Gejolak Selat Hormuz Momentum Penguatan Industri Baja Nasional Ekonomi
Ekonomi
Senin, 13 April 2026 | 17:10 WIB

Gejolak Selat Hormuz Momentum Penguatan Industri Baja Nasional

Jakarta, katakabar.com - Gejolak geopolitik di kawasan Teluk, khususnya gangguan di Selat Hormuz, jadi momentum untuk memperkuat ketahanan dan daya saing industri baja nasional. Disrupsi jalur logistik global tidak hanya meningkatkan biaya energi dan distribusi, tetapi juga memicu perubahan arus perdagangan baja dunia. Merespons kondisi tersebut, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk/Krakatau Steel Group (KRAS) terus perkuat strategi melalui diversifikasi sumber pasokan, peningkatan efisiensi, serta penguatan rantai pasok yang lebih adaptif. Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Dr. Akbar Djohan, sekaligus jabat Chairman Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA) dan Chairman Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA), menegaskan momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat fundamental industri. “Situasi ini menjadi momentum untuk meningkatkan ketahanan industri baja nasional melalui efisiensi, keandalan pasokan, dan daya saing yang berkelanjutan agar arah Asta Cita Bapak Presiden Prabowo tetap terjaga,” ujar Dr. Akbar Djohan. Krakatau Steel juga mendorong dukungan kebijakan yang responsif, penguatan pengawasan perdagangan guna menjaga keseimbangan antara kelancaran pasokan dan perlindungan pasar domestik. Pengamat Industri Baja dan Pertambangan dari Steel & Mining Insights, Widodo Setiadharmaji, menyebut gangguan tersebut telah berkembang dari hambatan logistik menjadi disrupsi sistemik yang memengaruhi distribusi bahan baku dan produk baja secara global. Menurutnya, industri baja nasional kini menghadapi tekanan simultan. Di satu sisi, pasokan bahan baku semi-finished seperti slab dan billet berisiko terganggu akibat hambatan distribusi dari kawasan Timur Tengah. Di sisi lain, pergeseran arus perdagangan global berpotensi meningkatkan masuknya produk baja impor ke pasar domestik dengan harga kompetitif, sehingga menekan harga dan pangsa pasar produsen dalam negeri.

Emas dan Silver Dipandang Safe Haven di Tengah Gejolak Ekonomi Global, Ini Tanggapan Investor Bititme Ekonomi
Ekonomi
Jumat, 27 Maret 2026 | 20:38 WIB

Emas dan Silver Dipandang Safe Haven di Tengah Gejolak Ekonomi Global, Ini Tanggapan Investor Bititme

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas di pasar domestik terus menjadi perhatian masyarakat Indonesia sebagai salah satu instrumen “safe haven” dalam menjaga nilai kekayaan. Berdasarkan data platform Bittime, tren ini turut berdampak pada aset kripto berbasis emas, yakni Tether Gold ($XAUT), yang mencatatkan kenaikan harga sebesar 4,23% pada 25 Maret 2026 lalu. Aset emas saat ini dipandang sebagai jangkar stabilitas di tengah fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, serta dinamika geopolitik global yang tidak menentu. Kondisi ini menjadikan real world assets (RWA) sebagai opsi bagi investor ritel maupun institusi yang ingin memitigasi risiko penurunan daya beli akibat inflasi. Seiring dengan perkembangan teknologi finansial, minat terhadap komoditas fisik turut merambah ke sektor RWA dalam bentuk aset digital. Sejalan dengan ini, Bittime, platform perdagangan aset kripto yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) menunjukkan adanya lonjakan signifikan pada volume perdagangan harian di platformnya. Di mana, nilai volume perdagangan $XAUT dan $SLVON tercatat meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat dalam beberapa hari terakhir. Hal ini mengindikasikan sebagian investor kini memanfaatkan efisiensi aset digital untuk mendapatkan kemudahan, dan nilai nilai intrinsik aset itu sendiri. Fenomena ini juga mendapat perhatian di platform media sosial X (Twitter) milik Bittime. Para investor turut membagikan pendapat mereka mengenai stabilitas harga emas merespons keadaan geopolitik di Timur Tengah yang saat ini sedang memanas, pada salah satu unggahan mereka. Para investor memandang aset digital berbasis emas seperti $XAUT ini sebagai instrumen lindung nilai (hedging) yang populer karena menawarkan stabilitas fisik dengan fleksibilitas perdagangan aset kripto. Salah satu investor, EshanNFts, memberikan perspektifnya mengenai popularitas perdagangan $XAUT dan $SLVON saat ini. Ia menilai bahwa, aset digital seperti emas dan silver cenderung dipandang sebagai aset stabil di tengah gejolak geopolitik saat ini. Apalagi, aset-aset berbasis RWA tersebut dapat dengan mudah diakses dalam bentuk aset kripto yang fleksibel, dan dimanfaatkan para trader untuk mendapatkan profit cepat. Tetapi, investasi sebaiknya tidak berdasar pada tren, melainkan pemahaman dan fundamental di baliknya. Perlu dipahami bahwa aset kripto mengandung risiko tinggi, termasuk fluktuasi harga dan risiko likuiditas yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Oleh karena itu, sangat penting bagi setiap investor untuk terus melakukan riset mandiri dan berdiskusi dengan komunitas terpercaya sebelum mengambil keputusan investasi.

