Kapen Kogabwilhan III: Korban Kontak Tembak di Sugapa KSB

Papua, katakabar.com - Kepala Penerangan (Kapen) Kogabwilhan III, Kolonel Czi IGN Suriastawa klarifikasi korban kontak tembak, pada Sabtu (6/3) lalu di Kampung Pesiga, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya Kelompok Separatis Bersenjata (KSB). 

Itu dari aksinya dalam kontak tembak dan barang bukti yang didapat, dipastikan korbannya KSB. 

“Wajah, ciri dan atribut korban, seperti gelang dan cincin sama dengan foto-foto yang ada di telepon genggamnya. Hal itu jadi bukti kuat yang bersangkutan benar KSB,” tegas Kolonel Czi IGN Suriastawa dalam rilisnya yang dikeluarkan, pada Minggu (7/3) kemarin.

Soal klaim pihak tertentu di media sosial (Medsos) yang menyebutkan korban warga sipil, Kapen Kogabwilhan III Kolonel Czi IGN Suriastawa menjelaskan, itu cara mereka untuk membentuk opini dan menyudutkan aparat TNI dan Polri, serta Pemerintah Indonesia mengenai aksi mereka di Papua.

Kolonel Czi IGN Suriastawa melanjutkan, walaupun di internal mereka terdapat banyak faksi dan saling berebut kepentingan. Tapi secara garis besar kelompok yang menamakan dirinya OPM ini terdiri dari tiga sayap gerakan, meliputi sayap politik, klandestin dan bersenjata.

Tiga sayap gerakan ini memanfaatkan Medsos untuk saling berkomunikasi, merencanakan aksi dan menyebarkan berita bohong untuk membentuk opini buruk tentang Pemerintah Indonesia, khususnya TNI dan Polri mengenai masalah Papua lewat berbagai platform Medsos.

“Jadi yang dihadapi bukan hanya Kelompok Separatis Bersenjata yang ada di gunung-gunung saja. Tapi politik baik dalam dan luar negeri, dan kelompok klandestin yang bisa berprofesi apapun,” jelasnya.

“Grup mereka di medsos sering memberitakan mereka berhasil menembak mati puluhan TNI dan Polri dengan menyebut waktu dan tempat tertentu agar seolah-olah benar terjadi, padahal berita tersebut bohong,” ulas Kapen Kogabwilhan III. 

Padahal untuk mengetahui kebenaran jatuhnya korban dari TNI dan Polri sangat mudah, sebab TNI dan Polri adalah alat negara resmi yang tertib administrasinya.

"Satu orang personel gugur, pasti diikuti dengan proses administrasi yang jelas, dari mulai evakuasi korban, pemakaman hingga dengan pemenuhan hak-hak korban dan ahli warisnya,” bebernya. 

Penyebaran berita bohong dari KSB bertujuan untuk memprovokasi, mengintimidasi sekaligus membentuk opini, bahwa gerakan sayap bersenjata mereka selalu unggul dan sebaliknya, setiap korban yang jatuh disebabkan kontak tembak dan aksi penindakan dari TNI dan Polri, semaksimal mungkin diklaim sebagai warga sipil.

Itu tadi, tujuannya untuk membentuk opini dunia dengan menyudutkan TNI dan Polri dan pemerintah Indonesia.

Untuk sayap gerakan bersenjata (KSB), mereka bergerilya dalam kelompok-kelompok kecil dan tidak semuanya membawa senjata saat melancarkan aksinya.

“Jangan dibayangkan seperti foto mereka di Medsos yang bergerombol puluhan ata ratusan orang dan semuanya bersenjata. Dalam aksi gerilyanya, dari 5 hinggab7 orang hanya 1 atau 2 yang bersenjata dan bila terjadi kontak, orang yang selamat bertugas membawa kabur senjata. Terus diposting di Medsos mereka, korban warga sipil lantaran tidak bersenjata,” tandasnya.

Editor : Sahdan

Berita Terkait