Home / Lingkungan / Satgas Karhutla Sebar 4,8 Ton Garam ke Langit Riau
Satgas Karhutla Sebar 4,8 Ton Garam ke Langit Riau
Persiapan operasi TMC. Tampak pesawat memuat garam yang akan disebar ke langit potensial hujan. Net.
Pekanbaru, katakabar.com - Satuan tugas kebakaran hutan dan lahan Provinsi Riau menyatakan telah menyebar 4,8 ton garam sebagai upaya menghasilkan hujan buatan melalui operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC).
Angka itu tercatat melalui operasi enam kali penerbangan ke langit Lancang Kuning tersebut dalam kurun waktu sepekan terakhir.
Hujan buatan melalui operasi TMC di provinsi Riau dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berkolaborasi dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Keduanya tergabung dalam Satgas Karhutla Riau.
Direktur Pengendalian Karhutla KLHK, Basar Manullang di Pekanbaru, Kamis mengatakan operasi hujan buatan mulai berlangsung di Riau sejak 14 Mei 2020 lalu. Rencananya, operasi serupa melibatkan aparat TNI Angakatan Udara Lanud Roesmin Nurjadin itu berlangsung hingga 28 Mei 2020 mendatang.
"Rekayasa hujan kita lakukan setelah mendapat rekomendasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) setelah melihat potensi pembentukan awan hujan masih besar. Nah, rekayasa hujan ini sengaja kita lakukan lantaran mayoritas Titik Pemantauan Tinggi Muka Air Tanah (TP-TMAT) lahan gambut di provinsi Riau sudah pada level siaga bahkan berbahaya," katanya.
Dia menjelaskan jika operasi hujan ini adalah bagian dari upaya pencegahan, bukan pemadaman. Lantaran sifatnya pencegahan, maka upaya ini dilakukan saat musim hujan atau ketika masih ada awan hujan.
"Jadi, selain akan membasahi gambut, juga akan mengisi embung serta kanal yang ada di Riau," ujarnya.
Sesuai prediksi, dia mengatakan Riau akan memasuki musim kemarau pada Juni hingga Agustus mendatang. Sehingga, ketika musim penghujan tiba diharapkan embung dan kanal tidak kering. Ini akan memudahkan tim darat untuk melakukan pemadaman jika terjadi kebakaran.
"Apa yang kami lakukan ini adalah instruksi dari Ibu Menteri LHK, biar gambut selalu basah demi mencegah karhutla di Riau. Rekayasa hujan ini bagian dari ikhtiar, selain kerja tim lapangan di darat yang setiap hari selalu melakukan patroli dan ground check hotspot," ujarnya.
Setelah penaburan NaCl dilakukan, citra satelit TRMM kemudian menunjukan kalau rekayasa hujan tadi menghasilkan 17,1 juta m2 air yang turun pada daerah-daerah dengan potensi awan hujan terbesar.
Rekayasa hujan juga mulai berhasil membasahi gambut dengan intensitas sedang hingga tinggi di sebagian besar wilayah Riau seperti Kabupaten Siak, Bengkalis, Kepulauan Meranti, Pelalawan dan Indragiri Hilir.
"Angka 17,1 juta m2 tadi cukup berhasil menaikkan TMAT dari level bahaya ke aman," wajah Basar nampak senang.
Rekayasan hujan ini kata Basar tidak hanya dilakukan di Riau, tapi juga di provinsi-provinsi yang sangat rawan karhutla. Di Sumatera, rekayasa hujan juga dilakukan di Jambi dan Sumatera Selatan.
Pesawat Casa A-2107 milik TNI AU yang dipakai membawa garam dan menyemainya di sekitar awan hujan dengan ketinggian sekitar 10.000-12.000 feet.
Menyemai garam dengan mendekati awan jenis Cumulus kata Basar beresiko tinggi. Kru pesawat akan berusaha secepatnya menyemai garam dan tidak jarang harus berhadapan langsung dengan faktor cuaca yang sulit diprediksi.
Data satelit menunjukan, jumlah hotspot di provinsi Riau dari tanggal 1 Januari-20 Mei 2020, mencapai 271 titik dengan confident 80-100 %. Jumlah ini menurun jika dibandingkan dengan periode sama di tahun lalu yang mencapai 503 titik.
"Saat ini hotspot enggak ada. Mudah-mudahan kita bisa menjaga dengan kerjasama tim yang solid. Pesan Ibu Menteri LHK pada kami, meski dalam suasana Covid-19, pekerjaan lapangan apalagi yang berkaitan dengan antisipasi Karhutla harus terus dilakukan. Sampai hari ini, seluruh tim darat dari Manggala Agni tetap bekerja, tentu dengan tetap menerapkan protokol Covid. Kita terus bekerja dengan semangat demi Merah Putih," ujar Basar.



Komentar Via Facebook :