Dominasi BTC dan USDT Bittime Jadi Sorotan di Tengah Tekanan Politik Trump dan Gejolak Minyak Dunia Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 24 Maret 2026 | 12:00 WIB

Dominasi BTC dan USDT Bittime Jadi Sorotan di Tengah Tekanan Politik Trump dan Gejolak Minyak Dunia

Jakarta, katakabar.com - Kondisi ekonomi global saat ini tengah berada pada fase penuh ketidakpastian yang dipicu oleh kombinasi tekanan politik. Baik dari kebijakan domestik Amerika Serikat dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Bertepatan dengan ini, daily trading Volume di Bittime menunjukkan dominasi aset Bitcoin dan USDT yang masih mendominasi perdagangan aset kripto di Indonesia. Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka terus mendesak Bank Sentral AS atau The Fed untuk segera menurunkan suku bunga guna meringankan beban utang nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Data dari Coinvestasi menunjukkan, Trump menilai kebijakan suku bunga tinggi yang bertahan saat ini justru merugikan ekonomi dan berpotensi mengganggu keamanan nasional. Aspirasi ini muncul dengan harapan bahwa bunga yang lebih rendah akan meningkatkan likuiditas pasar, yang pada akhirnya dapat mengalirkan dana ke aset investasi seperti aset kripto. Tetapi, keinginan politik tersebut berbenturan dengan kenyataan pahit di lapangan akibat konflik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan ini telah menyebabkan fluktuasi tajam pada harga minyak mentah dunia yang sempat menyentuh angka 100 dolar AS per barel. Sedang, berdasarkan data dari Cointelegraph, kenaikan harga komoditas energi ini memicu ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, sehingga pasar justru mulai mempertimbangkan kemungkinan The Fed akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya demi mengontrol laju harga barang. Situasi makroekonomi yang tidak menentu ini secara langsung berdampak pada pergerakan harga Bitcoin ($BTC) yang sempat mengalami koreksi cukup dalam hingga ke level $68.160 akibat aksi jual massal di pasar global. Di tengah gejolak harga internasional tersebut, aktivitas perdagangan di dalam negeri tetap menunjukkan tren yang menarik, terutama dalam penggunaan aset stabil atau stablecoin. Platform perdagangan Bittime mencatatkan bahwa $BTC dan $USDT tetap menjadi aset kripto dengan volume perdagangan tertinggi atau top trading assets bagi para investor. Fenomena ini menunjukkan meskipun harga $BTC sedang mengalami volatilitas tinggi akibat berita global, minat investor Indonesia terhadap aset digital tetap besar. Penggunaan pasangan perdagangan IDR terhadap $USDT juga menjadi pilihan utama bagi banyak pelaku pasar untuk menjaga nilai aset mereka di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Dominasi $USDT di platform seperti Bittime mencerminkan strategi investor yang cenderung mencari perlindungan nilai saat pasar sedang mengalami tekanan hebat. Sebagaimana dikutip dari data Coinvestasi, Bitcoin saat ini tengah menguji level dukungan kritis, di mana jika harga gagal bertahan di atas angka tertentu, risiko penurunan lebih lanjut ke level yang lebih rendah masih sangat terbuka. Pada kondisi seperti ini, investor banyak beralih ke $USDT sebagai jembatan likuiditas untuk tetap siap melakukan pembelian kembali ketika harga dianggap sudah mencapai titik terendah. Kehadiran $USDT yang dipasangkan dengan Rupiah memudahkan investor lokal untuk bertransaksi dengan cepat tanpa harus terpapar fluktuasi nilai tukar dollar yang juga tidak menentu. Secara keseluruhan, arah pasar kripto ke depan akan sangat bergantung pada bagaimana eskalasi konflik di Timur Tengah berkembang dan keputusan resmi The Fed pada pertemuan mendatang. Sebagai platform perdagangan aset kripto yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD), Bittime berkomitmen untuk terus menyediakan ekosistem perdagangan yang aman, transparan, dan mudah diakses bagi para investor di Indonesia. Investasi sebaiknya tidak berdasar pada tren, melainkan pemahaman dan fundamental di baliknya. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan mengenai manajemen risiko dan analisis fundamental makro ekonomi menjadi pondasi utama dalam membangun portofolio investasi yang sehat dan berkelanjutan di era digital ini. Perlu dipahami aset kripto mengandung risiko tinggi yang termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Karena itu sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya.

