Dukung Pelestarian Pesisir, Kogabwilhan III Tanam 1.000 Mangrove di Pantai Gambesi
Jakarta, katakabar..com - Kogabwilhan III tanam 1.000 pohon mangrove di Pantai Gambesi, Kota Ternate, sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan pesisir dan mengurangi risiko abrasi serta bencana alam. Kegiatan ini juga menjadi bentuk komitmen TNI perkuat ketahanan nasional melalui kepedulian terhadap lingkungan dan sinergi dengan masyarakat serta pemerintah daerah. Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III menggelar kegiatan penanaman 1.000 pohon mangrove di Pantai Gambesi, Kelurahan Gambesi, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Kepala Staf Kogabwilhan III, Marsda TNI Joko Sugeng Sriyanto, menegaskan penanaman mangrove memiliki nilai strategis dalam menjaga kelestarian kawasan pesisir sekaligus mendukung kedaulatan negara. Menurutnya, upaya menjaga kedaulatan tidak semata berkaitan dengan aspek pertahanan dan keamanan, tetapi juga kepedulian terhadap lingkungan. Lingkungan yang sehat, kata dia, merupakan bagian penting dari ketahanan nasional. “Menjaga kedaulatan negara bukan hanya soal pertahanan dan keamanan, tetapi juga kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Lingkungan yang sehat menjadi bagian penting dari ketahanan nasional,” ujar Joko saat dihubungi wartawan, Kamis (15/1) lalu. Ia menjelaskan, 1.000 bibit mangrove yang disiapkan PT Position tersebut ditanam untuk menahan abrasi pantai, meredam dampak gelombang laut, serta mengurangi risiko bencana seperti banjir rob dan tsunami. Selain itu, penanaman mangrove juga berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir di Kota Ternate. Melalui kegiatan ini, Kogabwilhan III berharap dapat menumbuhkan kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir, sekaligus memperkuat sinergi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di wilayah Maluku Utara. “Perlu dipahami penanaman mangrove bukan sekadar kegiatan seremonial. Menanam mangrove di kawasan pesisir pada hakikatnya merupakan investasi jangka panjang bagi anak cucu dan generasi mendatang bangsa ini,” jelas Joko. Kogabwilhan III juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk upaya bersama menjaga keseimbangan alam, mendukung mitigasi perubahan iklim, serta mendorong peningkatan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir. Joko menegaskan TNI akan terus aktif dan adaptif menghadapi tantangan nonmiliter, khususnya ancaman perubahan iklim dan degradasi lingkungan yang berpotensi mengganggu stabilitas sosial dan keamanan wilayah pesisir Indonesia. “Insya Allah, kegiatan serupa akan terus berlanjut dan dilaksanakan di berbagai wilayah pesisir di tanah air sebagai wujud nyata komitmen TNI sebagai garda terdepan penjaga kedaulatan negara sekaligus pelindung lingkungan hidup NKRI,” sebutnya.
Perkuat Ketahanan Pesisir, CGV Cinemas Indonesia Tanam Lebih dari 2.800 Mangrove di Karawang
Karawang, katakabar.com - Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan terutama di daerah pesisir Indonesia, CGV Cinemas Indonesia mengambil langkah konkret untuk memperkuat ketahanan lingkungan. Melalui dukungan para pengunjungnya, CGV bersama LindungiHutan menanam 2.857 mangrove Rhizophora di Dusun Tangkolak, Kabupaten Karawang. Penanaman ini merupakan bagian dari target penanaman pohon yang digalang melalui partisipasi publik di jaringan bioskop CGV seluruh Indonesia, melalui pembelian paket Grow Combo yang berisi 1 Popcorn, 2 Air Mineral, serta Grow Kit yang diberikan sebagai simbolis kontribusi pengunjung dalam penanaman pohon. Lokasi penanaman ini bukan tanpa