ION Build Hadirkan Open Network untuk Akselerasi Digital Startup dan Pelaku Bisnis Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 07 Oktober 2026 | 14:09 WIB

ION Build Hadirkan Open Network untuk Akselerasi Digital Startup dan Pelaku Bisnis

Jakarta, katakabar.com - Indonesia Open Network (ION) bersama Garuda Spark Innovation Hub (GSIH) Jakarta gelar ION Build: Build on the Open Network-A Connector for Digital Commerce & Interoperable Solutions di Garuda Spark Innovation Hub, FX Sudirman, Jakarta, Jumat (2/10) lalu. Didukung Google.org dan Indosat Ooredoo Hutchison, kegiatan ini mempertemukan startup, founder, developer, serta pelaku bisnis untuk membahas open network dan interoperabilitas dalam membangun ekosistem perdagangan digital yang lebih terhubung.

AI Bagian Workflow Bisnis, Telkom AI Center Malang Perkuat Kapabilitas Digital Pelaku Usaha Teknologi
Teknologi
Sabtu, 03 Oktober 2026 | 09:30 WIB

AI Bagian Workflow Bisnis, Telkom AI Center Malang Perkuat Kapabilitas Digital Pelaku Usaha

Malang, katakabar.com - Penguatan kemampuan memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) menjadi bagian penting dorong kesiapan bisnis menghadapi perubahan cara kerja di era digital. Melalui AI Upskilling Productivity for Business & SME, Telkom AI Center Malang bersama Nortis AI Academy menghadirkan pembelajaran secara daring mengenai penerapan AI dalam workflow bisnis yang diikuti oleh lebih dari 35 peserta dari berbagai kota di Indonesia. Sesi pembelajaran dibuka M. Ziaelfikar Albaba, BCL (Business and Community Lead) Telkom AI Center Malang & CEO Nortis AI Academy. Ia menekankan pentingnya melihat penerapan AI dari perspektif kebutuhan bisnis. Peserta diajak memahami bahwa pemanfaatan AI tidak semata-mata dilakukan karena fear of missing out (FOMO) atau mengikuti tren teknologi, tetapi perlu dikaitkan dengan proses kerja dan tujuan yang ingin dicapai. Dengan pendekatan tersebut, AI dapat diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mendukung pertumbuhan pendapatan. “Adopsi AI sebaiknya dimulai dari kebutuhan dan proses kerja yang ingin dioptimalkan. Dengan begitu, penggunaan AI tidak sekadar mengikuti tren, tetapi benar-benar bisa memberikan dampak yang terukur bagi bisnis,” ujar M. Ziaelfikar Albaba, BCL (Business and Community Lead) Telkom AI Center Malang sekaligus CEO Nortis AI Academy. Materi kemudian dilanjutkan Rachmat Anggara, Founder & CEO Qasir.id, melalui pembahasan “AI Workflow & Task Analysis”. Dia membagikan pengalaman Qasir.id dalam penerapan AI untuk mendukung operasional perusahaan, termasuk pemanfaatan AI Agent Open Claw sebagai salah satu tools dalam workflow perusahaan. Pengalaman tersebut memberikan gambaran kepada peserta mengenai bagaimana AI dapat diterapkan berdasarkan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam operasional bisnis. Sepanjang sesi pembelajaran, diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan yang membahas penerapan AI Agent untuk mendukung pekerjaan karyawan hingga strategi mengoptimalkan penggunaan token agar pemanfaatan AI tetap efisien. Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa peserta tidak hanya tertarik memahami teknologi secara umum, tetapi juga mulai mempertimbangkan aspek implementasi dan efisiensinya dalam lingkungan kerja. Salah satu peserta juga menyampaikan materi yang diberikan memiliki pembahasan yang mendalam dan mampu menjawab berbagai keraguan yang sebelumnya muncul dalam proses mempertimbangkan adopsi AI untuk bisnis.

Hadir di ICCA 2026, Vritimes Tunjukkan Peran Siaran Pers Digital Membangun Kepercayaan Konsumen Serba Serbi
Serba Serbi
Minggu, 27 September 2026 | 12:07 WIB

Hadir di ICCA 2026, Vritimes Tunjukkan Peran Siaran Pers Digital Membangun Kepercayaan Konsumen

Jakarta, katakabar.com - Berakhirnya gelaran pameran dan ajang penghargaan tahunan The Best Contact Center Indonesia (TBCCI) 2026 yang digelar oleh Indonesia Contact Center Association (ICCA) di Jakarta menandai suksesnya keikutsertaan Vritimes sebagai exhibitor. Sebagai platform distribusi siaran pers berbasis SaaS asal Tokyo, Vritimes memanfaatkan momentum berkumpulnya para pemimpin contact center, praktisi customer experience (CX), dan penyedia teknologi komunikasi ini untuk mengenalkan pentingnya integritas publikasi berita dalam mendukung keterbukaan informasi layanan pelanggan. Dalam pameran tersebut, Vritimes memaparkan bagaimana strategi publisitas siaran pers dapat menyokong tiga pilar utama keberadaan digital perusahaan. Pertama, pada pilar Brand Awareness, penyebaran kabar resmi mengenai inovasi layanan dan pencapaian contact center ke jaringan portal berita membantu memperluas jangkauan pemangku kepentingan serta pelanggan. Kedua, dari sisi SEO (Search Engine Optimization), penayangan siaran pers di portal berita menghasilkan keberadaan backlink yang berkontribusi pada peningkatan Domain Authority situs web perusahaan dan mendongkrak posisi kata kunci di mesin pencari Google. Ketiga, untuk merespons tren AIO (Artificial Intelligence Optimization), Vritimes turut membantu optimasi visibilitas perusahaan agar informasi resmi lebih mudah terindeks serta dijadikan rujukan oleh mesin pencari kecerdasan buatan seperti ChatGPT, Gemini, Perplexity, dan Google AI Overviews. Perwakilan manajemen Vritimes Inc. menyampaikan bahwa di era transparansi digital, penyampaian informasi yang resmi dan mudah ditemukan menjadi penentu utama dalam membangun kepercayaan serta kepuasan konsumen. Antusiasme para profesional contact center dan praktisi layanan pelanggan terlihat dari tingginya interaksi di booth VRITIMES sepanjang acara, di mana peserta berdiskusi mengenai taktik komunikasi publik dan menyaksikan langsung cara kerja dasbor platform. Keikutsertaan di TBCCI 2026 ini semakin mempertegas komitmen VRITIMES untuk terus menyediakan infrastruktur publikasi siaran pers yang praktis, terukur, dan relevan bagi berbagai sektor industri di Indonesia.

