Oleh Agung Marsudi
Solo, katakabar.com - Di reels totalpolitikcom, Panda Nababan mengatakan,
"Aku mengkritik para pengamat politik-politik yang lain juga. Bahkan menuduh Jokowi itu mengintervensi, dan segala macam. Ini memang terus terang saja, diuji sekarang pimpinan-pimpinan partai ini. Harga dirinya. Kehormatan dia, tergantung kepada Jokowi. Tergantung kepada Jokowi".
Iya dong, aku tanya Prabowo, maju gak? Tergantung Pak Jokowi.
Aku tanya pak Jokowi betul gak Prabowo? Iya.
Airlangga tergantung Jokowi. Yang lain semua. Sandi juga tergantung Jokowi gitu loh.
Jadi maksud aku, didorong satu situasi. Yang sepertinya presiden-presiden yang lalu gak ada intervensi. Presiden yang sekarang intervensi.
Kitapun terharu.
Sayapun terharu. Saya gak tahu opung Panda Nababan tergantung sama pak Jokowi, gak.
Jadi teringat pertemuan saya terakhir dengan opung di Sungai Gerong, kantor majalah Forum Keadilan. Siang itu, kami berdua, sempat menikmati menu arsik ikan mas khas Batak, yang endes punya, di ruangannya.
Rasanya yang kuat, asin, asam dan pedas, masih segar dalam ingatan.
Semua "tergantung kepada Jokowi", seperti rasa arsik ikan mas, karena Jokowi kuat, sedikit asin, agak asam, tapi tetap pedas. Sama dengan kondisi koalisi pemerintahannya sekarang, ada yang merasa kuat, tapi asin. Ada yang asam, tapi pedas.
Serendah inikah harga diri para pimpinan partai negeri ini, sehingga "tergantung kepada Jokowi" menjadi momok, sehingga semua dibuat "klepek-klepek".
Jika soalnya hanya "meneruskan program", tentu tidak mungkin kalimat ikonik pak Harmoko dulu ditambahi satu kata, menjadi, "menurut petunjuk mantan bapak presiden". Bah, Lucu sekali.
Meski politik puja-puji telah menadi, tak eloklah terlalu berlebihan. Sebab sesuatu yang berlebihan tidak baik. Arah politik bisa saja berbelok, dan memiliki jalannya sendiri, ketika rakyat menghendaki.
"Jokowi memang otentik, unik. A(r)sik!".
Panda Nababan Tergantung Kepada Jokowi
Diskusi pembaca untuk berita ini