Harga Bitcoin Menguat di Tengah Gejolak Geopolitik, Pasar Cari Alternatif Selain Emas Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 18 Maret 2026 | 11:06 WIB

Harga Bitcoin Menguat di Tengah Gejolak Geopolitik, Pasar Cari Alternatif Selain Emas

Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin kembali menunjukkan penguatan signifikan dengan naik sekitar 3,18% dalam 24 jam terakhir ke level $73.905 atau sekitar Rp1,25 miliar, Senin (16/3), mengungguli sebagian besar aset di pasar global yang cenderung berhati-hati di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan ini juga menunjukkan korelasi yang semakin kuat dengan emas, dengan tingkat korelasi mencapai sekitar 28,14%, mengindikasikan Bitcoin mulai diposisikan investor sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian global. Lonjakan harga Bitcoin terjadi ketika risiko geopolitik meningkat setelah konflik di Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak mendekati $100 per barel, level tertinggi sejak 2022. Kondisi ini mendorong kekhawatiran inflasi global sekaligus membuat investor mencari alternatif penyimpan nilai di luar aset tradisional. CEO Tokocrypto Calvin Kizana, menilai dinamika pasar saat ini memperlihatkan perubahan persepsi investor terhadap Bitcoin di tengah ketidakpastian global. “Ketika ketegangan geopolitik meningkat dan harga minyak melonjak, pasar biasanya mencari aset yang dianggap tahan terhadap tekanan inflasi dan risiko mata uang. Saat ini kita melihat Bitcoin semakin sering diperlakukan seperti emas digital, yakni sebagai alternatif lindung nilai terhadap gejolak makroekonomi,” ujar Calvin. Selain faktor geopolitik, kata Calvin, kenaikan harga Bitcoin juga didorong oleh kembalinya permintaan institusional melalui ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat. Sepanjang Maret, produk ETF Bitcoin tercatat telah menarik sekitar $1,3 miliar arus masuk bersih, menandai pemulihan minat investor besar setelah periode perlambatan pada akhir 2025. "Dalam lima hari perdagangan terakhir saja, ETF Bitcoin di AS mencatat arus masuk lebih dari $767 juta, dengan BlackRock iShares Bitcoin Trust (IBIT) menyumbang sekitar $600 juta dari total tersebut. Secara keseluruhan, ETF telah menyerap sekitar 18.000 BTC sejak awal Maret, memperkuat permintaan struktural di pasar," jelasnya. Di sisi lain, ulas Calvin, reli harga juga diperkuat oleh dinamika pasar derivatif. Data menunjukkan lonjakan likuidasi posisi sebesar 420% dalam 24 jam, dengan lebih dari 92% berasal dari posisi short, yang memicu efek short squeeze dan mempercepat kenaikan harga. Kombinasi arus masuk institusional dan tekanan pada posisi leverage bearish menjadi katalis penting dalam pergerakan harga terbaru. “ETF memberikan permintaan riil dari investor institusional, sementara likuidasi posisi short mempercepat pergerakan harga di pasar derivatif. Kombinasi dua faktor ini menciptakan momentum yang kuat bagi Bitcoin dalam jangka pendek,” ucapnya. Dari sisi teknikal, lanjut Calvin, Bitcoin berhasil menembus rata-rata pergerakan 50 hari di sekitar $71.125, yang menjadi sinyal penguatan momentum dalam jangka pendek. Level ini kini menjadi salah satu area support penting yang dipantau pasar. "Tetapi secara jangka panjang, Bitcoin masih berada di bawah 200-day moving average sekitar $93.939, yang menunjukkan tren bearish struktural masih membayangi. Indikator teknikal lainnya memperlihatkan kondisi yang campuran, RSI 7-hari di level 70 mendekati area overbought, sementara MACD positif menunjukkan momentum bullish jangka pendek masih berlanjut," kupas Calvin lagi. Calvin menilai kondisi ini mencerminkan fase transisi pasar kripto yang masih sensitif terhadap sentimen makro. “Momentum jangka pendek terlihat positif, tetapi pasar masih berada dalam fase konsolidasi besar. Selama Bitcoin belum mampu menembus rata-rata 200 hari, reli kemungkinan akan menghadapi resistensi kuat di level atas,” imbuhnya. Dalam jangka pendek, analis memperkirakan Bitcoin berpotensi mengujicoba kembali area resistensi $74.000–$75.000 apabila mampu mempertahankan support di sekitar $71.500. Penembusan di atas $74.000 dapat membuka peluang menuju $77.000. Sebaliknya, jika momentum melemah atau arus masuk ETF melambat, harga berisiko turun kembali ke area $69.000. Secara keseluruhan, pergerakan Bitcoin saat ini didorong oleh kombinasi lindung nilai makro, akumulasi institusional, serta momentum teknikal jangka pendek, sementara meningkatnya partisipasi investor ritel di dalam negeri turut memberikan sentimen positif bagi pasar kripto menjelang akhir Ramadhan. Di dalam negeri, momentum penguatan pasar kripto juga bertepatan dengan periode menjelang Lebaran dan pencairan Tunjangan Hari Raya (THR), yang biasanya ikut mendorong peningkatan aktivitas investasi ritel. Tokocrypto mencatat adanya peningkatan jumlah active trader dan first-time trader lebih dari 30% di platform dalam beberapa hari terakhir, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap aset kripto. Tren ini juga didorong oleh kehadiran kampanye Ramadan bertajuk “Ramadhan Berkah Bersama Tokocrypto! Total Hadiah hingga IDR250 Juta”, yang mengajak masyarakat untuk memperbanyak silaturahmi sekaligus mengundang kerabat terdekat untuk ikut berpartisipasi di ekosistem kripto. Calvin mengatakan bahwa periode Ramadan hingga menjelang Idul Fitri kerap menjadi momentum meningkatnya partisipasi investor baru di pasar kripto. “Kami melihat adanya peningkatan jumlah trader aktif dan pengguna baru di platform Tokocrypto menjelang Lebaran. Pencairan THR sering kali menjadi momentum bagi sebagian masyarakat untuk mulai mencoba berinvestasi, termasuk di aset kripto,” tutur Calvin. Ia menambahkan, berbagai program insentif dan kampanye pemasaran yang dijalankan selama Ramadan diharapkan dapat semakin mendorong aktivitas transaksi di pasar. Melalui program Ramadan Berkah Bersama Tokocrypto, perusahaan ingin menghadirkan semangat Ramadan yang bukan hanya identik dengan berbagi, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mulai mengenal dan bertransaksi aset kripto secara lebih luas. “Dengan adanya insentif serta program promosi yang kami jalankan selama Ramadan, kami berharap dapat mendorong peningkatan nilai transaksi baik di platform Tokocrypto maupun secara nasional. Kami optimistis momentum ini dapat menjadi penutup Ramadan yang 'hijau' bagi pasar kripto tahun ini,” tandasnya.

