Sementara, Indonesia merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan sumber daya alam strategis, populasi lebih dari 285 juta jiwa, posisi geografis yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik, serta potensi besar dalam hilirisasi mineral kritis, transisi energi, dan ekonomi digital. Berbagai proyeksi dari OECD, PwC, dan Goldman Sachs menunjukkan Indonesia berpeluang menjadi salah satu ekonomi terbesar dunia pada pertengahan abad ini apabila berhasil meningkatkan produktivitas, kualitas sumber daya manusia, dan kemampuan teknologi. 

Artinya, Indonesia dan India sesungguhnya memiliki karakter yang saling melengkapi. Sayangnya, hubungan ekonomi kedua negara masih belum mencerminkan potensi tersebut.

Dalam perdagangan, Indonesia memang menikmati surplus yang cukup besar terhadap India. Ekspor Indonesia masih didominasi batu bara, minyak sawit, karet, mineral, serta berbagai komoditas berbasis sumber daya alam. Sebaliknya, India mengekspor produk farmasi, mesin, kendaraan, teknologi informasi, jasa digital, dan berbagai produk manufaktur bernilai tambah tinggi.

Surplus perdagangan tentu merupakan kabar baik bagi Indonesia. Tetapi, dalam perspektif ekonomi pembangunan, surplus yang bertumpu pada ekspor komoditas primer belum cukup untuk membawa Indonesia menjadi negara maju. Pandangan ini sejalan dengan pemikiran ekonom pembangunan seperti Ha-Joon Chang dari Korea Selatan dan Alice H. Amsden dari Amerika Serikat.

Keduanya menunjukkan bahwa hampir semua negara yang berhasil melakukan catch-up terhadap negara maju —mulai dari Jepang, Korea Selatan, hingga Taiwan— tidak hanya mengandalkan perdagangan bebas, tetapi juga membangun industri nasional melalui kebijakan negara yang terarah, investasi pada teknologi, pengembangan sumber daya manusia, serta transfer pengetahuan. Menurut mereka, kemajuan ekonomi tidak lahir dari ekspor bahan mentah, melainkan dari kemampuan menciptakan produk bernilai tambah tinggi dan menguasai teknologi.

Karena itu, hubungan ekonomi Indonesia–India sudah saatnya memasuki babak baru. Fokus kerja sama tidak lagi hanya meningkatkan volume perdagangan, tetapi juga mendorong investasi dua arah, transfer teknologi, riset bersama, pengembangan industri manufaktur, ekonomi digital, kecerdasan buatan, semikonduktor, farmasi, serta pembangunan ekosistem inovasi. Dengan demikian, hubungan kedua negara tidak hanya menghasilkan surplus perdagangan, tetapi juga mempercepat transformasi ekonomi Indonesia menuju negara industri yang lebih maju dan berdaya saing global.

Ketimpangan juga masih terlihat dalam bidang investasi. Data menunjukkan investasi India di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan investasi Indonesia di India. Pada 2025, investasi India di Indonesia mencapai sekitar US$237,6 juta, sedangkan investasi Indonesia di India hanya sekitar US$9,8 juta. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa hubungan investasi kedua negara masih memiliki ruang yang sangat besar untuk dikembangkan secara lebih seimbang.

BRICS

Momentum tersebut semakin penting karena Indonesia dan India kini berada dalam satu forum strategis yang sama, yakni BRICS. Indonesia resmi menjadi anggota penuh BRICS pada 6 Januari 2025 sebagai anggota ke 11. Bersama India, Indonesia juga merupakan anggota World Trade Organization (WTO) dan Group of Twenty (G20). Indonesia memang berbeda dengan India karena juga menjadi anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) dan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC). Sebaliknya, India memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dalam BRICS dan berbagai forum Global South.

Keanggotaan bersama di BRICS seharusnya tidak dipandang sebagai simbol politik semata. BRICS merupakan wadah kerja sama Selatan-Selatan yang bertujuan memperkuat pembangunan, perdagangan, investasi, inovasi, serta reformasi tata kelola ekonomi global agar lebih inklusif. Indonesia masuk BRICS bukan untuk menjauh dari Amerika Serikat ataupun Eropa, melainkan untuk memperluas ruang diplomasi dan pilihan ekonomi. Politik luar negeri Indonesia tetap berlandaskan prinsip bebas dan aktif: bersahabat dengan semua negara dan tidak menjadi bagian dari blok kekuatan mana pun.

Dalam BRICS sendiri, konfigurasi kekuatan nasional menunjukkan dinamika yang menarik. Jika diukur berdasarkan kekuatan nasional secara menyeluruh, tiga negara paling berpengaruh adalah Tiongkok, India, dan Rusia. Tiongkok unggul dalam ekonomi, teknologi, industri, dan kapasitas manufaktur. India unggul dalam pertumbuhan ekonomi, bonus demografi, inovasi digital, serta prospek jangka panjang. Rusia tetap menjadi kekuatan utama dalam bidang militer, energi, dan strategi keamanan. Dalam diplomasi internasasional, Tiongkok, India, Rusia, dan Brasil memainkan peran paling menonjol, sementara dalam sektor energi, Arab Saudi, Rusia, Iran, dan Uni Emirat Arab menjadi aktor utama.