Lampung, katakabar.com - Sekolah Dasar Kualasidang Kecamatan Rawajitu Utara Kabupaten Mesuji memprihatinkan dan mengkhawatirkan. Sekolah berdiri tahun 1953 lampau, dan resmi operasional tahun 2000 silam hingga saat ini masih terbuat dari kayu dengan kondisi rusak berat berdiri di atas sungai Mesuji.

Tidak cuma bangunan rusak berat, sarana prasarana, dan fasilitas pendukung serta, nasib guru sudah mengajar dua puluh tahun lamanya tidak mendapat perhatian.

Ironinya lagi, di tahun pembelajaran 2022 lalu dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahap II hilang akibatnya guru tidak menerima honor. Hal serupa terulang lagi di tahun pembelajaran 2023, dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahap I tak kunjung cair padahal sudah di awal April 2023.

Itu sebabnya, proses di SD Kualasidang Kabupaten Mesuji Lampung terpaksa diliburkan lebih awal dari almanak pendidikan.

"Demi menjaga keamanan dan keselamatan dengan terpaksa seluruh siswa diliburkan lebih awal dari jadwal libur nasional menyambut hari raya idul fitri 1444 hijiriah pada 19 hingga 25 April 2023. Itu tadi bangunan sekolah sudah sangat mengancam keselamatan anak-anak saat melaksanakan kegiatan pembelajaran," kata salah seorang tenaga pendidik, Yuharlis kepada wartawan, pada Senin (3/4)

Diceritakan Yuharlis, sudah  20 tahun ini sekolah tidak pernah dapat bantuan fisik, seperti penambahan ruang kelas baru dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mesuji.

Untuk itu, saya berharap dan meminta Kemendikbudristek agar memperhatikan sekolah di garis depan, dan nasib para guru-guru di pelosok yang berada di daerah 3T, seperti perkampungan nelayan Kuala Mesuji Lampung.

"Hak pendidikan sudah diatur dalam Undang Undang Dasar (UUD) 1945, yakni pemerintah memiliki kewajiban untuk memenuhi hak masyarakat memperoleh atau mendapatkan pendidikan yang layak untuk kemajuan bangsa (masyarakat) di masa-masa yang akan datang. Apalagi pendidikan faktor khusus yang harus di perhatikan pemerintah untuk melakukan  pemerataan pendidikan agar bisa dinikmati seluruh warga negara," ulasnya.

Dijelaskan Yurhalis, salah satu tujuan program Indonesia pintar ada program untuk sekolah garis depan. Di mana pemerintah mempunyai nawacita, untuk hadir di daerah-daerah pelosok, seperti sekolah kami yang berada di daerah 3T ini.

"Kami berharap pemerintah mewujudkan program, bukan hanya sekedar janji yang dimuat dalam program," harapnya

Masih Yurhalis, SD Kuala Sidang termasuk dalam kategori sekolah garis depan. Di mana sekolah yang dibangun di tempat-tempat terdepan, di pelosok, di daerah pinggiran, dan di daerah perbatasan.

"Ini fakta, negara tidak hadir di sini. Mulai dari fasilitas, sarana prasarana, bahkan nasib guru sudah 20 tahun lebih mengajar tidak diperhatikan negara," bebernya

Selain itu lanjut Yurhalis, di tahun pembelajaran 2022 lalu, dana BOS tahap II hilang akibatnya guru tidak menerima honor. Hal serupa terulang lagi, tahun  pembelajara 2023 ini dana BOS tahap I tak kunjung cair padahal sudah diawal April 2023. Itu artinya, honor kami bakal hilang lagi.

"Nelangsa negeri ini, jangankan memberikan secarik kertas penghargaan, berbagai tunjangan, program PPPK, bahkan dana BOS pun sepertinya mempermainkan kami sebagai guru yang puluhan tahun mengabdi di daerah 3T," ujarnya.

Kami selama ini berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mesuji. Begitu pun dengan Korwas (UPTD) Kecamatan Rawajitu Utara bahkan pernah disampaikan masalah dan kendala kami kepada Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Lampung melalui Pak Waskita saat kunjungan kerja ke sekolah beberapa tahun lalu.

"Semoga Presiden RI, Ir Joko Widodo, Menteri Kemendikbudristek Nadiem Makarim, Menkeu, Sri Mulyani, dan instansi lainnya menyikapi dan membantu agar proses belajar mengajar berjalan lancar, di sekolah," tandasnya.