Home / Sawit / Dosen Polije Produksi Minyak Sawit Merah Upaya Maksimalkan Fungsi Kebun Tefa
Dosen Polije Produksi Minyak Sawit Merah Upaya Maksimalkan Fungsi Kebun Tefa
Foto Istimewa/katakabar.com.
Jember, katakabar.com - Dosen Politeknik Negeri Jember (Polije) produksi minyak sawit merah. Ini sejalan dengan upaya memaksimalkan fungsi kebun Teaching Factory (Tefa), dan perkokoh peran mendukung hilirisasi dengan memanfaatkan buah kelapa sawit jadi produk minyak sawit merah.
Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah dan kapasitas Teaching Factory (Tefa) Pembibitan, sebuah inisiatif yang didukung pengelola lahan praktik kebun kelapa sawit di bawah naungan Laboratorium Lapang Polije.
Program Pengabdian Kepada Masyarakat ini diketuai Sugiyarto MP, beranggotakan Irma Harlianingtyas MSi, Descha Giatri Cahyaningrum MP, dan Dian Hartatie MP.
Mereka bekerja sama dengan pengelola Tefa untuk meningkatkan kemampuan produksi minyak makan merah melalui rangkaian kegiatan yang melibatkan diskusi, pendampingan teknis, serta evaluasi hasil.
Tim dari Polije telah melakukan Focus Group Discussions (FGD) bersama pengelola Tefa, memberikan pelatihan terkait pembuatan minyak sawit merah, serta mendampingi proses pengemasan, penyimpanan, dan pengujian mutu produk.
Selain itu, tim juga membantu manajemen produksi, pemasaran, dan melakukan monitoring untuk memastikan keberlanjutan produksi minyak merah ini.
Sugiyarto dosen Program Studi Produksi Tanaman Perkebunan menjelaskan, kebun kelapa sawit di Polije sebenarnya memiliki potensi besar untuk menghasilkan produk turunan seperti Crude Palm Oil (CPO) maupun minyak sawit merah (MSM).
“Sejak adanya kebun praktik ini, panen buah kelapa sawit tidak pernah dimanfaatkan meskipun potensinya cukup untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah, baik secara manual maupun semi manual," ujarnya lewat rilis humas dilansir dari laman EMG, Sabtu (26/10) malam.
Jika fasilitas dan peralatan pengolahan tersedia dengan baik, kata Sugiyarto, produk-produk ini dapat menjadi unggulan, tidak hanya di Jurusan Produksi Tanaman Perkebunan, tapi di Jurusan Teknik, khususnya Program Studi Teknik Energi Terbarukan.
Menurut Irma Harlianingtyas, kebun kelapa sawit Polije memiliki potensi produksi yang besar.
“Secara umum, pohon kelapa sawit dapat menghasilkan 12 hingga 14 tandan per tahun dengan berat per tandan antara 10 hingga 15 kilogram. Jika fruitset mencapai 80 persen, maka buah yang bisa diolah berkisar 8 hingga 12 kilogram per tandan. Dengan populasi minimal 100 pohon, kebun praktik ini dapat menghasilkan sekitar 10 hingga 16 ton buah sawit per tahun, atau sekitar 1 ton per bulan. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk diolah menjadi minyak merah,” bebernya.
Tahapan pengolahan buah sawit di kegiatan ini dilakukan dengan metode yang lebih sederhana, meliputi proses degumming, deasidifikasi, dan deodorisasi pada suhu tinggi. Hasilnya adalah produk minyak merah yang siap untuk dipasarkan," sahut Descha Giatri Cahyaningrum dan Dian Hartatie.
Hasil dari kegiatan ini disambut positif pengelola Tefa Pembibitan, Jumiatun puji kontribusi program ini.
“Pemberian peralatan sterilisasi dan alat press buah kelapa sawit sangat bermanfaat untuk pengolahan minyak sawit di masa depan. Selain itu, ini juga menyelesaikan masalah pemanfaatan buah sawit yang jatuh ke tanah,” terangnya.
Jika buah sawit yang jatuh tidak diambil, cerita Jumiatun, hal itu dapat memicu pertumbuhan bibit baru, yang kemudian memerlukan tenaga tambahan untuk mencabutnya.
"Dengan adanya proses pengolahan ini, lahan praktik dapat dimanfaatkan secara lebih optimal, sambil memberikan nilai tambah bagi mahasiswa yang melakukan praktik langsung," ulasnya.
Jadi, tuturnya, program ini tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi Tefa Pembibitan, tapi mendukung pengembangan hilirisasi kelapa sawit di lingkungan Polije, menciptakan peluang bagi mahasiswa dan masyarakat sekitar untuk mengembangkan keterampilan, dan potensi ekonomi melalui pengolahan produk sawit yang bernilai tambah.








Komentar Via Facebook :