Home / Nasional / Perkebunan Sawit Sangat Luas, Ini Impian Masyarakat Kabupaten Paser
Perkebunan Sawit Sangat Luas, Ini Impian Masyarakat Kabupaten Paser
Perkebunan kelapa sawit sangat luas di Kabupaten Paser. Foto Sah.
Tana Paser, katakabar.com - Masyarakat Kabupaten Paser Kalimantan Timur punya impian memiliki alat pengolahan sawit mini berkapasitas 500 hingga 700 kilogram Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit per jam. Tujuannya sederhana biar hasil panen Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit milik petani swadaya tidak busuk lantaran terlambat dibawa ke pabrik.
Saat ini kelapa sawit jadi komoditas primadona bagi masyarakat Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur. Alasnya, lantaran budidaya yang tergolong mudah dibanding komoditas lain, dan tanaman kelapa sawit dinilai prosfek dan menjanjikan di mana hasilnya bisa dinikmati jangka panjang.
"Kelapa sawit bisa diolah jadi ratusan produk, seperti minyak goreng, sabun hingga bahan bakar biodiesel. Itu sebabnya, petani meyakini kelapa sawit menjanjikan masa depan," kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Paser, Adi Maulana dilansir dari laman elaeis.co, pada Sabtu (26/8).
Provinsi Kalimantan Timur memiliki areal kebun kelapa sawit seluas sekitar 1,4 juta hektar, urutan kelima perkebunan kelapa sawit terluas di Indonesia. Sementara, Kabupaten Paser areal perkebunan kelapa sawit seluas 201.168,42 hektar. Boleh jadi masih berpotensi bertambah luas.
"Kabupaten Paser punya potensi perkebunan kelapa sawit sangat besar. Tapi, para petani swadaya masih terbelit sejumlah permasalahan yang cukup mempengaruhi penghasilan mereka, meliputi jarak tempuh yang jauh, Tandan Buah Segar (TBS) rentan busuk disebabkan terlambat saat pengangkutan ke pabrik, ditambah pula dugaan permainan harga," ujarnya.
Menurutnya, umur simpan TBS kelapa sawit maksimum cuma 24 jam. Untuk siasatinya agar tidak keburu busuk sebelum sampai di pabrik, beberapa petani panen TBS kelapa sawit yang belum matang atau masih muda. Akibatnya TBS dibeli murah atau bahkan ditolak oleh pabrik kelapa sawit.
"Hal itu berimbas pada pendapatan petani kelapa sawit," jelasnya.
Untuk mengatasi masalah itu sambungnya, petani kelapa sawit mesti bisa mengolah sendiri hasil panen di kebunnya.
"Kami mengapresiasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang melaksanakan workshop dan sosialisasi pengolahan TBS kelapa sawit menjadi Pra-CPO baru-baru ini. Apa yang disampaikan di kegiatan bisa menjadi solusi dan meningkatkan daya tawar petani swadaya," bebernya.
Para petani swadaya ingin mengolah sendiri TBS kelapa sawit di sekitar perkebunan. Lantaran itu, Adi berharap BPDPKS membantu fasilitasi pengadaan alat pengolahan sawit mini.
"Semua stakeholder hendaknya membantu para petani swadaya di Kabupaten Paser. Itu tadi agar hasil panen meningkat dan berdampak meningkatnya pendapatan para petani kelapa sawit," tandasnya.
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
Mentan RI Rakor Bersama
Replanting Kelapa Sawit Disepakati Seluas 10 Ribu Hektar di Kalsel








Komentar Via Facebook :