alasan. Pesisir utara Jawa, termasuk Dusun Tangkolak, telah lama berada dalam tekanan. Banjir rob yang kian sering, abrasi yang terus menggerus daratan, serta degradasi ekosistem pesisir menjadi sinyal kuat bahwa upaya adaptasi iklim tidak bisa lagi ditunda. Dusun Tangkolak, yang dikenal sebagai kawasan nelayan dengan sejarah panjang aktivitas kelautan, kini menghadapi ancaman nyata terhadap ruang hidup dan potensi wisata baharinya. Kondisi seperti ini, mangrove menjadi pertahanan alami yang sangat dibutuhkan. Rhizophora sp., jenis mangrove yang ditanam dalam program ini, mampu meredam gelombang, memperkuat tanah pesisir, menjadi habitat penting bagi biota laut, dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar. Sejak 2019, LindungiHutan telah bekerja bersama masyarakat Tangkolak dalam memperluas sabuk hijau pesisir, dan melalui kolaborasi ini CGV berperan sebagai penggerak utama yang melibatkan publik secara langsung dalam pemulihan lingkungan. Upaya penanaman ini menjadi bukti bahwa sektor industri dapat memainkan peran strategis dalam menghadapi urgensi perubahan iklim. Di tengah meningkatnya permukaan laut dan risiko kerusakan pesisir, kontribusi nyata dari perusahaan seperti CGV menunjukkan kolaborasi lintas sektor dapat mempercepat restorasi ekosistem di Indonesia. “Sebagai perusahaan terbuka, CGV berkomitmen untuk terus memberi kontribusi bagi masyarakat. Tahun ini, melalui partisipasi para pengunjung, kami menghadirkan aksi yang bermakna untuk mendukung lingkungan yang lebih hijau. Kami mengapresiasi kolaborasi dengan Lindungi Hutan dan berharap kegiatan penanaman ini dapat memberi manfaat nyata bagi ekosistem sekitar,” ucap Mr. Mark, CEO CGV Cinemas Indonesia, menegaskan komitmennya terhadap keberlanjutan. Partisipasi publik melalui CGV menunjukkan bahwa aksi lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana. Setiap paket Grow Combo yang dibeli dan setiap kontribusi yang diberikan menjadi bagian dari gerakan besar untuk memulihkan pesisir. Melalui model kolaborasi ini, CGV tidak hanya memfasilitasi penanaman mangrove, tetapi turut memperluas dampaknya bagi masyarakat nelayan, keanekaragaman hayati, dan ketahanan iklim. Sebanyak 2.857 pohon telah ditanam di Tangkolak. Dalam beberapa tahun mendatang, pohon-pohon tersebut akan tumbuh menjadi benteng hijau yang melindungi garis pantai, menyediakan habitat baru bagi biota laut, dan memperkuat fondasi wisata bahari setempat. Aksi ini menjadi investasi penting bagi masa depan pesisir Indonesia, dan CGV berada di garis depan mewujudkannya. Ke depannya, CGV akan terus berkomitmen memberikan kontribusi positif bagi masyarakat melalui berbagai program lingkungan dan sosial yang berkelanjutan. Untuk informasi lengkap dan pembaruan terbaru, kunjungi media sosial @cgv.id, aplikasi CGV, atau situs resmi www.cgv.id
Pulau Pramuka Jadi Lokasi Strategis Penanaman Mangrove dan Restorasi Terumbu Karang
Jakarta, katakabar.com - Di tengah deru kota besar dan aktivitas manusia yang padat, terdapat sebuah pulau yang menyimpan potensi besar sekaligus tantangan besar untuk konservasi keanekaragaman hayati, yakni Pulau Pramuka, di kawasan Kepulauan Seribu. Lingkungan laut di sekitar kawasan Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Tanjung Elang di Pulau Pramuka memiliki sumber daya terumbu karang yang seharusnya menjadi pusat ekowisata bahari berbasis edukasi, konservasi, dan ekologi namun saat ini kondisi ekosistemnya telah mengalami kerusakan yang signifikan akibat aktivitas manusia dan faktor alam. Menurut hasil penelitian, kondisi tutupan karang hidup di perairan Pulau Pramuka