Dukung Percepatan Program MBG di Daerah 3T, Vritimes Dorong Strategi Komunikasi Digital Bersama BSKDN Kemendagri Nasional
Nasional
Sabtu, 26 September 2026 | 12:03 WIB

Dukung Percepatan Program MBG di Daerah 3T, Vritimes Dorong Strategi Komunikasi Digital Bersama BSKDN Kemendagri

Jakarta, katakabar.com - Perusahaan teknologi media dan penyedia platform distribusi siaran pers, Vritimes berpartisipasi aktif sebagai narasumber utama dalam Forum Diskusi Aktual (FDA) angkat tema "Strategi Percepatan Implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T)". Forum strategis ini digelar Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) di Hotel Horison Ultima Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (23/9).

Ketika Kampus Tak Lagi Cukup Sekadar Digital: Metranet dan Masa Depan PTI Pendidikan
Pendidikan
Minggu, 13 September 2026 | 13:03 WIB

Ketika Kampus Tak Lagi Cukup Sekadar Digital: Metranet dan Masa Depan PTI

Jakarta, katakabar.com - Lewat konsep Building Impactful Universities untuk membangun perguruan tinggi yang bermutu, berdampak, dan mampu berdaya saing global, Metranet melihat teknologi sebagai enabler. Perguruan tinggi Indonesia (PTI) tengah memasuki fase baru dalam pemanfaatan teknologi. Digitalisasi tidak lagi cukup dimaknai sebagai upaya memindahkan layanan dan proses ke platform digital, tetapi perlu diarahkan untuk membangun institusi yang lebih adaptif, berbasis data, inovatif, dan mampu menciptakan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. Perspektif tersebut menjadi salah satu konteks kehadiran Metranet, anak perusahaan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, dalam Indonesia Higher Education CIO Forum 2026 yang berlangsung di Aula Timur dan Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, pada 31 Agustus hingga 1 September 2026. Usung tema “Empowering PDDikti (Pangkalan Data Pendidikan Tinggi) through IDREN Collaboration: Advancing IT Governance, Cyber Resilience, and Operational Excellence”, forum ini mempertemukan pimpinan teknologi informasi dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia bersama pemerintah, industri, dan pemangku kepentingan terkait. Selama dua hari, forum ini membahas sejumlah agenda strategis yang menjadi fondasi pengembangan pendidikan tinggi berbasis teknologi, mulai dari integrasi dan pelaporan PDDikti, perluasan konektivitas melalui Indonesia Research and Education Network (IDREN), tata kelola teknologi informasi, pemerintahan digital, ketahanan siber, hingga pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk analitik data dan pelaporan. Diskusi juga diperluas melalui sesi meja bundar yang membahas tata kelola dan kebijakan TI, ekosistem data pendidikan tinggi, transformasi digital, ketahanan siber, serta SDM digital dan kepemimpinan TI. Bagi Metranet, berbagai agenda tersebut menunjukkan bahwa masa depan kampus digital membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Teknologi perlu ditempatkan sebagai enabler yang menghubungkan kebutuhan akademik, operasional, data, inovasi, dan aktivitas ekonomi kampus sehingga menghasilkan nilai yang nyata. Pandangan tersebut dituangkan Metranet melalui kerangka “Building Impactful Universities”, yang menggambarkan evolusi perguruan tinggi menuju empat area utama: AI-Ready Campus, Digital University, Campus Economic Hub, serta Research to Impact to Market. Keempat area tersebut didukung oleh kapabilitas Metranet Group pada lima area, yaitu technology, AI, data, commerce, dan ecosystem. “Kami melihat transformasi perguruan tinggi bukan semata-mata mengenai seberapa banyak teknologi yang digunakan, tetapi seberapa besar nilai yang dapat dihasilkan dari pemanfaatannya. Teknologi harus mampu meningkatkan kualitas layanan, memperkuat pengambilan keputusan, membuka ruang inovasi, dan mendukung perguruan tinggi menghasilkan dampak yang lebih besar. Karena itu, Metranet mengambil posisi sebagai Digital Enabler for Nation untuk membantu menghadirkan kapabilitas yang relevan dengan kebutuhan tersebut,” kata Faisal Yusuf, Direktur Bisnis Metranet. Dalam visi tersebut, digitalisasi bukan sekadar membangun layanan berbasis teknologi, melainkan menyatukan berbagai aspek perguruan tinggi, mulai dari akademik dan riset hingga pengalaman mahasiswa dan operasional. Dukungan data dan AI kemudian memungkinkan institusi mengambil keputusan secara lebih cerdas, meningkatkan kualitas layanan, dan menciptakan nilai yang lebih besar bagi seluruh ekosistemnya.  Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Metranet menghadirkan sejumlah kapabilitas melalui portofolionya, antara lain SCALA sebagai digital transformation enabler, Xooply sebagai e-commerce platform, Cazbox sebagai community platform, dan Uzone sebagai digital literacy platform. Metranet juga memperkuat kapabilitasnya melalui kolaborasi dengan Google untuk produk Google Education dan Zoom Communications untuk produk Zoom Workplace di sektor pendidikan. Portofolio tersebut merepresentasikan pendekatan Metranet yang tidak hanya berfokus pada penyediaan teknologi, tetapi juga pada bagaimana berbagai kapabilitas dapat menjawab kebutuhan institusi secara lebih utuh, mulai dari transformasi proses, pengembangan layanan, penguatan komunitas, hingga peningkatan literasi digital. “Perguruan tinggi memiliki kebutuhan yang sangat beragam dan tidak dapat diselesaikan oleh satu solusi saja. Karena itu, pendekatannya harus berbasis ekosistem. Pemerintah memiliki peran dalam kebijakan dan arah nasional, perguruan tinggi memahami kebutuhan akademik dan institusionalnya, sementara industri dan technology partner dapat membawa kapabilitas untuk mempercepat implementasi. Metranet ingin mengambil peran sebagai penghubung kekuatan tersebut,” lanjut Faisal. Pendekatan berbasis ekosistem ini menjadi semakin relevan ketika pendidikan tinggi dihadapkan pada tantangan yang bersifat lintas institusi. Perbedaan tingkat kematangan teknologi, kualitas dan interoperabilitas data, risiko keamanan siber, serta kebutuhan mengadopsi cloud dan AI secara strategis menjadi sejumlah isu yang perlu dijawab bersama oleh ekosistem pendidikan tinggi. Karena itu, Indonesia Higher Education CIO Forum 2026 menjadi ruang untuk menyamakan perspektif dan menyusun langkah bersama. Forum ini diarahkan untuk membangun kesepahaman mengenai arah transformasi digital pendidikan tinggi sekaligus memperkuat tata kelola TI, infrastruktur dan konektivitas, keamanan siber, pemanfaatan AI, serta jejaring kolaborasi antar-CIO dengan perguruan tinggi. Bagi Metranet, keterlibatan dalam forum tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk terus memperluas kontribusi TelkomGroup dalam mendukung kemajuan pendidikan Indonesia. Dengan mempertemukan kapabilitas teknologi, mitra strategis, dan kebutuhan institusi, Metranet melihat peluang untuk membantu perguruan tinggi bergerak menuju institusi yang tidak hanya digital, tetapi juga bermutu, berdampak, dan mampu berdaya saing secara global. “Pada akhirnya, teknologi bukanlah tujuan akhir. Teknologi adalah enabler untuk menciptakan perguruan tinggi yang bermutu, berdampak, dan mendunia. Kami percaya ketika pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan technology partner bergerak bersama, transformasi yang dihasilkan tidak hanya memperkuat institusi, tetapi juga memberikan kontribusi bagi kemajuan Indonesia,” sebut Faisal.

