Home / Sawit / Wow! BBM Jenis Baru Dijual di SPBU Pertamina Campuran Masing-masing 50 Persen
Wow! BBM Jenis Baru Dijual di SPBU Pertamina Campuran Masing-masing 50 Persen
Foto Istimewa/katakabar.com.
Jakarta, katakabar.com - Pemerintah resmi luncurkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis baru dijual mulai per 1 September 2024 di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Pemerintah melalaui Menteri Pertanian RI, Amran Sulaiman resmi meluncurkan bahan bakar campuran solar dengan minyak sawit. Di mana rasio masing-masing 50 persen atau B50, di pekan ketiga Agustus 2024.
Langkah ini salah satu upaya Indonesia guna memastikan akses energi yang terjangkau, dan ramah lingkungan. Apalagi B50 tidak hanya mengurangi emisi karbon, tapi menekan defisit atas perdagangan.
"Biodiesel B50 dapat menghemat devisa negara untuk impor solar yang membebani keuangan negara rata-rata hingga Rp300 hingga Rp400 triliun per tahun," kata Amran lewat keterangan resmi, dilansir dari laman tribunpontianak.co.id, Ahad (1/9).
Di sisi lain, ujar Amran, pemanfaatan minyak sawit untuk B50 upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar ekspor sawit yang kerap mendapat kampanye negatif yang berdampak pada terganggunya ekspor sawit nasional.
"Untuk itu, saat ini kami ditugaskan mengawal kesiapan pemerintah untuk program implementasi Biodiesel B50 tersebut, tidak hanya dari sisi suplai pada kesiapan bahan baku Crude Palm Oil (CPO), tapi lebih luas lagi," jelas Amran.
Bahan bakar biodiesel B50 diproduksi PT Jhonlin Agro Raya (JAR) dan diuji coba langsung ke kendaraan oleh Amran.
Pada uji coba terkait kendaraan yang digunakan ialah Toyota Kijang Innova tahun 2018 tanpa modifikasi pada mesin atau selang.
Adapun uji coba dilaksanakan hingga Juli 2024 dan telah menempuh jarak 170.891 kilometer.
"Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan terdapat kelebihan penggunaan B50 meliputi hasil uji coba pada kendaraan publik untuk B50 rata-rata dapat menempuh 11,82 kilometer per liter," timpal Ketua Working Group Biodiesel B50 Dirjen PSP Kementan RI, Andi Nur Alamsyah.
Pengujian pada kendaraan lapangan atau double cabin, ulas Andi, efisiensi B50 mencapai 10,4 kilometer per liter, sedangkan B35 hanya 9 kilometer per liter.
Sementara pengujian pada alat seperti buldoser, ekskavator, dan truk menunjukkan keunggulan efisiensi B50.
"Penggunaan B30 sudah mampu menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 22,7 juta ton CO2 equivalent sehingga implementasi B50 diperkirakan mampu menurunkan emisi setidaknya 50 jut aton CO2 equivalent," terangnya.
Keunggulan lain dari B50 kandungan sulfurnya yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar solar konvensional.
Bila terlalu tinggi kadarnya sulfur pada solar dapat menyebabkan kerak, menimbulkan kerusakan pada komponen mesin, hingga saluran bahan bakar.
Dengan kandungan sulfur yang lebih rendah, B50 diharapkan dapat memperpanjang umur mesin kendaraan sekaligus mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
Jadi, menurut Andi tantangan utama dalam pengembangan Biodiesel B50 adalah pemenuhan bahan baku CPO dan peningkatan efisiensi produksi pabrik.
"Kami sedang melakukan penyesuaian infrastruktur dan sarana prasarananya untuk program B50 ke depan," sebutnya.
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
Kasus Coblos 2 Kali di TPS 11 Tengganau
Kinerja Gakkumdu Bengkalis Disorot, Terdakwa Tidak Hadir di Sidang TP Pemilu 2024 di PN Bengkalis








Komentar Via Facebook :