menunjukkan angka antara 20,65 persen hingga 47,17 persen, yang dikategorikan sebagai kondisi “sedang hingga rusak” (Fadhiilah, 2023). Sementara penelitian lain menyebutkan tutupan karang keras di pulau ini berkisar antara 6 persen–34,8 persen pada kedalaman 3 meter dan 9,3 persen–49,5 persen pada kedalaman 7 m (Ardiansyah et al., 2013). Temuan ini mengingatkan bahwa tanpa intervensi yang tepat, potensi ekosistem Pulau Pramuka bisa terkikis lebih jauh. Padahal kawasan ini berada dekat sekali dengan kawasan ibu kota dan memiliki peluang besar untuk pengembangan ekowisata dan pelibatan masyarakat lokal. Menanggapi kondisi tersebut, organisasi konservasi LindungiHutan memilih Pulau Pramuka sebagai lokasi utama untuk program penanaman mangrove sekaligus rehabilitasi terumbu karang. Program ini tidak hanya melibatkan penanaman mangrove namun juga kegiatan restorasi karang di lautan terbuka, sehingga bisa menjadi workshop lapangan bagi komunitas, pelajar, peneliti, dan wisatawan yang tertarik pada konservasi laut. “Pulau Pramuka menawarkan titik temu antara ekosistem yang sangat rawan dan peluang besar untuk menghidupkan kembali terumbu yang rusak. Kami melihat di sini bukan sekadar penanaman pohon, tetapi pemulihan habitat yang bisa menjadi ruang belajar bagi banyak pihak,” kata seorang perwakilan LindungiHutan. Program konservasi di Pulau Pramuka mencakup serangkaian langkah penting yang dirancang secara terpadu untuk memulihkan sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Kegiatan dimulai dengan penanaman mangrove di sepanjang garis pantai, yang berfungsi memperkuat tebing, melindungi pesisir dari abrasi, serta menjadi habitat penting bagi berbagai biota laut. Di sisi lain, upaya transplantasi terumbu karang dilakukan dengan metode ilmiah, melibatkan komunitas lokal dan lembaga riset agar prosesnya tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga memperkaya pengetahuan masyarakat tentang konservasi laut. Selain itu, pengembangan ekowisata edukatif turut digalakkan untuk membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar, sekaligus menumbuhkan kesadaran publik akan pentingnya menjaga kelestarian laut. Tak kalah penting, program ini juga mendorong pemberdayaan masyarakat pesisir agar menjadi bagian dari solusi, melalui kegiatan seperti budidaya karang, wisata snorkeling berkelanjutan, hingga pengembangan produk-produk ekonomi hijau berbasis lokal. Dengan kondisi terumbu karang yang masih relatif baik jika dibandingkan banyak titik di Indonesia, Pulau Pramuka menjadi salah satu contoh urgensi tindakan nyata. Sebuah laporan menegaskan di kawasan barat Indonesia, persentase terumbu dengan tutupan hidup >50 persen hanya sekitar 23 persen. Hal ini semakin memperkuat alasan mengapa Pulau Pramuka perlu menjadi fokus konservasi. Kegiatan konservasi termasuk untuk merancang workshop lapangan, penelitian, dan program edukasi yang menghubungkan manusia dengan alam. Dengan demikian, LindungiHutan mengundang sekolah, universitas, komunitas lingkungan, dan perusahaan untuk menjadikan Pulau Pramuka sebagai lokasi kegiatan kerja praktis (workshop lapangan) dalam konservasi mangrove dan karang, sekaligus sebagai jembatan antara riset, edukasi, dan aksi nyata. “Kami percaya bahwa lokasi yang paling dekat dengan tantangan adalah lokasi paling tepat untuk pembelajaran dan aksi. Pulau Pramuka adalah tempat di mana ide konservasi bisa menjadi kenyataan,” tambah perwakilan LindungiHutan. Sebagai informasi, masyarakat dapat mengenal lebih dekat inisiatif dan dampak konservasi di kawasan ini melalui laman resmi Pulau Pramuka di LindungiHutan.