Resiliensi Bitcoin di Tengah Gejolak Geopolitik, Bittime: Momentum Diversifikasi Aset Investasi Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 14 Maret 2026 | 11:08 WIB

Resiliensi Bitcoin di Tengah Gejolak Geopolitik, Bittime: Momentum Diversifikasi Aset Investasi

Jakarta, katakabar.com - Pasar aset kripto baru saja menunjukkan ketahanannya setelah Bitcoin ($BTC) berhasil menembus kembali level harga $70.000. Menanggapi hal ini, Bittime, crypto exchange yang mengusung Trustworthy, sebagai salah satu pondasi platformnya, kembali menekankan penguatan literasi dan strategi investasi yang tidak terbatas pada sentimen pasar. Sebelumnya, menurut data dari NewsBTC pemulihan ini didorong oleh perubahan sentimen risiko global setelah adanya sinyal bahwa konflik tersebut dapat diredam lebih cepat dari perkiraan semula. Seiring dengan mendinginnya harga minyak mentah dunia dan stabilnya pasar saham, aset Bitcoin ($BTC) mulai menunjukkan performa yang solid sebagai aset kripto yang mulai matang dalam menghadapi tekanan eksternal. Data dari berbagai platform analisis termasuk CryptoQuant juga menunjukkan bahwa koreksi harga yang terjadi bukanlah awal dari fase penurunan pasar yang panjang, melainkan sebuah guncangan likuiditas sesaat. Aktivitas di pasar derivatif dan aliran dana masuk pada instrumen aset $ETF dan $BTC menunjukkan bahwa investor institusional justru memanfaatkan penurunan harga untuk menambah posisi mereka. Ini mengindikasikan kepercayaan pasar terhadap aset kripto seperti $BTC yang tetap kokoh meskipun berada di tengah ketidakpastian global. Sekaligus memperkuat narasi $BTC sebagai "emas digital" yang mulai memiliki pola pergerakan yang lebih stabil dibandingkan masa-masa awal kehadirannya. Hal tersebut, juga menekankan kehadiran aset kripto sebagai salah satu diversifikasi aset investasi di tengah ketidakpastian global. Namun, tentu investor perlu memahami bahwa dinamika pasar memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap strategi portofolio masing-masing. Mengingat, kondisi volatilitas pasar yang dapat menciptakan peluang, sekaligus risiko lebih tinggi bagi para trader. Lantaran itu, edukasi berkelanjutan mengenai manajemen risiko dan analisis fundamental makro ekonomi menjadi pondasi utama dalam membangun portofolio investasi yang sehat dan berkelanjutan di era digital ini. Bittime, platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan pentingnya literasi di tengah momentum pasar terhadap diversifikasi aset diversifikasi. Sebab, dengan pemahaman yang baik, investor dapat mengelola risiko dengan lebih bijak dan berdasarkan profil risiko masing-masing. Tentu, perlu dipahami aset kripto mengandung risiko tinggi yang termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Karena itu sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya.

