Kopi

Sorotan terbaru dari Tag # Kopi

PTPN I Dorong Mitra Binaan Tembus Kompetisi Kopi Dunia Nusantara
Nusantara
Jumat, 24 April 2026 | 11:15 WIB

PTPN I Dorong Mitra Binaan Tembus Kompetisi Kopi Dunia

Jakarta, katakabar.com - PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I), Subholding Perkebunan Nusantara, terus mendorong penguatan hilirisasi komoditas melalui pembinaan mitra. Salah satu hasilnya ditunjukkan Dedi Ramdani, peracik kopi spesial mitra binaan PTPN I Regional 2, yang meraih silver winner di ajang Dry Arabica Champions Session 5 di Jakarta, akhir Januari 2026 lalu. Dari kompetisi tingkat nasional tersebut, Dedi berhak melaju ke kejuaraan tingkat dunia yang akan berlangsung di Manila, Filipina pada Maret 2026. Pria yang telah menjadi mitra PTPN I sejak 2002 itu fokus pada pengolahan pascapanen kopi. Untuk menghasilkan kualitas terbaik, ia memilih bahan baku dari kebun di sekitar tempat tinggalnya di Pangalengan, Kabupaten Bandung. “Alhamdulillah, atas dukungan penuh dari PTPN (PTPN I Regional 2), saya bisa sampai di sini. Saya sudah menjadi mitra binaan PTPN sejak 20 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2002. Saya dibina, dipinjami modal usaha, dan mendapat banyak kesempatan untuk pameran dan ikut berbagai even. Salah satunya even ini. Alhamdulillah saya lolos untuk maju ke level internasional Maret nanti,” kata Dedi Ramdani di Bandung. Keberhasilan ini tidak hanya menghadirkan prestasi nasional, tetapi juga menjadi tiket bagi kopi Indonesia untuk melaju ke babak final dunia. Dengan teknik natural anaerob yang digunakan, Dedi akan bersaing dengan para peracik kopi kelas dunia. Prestasi tersebut diraih melalui proses seleksi ketat sejak November 2025, dengan persaingan dari 70 pengolah kopi terbaik dari seluruh Indonesia. Kopi olahan Dedi mencatatkan skor 83,64, yang termasuk kategori specialty coffee dengan standar tinggi. Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, mengatakan capaian ini bagian dari implementasi strategi hilirisasi yang dijalankan perusahaan sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara. "Pencapaian Pak Dedi adalah bukti konkret implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto terkait penguatan ekonomi kerakyatan dan hilirisasi produk pertanian. Kami di PTPN I tidak hanya fokus pada produksi hulu, tetapi juga memastikan petani/ mitra binaan kami memiliki keahlian pasca-panen tingkat tinggi agar produk mereka memiliki nilai tambah yang luar biasa di pasar global," ucap Teddy Yunirman Danas di Jakarta, di pekan kedua Februari 2026 lalu. Region Head PTPN I Regional 2, Desmanto, menimpali pendampingan terhadap mitra binaan akan terus diperkuat guna menjaga keberlanjutan prestasi tersebut. "Kami di Regional 2 sangat bangga melihat mitra binaan kami melaju ke Filipina. Kami telah mendampingi perjalanan Dedi sejak lama, dan pencapaian skor 83,64 dalam kategori specialty coffee adalah bukti kualitas kopi Pangalengan yang luar biasa. Kami siap mendukung penuh kebutuhan teknis maupun promosi untuk laga dunia nanti," ulas Desmanto. Secara ekonomi, kualitas kopi yang dihasilkan juga telah teruji di pasar. Produk kopi Dedi diminati berbagai kafe di Indonesia dengan harga mencapai Rp300.000 per kilogram, menunjukkan daya saing tinggi di segmen specialty coffee. Bagi Dedi, perjalanan panjang sebagai mitra binaan PTPN I menjadi faktor penting dalam pencapaian saat ini. "Saya sangat berterima kasih atas dukungan PTPN I selama ini. Selain permodalan, kami dibekali pelatihan teknis dan dilibatkan dalam berbagai event strategis. "Dukungan inilah yang membuat brand kami dikenal dan membuka jalan bagi kami untuk masuk ke pasar internasional. Kemenangan ini adalah kemenangan bersama untuk seluruh petani binaan PTPN," tutur Dedi. Ke depan, keberhasilan ini diharapkan semakin meningkatkan kepercayaan pasar terhadap kualitas kopi Indonesia, sekaligus memperkuat peran PTPN I dalam mendorong hilirisasi dan pengembangan komoditas perkebunan berbasis nilai tambah.

