berdaya saing, dan berkelanjutan.
Diketahui, kerja sama GAPKI dengan BEI dinilai sebagai langkah penting untuk:
1. Meningkatkan literasi dan kesadaran anggota GAPKI terhadap pembiayaan melalui pasar modal.
2. Membuka akses pendanaan jangka panjang yang mendukung ekspansi perusahaan dan memperkuat kredibilitas.
3. Mendorong tata kelola perusahaan yang lebih baik sesuai standar indeks pasar.
“Kami meyakini keterlibatan pasar modal akan memperkuat posisi industri sawit Indonesia di kancah global serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang kondusif dan berkelanjutan,” imbuhnya.
“Atas nama GAPKI, kami menyampaikan terima kasih kepada Bursa Efek Indonesia atas dukungan dan kerja sama yang telah terjalin,” timpanya.
Setelah acara penandatanganan MoU dilanjutan dengan Go Public Workshop sebagai program edukasi BEI yang bertujuan mendorong perusahaan nasional, termasuk anggota GAPKI, memahami lebih dalam proses pencatatan saham.
Program ini tidak hanya menyiapkan perusahaan secara teknis, tetapi juga menghadirkan testimoni langsung dari pelaku industri yang telah melalui proses go public. Tujuan utama program ini adalah menciptakan ekosistem industri sawit yang lebih terbuka, kredibel, dan berdaya saing global dengan dukungan pasar modal Indonesia.








Komentar Via Facebook :