Biomassa
Sorotan terbaru dari Tag # Biomassa
Tentang Ragam Manfaat Biomassa Kelapa Sawit
katakabar.com - Pemanfaatan biomassa sawit menunjukkan tanaman ini komoditas bernilai strategis tinggi dan punya karakteristik berkelanjutan. Di awal perkembangan industri minyak sawit di Indonesia, biomassa kelapa sawit baik berupa limbah cair seperti palm oil mill effluent (POME) maupun limbah padat seperti tandan kosong, serat, pelepah daun, dan cangkang belum dimanfaatkan secara optimal dan hanya dianggap sebagai residu produksi. Seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri berkelanjutan biomassa sawit kini telah memiliki nilai guna strategis yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih baik. Jurnal PASPI Monitor (2020) berjudul Potensi Nilai Ekonomi Limbah Sawit yang Dapat Dinikmati oleh Petani Sawit Rakyat, menyebutkan pemanfaatan biomassa kelapa sawit menunjukkan tanaman tersebut komoditas dengan nilai strategis tinggi dan punya karakteristik berkelanjutan. Tak hanya menghasilkan produk utama (main product) seperti minyak sawit mentah (crude palm oil atau CPO) dan minyak inti sawit (crude palm kernel oil atau CPKO), limbah yang dihasilkan dari industri kelapa sawit memiliki nilai tambah dan manfaat signifikan dari aspek ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Berikut ini ulasan mengenai manfaat biomassa kelapa sawit ditinjau dari berbagai macam sektor mulai dari energi, peternakan, pangan, furniture, industri, hingga perkebunan. Sektor Energi: Di antara bentuk pemanfaatan biomassa sawit dengan nilai urgensi tertinggi bagi Indonesia adalah pengembangan energi terbarukan sebagai upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Industri minyak sawit memiliki karakteristik unik karena mampu menghasilkan bioenergi generasi pertama, kedua, dan ketiga. Ketiga jenis bioenergi tersebut bersifat produk gabungan (joint product) sehingga peningkatan produksi pada salah satu jenis biofuel berpotensi untuk mendorong peningkatan produksi jenis lain secara simultan. Pengolahan minyak sawit menghasilkan bioenergi generasi pertama berupa biodiesel (fatty acid methyl ester atau FAME) serta green fuel seperti solar sawit (green diesel), bensin sawit (green gasoline), dan avtur sawit (green avtur). Sedang, biofuel generasi kedua dan ketiga diperoleh dari pemrosesan biomassa kelapa sawit yang selama ini dianggap limbah sehingga pemanfaatannya lebih berkelanjutan dan mampu meminimalkan potensi konflik antara kebutuhan pangan dan energi (trade-off fuel-food). Biomassa sawit dapat diolah menjadi biofuel generasi kedua berupa bioetanol sebagai substitusi bensin serta energi listrik. Sumber biomassa tersebut berasal dari pelepah dan batang kelapa sawit hasil proses pruning dan replanting. Kemudian dari limbah pabrik berupa tandan kosong, serat, dan cangkang buah. Berdasarkan estimasi KL Energy Corporation (2007), setiap satu ton biomassa kering dapat menghasilkan 150 liter bioetanol. Dengan potensi biomassa mencapai 222,7 juta ton, produksi bioetanol berpotensi mencapai 33,4 miliar kiloliter. Selain itu, biomassa kelapa sawit berpotensi untuk menghasilkan energi listrik hingga 653 MW (PASPI, 2018). Pemanfaatan biomassa tidak terbatas pada bioetanol, tetapi dapat dikembangkan menjadi biogas, biopelet, biolistrik, dan biobara. Limbah cair sawit atau POME juga memiliki potensi sebagai sumber energi rendah emisi. Selama ini umumnya POME ditampung di kolam terbuka meski memiliki kandungan bahan organik yang sangat tinggi sehingga berpotensi untuk menghasilkan emisi metana apabila tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan pengolahan POME untuk mengurangi dampak lingkungan sekaligus menghasilkan biofuel generasi ketiga secara berkelanjutan. Teknologi yang dapat diterapkan mencakup (1) penangkapan gas metana (methane capture), (2) kultivasi mikroalga, dan (3) integrasi kedua metode tersebut. Teknologi methane capture memungkinkan POME diolah menjadi biogas atau listrik berbasis bioenergi. Dengan asumsi setiap 1 m³ POME dapat menghasilkan 28 m³ biogas maka potensi produksi biogas diperkirakan mencapai sekitar 4 miliar m³. Selain itu, POME dapat dimanfaatkan sebagai media kultivasi mikroalga yang kemudian diproses menjadi biodiesel. Mikroalga memiliki tingkat pertumbuhan sangat cepat dan mampu menggandakan biomassa dalam kurun waktu 24 jam sehingga menghasilkan rendemen minyak yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan sumber bahan baku biodiesel lain (Hadiyanto & Azim, 2012). Sektor Peternakan: Salah satu bentuk pemanfaatan lain dari biomassa sawit adalah pada sektor peternakan, khususnya untuk bahan pakan ternak. Limbah padat kelapa sawit seperti bungkil inti, ampas minyak, dan residu lain berpotensi untuk digunakan sebagai bahan campuran pakan ternak. Pemanfaatan limbah sawit tersebut dinilai dapat menekan biaya pakan dan meningkatkan keuntungan usaha peternakan, khususnya ternak kambing dalam skala komersial (Sianipar et al., 2003). Sektor Pangan: Di bidang pangan, biomassa kelapa sawit dapat dimanfaatkan lebih lanjut. Salah satunya melalui pengolahan batang kelapa sawit hasil kegiatan replanting menjadi gula merah berbasis sawit. Penelitian Agustira et al. (2019) menunjukkan bahwa satu batang pohon kelapa sawit dapat menghasilkan sekitar 5,5 liter nira selama periode produksi 30 hari. Selama masa produksi tersebut, estimasi hasil produksi mencapai sekitar 228 kilogram per hektare per hari gula merah sawit. Nilai ekonomi dari produk gula merah sawit diperkirakan memberikan pendapatan bersih sebesar Rp18 juta hingga Rp22 juta per hektare. Sektor Furniture: Batang kelapa sawit dari proses replanting memiliki potensi sebagai bahan baku industri kayu untuk pembuatan furniture, kayu lapis, maupun flooring (PASPI, 2020a). Nilai ekonomi relatif sebanding dengan kayu alam dengan kualitas menyerupai kayu kelas dua seperti meranti. Melalui proses pengawetan, kekuatan dan kualitas batang sawit dapat ditingkatkan. Selain itu, motif permukaan kayu sawit yang unik menjadi nilai tambah yang diminati pasar. Pemanfaatan limbah tanaman sawit lain dalam proses peremajaan meliputi pengolahan pelepah sawit (PASPI, 2020e). Selain dimanfaatkan dalam kegiatan agrikultur, pelepah sawit bisa diolah oleh rumah tangga petani menjadi produk sapu lidi. Nilai ekonomi produk sapu lidi tersebut berkisar antara Rp2.500 hingga Rp4.500 per unit. Saat ini produk sapu lidi tidak hanya dipasarkan di pasar domestik tetapi juga telah menembus pasar ekspor. Bahan lidi tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi produk kerajinan seperti piring anyaman yang memiliki harga jual sekitar Rp8.000 per unit. Sektor Industri: Cangkang kelapa sawit memiliki nilai kalor pembakaran yang cukup tinggi sehingga berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif. Melalui proses gasifikasi, cangkang sawit dapat menggantikan penggunaan solar untuk pemanasan agregat pada produksi hot mixed asphalt (PASPI, 2020e). Selain potensi energi, cangkang sawit dapat diolah menjadi asap cair yang digunakan sebagai bahan baku pada berbagai industri, termasuk produksi biodisinfektan yang memiliki prospek pasar signifikan. Sektor Perkebunan: Pemanfaatan limbah sawit tidak hanya terbatas pada sektor eksternal industri, tetapi dapat memberikan manfaat langsung bagi perkebunan kelapa sawit itu sendiri. Tandan kosong kelapa sawit dapat diaplikasikan kembali sebagai bahan organik untuk tanaman secara langsung sebagai mulsa maupun secara tidak langsung setelah melalui proses pengomposan menjadi pupuk organik. Selain limbah padat, limbah cair berpotensi untuk digunakan sebagai pupuk. Penelitian Widhiastuti et al. (2006) menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit dapat meningkatkan biodiversitas tanaman penutup tanah serta menurunkan pertumbuhan gulma pada perkebunan. Pengembalian bahan organik ke tanah merupakan langkah penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem tanah serta mempertahankan ketersediaan unsur hara dan bahan organik pada lahan kelapa sawit.