Tahun Baru Segelas Kopi Excelsa Tanpa Gula Opini
Opini
Kamis, 01 Januari 2026 | 12:35 WIB

Tahun Baru Segelas Kopi Excelsa Tanpa Gula

Oleh: Agung Marsudi Pecinta Indonesia katakabar.com - Tahun baru 2026 terlalu pahit untuk rakyat, apalagi bagi masyarakat Sumatera Bagian Utara. Bencana banjir bandang datang merenggut harapan, hidup dan masa depan. Dari segelas kopi excelsa tanpa gula, ada sejumput cerita, jika kesimpulan penyebab bencana banjir bandang Sumatera adalah hutan, hantu, tuhan. Tiga kata, berasal dari huruf-huruf yang sama, beda makna. Dari segelas kopi excelsa tanpa gula, ditemani kue bolu jaman dulu, gambar tiga bintang, citra menjangan, tak ada dialektika, 10 tahun pemerintahan Jokowi, kewarasan dan intelektualitas digiring ke gorong-gorong. Politik itu citra blusukan. Kini era Prabowo, masih segar dalam ingatan yang dalam pidato politiknya berteriak lantang, "Hidup Jokowi!". Sebuah paradoks Indonesia, yang mengajarkan, bahwa untuk bahagia gak perlu negara, untuk sejahtera gak butuh Pilkada. Adagium kuno, "dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat" seperti janji palsu bernegara. Negara dikuasai partai politik, penyelenggara negara diatur oligarki. Bangsa dibiarkan berjalan tanpa haluan. Berbangsa, dan bernegara tenggelam di air bah Desember "gede-gedene sumber". Bulan bencana, katanya bangga "Sawit adalah kita". Semerdu aksi para relawan, "Jokowi adalah kita". Desember membawa kayu-kayu gelondongan di halaman rumah dan bangunan tersisa di Sumatera Bagian Utara. Mereka pantas dikunjungi, layak difoto, lalu dimedsoskan. Dan, jangan lupa "kayu-kayu gelondongan itu" milik negara. Atas nama negara, kekuasaan apapun itu selalu makan korban. Bukti "serakahnomics" entah oleh siapa. Masih ingat, drama politik kongres PSI di Solo? Kongres partai "mawar" merah, tapi sudah berlogo "gajah". Masih ingat, komedian Abdel, yang menyebut sudah hidup di tujuh presiden; Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, Prabowo. "Eh, kelewatan ya, Jokowi. Menurut lu kelewatan gak Jokowi?" Jokowi dan Prabowo, bukan tokoh baru. Prabowo-Gibran itu sama dengan Prabowo-Jokowi diam-diam. Tahun Baru ini, pastilah tanpa kembang api, karena api simbol penyulut revolusi. Dengan menirukan pidato pak Prabowo, saya akhiri tulisan pendek awal tahun ini dengan ucapan, "Hidup Jokowi!" Untuk Ibu Pertiwi, "Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami!"