Bittime Ramadhan Referral Rewards, Berkah di Tengah Gejolak Volatilitas Pasar Ekonomi
Ekonomi
Jumat, 06 Maret 2026 | 17:36 WIB

Bittime Ramadhan Referral Rewards, Berkah di Tengah Gejolak Volatilitas Pasar

Jakarta, katakabar.com - Bulan suci ramadhan identik dengan semangat berbagi, mempererat silaturahmi, dan menebar kebaikan. Nilai-nilai tersebut dihadirkan Bittime saat kampanye Bittime Ramadhan Referral Rewards, yang menawarkan total hadiah hingga Rp50 juta bagi para investor. Usung semangat “Mulai Langkah Kebaikan di Bulan Suci bersama Bittime”, program ini dirancang guna mengajak masyarakat tidak hanya mencari peluang keuntungan, tetapi tumbuh bersama dalam ekosistem yang lebih edukatif dan bertanggung jawab. Sebagai platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bittime berkomitmen menghadirkan program yang memberi manfaat bagi investor, sekaligus membangun keberlanjutan ekosistem aset digital Indonesia. Presiden Direktur Bittime, Ronny Prasetya, menjelaskan kondisi volatilitas pasar saat ini tetap dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk meningkatkan nilai aset, sekaligus mempererat silaturahmi. Melalui Bittime Ramadan Referral Rewards, pengguna dan kerabat yang diundang dapat memperoleh bonus melalui aktivitas referral yang berhasil, sehingga manfaat program dapat dirasakan secara kolektif. “Skema ini sejalan dengan pesan kampanye yang kami gadang, “Ramadan Cuan, Silaturahmi Jalan”, dan menekankan bahwa momen kebersamaan dapat menjadi peluang untuk membangun masa depan finansial yang lebih baik,” terang Ronny. Menurutnya, pengguna baru juga berkesempatan meraih total bonus hingga Rp65.000 dalam $USDT dengan melakukan transaksi spot pertama minimal Rp100.000 dan meningkatkan volume trading hingga Rp1.000.000. Program ini merupakan kesempatan bagi masyarakat untuk mulai berinvestasi dengan modal terjangkau sambil belajar memahami dinamika pasar secara langsung. Dengan pendekatan bertahap, pengguna dapat membangun kebiasaan investasi yang lebih terukur dan rasional. Tetapi, penting untuk dipahami bahwa aset kripto memiliki risiko tinggi, termasuk fluktuasi harga, potensi kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, serta perubahan regulasi. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Itu sebabnya, Bittime mendorong seluruh investor untuk selalu melakukan riset mandiri dan berdiskusi dengan komunitas terpercaya sebelum mengambil keputusan. Dengan semangat berbagi dan bertumbuh bersama, ramadan tahun ini diharapkan dapat menjadi momentum menghadirkan cuan yang lebih berkah di tengah tantangan ekonomi global. Industri aset kripto mengandung risiko tinggi yang termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Karena itu sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya.

Gejolak Timur Tengah Guncang Kripto, Kemana Arah Bitcoin? Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 05 Maret 2026 | 13:23 WIB

Gejolak Timur Tengah Guncang Kripto, Kemana Arah Bitcoin?

