Home / Sawit / Tancap Gas Kembangkan B50 dan E20 Biar Indonesia Mandiri Energi Basis Pertanian
Tancap Gas Kembangkan B50 dan E20 Biar Indonesia Mandiri Energi Basis Pertanian
Pemerintah RI tancap gas kembangkan B50 dan E20. Foto: Ist/katakabar.com.
Jakarta, katakabar.com - Pemerintah Republik Indonesia lewat Kementerian Pertanian (Kementan) tancap gas hilirisasi sektor pertanian pengembangan biofuel dan bioetanol sebagai langkah strategis menuju kemandirian energi nasional.
Hal itu bentuk tindak lanjut arahan Presiden RI, H Prabowo Subianto menghadapi dinamika geopolitik global.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan, percepatan hilirisasi fokus utama pemerintah mendorong energi berbasis sumber daya dalam negeri.
“Saat kita rapat pekan lalu sebelum Presiden RI bertolak ke Jepang dan Korea Selatan, beliau sampaikan kita melakukan akselerasi hilirisasi. Pertama sektor pertanian hilirisasi biofuel di saat kondisi geopolitik yang memanas, kita butuh langkah cepat,” cerita Mentan RI lepas rapat hilirisasi bersama BUMN Pangan di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, dilansir dari laman mediaperkebunan.id Rabu siang.
Setelah sektor pangan dinilai kuat, terang Amran, pemerintah kini mengarahkan langkah pada kemandirian energi melalui biofuel dan bioetanol.
“Pangan selesai. Alhamdulillah, bulan suci Ramadhan bukan harga beras yang menjadi penyumbang inflasi. Kedua adalah janji Bapak Presiden kita stop impor solar digantikan oleh biofuel sawit B50. Itu 5,3 juta ton,” jelasnya.
Selain biofuel, Kementan dorong pengembangan bioetanol sebagai sumber energi baru berbasis pertanian melalui program E20.
“Ketiga, mimpi kita E20. Apa itu E20? Etanol dan campuran bensin. Dari mana? Jagung, ubi kayu, dan tebu. Semua bisa tumbuh di Indonesia,” ucapnya.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki potensi bahan baku bioetanol yang besar, termasuk dari produk samping industri gula.
“Bahan baku kita yang kita ekspor itu ada 1 juta ton. Itu molase, tetes. Ini bisa dijadikan etanol,” terangnya.
Mentan RI menekankan pentingnya kerja bersama mewujudkan ketahanan pangan sekaligus energi. “Artinya ke depan bagaimana kita mandiri energi, mandiri pangan. Ini kita lakukan bersama-sama, kita bergerak bersama-sama,” harapnya.
Di kegiatan sama, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono menimpali sektor pertanian kini berperan strategis dalam mendukung transisi menuju kemandirian energi nasional.
“Swasembada pangan sudah kita raih, dan insyaallah kita akan bergeser. Salah satunya adalah kemandirian energi, di mana pertanian menyumbang dari sisi bioenerginya,” tutur Sudaryono.
Untuk mempercepat implementasi, Kementan memperkuat kolaborasi dengan BUMN pangan sebagai motor penggerak hilirisasi di lapangan. Wakil Ketua Badan Pengaturan BUMN, Tedi Bharata, mengatakan dukungannya terhadap akselerasi hilirisasi pertanian untuk mendukung kemandirian energi.
”Kita sudah berkoordinasi rapat dengan Mentan terkait tindak lanjut arahan Presiden bahwa BUMN memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Kementerian Pertanian sebagai pembina sektor. Kita akan meng-unlock beberapa potensi-potensi yang ktia bisa lakukan di beberapa BUMN untuk memastikan kita menjadi lebih mandiri, lebih independen,” sebutnya.
Dengan akselerasi biofuel dan bioetanol ini, pemerintah menargetkan kemandirian energi berbasis pertanian sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri dan kesejahteraan petani.
Melalui sinergi Kementerian Pertanian, BUMN, dan seluruh pemangku kepentingan, program hilirisasi diharapkan berjalan cepat dan tepat sasaran, sehingga Indonesia semakin tangguh menghadapi dinamika global
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
Dukung Jegeg Bagus Bali 2025,
Cross Hotels dan Resorts Komit Kembangkan Pariwisata Berkelanjutan dan Pelestarian Budaya Bali
Atasi Beban Penyakit Meningkat
SH dan RS PI Group Kembangkan Layanan Pencitraan Diagnostik








Komentar Via Facebook :