Sabtu, 12 September 2026 | 16:22 WIB

ION Ajak Startup Bandung Lihat Celah Infrastruktur Digital Peluang Bisnis

Bandung, katakabar.com - Peluang bisnis baru tidak selalu datang dari menciptakan platform baru. Dalam ekosistem digital yang semakin terhubung, peluang juga bisa muncul dari hal-hal yang belum terhubung: antara bisnis dan pelanggan, layanan pembayaran dan merchant, logistik dan penjual, atau teknologi dan berbagai penyedia layanan. Gagasan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam “Digital Public Infrastructure: Mini Seminar & Networking” yang digelar Indonesia Open Network (ION) di Garuda Spark Innovation Hub, BLOCK71 Bandung, Rabu (9/9/2026) lalu. Usung tema “What’s Your Next Big Move? Discover New Business Opportunities Through the Power of Open Networks,” kegiatan tersebut memperkenalkan konsep Digital Public Infrastructure (DPI), interoperabilitas dan open network kepada startup serta pelaku ekosistem digital di Bandung. Yang membuat kegiatan ini berbeda adalah peserta tidak hanya duduk mendengarkan presentasi. Mereka kemudian diajak melihat bisnis masing-masing, mengidentifikasi persoalan yang dihadapi, mencari celah dalam ekosistem dan memikirkan koneksi apa yang dibutuhkan untuk membuka peluang baru. Format tersebut memang dirancang sebagai proses dua arah. Selain memperkenalkan ION kepada startup, kegiatan ini juga digunakan untuk menemukan use cases, kebutuhan dan missing connections yang belum tercermin dalam pemetaan ekosistem ION. Ketika Sistem Digital Tidak Saling Terhubung Bisnis saat ini semakin bergantung pada berbagai platform, sistem pembayaran, layanan logistik, data dan perangkat digital lainnya. Masalahnya, sistem-sistem tersebut tidak selalu dapat terhubung dengan mudah. Fragmentasi ini dapat menciptakan hambatan bagi bisnis yang ingin berkembang, mulai dari kesulitan integrasi hingga keterbatasan dalam menjangkau pasar dan bekerja sama dengan partner baru. Karena itu, interoperabilitas menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai Digital Public Infrastructure. ION memperkenalkan dirinya sebagai open digital commerce network yang menghubungkan buyers, sellers, logistics providers, developers dan penyedia layanan lainnya melalui partisipasi terbuka dan standar bersama. Pendekatan ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap platform tertentu sekaligus memperluas akses pasar. Tetapi, bagi Dr. Uruqul Nadhif Dzakiy, Assistant Professor di Telkom University, membangun koneksi saja belum cukup. Dalam sesi “Ecosystem Opportunity Mapping”, Uruqul mengajak peserta melihat ekosistem bisnis dari sisi hubungan antaraktor dan manfaat yang dapat mereka peroleh. “Masalahnya adalah ketika masuk di platform itu tidak adanya mutual benefit. Nah di open network ini menganut prinsip yaitu ada mutual benefit," jelasnya. Menurut Uruqul, sebuah ekosistem memiliki berbagai peran, mulai dari buyer dan vendor hingga pihak yang mengoordinasikan hubungan di antara para aktor tersebut. Yang penting bukan sekadar membuat mereka terhubung, tetapi memastikan hubungan tersebut memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terlibat. Bukan Sekedar “Connectivity” Pembahasan Uruqul kemudian bergerak pada satu hal yang menurutnya menjadi pembeda antara konektivitas biasa dan ekosistem yang benar-benar berjalan: transaksi dan kepercayaan. “Melalui di sini tidak hanya sekedar connectivity. Tapi di situ ada namanya transaksi. Kalau connectivity saja itu sudah bisa dengan teknologi. Tapi kalau sampai kemudian ada transaksi di dalamnya itu sudah ada trust,” ucapnya. Menurutnya, teknologi dapat membuat berbagai pihak saling terhubung. Tetapi hubungan tersebut belum tentu menciptakan ekosistem yang hidup jika tidak ada kolaborasi nyata dan manfaat bagi setiap aktor. Hal itu juga menjadi tantangan yang ia lihat dalam ekosistem startup Bandung. Kota tersebut memiliki banyak startup dan institusi pendukung inovasi, tetapi tantangannya adalah bagaimana kolaborasi dapat bergerak dari sekadar koneksi menuju kerja sama yang menghasilkan transaksi dan kepercayaan. “Kolaborasinya itu dalam bentuknya yang real tidak hanya sekedar ... tapi ada sampai kemudian transaksi karena dengan transaksi itu ada trust,” imbuhnya. Uruqul menilai sebuah ekosistem dapat disebut aktif ketika para aktornya memahami peran masing-masing dan mendapatkan manfaat dari keberadaannya di dalam ekosistem. “Parameter aktif adalah entiti di dalam ekosistem itu saling mendapatkan benefit dan dia tahu peran masing-masingnya," terangnya. Mulai dari Masalah, Bukan Teknologi Dari konsep tersebut, peserta kemudian diarahkan untuk melihat bisnis mereka sendiri. Materi ION menggunakan Ecosystem Opportunity Mapping untuk membantu peserta memetakan platform, partner, pelanggan, layanan dan sistem digital yang mereka gunakan, kemudian melihat koneksi mana yang sudah ada dan mana yang masih hilang. Uruqul meminta peserta memulai dari persoalan yang benar-benar mereka hadapi dalam menjalankan bisnis. “Bisa nanti mengidentifikasi apa sih jadi pain point yang dirasakan, khususnya yang running