Jakarta, katakabar.com - Pasar kripto mengalami tekanan tajam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengonfirmasi serangan udara terhadap Iran akan terus berlanjut hingga tujuan militer tercapai. Pernyataan tersebut memicu gelombang risk-off di pasar global dan mendorong harga aset kripto utama kembali melemah. Bitcoin (BTC) tercatat turun ke kisaran US$65.954 pada Senin (⅔) setelah sempat rebound menembus level US$68.000. Dalam 24 jam terakhir, BTC terkoreksi sekitar 1 persen dan masih mencatatkan penurunan sekitar 20 persen dalam sebulan terakhir. Tekanan juga terjadi pada altcoin utama, dengan Ethereum (ETH) turun sekitar 2,46 persen ke level US$1.947, sementara XRP melemah hampir 3% ke kisaran US$1,35. Solana (SOL) turut mencatatkan pelemahan seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Pelemahan ini terjadi setelah eskalasi konflik di Timur Tengah meningkat menyusul serangan udara besar-besaran Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ketegangan semakin meningkat ketika Iran menolak laporan mengenai pembukaan kembali negosiasi nuklir dengan AS, sementara Inggris menyatakan kesediaannya mengizinkan penggunaan pangkalan militer untuk mendukung serangan defensif terhadap situs rudal Iran. Lonjakan konflik tersebut memicu reli pada aset safe haven tradisional. Harga minyak mentah mencatat kenaikan terbesar dalam empat tahun terakhir di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi, sementara emas melonjak lebih dari 2 persen dalam 24 jam terakhir. Di sisi lain, indeks saham global seperti Nikkei 225 Jepang dan Hang Seng Hong Kong dibuka melemah. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai volatilitas yang terjadi saat ini mencerminkan tingginya sensitivitas pasar kripto terhadap sentimen makro global. “Jangka pendek, Bitcoin kembali bergerak sebagai aset berisiko yang sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global. Ketika terjadi eskalasi konflik dan lonjakan harga minyak, investor cenderung mengalihkan dana ke aset safe haven seperti emas, sehingga pasar kripto mengalami tekanan,” ujar Calvin. Analisis Pasar Kripto Secara teknikal, Bitcoin kini berada di bawah area support penting US$65.000. Jika tekanan berlanjut dan harga menembus area US$64.000, terdapat risiko pengujian ulang level US$63.000 bahkan mendekati US$60.000. Sedang, untuk mengonfirmasi pembalikan tren jangka pendek, BTC perlu kembali menembus resistance di kisaran US$68.500–US$69.000 dan melampaui level US$70.800. Data pasar juga menunjukkan pelemahan dari sisi on-chain dan derivatif. Aktivitas akumulasi whale dilaporkan menurun, sementara likuidasi posisi leverage mempercepat tekanan harga. Kondisi ini mengindikasikan bahwa struktur pasar saat ini masih cenderung bearish, dengan minimnya dorongan beli besar yang mampu menopang reli berkelanjutan. Tetapi, Calvin menekankan dinamika makro dapat menciptakan dua skenario berbeda bagi kripto dalam jangka menengah. “Jika eskalasi konflik mendorong bank sentral, khususnya The Fed, untuk kembali melonggarkan kebijakan moneternya, maka likuiditas tambahan di sistem keuangan global berpotensi menjadi katalis positif bagi Bitcoin. Jika lonjakan harga energi memicu inflasi baru dan menunda penurunan suku bunga, maka tekanan terhadap aset berisiko bisa bertahan lebih lama,” jelasnya. Di sisi lain, prospek jangka menengah industri kripto masih ditopang oleh potensi katalis regulasi di Amerika Serikat, termasuk pembahasan CLARITY Act yang diproyeksikan dapat memberikan kepastian hukum bagi aset digital pada pertengahan 2026. Kejelasan regulasi dinilai menjadi prasyarat penting untuk membuka aliran modal institusional yang lebih besar ke pasar kripto. Kondisi di Dalam Negeri Di dalam negeri, menurut Calvin, dinamika pasar kripto juga dipengaruhi oleh pergerakan harga yang cenderung sideways dan mulai terasa jenuh dalam beberapa bulan terakhir. Situasi ini membuat banyak investor memilih bersikap wait and see sambil menunggu momentum baru yang lebih kuat. “Di saat yang sama, ketidakpastian global, mulai dari tensi geopolitik hingga arah kebijakan suku bunga The Fed, mendorong pelaku pasar untuk lebih berhati-hati dalam menambah eksposur dan melakukan ekspansi portofolio,” imbuhnya. Meski begitu, dari sisi fundamental dan aktivitas pengguna, minat terhadap aset kripto tetap terjaga. Di platform Tokocrypto, investor saat ini cenderung melakukan akumulasi secara bertahap serta lebih selektif dalam memilih aset, alih-alih melakukan transaksi agresif seperti pada periode bullish. Kondisi ini mencerminkan fase konsolidasi yang relatif sehat, di mana investor menyesuaikan strategi dengan kondisi pasar yang dipengaruhi sentimen makro global. Calvin menekankan pentingnya sikap disiplin di tengah kondisi yang masih fluktuatif. “Di fase volatilitas tinggi seperti sekarang, investor perlu lebih mengutamakan manajemen risiko dan tetap rasional dalam mengambil keputusan. Perhatikan perkembangan geopolitik, pergerakan harga minyak, serta rilis data ekonomi AS yang sangat mempengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed,” terangbCalvin. Ia menambahkan, strategi yang terukur dan berbasis fundamental menjadi kunci agar investor tetap tangguh menghadapi dinamika pasar global.

Presiden Direktur Bittime: Penting Literasi Digital Investor di Tengah Gejolak Geopolitik Timteng Nasional
Nasional
Rabu, 04 Maret 2026 | 09:02 WIB

Presiden Direktur Bittime: Penting Literasi Digital Investor di Tengah Gejolak Geopolitik Timteng

