Oleh: dr. Hasnania R. Munaf, MGH, MHLM *)

Tinggal di negara tropis membuat paparan sinar matahari menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Memasuki pertengahan 2026, Indonesia juga sedang mengalami transisi menuju musim kemarau  dengan cuaca yang terasa semakin terik di berbagai daerah. Banyak orang mulai lebih  memperhatikan perlindungan kulit melalui penggunaan sunscreen atau pakaian pelindung saat  beraktivitas di luar ruangan. Namun, masih belum banyak yang menyadari bahwa mata juga  rentan terhadap paparan sinar ultraviolet (UV) dalam jangka panjang.

Paparan sinar matahari berlebihan tidak hanya menyebabkan rasa silau atau mata terasa tidak  nyaman, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan mata dalam jangka panjang. Sinar UV,  terutama UV-A dan UV-B, dapat merusak jaringan permukaan mata, kornea, hingga lensa mata  akibat akumulasi paparan yang terjadi terus-menerus. Paparan UV memicu stres oksidatif dan  kerusakan sel secara perlahan, sehingga efeknya sering kali baru muncul setelah bertahun-tahun.

Salah satu gangguan mata yang cukup sering ditemukan di negara tropis adalah pterygium, yaitu  pertumbuhan jaringan pada permukaan mata yang dapat meluas ke kornea. Kondisi ini sering  dikaitkan dengan paparan sinar matahari, debu, dan angin dalam jangka panjang. Selain itu,  paparan UV kronis juga dikaitkan dengan peningkatan risiko katarak, bahkan beberapa gangguan  pada permukaan mata seperti photokeratitis atau “sunburn” pada mata akibat paparan UV  berlebihan. Risiko ini dapat meningkat pada individu yang sering berada di pantai, laut, jalan raya,  maupun area dengan pantulan cahaya tinggi seperti pasir dan air.

American Academy of Ophthalmology (AAO) juga menekankan bahwa kerusakan akibat UV  bersifat kumulatif. Semakin sering seseorang terpapar sinar matahari tanpa perlindungan mata,  semakin besar risiko gangguan mata di kemudian hari. Karena itu, penggunaan pelindung mata  sejak usia dini menjadi penting, terutama pada anak-anak yang cenderung memiliki aktivitas luar  ruangan lebih tinggi. Lensa mata anak juga lebih jernih dibandingkan orang dewasa sehingga  paparan UV dapat masuk lebih banyak ke dalam mata.

Di negara Indonesia, paparan sinar matahari tinggi sulit dihindari. Aktivitas luar ruangan,  penggunaan kendaraan roda dua, gaya hidup aktif, hingga paparan debu dan polusi membuat  mata terpapar lingkungan ekstrem hampir setiap hari. Selain paparan UV, cuaca panas, udara  kering, polusi, dan penggunaan pendingin ruangan juga mempercepat penguapan air mata  sehingga keluhan mata kering lebih mudah terjadi. Mata dapat terasa perih, berair, merah, cepat  lelah, hingga sensitif terhadap cahaya. Banyak keluhan mata selama musim panas sebenarnya  bersifat dapat dicegah apabila perlindungan dilakukan dengan baik sejak awal.

Meski demikian, bukan berarti aktivitas luar ruangan harus dihindari. Paparan cahaya alami tetap  memiliki manfaat bagi kesehatan, termasuk membantu siklus tidur alami tubuh dan mendukung  perkembangan mata yang lebih sehat pada anak. Aktivitas outdoor juga diketahui dapat  membantu menurunkan risiko progresivitas myopia pada anak dan remaja.

AAO merekomendasikan penggunaan kacamata hitam dengan perlindungan UV400 atau 100  persen UV protection untuk membantu mengurangi paparan sinar UV pada mata. Kacamata  tanpa perlindungan UV justru dapat meningkatkan risiko karena pupil mata melebar akibat lensa  gelap, tetapi sinar UV tetap masuk ke dalam mata. Penggunaan topi bertepi lebar juga membantu  mengurangi paparan sinar matahari ke area mata.

Paparan UV juga diketahui tetap dapat menembus awan, sehingga perlindungan mata tetap  penting meskipun cuaca terlihat mendung. Intensitas UV biasanya paling tinggi pada pukul 10  pagi hingga 4 sore, terutama di daerah tropis dan area dengan pantulan cahaya tinggi seperti  pantai atau jalan beraspal terang.

Selain itu, menjaga hidrasi tubuh, membatasi paparan AC langsung ke wajah, dan menggunakan  tetes air mata buatan bila diperlukan dapat membantu mengurangi keluhan mata kering selama  cuaca panas. Pengguna lensa kontak juga perlu lebih berhati-hati karena debu, polusi, dan  kondisi mata kering dapat meningkatkan rasa tidak nyaman maupun risiko iritasi pada mata. Di

tengah meningkatnya aktivitas outdoor dan paparan sinar matahari di negara tropis, kesehatan  mata sering kali masih terlupakan dibandingkan kesehatan kulit. Padahal, mata merupakan organ  yang terus terpapar lingkungan setiap hari. Karena itu, perlindungan terhadap sinar matahari  bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga bagian penting dari menjaga kesehatan penglihatan  dalam jangka panjang.-

*) Penulis adalah dokter umum dengan latar belakang pendidikan magister kesehatan global dan  manajemen layanan kesehatan di Australia, serta memiliki minat utama pada edukasi kesehatan