katakabar.com - Di meja redaksi hari ini, Jumat (16/10) ada kiriman sebuah buku menarik, dengan cover Prabowo berbaju batik. Judulnya menggugah, "EIGHT GREAT HOPES—How Prabowo Works" yang oleh penulisnya, Agung Marsudi, seorang pemerhati masalah-masalah kebangsaan, migas dan kearifan lokal.

Menurutnya, di ambang usia ke-100 tahun kemerdekaan, Indonesia berdiri di persimpangan bersejarah. Visi Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi besar, tetapi peta jalan yang tertuang dalam Asta Cita. Delapan Harapan Besar—Eight Great Hopes, yang menjadi kompas bangsa untuk dua dekade ke depan.

"ASTACITA bukan sekadar kerangka kebijakan; ia adalah ikrar kebangsaan. Setiap misi saling menguatkan satu sama lain, mengikat rakyat Indonesia dalam satu tujuan bersama: dari desa-desa di akar bangsa hingga kepemimpinan nasional, dari kemandirian ekonomi hingga martabat budaya, dari keadilan sosial hingga kemitraan global," ujarnya.

Buku ini mengajak Anda menelusuri cara kerja pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran secara utuh dan mendalam. Dari filosofi angka 8 yang menyatukan keberagaman bangsa, hingga Prabowonomics yang menegaskan kembali kedaulatan ekonomi rakyat; dari MBG dan KOPDES yang membangun kekuatan sekaligus kemandirian, hingga Danantara yang menjadikan kekayaan bangsa bekerja untuk rakyat. Juga bagaimana Indonesia menempuh jalur ketiga di tatanan dunia baru — bersahabat dengan semua pihak, tetapi tidak menjadi kaki tangan siapa pun.

Ditulis dengan gaya analitis yang seimbang — tidak sekadar memuji, tetapi juga menyoroti tantangan, risiko, dan ujian keberlanjutan yang harus dihadapi. Perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 bukan hadiah turun dari langit. Ia adalah harta yang direbut — dari kebodohan, kemiskinan, ketidakpedulian, dan perpecahan.

Bukan tentang satu pemimpin. Ini tentang arah yang dipilih bersama. Karena pada akhirnya, delapan harapan besar hanya akan menjadi kenyataan jika dimiliki oleh seluruh bangsa.

"Indonesia Emas 2045 bukan takdir, tetapi pilihan. Keberhasilannya tidak diukur dari angka laporan ekonomi, melainkan dari kesejahteraan petani, martabat pekerja, suara rakyat, dan kebebasan generasi mendatang menentukan nasibnya sendiri," tambah Agung, yang kini aktif di Permigastara, Perhimpunan Pengusaha Migas, Energi Baru dan Terbarukan Nusantara.

Buku ini terdiri 8 Bab, memaparkan bagaimana cara Prabowo bekerja untuk masa depan Indonesia. Diberi kata pengantar oleh Bobson Samsir Simbolon, seorang penggiat antikorupsi, hukum dan keindonesiaan. "Hari ini buku itu telah kita serahkan kepada Presiden, melalui Sekretariat Negara, menjadi kado ultah ke-75 beliau, pada 17 Oktober 2026. Kita berharap Bapak Prabowo berkenan membacanya. Ini hadiah seorang warga, kepada presidennya," jelas Agung Marsudi.

Delapan bab buku bercover merah putih, diawali dengan Pendahuluan—Prabowo dan Masa Depan Indonesia. Menjelaskan latar belakang, karakter, dan pola pikir Presiden Prabowo Subianto — dari latar belakang keluarga, militer, hingga perjalanan politiknya. Menegaskan bahwa kepemimpinannya tidak hanya soal pembangunan fisik, tetapi kemerdekaan sejati: bangsa yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri — pangan, energi, sumber daya alam, dan kebijakan luar negeri yang bebas.

Bab 2—Filosofi Angka 8. Angka 8 bukan kebetulan, melainkan simbol keseimbangan, keutuhan, dan kelimpahan yang berakar pada kearifan lokal Jawa (Astabrata, delapan arah mata angin) serta budaya lain di Nusantara. Sebagai Presiden ke-8, delapan misi Asta Cita, delapan partai di parlemen — semuanya merujuk pada satu kesatuan tujuan: Indonesia yang utuh dan sejahtera.

