Biji-biji Initiative

Sorotan terbaru dari Tag # Biji-biji Initiative

'Biji-biji Initiative' dan 'Mereka' Perkuat Literasi AI di Sekolah Lewat Peluncuran Microsoft AI Classroom Toolkit Teknologi
Teknologi
11 jam yang lalu

'Biji-biji Initiative' dan 'Mereka' Perkuat Literasi AI di Sekolah Lewat Peluncuran Microsoft AI Classroom Toolkit

Jakarta, katakabar.com - Penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence) kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan pendidikan. Menurut UNESCO, lebih dari dua pertiga siswa sekolah menengah di negara berpendapatan tinggi (high income countries) telah menggunakan AI dalam aktivitas belajar mereka. Di sisi lain, UNESCO juga menegaskan besarnya potensi AI dalam meningkatkan kualitas pembelajaran harus diimbangi dengan kemampuan guru dan siswa untuk memahami risiko serta menggunakan teknologi tersebut secara aman, kritis, dan bertanggung jawab. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Biji-biji Initiative bersama ekosistem pengembangan talenta Mereka, sebagai mitra strategis Microsoft, meluncurkan Microsoft AI Classroom Toolkit, sebuah learning resource yang dirancang untuk membantu pendidik membangun literasi AI di ruang kelas sekaligus mendorong penggunaan teknologi yang lebih bertanggung jawab sejak usia dini. Seperti yang disampaikan oleh Digital Safety Director, Asia, Microsoft, Madeline Shepherd, AI akan menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki generasi masa depan. Untuk itulah, Microsoft AI Classroom Toolkit kami hadirkan untuk membantu para pendidik dalam menggunakan AI tidak hanya menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir kritis, etika digital, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Peluncuran Microsoft AI Classroom Toolkit diselenggarakan pada 23 Juni 2026 di kantor Microsoft Indonesia, di kawasan Jakarta Selatan. Acara ini dihadiri oleh Digital Safety Director, Asia, Microsoft, Madeline Shepherd, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen), Dr. Suparto, S.Ag., M.Ed., Ph.D., perwakilan Save the Children Indonesia, serta puluhan guru dari berbagai daerah di Indonesia. Toolkit ini dikembangkan sebagai resource pembelajaran kreatif yang menggabungkan pendekatan naratif dengan materi instruksional sehingga menciptakan pengalaman belajar yang lebih interaktif bagi pendidik maupun siswa usia 13 hingga 15 tahun. Melalui berbagai studi kasus dan aktivitas kelas, Microsoft AI Classroom Toolkit membantu guru membuka diskusi mengenai penggunaan AI yang bertanggung jawab, mulai dari memahami potensi fabrikasi informasi (AI hallucination), menjaga privasi data pribadi, mengenali potensi bias pada hasil AI, hingga membangun kebiasaan digital yang sehat demi menjaga kesehatan mental di era AI. Sebagai bagian dari peluncuran, diselenggarakan pula diskusi panel bertajuk "Mengajar di Era AI" yang menghadirkan perwakilan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen), Microsoft Indonesia, dan Save the Children Indonesia. Diskusi ini membahas berbagai peluang sekaligus tantangan pemanfaatan AI dalam lingkungan pendidikan. "Anak-anak kelompok yang tumbuh bersama teknologi AI. Karena itu, literasi AI perlu dibangun tidak hanya dari sisi keterampilan menggunakan teknologi, tetapi juga dari kemampuan memahami risikonya, menjaga keamanan digital, serta tetap mengedepankan empati, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Kolaborasi seperti ini menjadi langkah penting agar AI benar-benar dimanfaatkan untuk mendukung tumbuh kembang anak secara positif," ujar Ratri Sutarto selaku Director of Program Development and Impact Save the Children Indonesia. Selain sesi diskusi, tercatat sekitar 70 guru dari berbagai sekolah yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia turut mengikuti workshop bertajuk "AI di Ruang Kelas”. Menutup rangkaian acara, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen), Dr. Suparto, S.Ag., M.Ed., Ph.D., menyampaikan transformasi pendidikan di era digital memerlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia industri, dan masyarakat. Kami mengapresiasi inisiatif Microsoft bersama Biji-biji Initiative dan Mereka dalam menghadirkan Microsoft AI Classroom Toolkit sebagai sumber belajar yang membantu guru memahami sekaligus mengajarkan pemanfaatan AI secara bertanggung jawab. Harapannya, semakin banyak pendidik Indonesia yang mampu memanfaatkan teknologi untuk memperkaya proses pembelajaran tanpa mengesampingkan aspek etika, keamanan, dan karakter peserta didik. Melalui peluncuran Microsoft AI Classroom Toolkit, Biji-biji Initiative, Mereka, dan Microsoft Indonesia berharap semakin banyak sekolah di Indonesia yang mampu membangun budaya pemanfaatan AI yang tidak hanya inovatif, tetapi juga bertanggung jawab. Dengan memperkuat literasi AI sejak di ruang kelas, para pendidik dan siswa diharapkan dapat memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar, berkreasi, dan berkolaborasi secara aman sekaligus menjadi bekal menghadapi masa depan digital. 