Ia mendorong peserta, terutama generasi muda, tidak berhenti setelah kompetisi berakhir. Bagi Astita, gerakan literasi justru membutuhkan keberlanjutan agar kreativitas yang sudah dibangun dapat terus digunakan untuk mengajak masyarakat membaca dan mencari pengetahuan.

Dorongan tersebut sekaligus membuka ruang evaluasi. Kampanye literasi melalui media digital akan lebih bermakna jika tidak berhenti pada produksi konten, tetapi mampu menghubungkan masyarakat dengan buku, pengetahuan, diskusi dan aktivitas belajar.

Karena itu, Astita berharap perpustakaan di Toba tidak hanya dipandang sebagai tempat menyimpan atau meminjam buku. Perpustakaan, katanya, perlu berkembang menjadi ruang bertemu, berdiskusi dan berbagi pengetahuan bagi masyarakat.

Harapan memperluas cakupan literasi juga disampaikan Bupati Toba Effendi Napitupulu melalui Staf Ahli Bupati, Sahat Manullang. Ia meminta tema kegiatan mendatang dapat menyentuh berbagai bidang yang berkaitan langsung dengan kehidupan warga, seperti ekonomi, pariwisata, pendidikan dan pertanian.

Menurut Sahat, pembuat konten juga perlu mempertimbangkan manfaat karya bagi penonton, bukan hanya mengejar jumlah tayangan. Pesan tersebut menjadi penting di tengah persaingan konten digital yang membuat materi kontroversial atau negatif kerap mendapat perhatian besar.

“Konten yang kalian produksi bukan sekadar mencari rating, tetapi harus menjadi berkat bagi para pembaca dan penonton,” ujarnya.

Dalam lomba bertema “Perkembangan Perpustakaan, Budaya Baca dan Literasi di Kabupaten Toba” itu, Cinta Agnesia Napitupulu meraih juara pertama melalui karya “Turiturian Nasora Sirang”. 

Juara kedua diraih Billi Hosea Sembiring lewat “Dari Membaca Menuju Budaya”, sedangkan Christine Maria Yolanda Lubis menjadi juara ketiga dengan karya “Aksara Lama, Perpustakaan Baru”.

Tujuh karya lainnya masuk 10 besar terbaik dan memperoleh uang pembinaan serta medali. Peserta lain juga mendapat uang saku sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka.

Ke depan, ukuran keberhasilan gerakan literasi tidak semata-mata berada pada jumlah peserta atau konten yang diproduksi.

Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana karya tersebut mampu mengubah konten menjadi kebiasaan membaca, ruang belajar, dan budaya berbagi pengetahuan di tengah masyarakat Toba. 

Jhonny Simanjuntak katakabar.com Wilayah Tapanuli dan Sekitarnya