business, masalahnya di mana," ulasnya. Setelah menemukan pain point, peserta kemudian diminta mencari gap antara kondisi yang ada dan kondisi yang mereka butuhkan. “Pertama apa sih pain point, apa sih yang jadi problem ... kemudian setelah itu gap-nya apa ... dari situlah kemudian kira-kira apa sih yang perlu diakomodasi oleh Open Network," bebernya. Menurut Uruqul, masukan tersebut penting karena ION juga masih mengembangkan ekosistemnya. Apa yang dibutuhkan oleh pelaku bisnis dapat menjadi insight untuk menentukan koneksi dan fungsi apa yang perlu dikembangkan ke depan. Melihat Peluang dari Berbagai Sektor Pembahasan kemudian dilanjutkan oleh Haryo Kusuma Wibawa, Head of Operations ION, yang memimpin sesi Mini Group Discussion. Dalam sesi tersebut, Haryo membawa konsep open network ke contoh peluang bisnis yang lebih konkret. Ia menunjukkan bahwa peluang dapat muncul di berbagai sisi ekosistem, termasuk finance, logistik, teknologi dan mobility. Salah satu ilustrasi yang disampaikan Haryo adalah bagaimana bisnis dapat memanfaatkan koneksi dengan pemilik basis pengguna yang sudah memiliki ekosistem sendiri. Dalam contoh yang ia berikan, perusahaan telekomunikasi dan bank dapat memiliki basis pengguna serta informasi transaksi yang, dengan persetujuan dan mekanisme yang tepat, dapat membuka kemungkinan koneksi dengan bisnis atau produk lain di dalam open network. Bagi startup, kemungkinan seperti itu berarti akses terhadap partner dan pelanggan tidak harus selalu dibangun dari nol. Haryo juga menyoroti kemungkinan model bisnis dengan biaya administrasi yang lebih rendah dibandingkan marketplace konvensional. “Kalau teman-teman punya marketplace dengan ION itu bisa men-charge administrasi yang jauh lebih rendah daripada yang saat ini terjadi. Nah itu yang kita harapkan,” tukasnya. Enam Kelompok Mencari Peluang Setelah sesi pemaparan, peserta dibagi menjadi enam kelompok untuk mengerjakan pemetaan mereka masing-masing. Haryo memimpin proses pembentukan kelompok tersebut dan mengarahkan peserta masuk ke sesi diskusi. Dalam kelompok, peserta diminta memilih bisnis atau kasus tertentu kemudian mengidentifikasi kebutuhan utama, persoalan yang muncul, aktor yang terlibat, koneksi yang sudah tersedia dan koneksi yang masih hilang. Mereka kemudian mencari kemungkinan peluang yang dapat muncul jika koneksi tersebut tersedia melalui interoperabilitas atau open network. Tujuannya bukan menghasilkan solusi teknologi yang sudah final, melainkan menemukan kebutuhan, peluang dan kemungkinan use case. Pendekatan ini membuat diskusi menjadi lebih dekat dengan persoalan yang dihadapi startup sehari-hari. Alih-alih bertanya, “Teknologi apa yang bisa kita bangun?”, peserta diajak mulai dari pertanyaan yang lebih sederhana: masalah apa yang sebenarnya ingin diselesaikan? Dari sana, mereka dapat melihat siapa saja yang dibutuhkan, apa yang belum tersedia dan apakah koneksi baru dapat menciptakan nilai. Peserta Menguji Model Bisnisnya Salah satu peserta, Fajar dari Bandung, mengatakan bahwa framework yang digunakan dalam workshop membantunya melihat sebuah ide bisnis secara lebih terstruktur. “Itu bisa membantu kami dalam membuat sebuah business model, apa yang jadi tantangan dan juga bisa melihat opportunities apa yang bisa kita lakukan," katak Fajar. Kelompok Fajar mengembangkan ide layanan untuk tenaga kerja di Indonesia, dengan fokus pada pengembangan pekerja untuk berbagai jenis pekerjaan seperti pengemudi, pekerja rumah tangga dan koki. Melalui framework yang diperkenalkan ION, kelompok tersebut melihat kembali model bisnis, target pasar dan peluang yang mungkin dikembangkan. “Kita bisa membantu bagaimana bisa melihat business modelnya, target marketnya gimana, dan juga peluang apa yang bisa didapatkan dari business model yang dibuat tadi dengan dibantu framework yang diajarkan oleh ION," tuturnya. Bagi ION, contoh tersebut menunjukkan fungsi lain dari kegiatan di Bandung. Startup tidak hanya diperkenalkan dengan konsep open network, tetapi juga diajak memberikan gambaran mengenai persoalan dan kebutuhan yang mereka hadapi sendiri. Membangun Open Network dari Kebutuhan Nyata Kegiatan di Bandung merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem Bandung ION Lab, dengan menghubungkan startup, inkubator, bisnis, komunitas teknologi dan stakeholder inovasi lokal dengan kebutuhan pasar yang lebih luas. Karena itu, hasil workshop tidak hanya berhenti pada enam kelompok yang selesai berdiskusi. ION juga menggunakan kegiatan tersebut untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas mengenai kebutuhan, kapabilitas dan kemungkinan partisipasi para pelaku ekosistem. Setiap kelompok diharapkan menghasilkan setidaknya satu peluang bisnis, kebutuhan infrastruktur digital atau tantangan konektivitas, sekaligus memahami posisi bisnis mereka dalam ekosistem ION. Bagi startup Bandung, pertanyaan yang diberikan ION menjadi cukup praktis: apa yang seharusnya bisa dilakukan oleh ekosistem mereka hari ini, tetapi belum bisa dilakukan? Jawaban atas pertanyaan itu bisa saja menjadi peluang bisnis berikutnya.