Perambah Hutan Margasatwa Langkat Divonis 10 Tahun, Denda Rp856 Miliar, Tapi Masih Berkeliaran
Perambah hutan divonis tapi masih gentayangan
Tanam 16.000 Bibit Mangrove, PT SPSL Perkuat Ekosistem Blue Carbon Mitigasi Perubahan Iklim
Jakarta, katakabar com - PT Pelindo Solusi Logistik (“SPSL”) sebagai subholding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kepelabuhan Pelindo mempertegas komitmennya mendukung upaya global menghadapi perubahan iklim melalui rehabilitasi ekosistem pesisir yang selaras dengan target Net Zero Emission dan penguatan konsep ekosistem blue carbon (karbon biru). Di tahun 2025, PT Pelindo Solusi Logistik kembali menanam harapan baru melalui rehabilitasi mangrove seluas 10 hektare di pesisir Kabupaten Indramayu. Sejumlah 16.000 bibit Rhizophora sp. ditanam dengan pola sylvofishery, melanjutkan langkah yang telah dilakukan setahun sebelumnya di lokasi yang sama. Diketahui, ekosistem mangrove berperan besar dalam karbon biru dan mitigasi perubahan iklim dengan menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar di tanah dan biomassa, serta melindungi pesisir dari bencana alam. Berdasarkan Peta Mangrove Nasional (PMN) Tahun 2024 yang disusun oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait, luas ekosistem mangrove Indonesia tercatat mencapai 3.440.464 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 2,7 juta hektare atau 79,6 persen berada di dalam kawasan hutan, sedangkan 701.326 hektare berada di luar kawasan hutan atau Areal Penggunaan Lain (APL). Hingga saat ini, diketahui ekosistem karbon biru, termasuk di dalamnya ekosistem mangrove, menyerap karbon di udara 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan ekosistem karbon hijau seperti hutan dan vegetasi darat, sehingga penanaman mangrove dinilai sebagai langkah yang tepat dalam memitigasi perubahan iklim. Senior Vice President Sekretariat Perusahaan SPSL, Dewi Fitriyani, menegaskan seluruh inisiatif ini merupakan kelanjutan bentuk Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Perusahaan dengan fokus pada pelestarian ekosistem pesisir serta pemberdayaan masyarakat. “Sejalan dengan semangat 'Pelabuhan Hijau, Masyarakat Sejahtera'. Rehabilitasi mangrove bukan sekadar menanam pohon, tetapi menanam masa depan bagi ekosistem dan warga pesisir. Dengan melibatkan kelompok tani dan masyarakat setempat, mereka tidak hanya menanam, tetapi juga diberdayakan untuk merawat hingga tumbuh optimal,” ujar Dewi. Ia menekankan rehabilitasi mangrove memberi manfaat berlapis. Selain memperbaiki ekosistem pesisir, mangrove membuka peluang ekonomi baru, seperti pengembangan ekowisata, produk olahan hasil mangrove, hingga diversifikasi usaha kelompok tani lokal. “Pelibatan masyarakat menjadi kunci agar program ini tidak berhenti pada seremoni, melainkan benar-benar memberi dampak nyata dan berkelanjutan,” ulasnya. Langkah ini mendukung tiga tujuan utama Sustainable Development Goals (SDGs), yakni Penanganan Perubahan Iklim (Tujuan 13) melalui penyerapan karbon dan pengurangan emisi, Pemulihan Ekosistem Daratan (Tujuan 15) melalui pelestarian biodiversitas dan perbaikan ekosistem, serta Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Tujuan 8) dengan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat pesisir.
