Batang Hari, katakabar.com - Inspektur Polisi Dua (Ipda) Maranata Zebua tampak semringah usai bertemu langsung Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jambi, Inspektur Jenderal Polisi Krisno H Siregar.
Jamuan hangat serta wejangan Jenderal bintang dua leting Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Zebua jadikan kado istimewa HUT Bhayangkara ke-80, Rabu 1 Juli 2026.
"Pertemuan hari itu bukan sekadar arahan kedinasan, melainkan sebuah pandangan hidup tentang bagaimana seharusnya seorang polisi hadir di tengah masyarakat," ujarnya, Jumat (26/6/2026).
Menurut Kanit II Tipidkor Satreskrim Polres Batang Hari, Kapolda menyampaikan sebuah pemikiran sederhana akan tetapi memiliki makna yang luar biasa dalam pelaksanaan tugas kepolisian sehari-hari.
"Beliau menekankan bahwa polisi yang ideal adalah polisi yang mampu memadukan antara sikap pragmatis dan idealis secara seimbang," kenang perwira berdarah Nias, Sumatera Utara.
Banyak orang selama ini memandang kedua hal tersebut sebagai sesuatu yang bertolak belakang. Sejatinya, menurut Kapolda, pragmatis dan idealis justru harus berjalan beriringan.
"Polisi mengandalkan sikap pragmatis cenderung fokus pada hasil yang cepat dan penyelesaian masalah secara instan," tegasnya.
Pendekatan seperti ini memang dibutuhkan. Zebua mencontohkan polisi saat mengurai kemacetan, meredam konflik warga, atau menyelesaikan persoalan yang membutuhkan respons cepat di lapangan.
"Keunggulannya jelas, yakni responsif, fleksibel, dan mampu memberikan solusi dalam waktu singkat.
Sebaliknya, jika pragmatisme tidak dibatasi oleh nilai dan prinsip, kata Zebua, maka berpotensi mengabaikan prosedur, menciptakan perlakuan yang tidak adil, bahkan mengorbankan penegakan hukum demi terciptanya situasi yang dianggap aman.
"Polisi yang hanya berpijak pada idealisme akan selalu berpegang teguh pada aturan, prosedur, dan prinsip keadilan tanpa kompromi," tuturnya.
Sikap ini sangat penting untuk menjaga marwah institusi dan memberikan kepastian hukum kepada masyarakat.
Menurut Zebua, seorang polisi yang idealis akan tetap menindak pelanggaran meskipun pelakunya memiliki jabatan atau pengaruh. Ia akan menempatkan hukum di atas kepentingan apa pun.
"Namun, idealisme tidak dibarengi dengan pemahaman terhadap kondisi lapangan, kearifan lokal juga memiliki risiko," ujarnya.
Pendekatan yang terlalu kaku, kata Zebua, terkadang membuat polisi kehilangan ruang empati dan mengabaikan konteks sosial yang sedang dihadapi masyarakat.
"Di sinilah letak pelajaran berharga yang saya dapatkan dari Kapolda Jambi," katanya.
Polisi terbaik bukanlah polisi yang hanya pragmatis atau hanya idealis. Polisi terbaik adalah mereka yang idealis dalam tujuan, tetapi pragmatis dalam cara.
Idealis dalam tujuan berarti tetap teguh menjaga amanah sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat serta menegakkan hukum secara adil tanpa pandang bulu.
"Namun pragmatis dalam cara, berarti mampu menyesuaikan pendekatan dengan kondisi yang dihadapi di lapangan, selama tidak melanggar prinsip-prinsip hukum dan nilai keadilan," katanya.
Zebua menuturkan, Kapolda memberikan gambaran yang sangat mudah dipahami. Misalnya untuk kasus-kasus besar seperti korupsi, narkoba, kekerasan terhadap kemanusiaan, dan tindak pidana serius lainnya, tidak ada ruang kompromi.
"Hukum harus ditegakkan secara tegas. Di situlah idealisme seorang polisi diuji," tegasnya.
Namun untuk konflik sosial yang bersifat ringan dan masih memungkinkan penyelesaian secara damai, kata Zebua, polisi dapat mengedepankan restorative justice, mediasi, ataupun diskresi kepolisian yang bertanggung jawab.
"Pesan lainnya yang sangat membekas bagi saya adalah pentingnya memahami esensi dari setiap tindakan kepolisian. Jangan sampai kita terjebak pada prosedur yang kaku hingga melupakan tujuan utama yang ingin dicapai," katanya.
Sebagai contoh, tujuan utama penegakan aturan lalu lintas adalah menciptakan keselamatan dan ketertiban. Dalam situasi tertentu, edukasi yang tepat kepada masyarakat bisa jadi lebih efektif dibanding sekadar memberikan sanksi.
"Sebagai anggota Polri, saya merasa beruntung mendapatkan kesempatan mendengarkan langsung pemikiran dan pengalaman dari seorang pemimpin yang telah banyak mengabdikan dirinya untuk institusi dan masyarakat," katanya.
Pertemuan tersebut menjadi pengingatnya bahwa menjadi polisi bukan hanya soal menjalankan kewenangan yang diberikan negara, tetapi juga tentang menjaga nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan kebijaksanaan dalam setiap langkah pengabdian.
"Terima kasih Jenderal, atas bimbingan, nasihat, dan ilmu yang telah diberikan kepada kami. Semoga setiap pesan yang disampaikan menjadi bekal berharga bagi kami dalam menjalankan tugas sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat," tegasnya.
Zebua percaya pelajaran terbaik tidak selalu datang dari ruang kelas atau buku-buku tebal. Terkadang, pelajaran itu hadir melalui sebuah percakapan singkat yang mampu mengubah cara pandang kita terhadap tugas dan pengabdian.
"Nasihat dari Kapolda Jambi bagi saya salah satu pelajaran yang akan terus saya ingat sepanjang perjalanan hidup sebagai aparat penegak hukum," demikian Zebua mengakhiri.
Ipda Maranata Zebua Wejangan Kapolda jadi Kado Istimewa HUT Bhayangkara
Diskusi pembaca untuk berita ini