Talenta Digital Dibekali Keterampilan Analisis Data, Telkom AI Center Bali Taja Pelatihan Python Fundamental Teknologi
Teknologi
Minggu, 30 Agustus 2026 | 17:16 WIB

Talenta Digital Dibekali Keterampilan Analisis Data, Telkom AI Center Bali Taja Pelatihan Python Fundamental

Denpasar, katakabar.com - Sebagai upaya meningkatkan pemahaman dan keterampilan talenta digital dalam bidang analisis data, salah satu program AI Connect yang diinisiasi Telkom sukses digelar pada 10 hingga13 Agustus 2026 lalu. Usung tema “AI Introductory: Pre Class Python Fundamental for Data Analysis”, kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang interaktif bagi talenta digital untuk memahami dasar-dasar analisis data sekaligus mempraktikkan pengolahan data menggunakan Python. Ruang Telkom AI Center Bali dipenuhi antusiasme para talenta digital yang mengikuti kegiatan secara luring. Kegiatan pelatihan menghadirkan I Gusti Ayu Prema Santhi, Data Science Enthusiast dari Western Sydney University sebagai narasumber sekaligus mentor yang membagikan wawasan sekaligus praktik langsung mengenai dasar-dasar Python dalam analisis data. Kegiatan ini dirancang untuk menghubungkan pemahaman teknologi dengan kebutuhan pengolahan data. Dalam materinya, peserta diperkenalkan pada dasar-dasar Python sebagai salah satu keterampilan yang dapat digunakan dalam proses analisis data. Melalui pembelajaran yang tidak hanya bersifat teoretis, peserta juga mendapatkan kesempatan untuk memahami jenis-jenis data, tahapan proses pengolahan data secara lebih aplikatif dan contoh kasusnya.  Pelatihan ini diikuti oleh 7 talenta lokal dari beberapa kampus di Bali. Di hari pertama, peserta diperkenalkan dengan bahasa pemrograman Python. Dimulai dengan mempelajari dasar-dasar Python, seperti penggunaan variable, data types, operators, lists, dan dictionaries, kemudian dilanjutkan dengan conditional statements. Peserta juga melakukan praktik basic coding dan menyelesaikan mini challenge mengenai perhitungan serta klasifikasi data pelanggan. Melalui kegiatan ini, peserta mempelajari dasar pemrograman Python yang menjadi fondasi untuk melakukan pengolahan dan analisis data pada tahap berikutnya. Memasuki hari kedua, peserta mempelajari cara membuat program yang dapat melakukan pekerjaan secara berulang dan lebih terstruktur. Setelah memahami konsep tersebut, kegiatan pembelajaran diakhiri dengan latihan menganalisis data penjualan menggunakan konsep repetitif yang telah dipelajari. Materi yang telah disampaikan  membantu peserta mengotomatisasi pekerjaan yang berulang, membuat kode yang lebih efisien, serta memahami dasar pengolahan data numerik. Pada hari ketiga, peserta mulai menerapkan Python secara langsung untuk melakukan analisis terhadap dataset. Peserta mempelajari penggunaan pandas untuk membaca dataset. Peserta juga diperkenalkan dengan visualisasi sederhana untuk menyampaikan hasil analisis dalam bentuk grafik. Di akhir sesi, peserta mengerjakan mini challenge berupa analisis dataset e-commerce dan menghasilkan beberapa business insights. Materi yang diberikan membuat peserta mendapatkan gambaran mengenai workflow seorang data analyst mulai dari data mentah, proses cleaning dan analysis, hingga menghasilkan insight yang dapat mendukung pengambilan keputusan. “Penguasaan analisis data menjadi salah satu keterampilan penting bagi talenta digital. Melalui pelatihan ini, kami berharap peserta tidak hanya memahami dasar Python, tetapi juga mampu menggunakannya untuk mengolah data dan menghasilkan insight yang dapat diterapkan,” ujar Indria Trisni Puspita, Business and Community Lead Telkom AI Connect Bali. Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya Telkom AI Connect dalam membuka ruang pembelajaran bagi talenta digital di Bali. Melalui kombinasi materi dan praktik langsung, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat literasi teknologi, kemampuan analisis data, serta keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan dunia digital.

Tigo AI Perkenalkan Matrix v4.0  Dukung Pemasaran Digital di Asia Tenggara Tekno
Tekno
Kamis, 20 Agustus 2026 | 15:10 WIB

