Home / Lingkungan / Momen May Day 2025, LindungiHutan Soroti Peran Komunitas untuk Konservasi Lingkungan
Momen May Day 2025, LindungiHutan Soroti Peran Komunitas untuk Konservasi Lingkungan
Foto Istimewa/katakabar.com.
Semarang, katakabar.com - Memperingati Hari Buruh atau May Day, isu ketenagakerjaan tidak hanya berbicara tentang sektor industri, tapi menyentuh kontribusi kelompok kerja akar rumput yang kerap luput dari sorotan, termasuk petani pohon dan penggerak penghijauan berbasis komunitas.
Di kawasan pesisir Trimulyo, Semarang, komunitas lokal bernama Tripari telah lebih dari satu dekade menjalankan inisiatif pelestarian lingkungan dengan menanam ribuan bibit mangrove.
Komunitas ini dipimpin Suswanto 32 tahun, sapaan akrabnya, Antok, seorang mantan buruh perusahaan sejak 2015 silam mendedikasikan hidupnya untuk penghijauan pesisir.
“Kerusakan lingkungan di kampung kami nyata. Abrasi datang setiap tahun, dan kami melihat pentingnya melakukan sesuatu. Itu sebabnya, kami mulai menanam mangrove bersama warga,” ujar Antok.
Kegiatan konservasi yang dilakukan komunitas Tripari muncul sebagai respons atas krisis lingkungan yang kian parah di wilayah pesisir utara Jawa.
Menurut data Badan Informasi Geospasial (BIG), Jawa Tengah kehilangan hampir 8.000 hektar wilayah pesisir akibat abrasi. Tiga wilayah terdampak paling parah adalah Kabupaten Brebes (2.391,95 hektar), Kabupaten Demak (2.218,23 hektar), dan Kota Semarang (1.919,57 hektar). Penurunan tanah yang disertai dengan peningkatan muka air laut menjadi penyebab utama abrasi masif ini.
Kemitraan antara Tripari dan startup konservasi LindungiHutan dimulai secara organik dan terbentuk dari kebutuhan bersama akan perlindungan ekosistem. Melalui kerja sama ini, komunitas mendapatkan akses terhadap bibit, pelatihan, dan pendampingan teknis.
“Yang menarik dari konservasi berbasis komunitas adalah keberlanjutan. Mereka bukan datang dan pergi. Mereka tinggal di sana, merawat pohon, dan hidup bersama dampaknya,” tutur Aminul Ichsan, Ketua Yayasan LindungiHutan.
Meski demikian, berbagai tantangan terus membayangi. Proyek pembangunan jalan tol Semarang–Demak dan normalisasi sungai tahun 2019 menyebabkan sebagian area mangrove yang ditanam hilang.
“Kami kecewa, tapi tidak menyerah. Yang penting bisa terus menanam di tempat lain,” timpal Antok.
Hingga kini, komunitas Tripari telah melakukan penanaman di berbagai zona pesisir Trimulyo, dan mengembangkan sistem pemantauan mandiri berbasis warga. Mereka tidak hanya menanam, tapi merawat, mencatat pertumbuhan pohon, dan melaporkan kerusakan secara berkala.
Momentum Hari Buruh dimaknai sebagai pengingat buruh tidak hanya ada di pabrik, tapi di hutan, di ladang, dan di garis pantai. Mereka menjaga keberlanjutan hidup kita bersama.
“Kami berharap lebih banyak pihak mengakui peran petani pohon dalam agenda iklim nasional. Mereka aktor penting yang bekerja dalam senyap,” terang Ichsan.
Konservasi berbasis komunitas, seperti yang dijalankan Tripari, menjadi salah satu model paling adaptif dalam menghadapi krisis ekologi. Tanpa dukungan dan pengakuan terhadap kerja-kerja komunitas seperti ini, ketahanan lingkungan akan sulit terwujud.
Kontak: Intan Widianti Kartika Putri B2B Partnership Manager kartika@lindungihutan.com +62 823-2901-5769 Jl. Lempongsari 1 No. 405, Lempongsari, Gajah Mungkur, Kota Semarang 50231 Website: https://lindungihutan.com/








Komentar Via Facebook :