Carbon Offset Lewat Mangrove: LindungiHutan Rilis eBook Panduan di Tengah Krisis Iklim
Semarang, katakabar.com - Di tengah eskalasi krisis iklim global, LindungiHutan meluncurkan eBook edukatif bertajuk “Panduan Komprehensif Carbon Offset dan Peran Mangrove dalam Mitigasi Perubahan Iklim” sebagai kontribusi nyata mendorong berbagai pihak, mulai dari pelaku usaha, pemerintah, hingga komunitas, untuk mengambil peran aktif dalam aksi iklim. Fokus utama eBook ini adalah carbon offset berbasis ekosistem mangrove, salah satu solusi alami paling efektif untuk menyerap emisi karbon sekaligus melindungi kawasan pesisir dari dampak bencana iklim. Menurut Climate Watch dan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau KLHK, emisi karbon Indonesia masih didominasi sektor energi dan alih fungsi lahan. Meski sejumlah korporasi telah menetapkan target Net Zero Emission, banyak yang belum memiliki panduan implementasi mitigasi yang terstruktur. Di sinilah eBook ini hadir, memberikan panduan praktis mulai dari konsep dasar carbon offset, potensi karbon biru (blue carbon), hingga studi kasus penanaman mangrove dengan tingkat keberhasilan tinggi di Indonesia. “Carbon offset bukan sekadar jargon hijau. Jika dilakukan secara tepat, ini adalah instrumen yang mampu menekan laju perubahan iklim sambil memberikan manfaat sosial-ekonomi. Lewat eBook ini, kami ingin memberikan peta jalan yang jelas untuk aksi nyata,” ujar Ben, CEO LindungiHutan, melalui rilis resmi diterima katakabar.com, Rabu siang kemarin. Salah satu sorotan dalam eBook ini adalah efektivitas mangrove sebagai penyerap karbon, bahkan mampu menyimpan 4 hingga 5 kali lebih banyak karbon dibanding hutan tropis daratan. Selain itu, mangrove juga memperkuat ketahanan pangan, melindungi garis pantai dari abrasi, hingga membuka peluang ekonomi melalui ekowisata. LindungiHutan telah mencatat berbagai keberhasilan rehabilitasi mangrove, seperti di Pantai Mangunharjo, Semarang, dengan tingkat keberhasilan penanaman 93 persen berkat kolaborasi bersama kelompok tani lokal. Hingga kini, ribuan pohon telah ditanam, menghijaukan kembali area pantai seluas 1,2 hektar, serta menyerap lebih dari 5.900 kg CO₂eq. Proyek serupa di Tambakrejo dan Trimulyo menunjukkan dampak signifikan meski menghadapi tantangan, seperti konflik penggunaan lahan akibat pembangunan infrastruktur jalan tol. “Banyak pihak ingin berkontribusi pada aksi iklim, tetapi terkendala kurangnya panduan implementasi yang berbasis data dan pengalaman lapangan. EBook ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan tersebut,” tambah Ben. LindungiHutan mengajak semua sektor, terutama dunia usaha, untuk memandang carbon offset sebagai peluang, bukan beban. Peluang ini mencakup peningkatan citra merek, loyalitas pelanggan, hingga akses pada green financing dan insentif pemerintah yang mulai digulirkan. eBook ini dapat diunduh gratis di https://lynk.id/lindungihutan/kekr1pdek2r0 dan dapat diakses hanya dalam waktu tertentu. Pembaca dapat mengunduh selagi tersedia dan jadilah bagian dari gerakan mitigasi iklim berbasis mangrove.
Warga Wonorejo Bangkitkan Ekonomi Lewat Rehabilitasi Mangrove Bersama LindungiHutan
Surabaya, katakabar.com - Dari 2008 lalu, masyarakat di kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya, aktif melakukan rehabilitasi mangrove secara swadaya. Tapi, keterbatasan dana membuat upaya tersebut berjalan lambat, hingga akhirnya pada 2021 mereka menjalin kolaborasi dengan platform konservasi LindungiHutan. “Awalnya kami bergerak tanpa dana APBD, hanya atas dasar kepedulian dari masyarakat. Tantangan terbesar ya pendanaan. Kehadiran LindungiHutan membantu membuka akses,” ujar Ahmad David 37 tahun, pegiat lingkungan dan mitra petani mangrove Wonorejo, Jumat (26/8) lalu. Kata David, sejak program berjalan, masyarakat merasakan manfaat ganda. Ekonomi lokal tumbuh lewat usaha penyemaian bibit, penanaman, dan pengolahan buah mangrove menjadi sirup maupun dodol. “Dampak sosialnya, warga makin peduli lingkungan. Gotong royong lebih kuat,” jelasnya. Secara ekologis, kondisi pesisir juga membaik. Abrasi berkurang, udara lebih bersih, dan keanekaragaman hayati meningkat, termasuk munculnya kembali burung migran Great Egret (Ardea alba). Burung berleher panjang berwarna putih itu dikenal sebagai spesies migran yang melintasi jalur East Asian–Australasian Flyway, dari Asia Timur hingga Australia. Kehadirannya menjadi tanda penting, termasuk habitat pesisir kembali sehat. “Great Egret datang karena ada makanan yang cukup. Akar mangrove jadi tempat ikan dan udang berkembang biak, dan itu menarik burung pemangsa seperti egret. Artinya rantai makanan kita sudah mulai pulih,” sebut David. Kendati demikian, ucapnya, tantangan masih ada, terutama sampah plastik dan limbah industri yang memengaruhi kualitas air, termasuk meninggalkan bau dan warna hitam pekat. “Kalau pohon bisa tumbuh, sampah masih jadi musuh utama,” tutur David. CEO LindungiHutan, Miftachur “Ben” Robani menegaskan, keterlibatan warga lokal menjadi kunci keberlanjutan program. “Restorasi bukan hanya menanam pohon, tapi juga melibatkan masyarakat dalam pemantauan jangka panjang. Ketika warga merasa memiliki, hutan akan terjaga,” imbuhnya. Penelitian menyebutkan mangrove menyimpan 3 hingga 5 kali lebih banyak karbon per unit area dibanding hutan daratan tropis. Dalam hal perlindungan pesisir, mangrove bisa mengurangi energi gelombang hingga 66 persen dalam 100 m area, atau 75 persen dalam 200 m, tergantung kepadatan dan struktur fisiknya. David berharap kolaborasi ini diperkuat dengan pelatihan dan pendampingan keterampilan.