Mentan RI Datang, Dharmasraya Kurangi Ketergantungan pada Sawit Genjot Perkebunan Kopi Sawit
Sawit
Selasa, 23 September 2025 | 17:00 WIB

Mentan RI Datang, Dharmasraya Kurangi Ketergantungan pada Sawit Genjot Perkebunan Kopi

Padang, katalabar.com - Menteri Pertanian atau Mentan RI, Andi Amran Sulaiman, sambangi Padang beberapa hari lalu, benar-benar mendatangkan efek positif ke berbagai provinsi sentra perkebunan di Provinsi Sumatera Barat. Di antara yang merasakan efek positif tersebut, yakni Kabupaten Dharmasraya telah mendapatkan persetujuan dari Mentan RI untuk permohonan pengembangan perkebunan kopi seluas 2.000 hektare. “Persetujuan yang diberikan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menjadi angin segar bagi pengembangan komoditas pertanian di Ranah Cati Nan Tigo kita ini,” ucap Bupati Kabupaten Dharmasraya, Annisa Suci Ramadhani, dilansir dari laman Mediaperkebunan.id, Selasa (23/9) siang. Kata Annisa Suci Ramadhani, proyek pengembangan perkebunan kopi di Dharmasraya direncanakan mulai berjalan pada Januari 2026, dengan target dapat terus berkembang hingga mencapai total luas lahan 6.000 hektare Langkah ini, ulas Annisa Suci Ramadhani, diambil Pemkab Dharmasraya sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan pada satu jenis komoditas, khususnya perkebunan kelapa sawit. “Pemerintah daerah menilai pentingnya memiliki alternatif seperti kopi agar tetap memiliki sumber ekonomi saat harga atau produksi sawit mengalami penurunan,” terangnya. Diversifikasi industri hulu perkebunan ini, sebutnya, diharapkan bisa memerkuat ketahanan ekonomi masyarakat di sekitar perkebunan kopi setempat. "Kopi yang akan ditanam ini dapat dibudidayakan secara tumpang sari dengan tanaman lain, termasuk di dalam kebun sawit yang baru ditanam. Hal ini dinilai sebagai solusi efisien dalam pemanfaatan lahan, sekaligus memberikan hasil yang lebih optimal bagi petani. Selain sawit, kopi juga bisa ditanam bersamaan dengan berbagai jenis tanaman perkebunan lainnya," bebernya. “Selain kopi, potensi pertanian lainnya di Dharmasraya juga dibahas saat kunjungan kerja Menteri Pertanian di Sumbar, di antaranya program cetak sawah baru dan pengembangan jagung,” ulasnya.

Sorgtime: Inovasi Kopi dengan Sentuhan Sorghum Lokal Karya Mahasiswa ITS Lifestyle
Lifestyle
Selasa, 21 Januari 2025 | 11:48 WIB

Sorgtime: Inovasi Kopi dengan Sentuhan Sorghum Lokal Karya Mahasiswa ITS

Surabaya, katakabar.com - Sorgtime, sebuah inisiatif inovatif yang dipimpin Apta Jayeng Dwi Putra membawa angin segar dalam industri kuliner lokal dengan menghadirkan kopi gula sorghum sebagai produk unggulan. Sorgtime digagas oleh lima mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), yaitu Apta Jayeng Dwi Putra, Mohchamad Airlangga Bima, Galuh Taufan Ardiansyah, Berlian Imazdalifa, dan Zahra Hanifa Zubir. Berawal dari kolaborasi organisasi Sarekat Dagang Situbondo dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Situbondo untuk mengelola hasil tanaman sorghum, Sorgtime bertekad untuk memberikan nilai tambah pada sorghum yang selama ini banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Sawit dan Kopi Jadi Komoditas Global Kita Indonesia Mesti Bangga Sawit
Sawit
Sabtu, 14 September 2024 | 18:15 WIB

Sawit dan Kopi Jadi Komoditas Global Kita Indonesia Mesti Bangga

Palembang, katakabar.com - Kita, Indonesia mesti bangga. Soalnya kelapa sawit dan kopi menjadi komoditas global. Di sini letak kedua komoditas punya persamaan, ujar Ketua Bidang Pengembangan SDM Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI, Sumarjono Saragih.