Kalau sudah dikembangkan dan kemudian beredar di pasaran, pelaku sawit sudah tak takut lagi dengan melonjaknya Asam Lemak Bebas (ALB) di Tandan Buah Segar (TBS). 

Sebab Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan telah menghasilkan alat yang bisa menjaga kadar Free Fatty Acid (FFA) itu tetap rendah meski telah dibiarkan dua hari. 

Itulah yang kelihatan dalam hasil risetnya yang sudah dibukukan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) pada 2020 lalu,

Iwan Sugriwan, pimpinan tim riset LPPM-ULM ini mengatakan bahwa tetap rendahnya FFA itu, tak lain lantaran rekayasa penampungan sementara TBS (chamber). 

Seperti biasa, BPDPKS membukukan hasil riset ini lantaran Badan Layanan Umum (BLU) Kementerian Keuangan inilah yang membiayai riset Iwan dan kawan-kawan.    

Adapun ide membikin Chamber ini muncul kata Iwan lantaran mereka menengok bahwa industri CPO di Indonesia sesungguhnya menghadapi masalah kualitas, khususnya kandungan FFA. 

Faktor yang membikin meningkatnya FFA itu ada pada masa tunggu; antara pemanenan, waktu pengolahan dan saat penyimpanan CPO. 

Umumnya, TBS hasil panen diangkut pakai truk, lalu dihampar pada satu area dekat loading ramp. Di sana, TBS menunggu untuk diolah. 

Baca juga: Sekali Keker, 6 Macam Kualitas TBS Langsung Ketahuan

Nah, selama ini orang tak tahu kalau sebenarnya, pada saat pemanenan dan pengangkutan ternyata telah terjadi perlukaan (damage) pada TBS. Entah itu tergores atau memar akibat bantingan. Dengan kondisi seperti ini, laju pembentukan FFA meningkat. 

Untuk mengatasi persoalan ini, Iwan dan kawan-kawan pun membikin prototipe chamber dengan tiga bagian utama; boiller penghasil uap panas (steam), kolom pengatur udara, dan ruang penampungan sementara TBS. 

Boiller didisain dengan dua tank penampung air yang saling berhubungan oleh jaringan pipa. Api pembakaran kontak dengan jaringan pipa ini. 

Boiller juga memproduksi dua panas; panas dengan uap air, dan panas udara kering yang masing-masing dihubungkan dengan pipa menuju pengatur udara. 

Pengatur udara ini berfungsi untuk menghubungkan antara steam dengan chamber. Temperatur dalam chamber diatur pakai sistem kendali elektronik berbasis mikrokontroler ATMega16APU. 

Kalau misalnya temperatur yang diindera oleh sensor SHT-11 dan LM35 melebihi set point --- 50 0C, 60 0C dan 70 0C --- maka panas dalam chamber dibuang (blow out) melalui kipas yang ada di chamber. 

Ukuran chamber adalah P= 202 cm, L= 123 cm dan T= 123 cm. Bagian dalam chamber dibikin rak penampung TBS berkapasitas sekitar 500 kilogram dan di bagian samping dipasang 6 buah kipas. 

Sistem alat ukur untuk pemantauan dan pengendalian temperatur ditanam (embedded) pada chamber telah dilengkapi dengan sistem akuisisi data. Dengan begitu, pemantauan, selain dalam LCD 16x4 karakter, juga dalam layar monitor PC/Laptop. 

Data hasil monitoring temperatur dipantau secara real time. Data ini bisa disimpan dalam format excell dan database.

Sekarang, masuk pada tahap ujicoba. Biar suhu set point terjaga, chamber 50 0C pakai 1 kompor gas, chamber 60 0C pakai 2 kompor gas dan yang 70 0C pakai 3 kompor gas. Lama pemanasan 1 sampai dengan 4 jam. 

TBS dikelompokkan menjadi 5 sample; sample 1 sebagai kontrol (tanpa pemanasan), sample 2 dengan pemanasan 1 jam, sample 3 dengan pemanasan 2 jam, sample 4 dengan pemanasan 3 jam, dan sample 5 pemanasan 4 jam. 

Setiap dua jam, TBS yang sudah dipanaskan diukur nilai FFA-nya sampai dengan 48 jam setelah dipanaskan. 

Hasilnya, dengan pemanasan 60 0C dan lama 3 jam dapat menurunkan nilai FFA TBS dari sekitar 12% menjadi 4%. 

Dan ketiga dibiarkan pada udara terbuka selama 48 jam atau dua hari, nilai FFA TBS yang dipanaskan dengan suhu 60 0C selama 4 jam kembali naik menjadi 10%, yang dipanaskan pada suhu 60 0C selama 3 jam kembali naik menjadi 8%. Sementara TBS yang tanpa perlakuan pemanasan ALB nya 12%.