Toba, katakabar.com – Kain ulos bukan hanya warisan budaya masyarakat Batak, tetapi juga menyimpan peluang ekonomi jika diolah menjadi produk kreatif yang sesuai kebutuhan pasar. Peluang inilah yang ingin dikembangkan Pemerintah Kabupaten Toba melalui pelatihan pembuatan suvenir berbahan kain bagi angkatan kerja.
Pelatihan tahun anggaran 2026 itu digelar di Balai Latihan Kerja (BLK) Landbow Sibarani Nasampulu, Laguboti, Senin (12/10/2026). Sebanyak 20 peserta dari sejumlah kecamatan mengikuti kegiatan yang berlangsung selama 30 hari tersebut.
Program yang dilaksanakan melalui Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Ketenagakerjaan Kabupaten Toba ini diarahkan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat, sekaligus membuka peluang usaha mandiri yang dapat menambah pendapatan keluarga.
Mewakili Bupati Toba Effendi Sintong Panangian Napitupulu, Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Pembangunan, Keuangan, Sumber Daya Alam dan Aset, Darwin Sianipar, berharap peserta mampu mengembangkan keterampilan mengolah kain ulos menjadi produk yang menarik dan memiliki daya saing.
Menurutnya, kemampuan yang diperoleh selama pelatihan diharapkan tidak berhenti pada penguasaan teknik produksi. Peserta juga didorong memanfaatkan keterampilan tersebut untuk merintis usaha, meningkatkan penghasilan, dan membuka kesempatan kerja bagi orang lain.
“Dengan keterampilan ini, para peserta diharapkan memiliki peluang membuka usaha mandiri, menambah penghasilan keluarga, sekaligus menciptakan lapangan kerja,” kata Bupati Toba yang disampaikan Staff Ahli, Darwin Sianipar.
Ketua TP PKK sekaligus Ketua Dekranasda Kabupaten Toba, Ny. Astita Effendi Sintong Panangian Napitupulu boru Simanjuntak, yang turut hadir, mengingatkan peserta agar mengikuti pelatihan dengan serius dan menjadikannya sebagai bekal untuk membangun usaha.
Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan bantuan mesin jahit yang direncanakan diberikan kepada setiap peserta setelah pelatihan. Peralatan tersebut diharapkan menjadi modal awal untuk mulai memproduksi suvenir, bukan sekadar disimpan tanpa dimanfaatkan.
“Bantuan mesin jahit yang akan diberikan harus menjadi modal usaha, bukan sekadar barang pajangan, apalagi sampai dijual. Jangan berhenti hanya sampai pelatihan selesai,” pesan Astita.
Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Ketenagakerjaan Kabupaten Toba, Rustam Wanri Josua Napitupulu, menjelaskan pelatihan dirancang untuk meningkatkan kompetensi, kreativitas, dan produktivitas peserta, terutama para pencari kerja.
Produk yang akan dibuat cukup beragam, mulai dari suvenir berbahan ulos, topi akup, topi pengantin, dompet, tempat telepon genggam, topi segitiga, hingga dompet ring. Variasi produk ini diharapkan memberi ruang bagi peserta untuk mengembangkan desain dan menentukan produk yang berpotensi diminati konsumen.
Salah seorang peserta, Evi Sinaga, menyampaikan apresiasi atas kesempatan mengikuti pelatihan tersebut. Ia berharap keterampilan baru yang diperoleh dapat membantu meningkatkan kemampuan produksi sekaligus memperbaiki ekonomi keluarga.
“Semoga melalui kegiatan ini, pengetahuan dan keterampilan kami semakin bertambah sehingga dapat berdampak positif terhadap ekonomi keluarga,” ujar Evi.
Pelatihan ini menjadi langkah awal untuk menghubungkan keterampilan menjahit dengan peluang ekonomi berbasis budaya lokal. Namun, keberlanjutan manfaatnya akan ditentukan oleh kemampuan peserta menjaga kualitas produk, mengakses pasar, dan mengembangkan usaha setelah pelatihan berakhir.*
20 Warga Toba Dilatih, Kreasikan Kain Ulos Jadi Suvenir
Diskusi pembaca untuk berita ini