Tigo AI Perkenalkan Matrix v4.0  Dukung Pemasaran Digital di Asia Tenggara

Jakarta, katakabar.com - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terus membuka peluang baru dalam industri pemasaran digital. Teknologi ini mulai digunakan tidak hanya untuk menghasilkan konten, tetapi juga untuk membantu proses distribusi, pengelolaan kreator, hingga analisis performa kampanye. Di tengah perkembangan tersebut, Tigo AI memperkenalkan Matrix v4.0 di Indonesia, sebuah sistem pemasaran yang dirancang untuk menghubungkan sejumlah aktivitas pemasaran digital dalam satu platform. Menurut perusahaan, Matrix v4.0 mengintegrasikan produksi materi kreatif, distribusi konten, aktivitas promosi melalui kreator, serta evaluasi data kampanye. Sistem tersebut dikembangkan dengan mempertimbangkan karakter ekosistem digital di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara. Menghubungkan Beberapa Proses Marketing Dalam aktivitas pemasaran digital, perusahaan biasanya menggunakan berbagai layanan berbeda untuk membuat konten, mencari kreator, menjalankan kampanye, dan melakukan analisis. Kondisi ini dapat membuat proses pemasaran menjadi lebih kompleks, khususnya bagi bisnis yang menjalankan kampanye di beberapa kanal sekaligus. Matrix v4.0 mencoba menyederhanakan proses tersebut dengan menghubungkan sejumlah fungsi dalam satu sistem. Menurut Tigo AI, platform dapat digunakan untuk membantu pembuatan materi pemasaran sekaligus mendukung distribusinya melalui berbagai kanal digital. Beberapa platform yang menjadi fokus antara lain TikTok, Instagram, dan kanal e-commerce seperti Shopee. Indonesia Menjadi Salah Satu Pasar Utama Indonesia memiliki ekosistem media sosial dan e-commerce yang besar sehingga menjadi salah satu pasar penting dalam perkembangan pemasaran digital di Asia Tenggara. Tidak hanya perusahaan berskala besar, UMKM dan pelaku e-commerce juga semakin bergantung pada kanal digital untuk menjangkau konsumen. Tigo AI menyatakan pengembangan Matrix v4.0 diarahkan untuk mengurangi hambatan penggunaan teknologi AI dalam pemasaran. Dengan pendekatan tersebut, solusi AI diharapkan dapat digunakan oleh bisnis dengan skala yang lebih beragam. Ke depan, perusahaan menyebut akan terus mengembangkan fitur seperti produksi konten multibahasa, live streaming virtual, mekanisme anti-fraud, serta pengendalian risiko kampanye. Kedua, Produksi Konten AI dan Jaringan Kreator Mulai Terintegrasi dalam Pemasaran Digital Perkembangan media sosial membuat proses pemasaran semakin bergantung pada kemampuan bisnis dalam menghasilkan dan mendistribusikan konten secara konsisten. Tetapi, produksi materi kreatif dan distribusi konten selama ini sering kali dikelola melalui proses yang berbeda. Perusahaan dapat menggunakan satu penyedia layanan untuk membuat video dan desain, kemudian bekerja sama dengan pihak lain untuk mengelola kreator maupun distribusi konten. Model seperti ini dapat menambah proses komunikasi dan koordinasi dalam sebuah kampanye. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Tigo AI mengembangkan sistem yang menggabungkan produksi materi berbasis AI dengan distribusi melalui jaringan kreator. Dari Produksi hingga Distribusi Dalam sistem yang dikembangkan perusahaan, AI digunakan untuk membantu membuat sejumlah jenis materi pemasaran seperti copy media sosial, poster, dan video pendek. Materi kemudian dapat digunakan di berbagai platform seperti TikTok, Instagram, Shopee, dan Lazada. Tigo AI menyebut sistemnya mendukung beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin. Hal tersebut ditujukan untuk membantu bisnis yang menjalankan aktivitas pemasaran di beberapa negara. Setelah materi dibuat, konten dapat diteruskan kepada micro-creator untuk disesuaikan dengan karakter audiens masing-masing. Pendekatan tersebut menghasilkan format seperti review produk, pengalaman penggunaan, maupun konten rekomendasi. Konten Native Semakin Mendapat Perhatian Banyak pengguna media sosial terbiasa menemukan iklan dalam jumlah besar setiap hari. Hal ini membuat brand semakin memperhatikan format konten yang terasa lebih natural dan sesuai dengan karakter platform. Konten native maupun user-generated content menjadi salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengurangi kesan komunikasi yang terlalu komersial. Namun, efektivitas strategi tersebut tetap dipengaruhi oleh relevansi kreator, kualitas konten, transparansi hubungan komersial, serta kesesuaian produk dengan audiens. Tigo AI menyebut bahwa seluruh proses tersebut dapat dipantau melalui sistem yang sama, mulai dari produksi materi, distribusi kepada kreator hingga data exposure, engagement, traffic, dan conversion. Platform juga menyatakan telah menerapkan mekanisme verifikasi untuk membantu mengurangi trafik yang tidak valid. Perkembangan ini menunjukkan bahwa industri pemasaran digital mulai bergerak dari penggunaan tools yang berdiri sendiri menuju sistem yang lebih terintegrasi. Ketiga, AI Mulai Mengubah Proses dan Biaya Produksi Materi Periklanan Penggunaan generative AI mulai memberikan perubahan dalam proses produksi materi pemasaran. Jika sebelumnya pembuatan sebuah kampanye membutuhkan keterlibatan copywriter, desainer, editor, tim produksi, hingga fotografer atau videografer, sebagian proses tersebut kini dapat dibantu oleh teknologi AI. Tigo AI menjadi salah satu perusahaan yang mengembangkan teknologi tersebut melalui AI Creative Engine yang digunakan untuk menghasilkan berbagai materi pemasaran. Menurut perusahaan, sistem tersebut dapat menghasilkan materi tertentu dalam waktu yang sangat singkat. Tigo AI mengklaim bahwa pada kondisi tertentu proses generasi materi dapat mencapai sekitar 0,8 detik. Perusahaan juga menyebut penggunaan AI berpotensi mengurangi sebagian biaya produksi dibandingkan model produksi konvensional, meskipun tingkat efisiensi pada praktiknya dapat berbeda tergantung jenis dan kompleksitas materi. Satu Informasi Produk Menjadi Beberapa Konten AI Creative Engine milik Tigo AI menggunakan informasi dasar seperti produk, positioning brand, selling point, dan target audiens sebagai bahan untuk menghasilkan materi. Dari informasi tersebut, sistem dapat membantu menghasilkan poster, naskah video pendek, hingga copy media sosial. Materi kemudian dapat disesuaikan dengan kebutuhan berbagai platform digital. Menurut perusahaan, sistem juga dikembangkan dengan pendekatan lokalisasi agar bahasa dan gaya visual lebih sesuai dengan karakter pasar Indonesia. Hal tersebut menjadi salah satu tantangan penting bagi generative AI. Konten yang secara teknis terlihat baik belum tentu sesuai dengan budaya, kebiasaan komunikasi, maupun preferensi masyarakat di suatu pasar. AI Mempercepat Proses Eksperimen Kreatif Salah satu perubahan yang ditawarkan generative AI adalah kemampuan menghasilkan lebih banyak variasi materi. Bagi advertiser, hal ini memungkinkan proses pengujian ide dilakukan lebih cepat. Bisnis dapat mencoba beberapa versi headline, desain, video, atau konsep komunikasi sebelum menentukan materi yang memberikan respons terbaik. Dengan