https://www.katakabar.com

  • Beranda
  • Pilihan
  • Sumut
  • Riau
  • Hukrim
  • Lingkungan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kabar Khusus
  • Kesehatan
  • Sawit
  • Lainnya
    • Pendidikan
    • Internasional
    • Editorial
    • Ekonomi
    • Advertorial
    • Tekno
    • Lifestyle
    • Tepian Kata
    • Serba Serbi
    • Wisata
    • Nusantara
    • Nasional
    • Katakabar TV
    • Mitos dan Fakta
  • Buku

  • Tentang Kami
  • Disclaimer
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Privacy

https://www.katakabar.com

Privacy     Info Iklan     Pedoman Media Siber     Redaksi     Disclaimer     Tentang Kami    

https://www.katakabar.com

  • Home
  • ";
  • Sumut
  • Riau
  • Hukrim
  • Lingkungan
  • Olahraga
  • Opini
  • Kabar Khusus
  • Kesehatan
  • Sawit
  • Lainnya
    • Pendidikan
    • Internasional
    • Editorial
    • Ekonomi
    • Advertorial
    • Tekno
    • Lifestyle
    • Tepian Kata
    • Serba Serbi
    • Wisata
    • Nusantara
    • Nasional
    • Katakabar TV
    • Mitos dan Fakta
  • Buku

Home

Trending

Pilihan

Katakabar TV

Home / Ekonomi / Nilai Tukar Rupiah Diprediksi Bakal Kembali Melemah, Ini Pemicunya

Nilai Tukar Rupiah Diprediksi Bakal Kembali Melemah, Ini Pemicunya


, 07 Juni 2020 | 19:56 WIB  

Penulis :
Editor : Sany Panjaitan
Nilai Tukar Rupiah Diprediksi Bakal Kembali Melemah, Ini Pemicunya

Rupiah. ©2013 Merdeka.com

www.katakabar.com | Artikel ID: 19275 | Artikel Judul: Nilai Tukar Rupiah Diprediksi Bakal Kembali Melemah, Ini Pemicunya | Tanggal: , 07 Juni 2020 - 19:56

Katakabar.com - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira memprediksi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) akan kembali tertekan.

"Rupiah diuntungkan dengan adanya demonstrasi besar-besaran di AS, efek sengketa AS dan China terkait masalah Hong Kong, dan ancaman Trump untuk keluar dari WHO," kata Bhima kepada Liputan6.com, Minggu (7/6).

www.katakabar.com | Artikel ID: 19275 | Artikel Judul: Nilai Tukar Rupiah Diprediksi Bakal Kembali Melemah, Ini Pemicunya | Tanggal: , 07 Juni 2020 - 19:56

Bhima mengatakan, menguatnya Rupiah juga didukung oleh situasi geopolitik yang tak menentu dengan epicentrum di Amerika Serikat yang membuat pelaku pasar global mulai meninggalkan USD.

"Dolar index tercatat terkoreksi sebesar -1,87 persen dalam sepekan terakhir menjadi level 96,5. Dolar index adalah perbandingan USD dengan 6 mata uang negara lain termasuk Euro dan Yen Jepang," ujarnya.

Sehingga pelemahan USD membuat aliran dana asing masuk ke negara berkembang. Oleh karena itu, dia menyebut masih terlalu dini sentimen positif Rupiah, karena faktor dalam negeri seperti pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Jika dilihat dari situasi tersebut, Bhima menyarankan agar pemerintah sebaiknya melakukan perencanaan protokol kesehatan yang lebih baik, dan stimulus harus diarahkan untuk menyiapkan pelaku usaha memasuki fase pelonggaran, serta investor juga perlu mencermati penanganan covid-19 di Indonesia maupun dunia.

Dia menyimpulkan bahwa Rupiah belum tentu akan menguat, karena jika demontrasi di Amerika Serikat sudah mereda, kemungkinan dolar akan melambung lagi.

"Belum tentu (Rupiah terus menguat), pemerintah harus waspadai pembalikan arah dana asing, dolar AS bisa rebound lagi," pungkasnya.

Sebelumnya, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat siang melanjutkan penguatan dan menembus ke level baru psikologis di bawah Rp14.000 per USD. Ini adalah level terkuat sejak era pandemi Corona.

Jumat siang, di pasar spot, rupiah menguat ke Rp13.885 per USD, dibandingkan saat pembukaan perdagangan pagi ini yang sebesar Rp14.075 per USD.

Ekonom PT Bank Permata Josua Pardede berpendapat, berlanjutnya penguatan rupiah hari ini disebabkan sentimen domestik menyusul penerapan masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta, yang diharapkan mampu mendorong produktivitas kegiatan ekonomi.

“Jika implementasi PSBB terbatas yang nantinya akan diikuti juga oleh implementasi normal baru dapat berjalan dengan baik tanpa menimbulkan kasus baru lagi di kemudian hari, maka aktivitas perekonomian pada kuartal III tahun 2020 diperkirakan akan membaik dibandingkan kuartal II tahun 2020 yang diperkirakan akan mengalami kontraksi,” ujar dia, dikutip dari Antara, Jumat (5/6).

Selain itu, dari sisi eksternal, mata uang “greenback” dolar AS juga telah melemah 1,56 persen dalam sepekan terakhir.

Pelemahan mata uang paling berpengaruh di dunia itu disebabkan oleh terakumulasinya ekspektasi dari para investor setelah pembukaan kembali kegiatan ekonomi di berbagai negara Asia.

"Terbukti dari sisi pasar Asia, sebagian besar mata uang Asia di minggu ini mengalami penguatan, kecuali Yen. Penguatan lebih lanjut dari Rupiah juga akibat adanya investor yang memindahkan asetnya dari pasar India, akibat adanya penurunan peringkat (downgrade rating) dari BAA2 menjadi BAA3 dan menurunnya prospek (outlook) dari stabil menjadi negatif," ujar Josua.

 

Sumber: Liputan6.com


TOPIK TERKAIT

# Nilai Tukar Rupiah Diprediksi Bakal Kembali Melemah# Ini Pemicunya
Komentar Via Facebook :

BERITA TERKAIT

Rektor

TERPOPULER

  • Eksperimen Senpi Gagal, Pelajar SMP Islamic Center Siak Meninggal karena Tertembak

    Rabu, 08 Apr 2026 | 14:21 WIB
  • FPAN Diminta Tak Catut Nama PPPK Paruh Waktu dalam Aksi Demo di BPJSTK Sumbagut

    Rabu, 01 Apr 2026 | 21:41 WIB
  • RUPS Bank Sumut 2026, Pemda Tambah Modal, Dorong Akselerasi Ekonomi Daerah

    Senin, 06 Apr 2026 | 21:45 WIB
  • KPK Monitor Rp142 M, Sejak Desember 2025, di Labuhanbatu, Masyarakat Benarkah!

    Minggu, 05 Apr 2026 | 19:12 WIB
  • Warga Gajah Sakti dan Titian Antui Dikerangkeng Polisi Gegara Jualan Pil Ekstasi

    Kamis, 02 Apr 2026 | 19:28 WIB
Tuk Malim Daiwah



  • Tentang Kami     Disclaimer     Redaksi     Pedoman Media Siber     Info Iklan     Privacy    

    katakabar.com 2019 - - All Right Reserved Desain by : Aditya

    Network :