Keterkaitan kuat membuat pertumbuhan satu kegiatan menciptakan permintaan bagi kegiatan lain, sekaligus meningkatkan efisiensi, ketahanan rantai pasok, dan nilai tambah nasional.
Industrialisasi Lewat Penguatan Hilirisasi Sumber Daya Alam
Hilirisasi meningkatkan nilai tambah sumber daya dari bahan mentah menjadi produk antara dan barang jadi, sekaligus memasok kebutuhan industri lanjutan.
Hilirisasi membutuhkan teknologi, tenaga terampil, riset terapan, pembiayaan jangka panjang, dan akses pasar. Contohnya, rantai nikel perlu berlanjut ke baterai dan kendaraan listrik. Keberhasilannya diukur dari tumbuhnya industri lanjutan dan penguasaan teknologi untuk memperkuat manufaktur berbasis pengetahuan dan inovasi.
SBIN menetapkan lima aksi: (1) melanjutkan investasi hingga manufaktur lanjutan dan barang jadi, misalnya dari nikel ke baterai lalu kendaraan listrik; (2) membangun industri antara yang menghubungkan sektor, seperti kimia, komponen elektronik, dan permesinan; (3) membawa hasil riset ke lini produksi melalui kerja sama industri dengan lembaga riset dan perguruan tinggi, disertai insentif negara bagi riset yang menjawab kebutuhan industri; (4) memodernisasi produksi dan rekayasa melalui transformasi digital, otomasi, Internet of Things (IoT), dan kecerdasan buatan (AI); serta (5) menyediakan pembiayaan investasi jangka panjang untuk peningkatan skala teknologi, mesin, fasilitas produksi, proyek strategis, dan pengembangan prototipe.
Pemerataan dan Inklusivitas Ekonomi
SBIN memperluas keterlibatan wilayah dan pelaku usaha. Desa menjadi basis produksi dan penciptaan nilai tambah yang terhubung dengan WPPI. Pengolahan komoditas di daerah asal diharapkan membuka usaha dan pekerjaan serta meningkatkan pendapatan di luar pusat ekonomi utama.
IKM didukung melalui peningkatan kapasitas, keterampilan, akses teknologi, pembiayaan, pasar, sertifikasi, dan kemitraan industri besar. Enam aksinya: (1) menetapkan pelabuhan masuk (entry point) sebagian impor di Indonesia Timur untuk mendorong aktivitas pelabuhan, logistik, dan pusat ekonomi; (2) mengembangkan Desa Industri sesuai potensi lokal, seperti kelapa, singkong, sagu, hortikultura, kakao, jagung, dan hasil laut; (3) membangun sentra IKM dengan fasilitas dan mesin bersama, pengolahan bahan baku lokal, serta pengelolaan aset; (4) menyediakan jalan produksi, air, listrik, internet, telekomunikasi, dan mesin sesuai kapasitas usaha yang terhubung ke kawasan industri dan pasar; (5) memperluas pembiayaan dan pasar melalui KUR, pendampingan pembukuan, insentif kemitraan industri-desa, subkontrak IKM, dan fasilitasi ekspor; serta (6) memperluas pelatihan bagi kelompok tertinggal di desa dan daerah 3T, termasuk afirmasi bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial.
Keselarasan Ekologis dan Peningkatan Kualitas Manusia
SBIN mengaitkan penguatan industri dengan keberlanjutan lingkungan: efisiensi energi, air, dan bahan baku; pengurangan emisi; pengelolaan limbah melalui ekonomi sirkular; standardisasi industri hijau; serta teknologi penangkapan dan pemanfaatan karbon. Aspek lingkungan menjadi pertimbangan dalam teknologi, produksi, dan pengukuran kinerja demi menjaga daya dukung alam.
Agenda lingkungan berjalan bersama pengembangan SDM melalui pendidikan, keterampilan, keselamatan kerja, upah layak, dan perlindungan sosial. Teknologi efisien dan rendah emisi membutuhkan tenaga kerja yang mampu mengoperasikan, merawat, serta mengembangkannya.
Enam aksinya: (1) menjalankan peta jalan dekarbonisasi pada sembilan subsektor, dengan pelaporan melalui SIINas dan verifikasi independen; (2) mengurangi emisi melalui efisiensi energi, pemanfaatan panas buangan, dan carbon capture and utilization (CCU); (3) mengembangkan daur ulang dan material berkelanjutan; (4) memperkuat standar serta pembiayaan industri hijau berbasis kinerja lingkungan dan memberi insentif bagi riset/teknologi CCU; (5) merevitalisasi vokasi melalui kurikulum industri, teaching factory, magang, sertifikasi, modernisasi fasilitas, serta peningkatan kompetensi pengajar; dan (6) menyiapkan keterampilan transisi teknologi dan hijau melalui pelatihan serta standar kompetensi digital dan hijau.
SBIN menjadi panduan pembangunan industri terintegrasi yang memerlukan keselarasan perencanaan, anggaran, dan program lintas kementerian/lembaga serta pemerintah daerah, dengan keterlibatan dunia usaha dan masyarakat. Keterhubungan antarsektor diharapkan meningkatkan nilai tambah, pekerjaan berkualitas, dan pemerataan kesejahteraan secara berkelanjutan.
Kesinambungan SBIN membutuhkan komitmen politik lintas kepemimpinan karena industrialisasi memerlukan waktu panjang, investasi besar, dan kepastian arah. Fondasi yang dibangun AGK diharapkan dilanjutkan dan disempurnakan agar industri tumbuh serta memberi manfaat lintas generasi.
“Apa yang sudah dirintis oleh Pak Agus Gumiwang sebagai Menteri tentu harus kita lanjutkan. Kita akan teruskan apa-apa yang sudah dicapai dan apa yang sudah diletakkan akan kita perkuat kembali,” tegas Sarmuji pada acara Sertijab Menteri Perindustrian, di awal November 2026.
Transformasi Strategi Industrialisasi Nasional Menghadapi Dinamika Geopolitik
Diskusi pembaca untuk berita ini