Solusi Berbasis Biomassa dari Thermax Dukung Dekarbonisasi Industri Indonesia
Jakarta, katakabar.com - Seiring dengan percepatan transisi energi bersih di Indonesia, PT Thermax International Indonesia atau PT TII, anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Thermax Group yang berbasis di India memainkan peran penting melalui solusi pemanas proses dan pembangkit listrik berbasis biomassa yang dirancang khusus untuk mendukung dekarbonisasi industri. Keahlian Thermax yang telah terbukti dalam teknologi energi terbarukan, khususnya pembakaran biomassa, memberikan alternatif andal bagi industri Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Dengan memanfaatkan potensi limbah pertanian yang melimpah di Indonesia, seperti serat kelapa sawit, cangkang inti sawit, tandan kosong, sekam padi, serpihan kayu, dan serbuk gergaji. Thermax membantu pelaku industri menurunkan biaya operasional, mengurangi emisi, serta memastikan keamanan energi jangka panjang. Mulai dari boiler/pemanas ukuran kecil untuk aplikasi pemanasan industri hingga boiler berkapasitas besar untuk pembangkit listrik, Thermax menawarkan solusi rekayasa dengan berbagai teknologi pembakaran canggih seperti: • Universal biograte • Reciprocating grate • Travelling grate • Under feed stoker • Fluidised bed • Bubbling bed • Chain grate Setiap konfigurasi dirancang sesuai dengan kebutuhan spesifik tiap industri, menawarkan tingkat otomasi yang bervariasi, efisiensi pembakaran tinggi, serta keandalan operasional. Teknologi lanjutan seperti reciprocating grate dan universal biograte bahkan mampu mengakomodasi variasi musiman bahan bakar biomassa dengan fleksibilitas yang unggul. Dukung Sektor-Sektor Strategis Indonesia Solusi biomassa dari Thermax telah mendukung berbagai sektor industri utama di Indonesia dalam upaya mengurangi emisi karbon dan meningkatkan efisiensi operasional, antara lain:
Biomassa Sawit Dukung Ketahanan Energi Berkelanjutan
katakabar.com - Indonesia punya potensi manfaat dari tanaman kelapa sawit berupa dukungan pencapaian ketahanan energi nasional yang berkelanjutan. Kelapa sawit telah memberikan manfaat yang besar bagi perekonomian Indonesia beberapa dekade terakhir. Lihat, hasil pengolahan kelapa sawit berupa minyak sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (PKO) menjadi produk ekspor andalan Indonesia dan menghasilkan devisa yang besar. Data GAPKI (2024) menunjukkan, volume ekspor CPO+CPKO Indonesia sepanjang tahun 2023 tercatat sebanyak 32,21 juta ton dengan total nilai ekspor sebesar US$30,32 miliar. Selain produk utama kelapa sawit tersebut yang memberikan nilai ekonomi yang besar, tapi produk samping atau limbah dari kelapa sawit memiliki potensi yang dapat dikembangkan, serta memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan. Dari tandan buah segar (TBS), hanya sekitar 20 hingga 22 persen yang dikonversi menjadi produk utama kelapa sawit, sedang sisanya bakal menjadi limbah (PASPI, 2021). Dengan pemanfaatan limbah kelapa sawit yang baik, semakin menunjukkan komoditas kelapa sawit Indonesia merupakan industri yang memiliki manfaat ekonomi yang besar dan berkelanjutan (sustainable). Salah satu pemanfaatan limbah sawit yang bernilai guna dan berkelanjutan tersebut adalah pemanfaatan biomassa atau limbah padat sawit sebagai biofuel generasi kedua.
Biomassa Lignoselulosa Buat Pakan Ternak Punya Tantangan Meski Potensi Melimpah
Jakarta, katakabar.com - Biomassa lignoselulosa adalah materi organik terbesar di bumi, menyimpan potensi signifikan untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Berkisar 50 persen dari biomassa ini berasal dari tanaman dengan produksi global mencapai 50 miliar ton per tahun, dan 123 juta ton diantaranya dari sektor pertanian.
