Danantara

Sorotan terbaru dari Tag # Danantara

Nilai Investasi Hingga US$ 7 Miliar, Danantara Indonesia Serentak Resmikan 6 Proyek Hilirisasi Fase I Nusantara
Nusantara
Minggu, 08 Februari 2026 | 09:31 WIB

Nilai Investasi Hingga US$ 7 Miliar, Danantara Indonesia Serentak Resmikan 6 Proyek Hilirisasi Fase I

Jakarta, katakabar.com - BPI Danantara Indonesia (Danantara Indonesia) secara serentak melaksanakan groundbreaking enam proyek hilirisasi di 13 lokasi di Indonesia, dengan total nilai investasi mencapai US$ 7 miliar. Proyek-proyek ini merupakan bagian dari agenda transformasi ekonomi nasional untuk memperkuat sektor riil, meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri, menciptakan lapangan pekerjaan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Secara keseluruhan, proyek ini diperkirakan akan menyerap lebih dari 6.000 tenaga kerja langsung. Peresmian serentak ini menandai dimulainya implementasi proyek-proyek prioritas hilirisasi fase I yang dikelola secara terintegrasi, lintas sektor diantaranya sektor energi, pangan, mineral dan logam, sebagai fondasi penguatan struktur industri nasional dan pengurangan ketergantungan impor secara bertahap. CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan program hilirisasi agenda strategis yang menjadi prioritas Presiden Republik Indonesia, sekaligus menjadi salah satu fokus utama Danantara Indonesia dalam mendorong transformasi ekonomi nasional. “Tahap awal proyek-proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi perekonomian Indonesia, baik melalui penciptaan nilai tambah industri maupun penyerapan tenaga kerja. Ke depan, proyek-proyek hilirisasi ini diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berdaya saing global. Melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, BUMN, dan mitra strategis, hilirisasi akan menjadi fondasi penting dalam memperkuat kemandirian industri dan mendorong Indonesia menuju ekonomi yang lebih maju dan bernilai tambah tinggi,” jelas Rosan. MIND ID Bersama anggotanya INALUM dan ANTAM meresmikan fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit - alumina - aluminium yang berlokasi di Mempawah Kalimantan Barat. Fasilitas ini terdiri dari Smelter Aluminium Baru dengan kapasitas 600.000 metrik ton aluminium per anum dan Smelter Grade Alumina Refinery Fase II dengan kapasitas 1 juta metrik ton alumina per anum. Proyek ini ditujukan untuk mendukung program ketahanan mineral Indonesia, serta mendukung pasokan bahan baku bagi sektor industri manufaktur dalam negeri, sebagai bagian dari penguatan rantai nilai industri nasional. Melalui proyek strategis nasional ini, MIND ID mendorong peningkatan nilai tambah hingga 70 kali lipat, dari bauksit menjadi alumina dan aluminium. Hal ini didasari dari harga bauksit mentah berada dikisaran US$40 per metrik ton, meningkat menjadi sekitar US$400 per metrik ton setelah diolah menjadi alumina dan kembali melonjak hinga sekitar US$2.800 - US$3.000 per metrik ton ketika diproses menjadi aluminium. Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, mengatakan melalui hadirnya proyek ini dapat meningkatkan kemampuan produksi aluminium dari dalam negeri yang semakin kuat, serta menunjukkan bahwa Indonesia semakin mampu mengurangi ketergantungan impor aluminium. Menurutnya hadirnya fasilitas ini dapat menurunkan tingkat ketergantungan impor dan akan berdampak pada peningkatan cadangan devisa. Saat smelter aluminium baru beroperasi, diperkirakan cadangan devisa naik 394% dari Rp11 triliun menjadi Rp52 triliun per tahun. Di samping itu, para pelaku industri manufaktur akan mendapat kepastian bahan baku dari dalam negeri. “Proyek ini adalah bentuk kontribusi Grup MIND ID dalam menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat ekonomi, dan memperkuat kedaulatan Negara pada sektor mineral, demi peradaban masa depan Indonesia,” terang Maroef. Turut hadir di peresmian ini Gubernur Kalimantan Barat, Anggota DPR RI Komisi XII, Bupati Kabupaten Mempawah, Raja Mempawah XIV, Dewan Adat Dayak, Jajaran Direksi dan Komisaris MIND ID, ANTAM, Bukit Asam, INALUM, dan PT Borneo Alumina Indonesia. Pelaksanaan proyek-proyek hilirisasi ini sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia untuk mempercepat transformasi ekonomi nasional melalui penguatan sektor riil, peningkatan nilai tambah sumber daya domestik, serta pembangunan industri yang berdaya saing dan berkelanjutan. Danantara Indonesia bersama BUMN memastikan agar proyek-proyek prioritas dapat direalisasikan secara disiplin, tepat waktu, dan memberikan dampak ekonomi nyata.

