Manggar, katakabar.com - Perusahaan sawit swasta nasional bernama PT Austindo Nusantara Jaya Tbk.(ANJ) ternyata memiliki pembangkit listrik biogas yang berbahan limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME).
PLT POME yang dikelola PT Austindo Aufwind New Energy, anak usaha ANJ jadi salah satu alternatif energi baru terbarukan (EBT) bagi Indonesia, terletak di area perkebunan kelapa sawit milik ANJ di Kabupaten Belitung Timur (Beltim), Pulau Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka dan Belitung (Babel).
"Ini pembangkit listrik tenaga biogas perdana di Indonesia," kata Manager Operasional Pembangkit Listrik Tenaga Biogas PT Austindo Aufwind New Energy, Ipan S. Manalu, dilansir dari laman RRI, Jumat (30/8) sore.
Hal tersebut diungkapkan Ipan saat menerima para tamu dari acara "Site Visit, Kontribusi Sawit untuk APBN dan Perekonomian' di Pulau Belitung" yang didukung penuh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) belum lama ini.
Ipan S Manalu menjelaskan, PT Austindo Aufwind New Energy merupakan perusahaan yang mengelola PLT Biogas yang saat ini memiliki kapasitas listrik yang dihasilkan sebesar 1,8 Mega Watt.
Listrik sebanyak itu, terang Ipan S Manalu, mampu mengalirkan listrik ke 2.000 hingga 2.500 rumah tangga di tiga kecamatan di Pulau Belitung.
PLT POME tersebut, ucapnya, mulai beroperasi secara komersial di tahun 2014. Tapi, hingga kini masih menghadapi tantangan berupa masih rendahnya harga listrik yang dibeli oleh pemerintah.
"Biaya produksi listrik yang kami hasilkan sekitar Rp600 hingga Rp700 per kwh, tapi harga yang dibeli PLN hanya Rp975 per kwh," beber Ipan.
Lantara ketentuan harga tersebut, ulas Ipan, masih mengacu pada Peraturan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2012.
Dia berharap pemerintah bisa memberikan harga yang lebih baik pada listrik tenaga biogas. Apalagi saat ini seiring dengan upaya pemerintah menggalakan sumber EBT guna mengurangi emisi karbon.
Diakaui Ipan, insentif yang diberikan pemerintah melalui kementerian keuangan cukup membantu. Insentif tersebut berupa pembebasan Pajak Penghasilan (PPh 23).
"Kami berharap ada kelancaran di Bea Cukai, sebab kita masih menggunakan mesin dan teknologi dari Jerman. Misalnya, kita belum memiliki gas engine produksi nasional," jelasnl Ipan.
Cerita Ipan, biogas yang dihasilkan berupa gas metana yang berasal dari proses pembusukan limbah cair pabrik kelapa sawit.
Biogas metana tersebut selanjutnya melalui proses pembakaran untuk menghasilkan listrik.
Pembangkit listrik tenaga biogas di Belitung ini sangat mungkin meningkatkan kapasitas produksi listriknya. Meski tidak besar hanya sekitar 20 hingga 30 persen.
"Tergantung limbah cair yang dihasilkan pabriknya, kalau kapasitas pabriknya lebih dari 1.200 ton per hari, kapasitasnya bisa bertambah. Tapi tidak banyak, mungkin hanya 20 hingga 30 persen," tandasnya.
Mantap Anak Perusahaan Swasta Nasional Punya PLT POME Dijual ke PLN
Diskusi pembaca untuk berita ini