Greenlabs Rilis G-Algae Untuk Carbondioksida Capture dan Biomassa
Bandung, katakabar.com - Green dan Gold Algae (G-Algae) inovasi Carbon Capture terbaru untuk air quality dan biomassa bekerja sama dengan Periset Biokimia ITB berhasil di instalasi di klien perdana PT Lokakarya Inovasi (Jubelo) Pionir teknologi Penangkapan dan Penyimpanan Karbondioksida (CCS) terbaru yang menggunakan bahan berbasis alga hijau (G-algae) dalam bioreaktor sedang dikembangkan di Indonesia melalui kolaborasi Greenlabs Indonesia dan Jubelo Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) teknologi CCS, salah satu teknologi mitigasi pemanasan global dengan mengurangi emisi CO2 ke atmosfer. Saat ini teknologi CCS sudah dikenal sejak lama oleh kalangan industri. Prosesnya meliputi pemisahan dan penangkapan CO2 dari sumber emisi gas buang, pengangkutan CO2 yang ditangkap ke lokasi penyimpanan (transportation), dan penyimpanan di tempat yang aman (storage). Pada pengembangan teknologi tersebut, Greenlabs mendapat klien utama, yakni Jubelo dalam pengembangan phototank Alga. Kolaborasi ini berupa Greenlabs yang inovasi alga bekerjasama dengan periset Biokimia ITB dan Jubelo menyediakan unit sensor. Selain itu, pembuatan photo tank penyerap CO2 ini didukung oleh Program Dana Pendampingan (Kedaireka) DIKTI Kementerian Pendidikan dan Ristek Tahun 2024. Pada 22 Maret 2024 lalu di Bandung, instalasi G-algae yang kedua berhasil dilakukan oleh Greenlabs dan Jubelo. Terlihat G-algae bekerja secara optimal dengan menyerap CO2 secara baik. Sedang, sebelumnya instalasi pertama G-algae dilakukan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Teknologi CCS menggunakan mikroalga hijau dengan spesies nannochloropsis yang memiliki Carbon Concentrating Mechanism (CCM) yang dapat menyerap polutan CO2 dan melepaskan oksigen O2. Melalui 200 L mikroalga mampu menyerap 10 hingga 20 kilogram CO2 per tahun atau setara dengan kemampuan 1 hingga 2 tanaman tingkat tinggi, serta sistem sensor untuk memantau kualitas udara sekitar. Phototank ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas udara di perkotaan dengan minimal 100 L x 2 untuk menyerap CO2 hingga 20 kilogram setiap tahunnya, dan meningkatkan kualitas udara di sekitarnya. Produk alga ini selain memiliki potensi estetika dan penyerap CO2, dapat dimanfaatkan menjadi biomassa seperti pupuk, biosilika, dan minyak. Dari alga tersebut, dalam waktu sekitar sebulan agar bisa menghasilkan produk lain berupa biomassa, dan bisa dimanfaatkan kembali. Teknologi ini bisa dipasang di berbagai tempat dan fasilitas umum seperti trotoar. Lalu, teknologi ini dapat mengarah pada bangunan atau infrastruktur ramah lingkungan yang berkelanjutan. Saat ini banyak institusi yang menginginkan bangunan hijau berkelanjutan, dan alga ini bisa menjadi alternatif. Kontak: info@glabsindonesia.com
'Hijaukan' PLTU, Indonesia Gencarkan Pemanfaatan Biomassa
Jakarta, katakabar.com - Bioenergi Indonesia punya potensi sangat besar sebagai sumber energi masa depan, pengganti energi fosil hampir di semua bidang, seperti transportasi, ketenagalistrikan, industri, dan rumah tangga. Khususnya pemanfaatan bionergi untuk produk biomassa bisa menjadi sumber energi yang lebih baik meningkatkan rasio elektrifikasi dan diproyeksikan membantu meningkatkan ketahanan energi nasional. "Indonesia memiliki potensi bioenergi sumber biomassa sangat besar setara dengan 56,97 GW listrik. Pada 2060, Indonesia bakal bangun lebih dari 700 GW pembangkit energi terbarukan. Di mana 60 GW dari pembangkit listrik bioenergi," ulas Ego Syahrial, Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI Bidang Strategi Percepatan Penerapan Energi Transisi dan Pengembangan Infrastruktur Energi, Ego Syahrial, lewat keterangan resmi, dilansir