Jakarta, katakabar.com - Gejolak ketegangan geopolitik yang terjadi di Timur Tengah disebabkan operasi militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, picu guncangan pada kondisi ekonomi global. Termasuk pada pasar aset kripto yang turut mengalami tekanan, menanggapi ini Presiden Direktur Bittime, Ronny Prasetya menekankan pentingnya penguatan literasi bagi investor Indonesia. Sebelumnya, Pemerintah AS di bawah Presiden Donald Trump menyatakan serangan ini tindakan pencegahan atau pre-emptive strike dari pihak intelijen yang dikabarkan mendeteksi ancaman nyata dari program rudal balistik Iran yang dianggap membahayakan pasukan AS dan sekutunya di kawasan tersebut. Peristiwa ini memicu volatilitas luar biasa pada harga aset Bitcoin ($BTC) yang tertekan ke level $63.000 pada sabtu kemarin, sebelum akhirnya bangkit dan menyentuh $68.000 pada hari ini. Hal in, mencerminkan dominasi rasa takut yang mendalam pada kondisi psikologis pasar sebagaimana terlihat dari indeks Fear dan Greed CoinMarketCap yang menyentuh level "Extreme Fear" pada 2 Februari 2026, kemarin. Di tengah situasi pasar yang penuh tantangan ini, Presiden Direktur Bittime, Ronny Prasetya menekankan pentingnya literasi dan strategi investasi jangka panjang. Kondisi volatilitas pasar aset digital saat ini, menuntut investor untuk memahami mekanisme fundamental dan portofolio risiko. “Gejolak situasi geopolitik saat ini tentu berdampak pada industri aset digital secara menyeluruh, karena itu masyarakat ditekankan untuk benar-benar mengelola informasi secara bijak. Tidak mudah terpengaruh oleh tekanan pasar dan tren pasar saat ini, apalagi mengambil keputusan berdasarkan tekanan Fear of Missing Out (FOMO),” tegas Ronny. Menurutnya peran literasi keuangan menjadi kunci utama bagi investor lokal agar mampu mengelola portofolio secara cerdas dan terlindungi dari potensi kerugian akibat kurangnya pemahaman terhadap dinamika aset digital yang terus berkembang pesat. Sebab, kehadiran aset kripto sebagai salah satu diversifikasi aset investasi juga dapat dilirik sebagai investasi jangka panjang. Mengingat aset kripto seperti Bitcoin ($BTC), Tether ($USDT) dan Tether Gold ($XAUT) masih menjadi pilihan diversifikasi di kalangan investor aset kripto jangka panjang. Apalagi, kehadiran $XAUT yang merupakan aset kripto berbasis emas yang diterbitkan oleh Tether dan merepresentasikan 1 troy ounce emas fisik yang disimpan di vault (Swiss). Di sisi lain, menyikapi situasi saat ini investor jangka panjang juga dapat memanfaatkan fitur staking di Bittime dengan imbal hasil tahunan (APY) hingga 20% bagi pengguna baru. Fitur staking hadir dengan locked periode tertentu, dan selanjutnya dapat diredeem setelah locked periode berakhir atau redeem lebih awal tanpa potongan biaya, serta penalti apapun. Namun, tentu perlu dipahami bahwa aset kripto mengandung risiko tinggi yang termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Karena itu sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya.

Bittime Tanggapi Gejolak Bearish Pasar Aset Kripto dan Dampaknya Pada Investor Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 26 Februari 2026 | 14:34 WIB

Bittime Tanggapi Gejolak Bearish Pasar Aset Kripto dan Dampaknya Pada Investor

Bittime TanggapiJakarta, katakabar.com - Kondisi pasar aset kripto saat ini sedang berada dalam fase yang penuh gejolak atau bear market, di mana aset-aset utama seperti Bitcoin ($BTC), Ethereum ($ETH), dan XRP ($XRP) mengalami tekanan pasca aksi jual besar-besaran. Melihat ini Bittime bagikan fungsi aset digital tidak hanya sebagai alternatif aset spekulatif tapi juga sebagai diversifikasi investasi jangka panjang. Sebelumnya, aksi jual besar-besaran dari entitas penambangan berskala global dan ketidakpastian kebijakan ekonomi dari Amerika Serikat telah memicu tekanan psikologis pasar akan terjadinya resesi singkat. Berdasarkan data dari CoinMarketCap Selasa (24/2) lalu, indeks Fear dan Greed saat ini berada di level 11 yang masuk dalam kategori Extreme Fear. Angka ini mencerminkan tingginya tingkat kehati-hatian dan kecenderungan risk-averse di kalangan investor aset kripto di tengah volatilitas pasar yang masih berlangsung. Fenomena ini mendorong gelombang likuidasi pada pasar aset kripto, di mana banyak posisi beli yang terpaksa ditutup secara otomatis, dan menambah beban tekanan harga pada aset-aset utama seperti $BTC dan $ETH. Lebih lanjut, penurunan nilai $ETH hingga ke kisaran $1.826 Selasa (24/2) mencerminkan adanya pergeseran sentimen di kalangan pemegang aset jangka pendek yang mulai melakukan aksi ambil untung atau membatasi kerugian. Ketahanan $ETH di level ini akan menjadi penentu apakah aset tersebut mampu melakukan konsolidasi sebelum kembali mencari momentum kenaikan di tengah jadwal pembaruan jaringan yang terus berlanjut. Di sisi lain, aset $XRP tidak terlepas dari arus penurunan pasar dengan mencatatkan koreksi sekitar 6% yang membawanya mendekati level $1.33. Penurunan ini dilihat sebagai bagian dari rotasi modal di mana investor cenderung menarik uang mereka untuk menghindari kerugian. Di tengah situasi pasar yang penuh tantangan ini, Bittime, platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan pentingnya literasi dan strategi investasi jangka panjang. Sebab, kehadiran aset kripto sebagai salah satu diversifikasi aset investasi juga dapat dilirik sebagai investasi jangka panjang. Para investor juga diharapkan untuk dapat lebih mengetahui profil risiko dan tujuan investasi masing-masing. Hal ini termasuk memilih aset kripto yang akan diinvestasikan, sehingga aktivitas investasi yang dilakukan berdasarkan pada pemahaman mendalam mengenai manajemen risiko dan fundamental aset. Pada momen seperti ini, para investor aset kripto jangka panjang cenderung memanfaatkan fitur staking pada platform. Di mana, Staking memungkinkan investor untuk memperoleh imbal hasil tahunan (APY) pasif, dengan mengunci aset dalam jangka waktu tertentu. Staking juga dinilai dapat memberikan stabilitas antara risiko dan potensi keuntungan terhadap aset kripto. Didukung dengan mekanisme yang transparan dan aman, pengguna dapat mengelola portofolio aset dengan lebih stabil, dan berkelanjutan. Tetapi, perlu dipahami bahwa aset kripto mengandung risiko tinggi yang termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Karena itu sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya.

