Jakarta, katakabar.com - Saham Nvidia Corporation (NASDAQ: NVDA) kembali menjadi sorotan pelaku pasar setelah mencatat kenaikan sekitar 12 persen sejak awal tahun. Menariknya, kenaikan harga saham tersebut justru diiringi dengan perbaikan valuasi, sebuah kondisi yang jarang terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Hal ini terjadi karena pertumbuhan laba Nvidia melaju lebih cepat dibandingkan apresiasi harga sahamnya, sehingga membuat valuasi perusahaan menjadi lebih menarik bagi investor.
Beberapa tahun terakhir, Nvidia identik dengan lonjakan harga saham yang didorong oleh euforia kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Namun kini, narasi investasi mulai bergeser.
Jika sebelumnya investor mempertanyakan apakah saham Nvidia sudah terlalu mahal, kini banyak analis menilai bahwa pertumbuhan fundamental perusahaan berhasil mengejar bahkan melampaui kenaikan valuasi tersebut.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah forward price-to-earnings (forward P/E) Nvidia. Rasio ini kini berada di kisaran 23,2 kali, turun signifikan dibandingkan hampir 40 kali pada pertengahan 2025. Penurunan rasio ini bukan disebabkan oleh pelemahan harga saham, melainkan karena ekspektasi pertumbuhan laba perusahaan yang meningkat secara signifikan.
Kondisi tersebut memberikan sinyal Nvidia tidak lagi hanya diperdagangkan berdasarkan optimisme pasar terhadap AI, tetapi juga didukung oleh peningkatan kinerja bisnis yang nyata. Bagi investor jangka panjang, kombinasi antara pertumbuhan laba yang kuat dan valuasi yang semakin rasional menjadi salah satu indikator penting dalam menilai prospek sebuah perusahaan.
Pertumbuhan Laba Masih Sangat Kuat
Kinerja keuangan Nvidia menjadi alasan utama di balik optimisme tersebut. Dalam laporan keuangan terbarunya, perusahaan berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih lebih dari tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh tingginya permintaan terhadap chip AI yang digunakan untuk pusat data (data center), komputasi awan (cloud computing), hingga pengembangan model AI generatif.
Selain laba yang meningkat pesat, proyeksi pendapatan Nvidia juga terus mengalami revisi ke atas. Perusahaan diperkirakan mampu membukukan pendapatan sekitar US$91 miliar pada kuartal berikutnya, mencerminkan permintaan yang masih sangat kuat terhadap produk-produknya.
Permintaan tersebut berasal dari berbagai perusahaan teknologi global yang terus meningkatkan investasi pada infrastruktur AI. Raksasa teknologi seperti Microsoft, Amazon, Alphabet, Meta Platforms, hingga OpenAI masih menjadi pelanggan utama GPU Nvidia untuk membangun pusat data yang mampu menjalankan model AI berskala besar.
Dominasi di Industri Chip AI
Keunggulan Nvidia tidak hanya berasal dari kualitas produknya, tetapi juga dari ekosistem perangkat lunak yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Platform CUDA, jaringan pengembang yang luas, serta inovasi berkelanjutan membuat perusahaan memiliki posisi yang sulit disaingi oleh kompetitor.
Meski perusahaan seperti AMD, Intel, hingga sejumlah produsen chip asal Asia terus mengembangkan solusi AI mereka, Nvidia masih memimpin pasar akselerator AI dengan pangsa pasar yang dominan. Posisi tersebut memberikan keunggulan kompetitif yang kuat sekaligus menjadi penggerak utama pertumbuhan pendapatan perusahaan.
Selain sektor pusat data, Nvidia juga terus memperluas peluang bisnis melalui otomotif, robotika, komputasi ilmiah, hingga AI industri. Diversifikasi ini membuka peluang pertumbuhan baru yang berpotensi menjaga momentum bisnis dalam jangka panjang.
Valuasi Dinilai Semakin Rasional
Salah satu perubahan terbesar dalam pandangan investor terhadap Nvidia adalah aspek valuasi. Pada puncak reli AI, banyak investor menganggap saham Nvidia diperdagangkan pada harga yang terlalu premium sehingga rentan terhadap koreksi.
Tetapi kondisi tersebut kini mulai berubah. Dengan laba yang meningkat jauh lebih cepat dibandingkan harga saham, valuasi Nvidia menjadi lebih masuk akal dibandingkan beberapa kuartal sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu memenuhi ekspektasi pasar melalui pertumbuhan bisnis yang nyata, bukan sekadar sentimen.
Meski demikian, sejumlah analis tetap mengingatkan bahwa saham Nvidia masih memiliki tantangan. Persaingan di industri chip AI semakin ketat, sementara perusahaan juga harus terus mempertahankan inovasi agar mampu menjaga posisi dominannya.
Selain itu, belanja modal perusahaan teknologi untuk infrastruktur AI akan menjadi faktor penting yang menentukan laju pertumbuhan Nvidia pada tahun-tahun mendatang.
Laba Melonjak, Valuasi Makin Murah Nvidia Kembali Jadi Sorotan Investor
Diskusi pembaca untuk berita ini