MUFG dan Danantara Gelar Indonesia Day di Tokyo Dorong Kolaborasi Investasi Strategis Jepang Indonesia Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 10 Desember 2025 | 12:00 WIB

MUFG dan Danantara Gelar Indonesia Day di Tokyo Dorong Kolaborasi Investasi Strategis Jepang Indonesia

Jakarta, katakabar.com - Platform jejaring dan temu bisnis perdana ini bertujuan memperdalam kemitraan institusional dan memobilisasi modal jangka panjang bagi agenda pembangunan nasional Indonesia. Bank, Ltd. (MUFG) dan Danantara Indonesia gelar “Indonesia Day” di Tokyo, sebuah platform khusus untuk mempromosikan dan memperdalam kerja sama investasi Indonesia–Jepang serta menyalurkan modal ke prioritas pembangunan jangka panjang Indonesia. Acara ini menghadirkan delegasi pimpinan senior dari Danantara Indonesia dan sejumlah BUMN Indonesia terkemuka di Tokyo untuk bertemu, berjejaring, dan mengeksplorasi peluang bersama dengan investor institusional dan korporasi terkemuka Jepang. Perwakilan BUMN terkemuka Indonesia, termasuk Pertamina, PLN, BNI, Bank Mandiri, Pelindo, dan MIND ID, turut serta dalam delegasi yang dipimpin Danantara Indonesia. Di forum Indonesia Day, Danantara Indonesia memaparkan tinjauan makroekonomi Indonesia, sektor prioritas, dan lanskap investasi, sementara perwakilan BUMN berbagi perspektif mengenai inisiatif yang sedang berjalan. Acara ini turut dihadiri oleh sejumlah investor Jepang yang antusias untuk menjalin kemitraan dengan Danantara Indonesia dan BUMN Indonesia, menegaskan keseriusan dalam membangun hubungan yang berkelanjutan. Indonesia Day tidak hanya dirancang sebagai sebuah forum, tetapi sebagai jembatan strategis yang menghubungkan ambisi pembangunan Indonesia dengan komunitas investor Jepang. Sebagai instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, Danantara Indonesia bersama jajaran BUMN menampilkan peta jalan pembangunan nasional dan proyek-proyek utama di Indonesia. Dialog dan jejaring yang terjalin antara delegasi dan investor Jepang yang diundang oleh MUFG menjadi landasan bagi kolaborasi dan investasi di masa depan, khususnya di sektor-sektor penting bagi pertumbuhan di mana modal dan keahlian Jepang dapat memberikan nilai tambah mewujudkan kemitraan yang berlandaskan visi bersama dan nilai yang bermanfaat bagi kedua belah pihak. Program ini mencakup dialog kepemimpinan, presentasi, dan sesi temu bisnis yang terarah. Nobuya Kawasaki, Managing Executive Officer dan Chief Executive for Asia-Pacific MUFG, mengatakan Indonesia terus menunjukkan posisinya sebagai ekonomi yang kuat dan tangguh di kawasan. "Indonesia Day menjadi sarana bagi MUFG untuk memperkuat komitmen dalam mendukung agenda jangka panjang Indonesia melalui platform yang aman dan terpercaya, yang memungkinkan institusi Indonesia menjalin kerja sama dengan investor Jepang yang berorientasi jangka panjang," jelas Nobuya. Pandu Patria Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara Indonesia, menimpali, fokus investasi Danantara Indonesia mencakup area yang selaras dengan prioritas nasional dan minat investor global. Dalam mencari mitra global, kami menekankan eksekusi, dampak, dan integritas, guna membangun kepercayaan untuk menarik modal jangka panjang dan memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan ekonomi. "Acara seperti hari ini memberi kesempatan untuk menjelaskan strategi kami dengan lebih baik dan memastikan mitra global memahami potensi Indonesia," ucapnya.