demikian, peran AI tidak hanya berkaitan dengan efisiensi produksi, tetapi juga dengan kemampuan bisnis melakukan eksperimen kreatif dalam skala lebih besar. Namun, hasil dari teknologi tersebut tetap membutuhkan evaluasi manusia untuk memastikan kualitas, akurasi informasi, identitas brand, serta kesesuaian dengan audiens. Keempat, AI Content Factory Menjadi Pendekatan Baru dalam Produksi Materi Marketing Pertumbuhan e-commerce dan media sosial membuat kebutuhan terhadap materi pemasaran terus meningkat. Satu brand dapat membutuhkan puluhan jenis konten untuk berbagai kebutuhan, mulai dari posting media sosial, promosi produk, video pendek, hingga kampanye penjualan. Kondisi tersebut mendorong berkembangnya konsep AI Content Factory, yaitu sistem yang memanfaatkan AI untuk membantu menghasilkan materi pemasaran secara lebih terstruktur dan dalam jumlah besar. Tigo AI mengembangkan konsep tersebut melalui Smart Content Factory yang mencakup tiga kategori utama: AI copy, AI poster, dan AI short video. Produksi Konten dalam Satu Sistem Dalam sistem tersebut, pengguna memasukkan informasi produk, target konsumen, serta tema pemasaran. AI kemudian mengolah informasi tersebut menjadi beberapa jenis materi. Misalnya, satu informasi produk dapat dikembangkan menjadi caption Instagram, poster promosi, serta video pendek yang digunakan untuk TikTok. Menurut perusahaan, materi juga dapat disesuaikan dengan konteks bahasa dan karakter pasar Indonesia. Pendekatan ini dapat membantu bisnis yang sebelumnya harus menggunakan beberapa software maupun tenaga profesional untuk pekerjaan yang berbeda. UMKM dan Brand Memiliki Kebutuhan Berbeda Jumlah materi yang dibutuhkan setiap perusahaan tidak selalu sama. Brand berskala besar mungkin membutuhkan banyak variasi konten untuk melakukan A/B testing dan menjalankan kampanye dalam skala besar. Sebaliknya, UMKM mungkin hanya membutuhkan beberapa materi setiap minggu untuk menjaga aktivitas media sosial maupun mempromosikan produk tertentu. Karena itu, pemanfaatan AI dalam content production berpotensi memberikan manfaat yang berbeda bagi setiap skala bisnis. Bagi perusahaan besar, AI dapat meningkatkan kapasitas produksi. Sementara bagi bisnis kecil, teknologi tersebut dapat membantu mengurangi hambatan dalam menghasilkan materi pemasaran secara rutin. Perkembangan AI Content Factory menunjukkan bahwa teknologi generatif mulai bergerak dari sekadar alat pembuat gambar atau teks menjadi bagian dari workflow pemasaran perusahaan. Kelima, Platform Marketing Mulai Menawarkan Layanan Berbeda Berdasarkan Skala Bisnis Tidak semua perusahaan memiliki kebutuhan pemasaran yang sama. Brand besar biasanya berfokus pada peningkatan awareness, jangkauan pasar, dan pengelolaan kampanye dalam skala besar. Sementara bisnis yang sedang berkembang lebih sering berorientasi pada peningkatan traffic dan conversion. UMKM memiliki tantangan lain, terutama keterbatasan anggaran, tenaga kerja, dan kemampuan teknis. Perbedaan kebutuhan tersebut mendorong perusahaan marketing technology untuk mengembangkan layanan yang lebih fleksibel. Tigo AI termasuk salah satu platform yang memperkenalkan sistem layanan pemasaran berdasarkan skala bisnis. Brand Besar Untuk perusahaan berskala besar, kebutuhan marketing biasanya mencakup produksi konten dalam volume tinggi, distribusi melalui sejumlah kanal, serta analisis data kampanye. Tigo AI menyediakan kombinasi materi kreatif berbasis AI, jaringan micro-creator, serta data lintas kanal untuk kategori tersebut. Bisnis yang Sedang Berkembang Untuk seller maupun perusahaan yang sedang memperbesar skala bisnis, fokus kampanye dapat lebih diarahkan pada traffic dan conversion. Pada konteks e-commerce, pendekatan tersebut dapat mencakup produksi konten promosi dan distribusi melalui kreator yang diarahkan ke kanal seperti Shopee atau Lazada. UMKM Bagi UMKM, kesederhanaan operasional menjadi salah satu faktor penting. Pelaku usaha kecil umumnya tidak memiliki tim marketing yang terdiri dari desainer, copywriter, social media specialist, dan video editor. Lantaran itu, penggunaan sistem yang mengintegrasikan beberapa pekerjaan dapat mengurangi hambatan awal untuk menjalankan promosi digital. Menurut Tigo AI, pengguna dapat memilih layanan berdasarkan skala usaha, anggaran, dan tujuan kampanye. Model bertingkat seperti ini mencerminkan semakin beragamnya kebutuhan pelaku ekonomi digital Indonesia. Keenam, AI Membuka Alternatif Promosi Digital bagi UMKM dengan Anggaran Terbatas Digitalisasi memberikan banyak peluang bagi UMKM Indonesia, tetapi aktivitas pemasaran online masih menjadi tantangan bagi sebagian pelaku usaha. Membuat konten secara konsisten membutuhkan waktu dan kemampuan tertentu, sedangkan menggunakan jasa profesional dapat meningkatkan biaya operasional. Perkembangan generative AI mulai menawarkan alternatif baru. Teknologi tersebut memungkinkan berbagai aktivitas dasar seperti pembuatan copy, desain promosi, dan video pendek dilakukan dengan proses yang lebih sederhana. Tigo AI menjadi salah satu platform yang menawarkan layanan pemasaran berbasis AI untuk segmen UMKM. Menurut informasi perusahaan, layanan tertentu dapat digunakan dengan anggaran awal mulai sekitar Rp50 ribu, tergantung jenis kampanye dan kebutuhan pengguna. Dari Informasi Produk ke Materi Promosi Dalam sistem yang dikembangkan platform, pemilik usaha memberikan informasi dasar mengenai produk. AI kemudian dapat membantu menghasilkan beberapa jenis materi seperti copy media sosial, poster, dan video pendek. Materi tersebut dapat digunakan untuk akun bisnis atau didistribusikan melalui jaringan micro-creator. Bagi UMKM, pendekatan ini dapat mengurangi kebutuhan memiliki kemampuan desain maupun editing secara mendalam. Memulai dari Skala Kecil Salah satu tantangan dalam pemasaran adalah menentukan seberapa besar anggaran yang perlu dikeluarkan. Bisnis kecil umumnya memiliki toleransi risiko yang lebih rendah dibanding perusahaan besar. Karena itu, kemampuan memulai kampanye dalam skala kecil dapat memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk melakukan eksperimen sebelum meningkatkan investasi. Menurut Tigo AI, pengguna dapat memantau indikator seperti exposure dan engagement untuk mengevaluasi respons kampanye. Data tersebut kemudian dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan strategi berikutnya. Meskipun AI dapat menurunkan sebagian hambatan produksi, keberhasilan pemasaran tetap dipengaruhi oleh kualitas produk, harga, pelayanan, strategi distribusi, kreativitas komunikasi, serta kesesuaian dengan target konsumen. Kerujuh, Review Pengguna dan Micro-Creator Semakin Berperan dalam Strategi E-Commerce Ulasan menjadi salah satu elemen yang diperhatikan konsumen sebelum melakukan pembelian secara online. Selain membaca informasi produk yang disediakan seller, pembeli juga dapat melihat komentar pelanggan, video review, maupun pengalaman pengguna di media sosial. Fenomena tersebut membuat reputasi digital semakin penting dalam persaingan e-commerce. Tigo AI mengembangkan pendekatan pemasaran