Nasional
Sabtu, 04 November 2023 | 19:44 WIB
Jakarta, katakabar.com - Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jakarta (FTAN UMJ), Dr. Sularno nyatakan dukungannya untuk kampanye #SawitBaik. Tak tanggung-tanggung, Dr. Sularno bakal melibatkan para mahasiswa pertanian dalam penelitian dan kampanye yang dinisiasi Yayasan Pusat Pentaheliks Ilmuwan Pertanian Indonesia (YPPIP) di bawah Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Ilmu Pertanian Indonesia (APTS IPI).
Pernyataan itu disampaikannya saat Focus Group Discussion (FGD) #SawitBaik yang dihelat di Bogor dua hari lalu, temanya 'Pembentukan Sikap Positif Masyarakat Indonesia Terhadap Sawit Melalui Sistem Pendidikan yang Berkelanjutan'. Di mana FGD ditujukan untuk merumuskan strategi pendidikan berkelanjutan.
Dijelaskan Dr. Sularno, penelitian dan kegiatan lainnya yang berkaitan dengan kelapa sawit bis dilakukan di lokasi perkebunan terdekat dari UMJ, yakni Jasinga, Kabupaten Bogor. Kita dukung program kampanye #SawitBaik untuk berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
“Kami dukung kampanye sawit dengan berbagai metode, yakni penelitian dan kampanye bersama FTAN seluruh Indonesia terutama dari Perguruan Tinggi Swasta. Kami berkolaborasi dengan 32 FTAN di PTMA (Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah),” jelas Dekan FTAN UMJ sekaligus Koordinator Wilayah 2 APTS-IPI ini, lewat keterangan resmi UMJ, kemarin, dilansir dari laman elaeis.co, pada Sabtu (4/11).
Kelapa sawit memiliki daya saing yang tinggi dan telah memberikan kontribusi yang sangat berarti pada perekonomian Indonesia. Kelapa sawit pun telah membuktikan keunggulan berbagai aspek, dari harga yang kompetitif hingga kualitas yang lebih baik, produktivitas yang lebih tinggi, dan manfaat yang lebih banyak dibandingkan dengan minyak nabati lainnya.
Tapi, sejauh ini justru terbentuk framing negatif terhadap kelapa sawit, misalnya soal kelestarian lingkungan. Inisiasi mengangkat isu kelapa sawit muncul karena adanya kekhawatiran atas framing negatif yang ada di masyarakat. Hal ini diterangkan Ketua YPPIP, Dr. Paristiyanti Nurwardani.
“Kami ingin berkontribusi untuk negara, harus melakukan gotong royong untuk berkampanye bahwa sawit itu baik untuk ekonomi di Indonesia dan keberlanjutan tenaga kerja yang lebih kurang 16-20 juta orang,” tuturnya.
Program pendidikan berkelanjutan menurutnya dilaksanakan mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.
“Sebagaimana yang dikatakan Dirjen Guru dan Tenaga Pendidik Mendikbudristek, Prof. Nunuk, bahwa pendidikan berkelanjutan untuk membentuk sikap positif terhadap kelapa sawit akan masuk ke dalam kurikulum pendidikan,” ucapnya.
Pilot project, kata Paristiyanti, dimulai pada semester awal tahun 2024 di 5 wilayah sentra kelapa sawit, yakni Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Program ini akan melibatkan ratusan perguruan tinggi yang tergabung di APTS-IPI.
“Mahasiswa jadi salah satu garda terdepan. Maka pasti akan terlibat dalam tiga kegiatan mulai dari pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, yang dilakukan bersama dosen,” tuturnya.
Selain itu mahasiswa bakal dilibatkan dalam program kampanye kreatif melalui media digital misalnya sosial media.
Program ini bekerja sama dengan berbagai stakeholder yang termasuk dalam pentaheliks, yakni Badan Pengelona Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), APTS-IPI, media, Daya Mitra Bersama Global (DMB Global), Forum Komunikasi Pondok Pesantren, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah PP Muhammadiyah, dan ilmuwan pertanian dari ratusan perguruan tinggi seluruh Indonesia.
UMJ bersama Universitas Nasional menjadi pelaksana FGD yang melibatkan stakeholder pentaheliks, yaitu ilmuwan dari berbagai latar belakang terutama pertanian, lembaga pemerintah, industri, media, dan organisasi masyarakat.
Sederet narasumber dihadirkan di FGD di antaranya dr. Jack Pradono Handojo, MBA., dan Prof. Bustanul Arifin. FGD membahas tiga tema, seperti Isu Sosial, Lingkungan, dan Kesehatan pada Industri Kelapa Sawit Indonesia, Menggali Potensi Kelapa Sawit, dan Tata Laksana Pembentukan Sikap Positif Masyarakat terhadap Kelapa Sawit Melalui Sistem Pendidikan Berkelanjutan.