Act of Love Foundation Gaet LindungiHutan Tanam Mangrove Hijaukan Pesisir Pulau Pari
keharusan. Di Hari Mangrove Sedunia ini, aku dan tim Act of Love merasa penting untuk ikut berkontribusi dalam melestarikan ekosistem mangrove, penjaga alami pesisir yang sering kali terlupakan, padahal perannya sangat vital bagi keberlangsungan hidup kita. Mangrove bukan hanya deretan pohon di garis pantai. Mereka melindungi kita dari abrasi, menyerap karbon dengan sangat efektif, dan menjadi rumah bagi ribuan makhluk hidup. Sayangnya, keberadaan mereka semakin terancam oleh eksploitasi dan kurangnya kesadaran. Melalui kolaborasi bersama Lindungi Hutan, kami ingin membuka ruang bagi anak muda untuk terlibat langsung, merasakan koneksi emosional dengan alam, dan mengubah rasa peduli menjadi aksi nyata. Karena perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil, langkah yang dilakukan bersama, dengan konsistensi dan cinta. Aku percaya masa depan bumi ditentukan oleh kesadaran kita hari ini. Jadi, aku mengajak kalian semua untuk tidak hanya mencintai alam dari kejauhan, tapi merawatnya, menyentuhnya, dan menjaganya bersama-sama,” beber Cinta Laura Kiehl
Hijaukan Pesisir Timur Jawa, KAI Logistik Tanam Dua Ribu Mangrove
Probolinggo, katakabar.com - Kereta Api Indonesia atau KAI Logistik di mana salah satu wilayah operasional yang berada di Kota Surabaya lagi, melaksanakan kegiatan penanaman pohon mangrove sebagai bagian dari agenda rutin tahunan yang telah dijalankan sejak tahun 2023. Pada 2025 ini, program penanaman mangrove dipusatkan di Pantai Tambak Sari, Probolinggo. Manajet Timur KAI Logistik, Wisesa Witaraga menyatakkan, kegiatan rutin ini bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan memberikan kontribusi nyata bagi pelestarian lingkungan, sekaligus memperkuat hubungan yang harmonis dengan masyarakat di sekitar wilayah operasional. Selain menekankan aspek ekologi, ujar wisesa, program ini menjadi bentuk implementasi prinsip keberlanjutan yang mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) serta prinsip Environmental, Social, and Governance ata ESG. Hingga pertengahan tahun 2025, rinci Wisesa, KAI Logistik Wilayah Timur telah melaksanakan program penanaman mangrove sebanyak tiga kali dengan total 3.600 bibit yang telah ditanam. Penanaman dilakukan secara bertahap, dimulai dengan 1.000 bibit pada tahun 2023, kemudian 600 bibit pada tahun 2024, dan meningkat signifikan menjadi 2.000 bibit pada tahun 2025. Peningkatan jumlah bibit mangrove yang ditanam mencerminkan penguatan komitmen perusahaan terhadap pelestarian lingkungan berkelanjutan. Menurut Wisesa, di dua tahun pertama, kegiatan penanaman difokuskan di lokasi yang sama, yakni Pantai Klasik, Probolinggo, guna memaksimalkan hasil pemulihan vegetasi. “Tingkat keberhasilan tumbuh mangrove pada tahun pertama belum optimal akibat gangguan hama dan abrasi yang cukup tinggi. Oleh karena itu, pada tahun kedua kami mengarahkan upaya pada pemeliharaan serta penanaman ulang. Sementara pada tahun 2025, lokasi penanaman dialihkan ke kawasan pesisir lain dengan mempertimbangkan aspek konservasi serta kontribusi terhadap pemulihan ekosistem di wilayah yang lebih luas,” jelas Wisesa. Pelaksanaannya, ucap Wisesa, KAI Logistik Wilayah Timur bekerja sama dengan LAZ Rumah Zakat serta melibatkan relawan dari masyarakat lokal. Salah satu bentuk kolaborasi tersebut adalah pemantauan pertumbuhan bibit mangrove yang dilakukan setiap tiga bulan. Selain penanaman, perusahaan juga mengedukasi masyarakat melalui kampanye “Adopsi Mangrove” untuk menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab bersama terhadap kelestarian lingkungan.
