Bumi

Sorotan terbaru dari Tag # Bumi

Polri Hadir Untuk Bumi, Green Policing Polres Kepulauan Meranti Sasar Perusahaan dan Pelajar Hukrim
Hukrim
Sabtu, 31 Januari 2026 | 18:19 WIB

Polri Hadir Untuk Bumi, Green Policing Polres Kepulauan Meranti Sasar Perusahaan dan Pelajar

Kepulauan Meranti, katakabar.com - Kepolisian Resor (Polres) Kepulauan Meranti terus menunjukkan komitmen dorong pelestarian lingkungan hidup melalui implementasi program Green Policing, sejalan dengan kebijakan Kapolda Riau. Kegiatan tersebut dilaksanakan serentak di sejumlah lokasi, Sabtu (31/1) fokus edukasi peduli lingkungan dan penanaman pohon. Salah satu kegiatan utama berlangsung di PT National Sago Prima (NSP), Desa Kepau Baru, Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti. Di kegiatan ini, jajaran Polres Kepulauan Meranti memberikan sosialisasi dan edukasi kepada karyawan perusahaan mengenai pentingnya menjaga lingkungan hidup, dimulai dari lingkungan kerja dan kehidupan sehari-hari. Kanit Binmas Polsek Tebing Tinggi Barat, Ipda Ito Hermanto, yang melaksanakan giat bersama Bhabinkamtibmas Desa Kepau Baru, Brigadir Hendri Sudrajat dan Bhabinkamtibmas Desa SDI, Brigadir Ismail H. Selain paparkan materi edukatif dan diskusi interaktif, kegiatan diisi dengan penanaman bibit pohon mangga dan durian di lingkungan PT NSP. Menurut Ipda Ito Hermanto, mewakili Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Aldi Alfa Faroqi, S.H., S.I.K., M.H, Green Policing pendekatan strategis dan humanis Polri menjaga ketertiban sosial sekaligus keberlanjutan lingkungan hidup. “Konsep Green Policing ini jawaban atas tantangan zaman, seperti krisis lingkungan, perubahan iklim, serta potensi kebakaran hutan dan lahan. Polri hadir tidak hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai penggerak kesadaran masyarakat,” ujarnya. Di waktu yang sama, jajaran Polsek Merbau melaksanakan kegiatan Green Policing di SMP Negeri 2 Meranti Bunting, Kecamatan Merbau. Kegiatan penghijauan ini berlangsung sekitar pukul 09.00 WIB dan dihadiri oleh pihak sekolah, para guru, serta seluruh siswa. Kapolsek Merbau yang diwakili Bhabinkamtibmas, Aipda Rinaldo, menyampaikan kegiatan tersebut bertujuan menanamkan kesadaran cinta lingkungan sejak usia dini. Rangkaian kegiatan meliputi sambutan kepala sekolah, sambutan perwakilan Polsek Merbau, penyerahan bibit pohon durian, penanaman pohon bersama, serta foto bersama guru dan siswa. “Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri serta mewujudkan program Polri Untuk Masyarakat dengan kehadiran langsung di tengah-tengah masyarakat,” jelas Aipda Rinaldo. Seluruh rangkaian kegiatan Green Policing di wilayah hukum Polres Kepulauan Meranti berakhir dalam keadaan aman, tertib, dan kondusif. Program ini diharapkan menjadi langkah nyata Polri dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan menjaga kelestarian lingkungan di Provinsi Riau, khususnya Kabupaten Kepulauan Meranti.

International Day of Climate Action: Saatnya Bumi Butuh Tindakan Nyata Tanam Pohon Solusi Konkret Lingkungan
Lingkungan
Senin, 27 Oktober 2025 | 16:02 WIB

International Day of Climate Action: Saatnya Bumi Butuh Tindakan Nyata Tanam Pohon Solusi Konkret