Danantara Untuk Kemandirian Industri Baja Nasional Nusantara
Nusantara
Jumat, 20 Juni 2025 | 10:14 WIB

Danantara Untuk Kemandirian Industri Baja Nasional

Jakarta, katakabar.com - Kisah runtuhnya industri baja Inggris dan kontroversi akuisisi U.S. Steel oleh Jepang membuka mata dunia tentang satu kenyataan, baja bukan sekadar komoditas industri, melainkan fondasi dan instrumen kedaulatan negara. Inggris, yang sejak era Thatcher menghapus peran negara dalam industri baja, kini harus menalangi krisis yang melanda Tata Steel UK dan British Steel melalui subsidi dan intervensi darurat. Negara yang dulu menjadi pionir dan kampiun industri baja pada era industrialisasi abad ke 19 dan awal abad ke 20, justru kini industri bajanya berada dalam kondisi kritis dan terjebak dalam ketergantungan terhadap produsen asing. Berbeda dengan Inggris, Amerika Serikat mempertahankan kendali atas sektor baja melalui mekanisme yang lebih sistematis. Saat Nippon Steel hendak mengakuisisi U.S. Steel pada akhir 2023, pemerintah AS melakukan evaluasi dampak akuisisi terhadap kepentingan strategis dan keamanan nasional melalui Committee on Foreign Investment in the United States atau CFIUS. Setelah melalui kajian, pemerintah AS setujui akuisisi dengan syarat pemberian golden share, yang memberikan hak veto negara atas keputusan strategis. Pendekatan ini menegaskan sektor baja tidak hanya masalah bisnis, tetapi bagian dari kepentingan dan strategi negara. Indonesia memang tidak memiliki lembaga seperti CFIUS di AS. Tapi, Indonesia kini memiliki instrumen yang tak kalah penting, yang dapat menjembatani peran negara melindungi kepentingan strategis dan kedaulatan ekonomi nasional, yakniDaya Anagata Nusantara atau Danantara. Sebagai pengelola aset dan investasi strategis lintas sektor, Danantara memikul mandat besar untuk memperkuat hilirisasi, membangun daya saing industri, dan menciptakan kemandirian ekonomi. Tapi hingga kini, sektor baja belum disebut secara eksplisit sebagai prioritas investasinya, padahal industri ini memegang peran yang sangat sentral dalam pembangunan nasional. Dengan memperhatikan pengalaman Inggris dan Amerika Serikat, serta mempertimbangkan peran industri baja sebagai the mother of all industries, kehadiran negara di sektor ini menjadi keniscayaan. Danantara, sebagai entitas strategis baru yang dirancang untuk menyeimbangkan kekuatan pasar dengan kepentingan nasional, tidak boleh absen dalam membangun kembali industri baja Indonesia. Inilah saatnya Danantara mengambil peran. Sejarah BUMN Baja di Berbagai Negara Sejarah industrialisasi dunia menunjukkan bahwa kehadiran negara dalam industri baja merupakan strategi penting dalam membangun kekuatan industri nasional. Dari Inggris hingga Jepang, dari India hingga Tiongkok, hampir semua negara yang berhasil membangun basis industrinya pernah, dan dalam banyak kasus masih memiliki Badan Usaha Milik Negara atau BUMN di sektor baja. Pada fase awal industrialisasi, negara hampir selalu hadir sebagai arsitek utama pembangunan kapasitas baja, karena sektor ini menyangkut banyak kepentingan sekaligus: pembangunan infrastruktur, penguatan manufaktur, stabilitas energi, hingga ketahanan militer. Di Tiongkok, peran BUMN dalam industri baja tidak hanya besar, tapi menentukan. Beberapa di antaranya bahkan menempati posisi teratas dalam daftar produsen baja terbesar dunia. Sebanyak 13 BUMN masuk dalam daftar 50 produsen baja global termasuk Baowu, Ansteel, dan HBIS. Perusahaan-perusahaan tersebut berfungsi sebagai instrumen negara untuk mengarahkan konsolidasi industri, mendominasi ekspor, dan menjaga stabilitas harga domestik. Pada sistem industri baja Tiongkok, negara bukan sekadar regulator, melainkan aktor utama yang menentukan arah dan kebijakan industri. India menunjukkan pola yang tidak jauh berbeda. Beberapa dekade terakhir, negara ini membangun kapasitas industrinya melalui BUMN seperti Steel Authority of India Limited atau SAIL dan Rashtriya Ispat Nigam Limited atau RINL. Meskipun peran swasta terus tumbuh, BUMN tetap menjadi fondasi penting dalam penyediaan baja untuk proyek-proyek strategis dan pembangunan infrastruktur nasional. Pemerintah India secara konsisten mempertahankan peran negara melalui kepemilikan saham mayoritas, dukungan investasi, dan kebijakan protektif. Bahkanvisi jangka panjangnya, India menargetkan peningkatan kapasitas baja nasional hingga 500 juta ton per tahun pada 