dari laman elaeis.co, pada Minggu (5/11). Tidak cuma pemanfaatan biomassa untuk pembangkit listrik, sumber daya ini bakal dioptimalkan melalui program co-firing biomassa untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap atau PLTU (Coal Fired Power Plant/CFPP) yang sudah ada. Penerapan co-firing telah dilakukan dari 2020 lalu, dengan blending rate 1 persen hingga 15 persen tergantung jenis boiler dan ketersediaan bahan baku. "Biomass co-firing diterapkan di 113 unit PLTU milik PLN di 52 lokasi, dengan total kapasitas 18.664 MW, menggunakan berbagai sumber biomassa, seperti serbuk gergaji, serpihan kayu, limbah sawit dengan tingkat pencampuran 5 persen hingga 15 persen," terangnya. Pembakaran bersama biomassa di PLTU yang ada bertujuan untuk memenuhi keekonomian penyediaan tenaga listrik, meningkatkan pangsa energi terbarukan dalam bauran energi nasional, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan "menghijaukan" PLTU lebih cepat. "Di tahum 2023, co-firing bakal diaplikasikan di 42 lokasi. Proyek ini dapat menghasilkan 2.740 GWh energi ramah lingkungan dan mengonsumsi 2,2 juta ton biomassa," ujarnya. Diketahui, hingga semester pertama tahun ini, co-firing telah diterapkan di 36 lokasi dan menghasilkan energi hijau sebesar 325 GWh, mampu mengurangi emisi sebesar 321 ktCO2. Total biomassa yang digunakan pada pembangkit listrik sebesar 306 kilo ton. Untuk mendukung pengembangan co-firing, Kementerian ESDM tengah membereskan peraturan menteri tentang penerapan co-firing pada PLTU yang sudah ada.
Kolaborasi Olah Limbah Kelapa Sawit Jamin Rantai Pasok Biomassa PLTU
Jakarta, katakabar.com - Kolaborasi dua perusahaan, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) dengan perusahaan pengolah limbah sawit, PT Utama Neo Futura guna menjamin pasokan biomassa ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) PLN Grup. "Kerja sama ini langkah akselerasi PLN EPI untuk pastikan ketersediaan biomassa. Kepastian ketersediaan pasokan tandan kosong sawit yang diolah menjadi biomassa salah satu langkah progresif," ujar Direktur Biomassa PLN EPI, Antonius Aris S, dilansir dari laman antaranews.com, pada Sabtu (19/8). Kata Antonius, selama ini penawaran berbasis tandan kosong sawit atau waste perkebunan kelapa sawit barangnya masih belum terlihat. Jadi, kalau sebulan dua bulan ini sudah ada barangnya perlu diapresiasi. "Limbah tandan kosong sawit ini nanti jadi salah satu bahan baku biomassa dan sudah lolos uji coba di PLTU," jelasnya. Menurutnya, setelah tandan kosong sawit tersedia untuk stok sudah diolah, PLN EPI segera melakukan uji coba tahap II, yakni penggunaan 50 hingga 100 ton biomassa dari tandan kosong sawit ke PLTU. “Kalau barangnya sudah ada di bulan Oktober 2023 nanti, itu kita uji di laboratorium lebih dulu. Kalau hasil laboratorium sudah masuk baru proses perjanjian uji coba 50 hingga 100 ton, begitu lolos dari masa uji coba baru bisa dilakukan perjanjian untuk proses selanjutnya," tegasnya. Kerja sama ini ditandai dengan ditekennya nota kesepahaman dari antara kesepakatan dengan kesiapan stok biomassa dilakukan dalam kurun waktu dua bulan. Lanjut Antonius, dengan adanya nota kesepahaman antara PLN EPI dengan PT Utama Neo Futura membantu kedua belah pihak untuk mendapatkan kepastian mengenai estimasi finansial hingga proses kerja yang diharapkan. “MoU ini mudah-mudahan jadi awal yang baik untuk pengelolaan besar dari limbah sawit,” harapnga. Komisaris PT Utama Neo Futura, Rengkuh Banyu Mahandaru menimpali, stok pasokan biomassa yang berasal dari limbah tandan kosong sawit bakal siap pada Oktober 2023 ini. Untuk awalannya, PLTU Sanggau di Kalimantan Barat dipilih jadi lokasi kerja pertama untuk proses uji coba hasil pengolahan limbah sawit PLTU ke depan