Bittime Hadir Staking APY Hingga 15 Persen Diversifikasi Strategi di Tengah Gejolak Pasar Global Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 11 Februari 2026 | 21:39 WIB

Bittime Hadir Staking APY Hingga 15 Persen Diversifikasi Strategi di Tengah Gejolak Pasar Global

Jakarta, katakabar.com - Kondisi ekonomi global saat ini sedang berada dalam fase yang penuh dengan tantangan akibat munculnya tiga risiko utama yang saling berkaitan atau yang dikenal sebagai triple threat. Menghadapi ini, Bittime, platform crypto exchange yang telah memperoleh izin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghadirkan alternatif fitur investasi jangka panjang, Staking dengan APY hingga 15 persen. Sebelumnya, gejolak pasar ekonomi global bermula dari The Federal Reserve Amerika Serikat yang diketahui menunda perubahan kebijakan suku bunganya. Ketidakpastian mengenai kebijakan moneter ini kemudian menciptakan keraguan di kalangan pelaku pasar, yang pada akhirnya memicu penurunan minat terhadap instrumen keuangan yang memiliki fluktuasi tinggi. Data terbaru juga menunjukkan adanya kelesuan dalam penyerapan tenaga kerja yang sering kali dianggap sebagai sinyal awal melambatnya pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh. Bagi para investor, fenomena ini adalah peringatan akan berkurangnya daya beli dan potensi keuntungan perusahaan di masa depan. Akibatnya, banyak pelaku pasar yang memilih untuk memindahkan dana mereka dari aset digital fluktuatif seperti Bitcoin menuju aset digital berbasis aset kripto seperti Tether Gold ($XAUT) dan iShares Silver Trust ($SLVON), yang pergerakannya kini semakin masif di pasar aset kripto. Hal ini dipicu oleh pergeseran pandangan investor terhadap aset-aset “safe haven” atau aset pelindung nilai di tengah volatilitas ekonomi saat ini. Lebih lanjut, sebagai aset yang bernilai 1:1 atau setara dengan satu troy ounce emas murni yang disimpan di brankas Swiss, $XAUT menjadi pilihan yang dapat dilirik di tengah gejolak pasar ekonomi global dan kenaikan harga emas. Kehadiran aset kripto $XAUT menawarkan opsi investasi emas yang likuid, dan efisien dengan dukungan teknologi blockchain. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi investor aset tradisional seperti emas, sebab $XAUT menggabungkan nilai emas murni yang bergerak lebih stabil dengan keunggulan teknologi blockchain. Di Indonesia sendiri, $XAUT termasuk dalam whitelist aset kripto yang dapat diperdagangkan berdasarkan daftar whitelist CFX. Lantaran itu kehadirannya dapat diakses melalui berbagai platform pertukaran aset kripto resmi dan berizin di Indonesia, seperti Bittime. Bertepatan dengan ini Bittime menghadirkan kampanye khusus bagi pengguna baru yang melakukan transaksi pertama pada $XAUT dan $SLVON. Di mana, pengguna baru yang melakukan transaksi pertama pada aset digital $XAUT atau $SLVON berkesempatan memperoleh hadiah hingga Rp150.000 berdasarkan syarat dan ketentuan yang berlaku. Selain itu, investor dapat secara langsung memanfaatkan fitur fleksibel staking dengan imbal hasil tahunan (APY) hingga 15 persen bagi pengguna baru tanpa batas locked periode tertentu. Ini berarti investor juga bisa mendapatkan manfaat tambahan dari pertumbuhan nilai aset, sekaligus memberi kemudahan dalam mengakses atau memperdagangkan aset nya kapan saja. Diketahui, investasi aset kripto mengandung risiko tinggi. Hal tersebut termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Karena itu sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya, salah satunya komunitas Bittime.