Kekecewaan mereka bertambah setelah mendapat informasi dari Tono, pihak yang disebut membuat steling. Menurut pengakuan pedagang, steling tersebut sudah selesai dibuat, tetapi belum dibagikan karena persoalan pembayaran dari Pemko Binjai yang disebut belum jelas. 

Informasi ini belum dikonfirmasi kepada pihak pembuat maupun Pemko Binjai. Para pedagang juga mengingat janji Wali Kota Binjai saat mereka berunjuk rasa di Balai Kota. 

Ketika itu, menurut mereka, wali kota menyampaikan bahwa pedagang Jalan Olahraga akan memperoleh dana CSR sebesar Rp127 juta. Namun, hingga kini, mereka mengaku belum melihat realisasi bantuan tersebut.

“Kami ini manusia, bukan binatang. Kami tahu mana perkataan yang sungguh-sungguh dan mana yang hanya janji. Kalau ada pekerjaan lain, mungkin sudah kami tinggalkan tempat ini. Kami bertahan karena tidak punya pilihan lain,” kata seorang pedagang dengan nada kecewa.

Di tengah ketidakpastian itu, mencari nafkah menjadi semakin berat. Para pedagang mengaku bukan hanya kesulitan memperoleh keuntungan, bahkan untuk mengembalikan modal pun terasa sulit. 

Mereka menilai lokasi berjualan di dalam kawasan Masjid Agung belum mampu mendatangkan pembeli seperti yang diharapkan.

“Untuk makan sehari-hari saja, dapat uang sudah sangat kami syukuri. Jualan kami semakin merosot. Lebih baik berjualan di tempat semula daripada terus bertahan di dalam, tetapi tidak menghasilkan,” jelas mereka.