Bangun Benteng Hijau, PT HFI Tanam Ribuan Mangrove di Wonorejo
Surabaya, katakabar.com - Guna perkuat komitmen keberlanjutan lingkungan, PT Hino Finance Indonesia atau FHI berkolaborasi dengan LindungiHutan dalam aksi penanaman pohon mangrove di kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya. Kegiatan bertema “Investing in Nature, Securing Our Future” ini berhasil menanam sebanyak 2.511 pohon mangrove jenis Rhizophora, dengan melibatkan 10 peserta aktif serta kontribusi dari masyarakat sekitar. Penanaman dilakukan di pekan pertam Juni 2025 lalu, bekerja sama dengan mitra penanaman lokal dan kelompok tani setempat. Proyek ini menjadi bagian dari upaya rehabilitasi kawasan pesisir sekaligus bentuk nyata kontribusi perusahaan dalam aksi iklim dan pelestarian ekosistem. Jenis mangrove Rhizophora dipilih karena kemampuannya bertahan di lingkungan ekstrem dengan salinitas tinggi, menjadikannya pelindung alami pantai dari abrasi dan banjir rob. Selain fungsi ekologis, Rhizophora memiliki nilai ekonomis sebagai sumber bahan bangunan, kayu bakar, dan tanin alami. Meski penanaman baru dilakukan pada awal Juni, keterlibatan 30 lebih petani lokal telah dimulai sejak tahap persiapan. Keikutsertaan mereka diharapkan menjadi awal dari manfaat jangka panjang, baik dalam bentuk peningkatan keterampilan, pendapatan, maupun kesadaran lingkungan. Monitoring akan dilakukan secara berkala selama enam bulan untuk memastikan pertumbuhan pohon dan efektivitas pemulihan ekosistem. Hasil dampak lingkungan dan sosial akan dilaporkan setelah periode monitoring selesai, sebagai bentuk transparansi dan tanggung jawab berkelanjutan. Penanaman mangrove ini berkontribusi pada upaya mitigasi perubahan iklim. Riset oleh Donato et al. (2011) menunjukkan bahwa hutan mangrove mampu menyimpan karbon 3–5 kali lebih banyak dibandingkan hutan tropis daratan, menjadikan kawasan seperti Wonorejo penting dalam strategi adaptasi iklim nasional. Dengan luas tanam mencapai 1.752 m², kolaborasi ini menjadi contoh nyata bahwa investasi pada alam, termasuk melalui rehabilitasi lingkungan, adalah langkah strategis untuk menjamin masa depan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat dan ekosistem pesisir Indonesia. “Investasi hijau bukan hanya soal menjaga lingkungan, tetapi juga tentang melindungi masa depan masyarakat dan ekosistem yang menjadi penopangnya. Melalui penanaman mangrove ini, kami ingin berkontribusi dalam menciptakan dampak positif yang berkelanjutan, terutama bagi alam, bagi kehidupan, dan bagi generasi mendatang,” pungkas Dwi Ratnaningsih, perwakilan dari PT Hino Finance Indonesia.