Bab 2 berisi tentang Asta Cita—Peta Jalan Transformasi Indonesia 2025–2029.
Menjelaskan kedelapan misi utama pemerintahan Prabowo–Gibran secara terperinci, landasan hukumnya (Perpres No. 12/2025 dan UU No. 59/2024), serta tiga ciri khasnya: kesatuan visi, kedaulatan sebagai titik awal, dan keberlanjutan jangka panjang hingga 2045.

Bab 3 terkait Prabowonomics. Pergeseran paradigma ekonomi: dari sekadar pertumbuhan menuju kemandirian dan keadilan. Negara berperan aktif, sumber daya diolah di dalam negeri, keuntungan dinikmati rakyat. Bukan kapitalisme murni maupun sosialis negara, melainkan ekonomi kerakyatan berakar pada Pasal 33 UUD 1945.

Bab 4 berjudul Si Kembar: MBG dan KOPDES. Dua program unggulan yang saling menguatkan: MBG memenuhi kebutuhan dasar gizi, sementara KOPDES membangun kekuatan ekonomi dari desa. Bukan kebetulan — keduanya adalah dua sisi dari satu koin: memberi kekuatan hari ini sekaligus kemandirian untuk masa depan.

Bab 5 —Danantara: Kekayaan Bangsa untuk Bangsa. Lembaga pengelola kekayaan negara dengan aset konsolidasi lebih dari Rp16.000 triliun. Tujuannya: mengelola kekayaan bangsa secara terintegrasi, hasilnya dikembalikan untuk rakyat — membiayai pembangunan tanpa utang luar negeri. Risiko tata kelola dan transparansi juga dibahas secara terbuka dan seimbang.

Bab 6 tentang Geopolitik Kedaulatan. Di dunia yang terbelah blok, Indonesia memilih jalan ketiga: bersahabat dengan semua pihak, tidak menjadi kaki tangan siapa pun. Bergabung dengan BRICS, kebijakan luar negeri yang mandiri, diplomasi kemanusiaan, dan kedaulatan pangan-energi-pertahanan sebagai pilar kekuatan bangsa.

Bab 7 berisi narasi menarik, Kohesi Politik Kopi Hambalang. Simbol sederhana namun bermakna dalam: secangkir kopi dari Hambalang yang disajikan kepada tamu negara maupun rakyat biasa. Di meja kopi, semua setara. Ini adalah diplomasi kebijaksanaan — membangun kebersamaan bukan dengan pidato tinggi, melainkan kesederhanaan yang menyatukan hati.

Terakhir Bab 8 tentang Perjalanan Menuju Indonesia Emas 2045. Visi Indonesia Emas 2045 dijabarkan dalam tahapan pembangunan, tantangan nyata yang dihadapi, dan lima kemerdekaan yang ingin dicapai: ekonomi, politik, pangan-energi, budaya, serta bebas dari ketakutan dan ketidakadilan. Bukan hadiah turun dari langit, melainkan hasil perjuangan bersama.

Di bagian penutup atau Epilog menjelaskan Indonesia dalam Tata Dunia Baru. Menempatkan Asta Cita bukan sekadar agenda dalam negeri, melainkan fondasi peran Indonesia di panggung dunia. Kekuatan bangsa dimulai dari kesejahteraan rakyatnya sendiri. Di tengah ketidakpastian dunia, Indonesia menawarkan alternatif: kemerdekaan, keadilan, dan kerja sama tanpa perbudakan.

Ada juga Lampiran Penting di bagian akhir, berisi: 8 Penghargaan Internasional yang diterima Presiden Prabowo (Oktober 2024–Sep 2026), serta 75 Kutipan Pidato Penting Presiden Prabowo, lengkap dengan tanggal dan sumber. Penanda kado ultah ke-75 Presiden Prabowo Subianto dari seorang warga Duri, provinsi Riau, nun jauh dari Jakarta.