yang menggabungkan jaringan micro-creator dengan produksi konten berbasis AI. Menurut perusahaan, sistem digunakan untuk membantu seller memperoleh distribusi konten dari pengguna atau kreator yang relevan. Dari Media Sosial ke E-Commerce Dalam model tersebut, kreator dapat membuat konten berupa pengalaman penggunaan, foto produk, ataupun video review yang kemudian dipublikasikan melalui kanal seperti TikTok dan Instagram. Konten tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan konsumen sebelum akhirnya mengunjungi halaman produk di marketplace. Pendekatan semacam ini mencoba menghubungkan social media discovery dengan transaksi e-commerce. Keaslian Tetap Menjadi Faktor Penting Penggunaan review sebagai bagian dari strategi marketing perlu dibedakan dari manipulasi ulasan. Review palsu dapat merugikan konsumen, merusak reputasi brand, dan bertentangan dengan kebijakan sejumlah platform. Tigo AI menyatakan sistemnya memiliki mekanisme verifikasi untuk membantu memastikan aktivitas dilakukan oleh pengguna nyata serta mengurangi risiko trafik yang tidak valid. Menurut perusahaan, platform juga digunakan untuk membantu bisnis memilih kreator berdasarkan kategori produk serta melihat data exposure, engagement, dan traffic. Bagi produk baru, konten dari pengguna dapat membantu meningkatkan percakapan mengenai produk sekaligus memberikan feedback kepada seller. Namun, kredibilitas strategi tersebut tetap bergantung pada transparansi, pengalaman penggunaan yang nyata, serta kebebasan kreator dalam menyampaikan pendapat. Ke depan, perpaduan antara micro-creator, UGC, social commerce, dan e-commerce diperkirakan akan semakin banyak digunakan sebagai bagian dari strategi pemasaran digital. Kedelapan, Tigo Mengembangkan Sistem Produksi Short Drama Berbasis AI dalam Skala Besar Perkembangan artificial intelligence mulai memberikan dampak pada industri produksi video dan konten hiburan. Teknologi generative AI kini dapat digunakan dalam berbagai tahap produksi, mulai dari pengembangan naskah, pembuatan karakter, desain latar, suara, hingga video. Tigo menjadi salah satu platform yang mencoba menerapkan teknologi tersebut dalam produksi serial video pendek atau short drama. Pada Agustus 2026, perusahaan memperkenalkan konsep layanan “100 Episode Short Drama dalam 1 Hari”. Menurut perusahaan, angka tersebut menggambarkan target kapasitas produksi yang dapat dicapai melalui workflow AI yang telah distandardisasi, bukan berarti setiap proyek secara otomatis menghasilkan 100 episode dalam kondisi yang sama. Dari Produksi Berbasis Proyek ke Workflow Terstandardisasi Produksi serial video secara tradisional membutuhkan banyak tenaga kerja. Proses dapat melibatkan penulis naskah, sutradara, pemain, tim kamera, lighting, lokasi, editor, voice-over, hingga tim pascaproduksi. Untuk proyek dengan jumlah episode besar, proses tersebut membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Tigo mencoba menerapkan pendekatan berbeda. Tema dan konsep cerita terlebih dahulu dikembangkan menjadi struktur karakter, dunia cerita, serta format episode. Setelah elemen dasar tersebut ditentukan, AI digunakan untuk membantu mempercepat berbagai bagian produksi. AI Script Generation AI dapat digunakan untuk menyusun struktur cerita berdasarkan genre, audiens, dan kebutuhan platform. Proses tersebut mencakup pengembangan karakter, konflik utama, serta alur setiap episode. AI Character Generation Teknologi generatif digunakan untuk membuat desain karakter dan mempertahankan konsistensi tampilan di berbagai scene dan episode. Konsistensi karakter masih menjadi salah satu tantangan utama dalam produksi video berbasis AI. AI Scene Generation AI memungkinkan pembuat konten menghasilkan berbagai lingkungan tanpa membangun seluruh set secara fisik. Latar tersebut dapat berupa sekolah, rumah, kantor, kawasan perkotaan, dunia historis, maupun lingkungan futuristik. AI Video Generation Visual statis kemudian dapat dikembangkan menjadi rangkaian shot atau video menggunakan teknologi generative video. AI Voice-Over dan Dialogue Teknologi suara sintetis dapat digunakan untuk menghasilkan dialog dalam beberapa bahasa maupun karakter suara yang berbeda. Kemampuan ini membuka kemungkinan lokalisasi konten untuk berbagai negara. AI Subtitle dan Post-Production Sebagian proses subtitle, editing dasar, audio, dan pengolahan visual juga dapat diotomatisasi. Dengan menggabungkan beberapa tahapan tersebut dalam satu workflow, proses produksi yang sebelumnya tersebar ke banyak fungsi dapat dikelola secara lebih terintegrasi. Mengapa Mengejar Skala Produksi? Dalam ekosistem TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, dan platform video pendek lainnya, konsistensi publikasi menjadi salah satu tantangan utama kreator. Satu konten viral dapat menghasilkan pertumbuhan tinggi dalam waktu singkat, tetapi mempertahankan perhatian audiens membutuhkan produksi konten secara terus-menerus. Menurut Tigo, konsep 100 episode bukan hanya tentang jumlah video. Perusahaan ingin mengembangkan sistem di mana karakter, dunia cerita, dan format produksi dibuat terlebih dahulu sehingga proses berikutnya dapat dilakukan lebih cepat. Pendekatan tersebut juga memungkinkan kreator menguji beberapa genre dan konsep cerita dalam waktu yang relatif singkat. Tidak Hanya untuk Industri Film Tigo menyebut sistem tersebut tidak hanya ditujukan kepada studio film atau perusahaan produksi profesional. Brand dapat menggunakan serial cerita sebagai bagian dari branded content. Produk dapat ditempatkan sebagai bagian dari cerita, bukan hanya muncul dalam format iklan konvensional. Bisnis lokal juga dapat mengembangkan cerita untuk sektor seperti kuliner, kecantikan, pendidikan, maupun pariwisata. Sementara kreator individual dapat menggunakan teknologi tersebut untuk membangun karakter dan intellectual property mereka sendiri. Indonesia Menjadi Pasar Menarik untuk Eksperimen AI Short Drama Indonesia memiliki basis pengguna media sosial yang besar dan aktivitas konsumsi video pendek yang tinggi. Kondisi ini membuat Indonesia menjadi salah satu pasar yang menarik untuk perkembangan format konten baru. Video pendek, live streaming, social commerce, e-commerce, dan storytelling juga semakin saling terhubung. Menurut Tigo, perkembangan tersebut berpotensi membuat short drama tidak hanya berfungsi sebagai konten hiburan tetapi juga sebagai salah satu format komunikasi pemasaran. Alih-alih hanya membuat satu iklan, sebuah brand dapat membangun rangkaian cerita yang terus diikuti pengguna. Meski demikian, peningkatan kapasitas produksi tidak otomatis menjamin keberhasilan sebuah konten. Kualitas cerita, konsistensi karakter, kreativitas, relevansi budaya, serta kemampuan memahami audiens tetap menjadi faktor penting. Perkembangan AI kemungkinan akan membuat proses produksi menjadi semakin mudah diakses. Namun, persaingan selanjutnya bukan hanya mengenai siapa yang mampu menghasilkan lebih banyak video, melainkan siapa yang mampu menghasilkan cerita yang relevan dan cukup menarik untuk terus diikuti audiens.