Pemkab Samosir merancang pengembangan Sabulan dengan menggabungkan wisata alam, sejarah, budaya, pertanian, dan ekonomi kreatif. 

Rencana tersebut mencakup penataan persawahan terasering, kawasan wisata Sipatungan, situs budaya, serta pembangunan rest area dan gerai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Proposal juga memuat peningkatan jalan antardusun, jaringan irigasi, penyediaan air bersih, penataan parkir, hingga peningkatan kualitas rumah tidak layak huni. Pengadaan bibit buah turut diusulkan untuk mendukung lingkungan kawasan.

Kepala Bapperida Samosir Rajoki Simarmata menjelaskan, konsep tersebut disusun secara terpadu agar potensi lokal dapat terhubung dengan kegiatan ekonomi masyarakat. 

Gerai suvenir, sentra kuliner, pertunjukan seni, serta produk kerajinan dan makanan tradisional Batak direncanakan menjadi bagian dari pengembangan.

Total nilai proposal yang diajukan mencapai Rp50 miliar. Namun, nilai tersebut merupakan usulan pembangunan, bukan dana yang telah disetujui atau dicairkan.

Asisten II Setdakab Samosir Hotraja Sitanggang menilai perpaduan bentang alam dan kekayaan budaya menjadi modal Sabulan untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata. 

Akses darat juga berpotensi semakin terbuka melalui pembangunan Jalan Provinsi Simpang Gonting-Janji Raja. 

Ia berharap kampung kreatif ini bisa terwujud di Sabulan. “Ke depan akan menjadi prioritas dan andalan Samosir untuk pariwisata,” ujar  Hotraja

Dukungan turut disampaikan Ketua Lembaga Adat dan Budaya Kabupaten Samosir, Pantas Sinaga. Ia berharap situs yang berkaitan dengan sejarah Si Raja Lontung dapat ditata dan dilestarikan. 

“Pengembangan Desa Sabulan sangat penting sebagai titik nol Si Raja Lontung,” tegasnya. 

Warga Sabulan, Mahidin Pandiangan, juga menyatakan dukungan terhadap usulan tersebut. Ia menyampaikan bahwa Desa Sabulan memiliki nilai sejarah yang kuat dan menjadi bagian penting dari sejarah keturunan Si Raja Lontung.

“Desa Sabulan merupakan kampung bersejarah dan membawa berkah kepada keturunan Si Raja Lontung yang tersebar di penjuru dunia,” ujar Mahadin. 

Jika terpilih, tantangan berikutnya bukan sekadar memperoleh bantuan, melainkan memastikan rencana pembangunan mampu menjaga warisan budaya sekaligus membuka peluang usaha bagi warga. 

Pengembangan kawasan diharapkan tidak hanya memperbaiki infrastruktur, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal dan memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.*