diekspansi hingga ke PLTU Sintang Kalimantan Barat “Rencananya Oktober hingga November 2023 ini, kita sudah mulai trial untuk PLTU Sanggau dan PLTU Sintang meski masih melihat pengkondisian teknis lapangan lebih dulu,” ulasnya. Dalam hal ini tutur Mahandaru, PT Utama Neo Futura telah bekerja sama dengan pemilik perkebunan sawit untuk mengolah limbah sawitnya dengan potensi pasokan sebesar 750 ribu ton limbah tandan kosong sawit per tahunnya bakal diolah dan disalurkan ke PLTU. Sepanjang tahun 2023, PLN EPI telah melaksanakan 7 MoU dengan mitra strategis untuk pengembangan potensi biomassa di Indonesia dengan rencana volume terkontrak 1,4 juta ton biomassa di tahun ini. Dan hingga Juli 2023, realisasi volume penyediaan biomassa untuk 41 lokasi PLTU totalnya 483.791 ton. Dari pemanfaatan biomassa ini, pembangkit PLN Grup sudah mampu menghasilkan daya listrik energi hijau sebesar 520.445 MWh. Sedang realisasi pengurangan emisi mencapai 517.691 Ton Co2 melalui cofiring biomassa di PLTU. Menjaga Ketersediaan Bahan Bakar PT PLN (Persero) lewat Subholding PLN Energi Primer Indonesia (EPI) memastikan pasokan energi primer baik biomassa terjamin untuk mengamankan pasokan listrik nasional. Direktur Utama PLN EPI Iwan Agung Firstantara, di Jakarta awal Maret 2023 lalu menjelaskan, PLN Energi Primer mempunyai peran tata kelola pasokan energi primer untuk seluruh pembangkit listrik milik PLN mulai dari pengadaan di hulu, pengolahan, distribusi hingga pengembangan. "Lewat PLN EPI, pengadaan energi primer yang semula dilakukan masing-masing pembangkit, kini terkonsolidasikan di PLN EPI agar jaminan pasokan lebih aman dan lebih efisien," ujarnya lewat keterangan tertulisnya. Pengadaan energi primer yang terkonsolidasi ini ucapnya, membuat ketahanan pasokan di pembangkit berhasil menjaga hari operasi pembangkit (HOP) terbaik sepanjang sejarah. HOP batu bara pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) saat ini stok batu bara berada di 22 hingga 26 HOP. "Tugas utamanya EPI, security of supply. Kita tidak ingin adanya shortage batu bara seperti di tahun 2021. Semua kita pastikan aman," bebernya. Ketahanan pasokan berada di pasokan BBM dan LNG. Menurut Iwan, PLN EPI melakukan berbagai strategi untuk mengamankan pasokan dua energi primer tersebut untuk pembangkit dan saat ini posisinya aman. Untuk pengembangan bisnis perusahaan ke depan, Iwan mengatakan PLN EPI memegang peranan penting dalam menjaga pasokan biomassa. Ini juga sejalan dengan agenda transisi energi yang dilakukan PLN dengan mengurangi secara perlahan ketergantungan energi fosil dengan energi berbasis domestik. Dalam hal ini penggunaan biomassa dalam PLTU menggunakan teknologi co-firing menjadi fokus EPI dalam memastikan pasokan biomassa untuk PLTU aman. Pada 2025, PLN membutuhkan pasokan biomassa sebanyak 10,2 juta ton untuk 52 PLTU. Untuk itu, EPI menjamin pasokan dengan memastikan dari hulu hingga hilir pengelolaan biomassa ini. "Kami bekerja sama dengan BUMN maupun industri hutan energi untuk menjamin pasokan biomassa ini. Bahkan kami melibatkan masyarakat untuk bisa turut berkontribusi dalam memasok biomassa," ujar Iwan. Pada tahun ini, menurut dia, kebutuhan biomassa 34 PLTU sebanyak 1,08 juta ton di mana 100 persen produksi dari biomassa ini dipasok dari masyarakat melalui UMKM binaan PLN maupun kerja sama dengan pemda dan pemkot untuk mengolah limbah biomassa menjadi bahan baku co-firing. Dia menambahkan, banyak pasokan biomassa yang didapatkan dari masyarakat, seperti limbah pertanian dan perkebunan, limbah hutan masyarakat dari sisa penebangan maupun panennya dikumpulkan menjadi bahan baku biomassa. "Kita ciptakan ekonomi kerakyatan, jadi diharapkan masyarakat Indonesia menjadi makmur di sektor biomassa," sebutnya.