Duri (katakabar) - Jarum Jam Arloji Tangan baru menunjukkan pukul 08.30 WIB pertigaan lampu merah, pertigaan simpang Pokok Jengkol Duri tampak lengang. 

Para Tukang Ojek, biasa berjejer di bibir ruas aspal jalan membelakangi lapangan Koramil 0606 Kecamatan Mandau menunggu penumpang hanya terlihat satu satu, tak lagi ramai seperti dulu.

Begitu dengan ragam kenderaan, sepeda motor dan mobil seperti, truk, bus antar kota antar provinsi melintas satu satu, tak sepadat dulu. Padahal Tahun Tahun sebelumnya, suasana pertigaan Pokok Jengkol cukup ramai dan padat dengan ragam kenderaan yang melintas. 

Roda ekonomi pun berputar di pertigaan itu, Bus antar kota antar provinsi menurunkan dan menaikkan penumpang. Para Tukang Ojek mengais rezeki, ada sewa yang minta di antar. 

Pedagang pinggir jalan, penjual ragam barang harian lumayan laris lantaran ada orang yang datang dan pergi.

Barang kiriman berasal dari berbagai daerah menumpuk di lapangan dari aspal berbal bal dan berkardus kardus menunggu jemputan dari si pengorder.

Karyawan dan pekerja yang bekerja di perusahaan perusahaan vendornya PT Chevron dulu PT Caltex hanya terlihat satu satu menunggu Bus jemputan di pertigaan Pokok Jengkol, itu terjadi Lima Tahun belakangan.

Beda dengan dulu, karyawan dan pekerja migas berkelompok dan berjubel di pinggir jalan aspal dan sudut lapangan Koramil 0606 Mandau menunggu Bus jemputan, transportnya perusahaan perusahaan vendor PT Chevron yang membawa mereka bekerja ke ladang ladang minyak.

Melongok ke pasar pagi tradisional Simpang Padang berkisar 1 kilometer dari pertigaan lampu merah, Pokok Jengkol. Pusat perekonomian di jantung Kota Minyak nama lain dari Duri persis di jalur Dua Jalan Jenderal Sudirman masih sama seperti dulu, Lima Belas Tahun lampau.

Ruas jalur Dua Jalan Protokol menyempit ulah lapak parkir sepeda motor dan Pedagang Kaki Lima. Kawasan pasar pagi mestinya rapi dan bersih, situasinya benar benar semrawut. 

Ragam kenderaan yang melintas sulit lantatan terjebak antrean dan macet akibat arus lalin pada Jam sibuk dan waktu tertentu amburadul. 

Celakanya, kenderaan saling mendahului dan serobot terutama pengendera sepada motor ingin cepat keluar dari antrean menambah situasi semakin kacau bisa memicu hal hal tidak diinginkan di jalan raya.

Sisi lain, ragam sampah menumpuk dan menutupi Pulau Jalan di titik tertentu sepanjang Jalur Dua membuat suasana tak nyaman lantaran mengeluarkan aroma tak sedap saat basah sesudah di guyur hujan semalam.

Anehnya, Dinas Terkait yang berwenang mengurusi Jalan dan Pulau Jalan tak berkutik meski menugaskan personilnya setiap pagi hingga menjelang siang nongkrong di kawasan pasar pagi tradsional Simpang Padang Duri, Kecamatan Mandau.

Di sana, personil berseragam abu abu maaf hanya berdiri, duduk sambi bercerita dengan teman sejawat dan juru parkir. Anda bisa buktikan, syaratnya cukup melintas di Jalan Jenderal Sudirman tepat di kawasan pasar pagi tradisional Simpang Padang. 

Perhatikan dan amati personil berseragam abu abu hanya nongkrong dan kongkow kongkow di aspal jalan depan lapak lapak PKL dan Parkir sepeda motor.

"Entah sampai kapan, Jalan Jenderal Sudirman di kawasan pasar pagi tradisional rapi dan bersih dari PKL dan Parkir sepeda motor biar pengguna dan pengendera yang melintas lancar dan aman", kata seorang warga, Suirman kepada katakabar.com di suatu perbincangan.

"Kesemrawutan itu sudah terlalu lama, perlu penataan dan pembenahan secara serius bukan setengah hati seperti yang dilakukan Pihak Terkait selama ini".

Terkait PKL, ujar warga lainnya, Sahril, mereka bisa dipindahkan ke pasar moderen Sultan Syarif Kasim di kawasan simpang Garoga letaknya strategis di pinggir Jalan Jenderal Sudirman. Sudah saatnya pasar moderen SSK difungsikan semestinya. 

"Sudah terlalu lama bangunan pasar itu mubazir. Apa artinya bangunan yang bagus dan megah menghabiskan duit rakyat yang tak sedikit nilainya, kalau tak digunakan".

Kata Sahril, soal parkir. Pemerintah bukankah sudah membangun gedung parkir di Jalan Alhamrah letaknya masih di kawasan pasar pagi tradisional Jalan Jenderal Sudirman.

Pembangunan gedung parkir sudah menghabiskan duit rakyat, sudah cukup lama belum digunakan. Elok dieksekusi segera sesuai program dan tujuan awal pembangunan gedung parkir.

Sebagi warga awam, sudah beranak pinak di daerah Duri, terlintas dalam benak dan ada perasaan nelangsa dan sedih dari lubuk hati paling dalam, melihat ragam persoalan yang dihadapi masyarakat dan daerah ini di segala bidang. 

Situasi dan kondisi tersebut tak sebanding dengan sumber daya alam yang telah disumbangkan Duri bernama daerah "Mutiara Hitam" buat Republik ini bertahun tahun lamanya.

Wacana pemekaran Kabupaten atau Kota Duri yang telah lama diimpikan masyarakat sebagai solusi untuk mengatasi ragam persoalan di segala bidang tadi jauh panggang dari api. 

Duri pun tersandera wacana pemekaran daerah otonomi baru disebabkan para elit politik dan pemangku kepentingan mulai dari daerah hingga ke pusat.

Perjuangan pemekaran daerah otonomi baru sejak era Bupati Bengkalis, Drs Syamsurizal MM cukup panjang dan melelahkan tapi ending perjuangan wacana pemekaran masih abu abu dan belum jelas.

Situasi "Kota Minyak" nama lain dari Duri saat ini sudah Empat Kecamatan meliputi, Kecamatan Mandau, Pinggir, Bathin Solapan dan Talang Muandau pasca tersandera wacana pemekaran DOB. 

Proyek terbengkalai dan terlantar berseliweran di daerah yang berada di Jalur Lintas Utara Sumatera buah tangan dan hasil karya Bupati Bengkalis sebelumnya.

Lihat, bangun kantor lurah Titian Antui, Kecamatan Pinggir persis di Jalan Gajah Mada kilometer 3,5. Terminal AKAP di Jalan Pipa Air Bersih tepat di simpang Lima, Desa Petani, Kecamatan Bathin Solapan...Bersambung...