Jakarta, katakabar.com - Momentum International Day of Climate Action menjadi pengingat pentingnya langkah nyata untuk menghadapi krisis iklim global. Indonesia, sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar, menghadapi tantangan serius. Kurun dua dekade terakhir, laju deforestasi dan degradasi hutan Indonesia telah menyebabkan hilangnya jutaan hektar hutan, berdampak pada karbon yang terserap, keanekaragaman hayati, serta kehidupan masyarakat lokal yang bergantung pada hutan. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), deforestasi netto Indonesia pada tahun 2021–2022 tercatat sebesar 104.000 hektar, yang merupakan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Tetapi, data dari Global Forest Watch menunjukkan bahwa pada tahun 2023, Indonesia mengalami kehilangan tutupan pohon primer sebesar 1,18 juta hektar, yang merupakan 65 persen dari total deforestasi di kawasan Asia Tropis. Di tengah tantangan tersebut, LindungiHutan mengajak masyarakat untuk mengambil bagian dalam solusi nyata melalui kampanye penanaman pohon. Dengan satu pohon yang ditanam, kita berkontribusi langsung terhadap penyerapan karbon, peningkatan keanekaragaman hayati, dan perlindungan ekosistem pesisir dan daratan kritis. Program ini memberdayakan masyarakat lokal melalui pelibatan mereka dalam proses penanaman, pemeliharaan, hingga pengelolaan hasil produktif hutan, seperti buah mangrove, madu hutan, dan produk non-kayu lainnya. “Momentum ini bukan sekadar peringatan, tapi panggilan untuk bertindak. Kami mengajak seluruh individu dan perusahaan untuk ikut berpartisipasi, karena hutan yang lestari membutuhkan kita semua,” ujar Siktiyana, Head of Content and Marketing LindungiHutan.

Turunkan Emisi di Permukaan Bumi, Gubernur Kaltim: Sawit Hasilkan Oksigen Nasional
Nasional
Rabu, 16 Agustus 2023 | 19:21 WIB

Turunkan Emisi di Permukaan Bumi, Gubernur Kaltim: Sawit Hasilkan Oksigen

Kalimantan Timur, katakabar.com - Semua tanaman yang hijau mengandung klorofil, dan matahari berperan memproses fisiologi tanaman, pasti bakal menghasilkan, termasuk kelapa sawit. Gubernur Kalimantan Timur, Isran Noor menjelaskan, daerahnya telah berjasa besar dalam penurunan pengurangan emisi di permukaan dunia. Indonesia berbasis lahan peringkat ketiga memiliki lahan teluas di dunia setelah Brazil dan Kongo, rinciannya Brazil sekitar 5 juta kilometer persegi hutan tropis, Kongo kurang lebih 2 juta kilometer persegi hutan hujan tropis, dan Indonesia sekitar 1.8 juta kilometer persegi. Jika lahan terbakar tumbuh lagi, tidak ada satu wilayah atau sejengkal pun di Indonesia, saat lahan terbakar tidak dapat tumbuh lagi. "Tanaman-tanaman itu penghasil oksigen. Sepanjang tahun, tumbuhan itu hidup dan sepanjang tahun memproduksi," kata Isran dilansir dari laman elaeis.co ari saat membuka Seminar Nasional Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca dan Peluang Perdagangan Karbon di Indonesia digelar dari 14 hingga 15 Agustus 2023 di salah satu hotel, di Kota Balikpapan. Ditegaskannya, semua tanaman yang hijau mengandung klorofil, matahari berperan memproses fisiologi tanaman, pasti menghasilkan. "Termasuk sawit, cuma sawit ini homogen (monokultur) sifatnya yang tidak disukai Eropa, sebab katanya merusak hutan. Itu awal-awalnya,” ulasnya. Memang ujar Orang Nomor Satu di Kalimantan Timur ini, ada kesalahan pandangan. Pengelolaan kebun kelapa sawit dilakukan di kawasan areal penggunaan lainnya atau APL. Tapi, seringkali salah diterjemahkan kawasan APL disebut hutan, padahal tidak. Tanaman sawit, daunnya mengandung klorofil sehingga menghasilkan oksigen. Sekarang ini cara pengelolaan kawasan peralihan pengelolaan sawit. Kalau buka lahan segera tanam dengan penutup lahan yang cepat tumbuh. Tujuannya agar jangan sampai terjadi penguapan saat matahari sinari tanah, salah satu tanaman penutup lahan contohnya kurkuma. "Kelapa Sawit umur 30 tahun, dibandingkan dengan bunga matahari, setiap 6 bulan atau 7 bulan panen. Di mana panennya membabat habis permukaan tanah. Akibatnya, tanah setiap tahun terbuka. Ini bukan persoalan merusak hutan, ini persoalan persaingan saja," jelasnya. Menurutnya, minyak nabati bersumber dari kelapa sawit 10 kali lipat lebih banyak dibanding bunga matahari. Sebanyak 60 persen produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) ada di Indonesia termasuk di Kalimantan Timur. Sedang 20 persen CPO untuk bahan baku produk dalam negeri termasuk minyak goreng dan biodiesel. "Total 35 juta diekspor ke Eropa, dan sekitar 8 persen dari 35 juta, sebanyak 200 hingga 250 ribu ton digunakan untuk keperluan bahan baku produksi dalam negeri. Begitu realitas yang saya tahu," sebutnya.