2050, dengan BUMN tetap menjadi bagian dari tulang punggung industrinya. Pentingnya peran BUMN pembangunan industri juga tercermin dari pengalaman berbagai negara maju. Meskipun sebagian telah diprivatisasi, banyak di antaranya memulai pengembangan industrinya melalui kepemilikan negara di sektor baja. Jepang mendirikan Japan Iron and Steel Co. Pada 1950-an untuk menopang rekonstruksi pascaperang. Korea Selatan mendirikan POSCO sebagai BUMN penuh pada 1968, yang kemudian menjadi jantung industrialisasi Korea. Inggris pernah memiliki British Steel Corporation yang terbentuk melalui nasionalisasi industri baja pada 1967, sebelum akhirnya diprivatisasi di era Thatcher. Jerman dan Prancis memiliki sejarah serupa, di mana negara hadir penuh saat membangun kapasitas industri dasar, dan baru mundur ketika kemandirian pasokan telah dicapai. Berbeda dengan negara maju lainnya, Amerika Serikat tidak memiliki BUMN di sektor baja. Sepanjang sejarah industrialisasinya, peran negara tetap sangat besar melalui regulasi dan kebijakan strategis. Lewat tarif impor, subsidi, dan lembaga seperti Committee on Foreign Investment in the United States atau CFIUS, pemerintah AS secara aktif menjaga industri baja dari pengaruh asing yang dianggap membahayakan kepentingan nasional. Akuisisi U.S. Steel oleh Nippon Steel, yang sempat mendapat penolakan di era Presiden Biden dan kemudian disetujui oleh Presiden Trump dengan syarat pemberian golden share, menjadi contoh mutakhir bahwa negara tetap menjadi pengendali terakhir dalam sektor yang dianggap vital. Pengalaman berbagai negara melakukan pengembangan industri menunjukkan satu pola yang konsisten kehadiran negara dalam industri baja merupakan prasyarat penting bagi pembangunan basis industri nasional yang tangguh. Negara selalu hadir sebagai pengendali, baik melalui kepemilikan langsung seperti BUMN, maupun melalui regulasi strategis. Lebih penting lagi, negara tidak seharusnya keluar dari sektor industri vital ini, bahkan setelah mencapai status industri maju. Sebab baja bukan hanya soal produksi, tetapi tentang kendali atas kepentingan dan kedaulatan nasional. Nilai Strategis Industri Baja Setiap tahap pembangunan ekonomi nasional, industri baja selalu menempati posisi yang fundamental. Baja bukan hanya bahan baku ia merupakan syarat dasar bagi berdirinya infrastruktur, tumbuhnya industri manufaktur, berkembangnya sektor energi, serta berfungsinya sistem pertahanan. Dengan cakupan peran strategis yang sedemikian luas, tidak berlebihan bila baja disebut sebagai the mother of all industries. Karakter baja sebagai enabling industry menjadikannya tidak tergantikan. Hampir seluruh proyek strategis negara dari jalan tol, rel kereta, jembatan, pelabuhan, hingga pembangkit listrik dan fasilitas militer bertumpu pada pasokan baja yang andal. Bahkan sektor-sektor prioritas pemerintah seperti transisi energi, kendaraan listrik, dan pemrosesan mineral strategis pun tidak mungkin berlangsung tanpa basis pasokan baja nasional yang kuat. Selain berperan sangat penting bagi pertumbuhan industri lainnya, industri baja juga memiliki nilai ekonomi yang besar dan strategis. Laporan Oxford Economics (2019) mencatat bahwa setiap satu dolar nilai tambah dari sektor baja dapat mendorong penciptaan nilai ekonomi sebesar USD 2,50 di sektor lain. Setiap dua pekerja di industri baja mendukung 13 pekerjaan tambahan di sektor hulu dan hilirnya, menjadikan total sekitar 40 juta pekerja dalam rantai pasok global yang bergantung pada industri ini. Bahkan jika dihitung dengan pendekatan luas (broad measure), kontribusi industri baja mencapai USD 8,2 triliun atau setara 10,7 persen dari PDB global, serta menopang hingga 259 juta lapangan kerja di seluruh dunia. Bagi Indonesia, dampak ekonomi dari penguatan industri baja sangatlah signifikan. Peningkatan kapasitas industri baja menjadi 100 juta ton per tahun pada 2045. Sesuai visi Indonesia Emas diperkirakan akan menciptakan dampak ekonomi senilai Rp6.020 triliun, serta membuka hingga 12 juta lapangan kerja. Selain dampak ekonomi yang sangat besar, nilai strategis industri baja juga terletak pada perannya dalam pertahanan dan kedaulatan nasional. Di banyak negara, baja diposisikan sebagai elemen vital dalam sistem pertahanan dan ketahanan. Kemandirian militer, logistik saat krisis, dan kemampuan tanggap darurat pada bencana semuanya bergantung pada pasokan baja dalam negeri yang dapat diandalkan.