'Visi Itu Murah', Pesan Narko Santoso Mencuri Perhatian Leadership Youth Summit 4.0 Jakarta, katakabar.com - Di tengah derasnya arus motivasi yang mendorong generasi muda untuk “berani bermimpi besar”, Narko Santoso, CTA., CHt., justru membuka sesinya dengan sebuah kalimat yang tidak biasa. “Visi itu murah.” Kalimat singkat tersebut sontak mengundang perhatian ratusan peserta Leadership Youth Summit 4.0 yang diselenggarakan oleh Ideal Indonesia di Gedung Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI), Jakarta. Alih-alih berbicara mengenai strategi menghasilkan keuntungan, peluang investasi, atau kesuksesan finansial, Founder NS TRADE sekaligus Top 50 Global Trader itu justru mengajak peserta untuk mempertanyakan kembali fondasi di balik setiap mimpi yang mereka miliki. Menurut Narko, dunia hari ini dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki visi besar. Hampir semua orang memiliki target, impian, dan cita-cita yang tinggi. Namun, hanya sedikit yang benar-benar mempersiapkan sistem untuk mewujudkannya. “Visi itu murah, karena semua orang punya. Semua orang bisa bermimpi, semua orang bisa punya keinginan. Tapi yang mahal sistemnya - eksekusinya bagaimana, mitigasi risikonya bagaimana, dan bagaimana kita mempersiapkan diri menghadapi situasi terburuk.” Pesan tersebut menjadi benang merah dalam sesi kepemimpinan yang membahas bagaimana generasi muda dapat membangun daya saing di tengah perubahan dunia yang semakin cepat akibat perkembangan teknologi, Artificial Intelligence (AI), serta disrupsi di berbagai sektor industri. Leadership Youth Summit 4.0 sendiri mempertemukan mahasiswa, organisasi kepemudaan, profesional muda, pelaku industri, komunitas, hingga pemimpin organisasi dalam sebuah forum kolaboratif untuk membahas kepemimpinan, inovasi, literasi finansial, pengembangan sumber daya manusia, serta kesiapan menghadapi tantangan masa depan. Pada sesi panel diskusi, Narko Santoso hadir bersama Biltraviano Ferian Harda, S.Kom., MBIS., Group CEO DOT Indonesia Group, serta Ike Suharjo, S.IP., M.Si., entrepreneur dan politikus. Ketiga narasumber membagikan perspektif mengenai kualitas kepemimpinan yang dibutuhkan Indonesia dalam menghadapi era transformasi digital. Berbeda dengan pendekatan yang sering menekankan motivasi semata, Narko lebih banyak berbicara mengenai pentingnya membangun sistem berpikir (systems thinking), sebuah cara pandang yang menurutnya akan menentukan apakah seseorang mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang. Menurutnya, banyak orang menghabiskan waktu mencari motivasi baru, padahal yang sesungguhnya dibutuhkan adalah membangun kebiasaan dan proses yang dapat dijalankan secara konsisten setiap hari. Ia juga menilai keinginan generasi muda untuk mencari cara yang lebih cepat bukanlah sesuatu yang keliru. Justru, kemampuan menemukan solusi yang lebih efisien salah satu karakter penting dalam dunia modern. Namun, efisiensi tersebut harus tetap dibangun di atas integritas. “Kita kadang pengen apa-apa itu kalau bisa instan, cepat. Pengennya selalu dimudahkan, cari jalan pintas, cari jalan cepat. Apakah itu salah? Tidak. Justru saya kalau mencari tim, selalu mencari orang-orang yang berpikir seperti itu. Tetapi caranya harus halal, legal, dan bertanggung jawab. Cari cara tercepat, apalagi sekarang kita terbantu AI. Namun jangan pernah menghalalkan segala cara," jelasnya. Bagi Narko, perkembangan Artificial Intelligence bukan ancaman, melainkan akselerator bagi mereka yang memiliki fondasi berpikir yang benar. Teknologi mampu mempercepat proses belajar, meningkatkan produktivitas, hingga membantu pengambilan keputusan. Namun AI tidak akan pernah menggantikan disiplin, karakter, dan kemampuan seseorang membangun sistem kerja yang baik. Ia menegaskan sistem terbaik selalu dimulai dari bagaimana seseorang mengelola dirinya sendiri. Mulai dari mengatur waktu, menentukan prioritas, menjaga energi, hingga memahami kapan harus berhenti untuk memulihkan diri. “Bangun dulu sistem untuk diri kita sendiri. Cara kita mengatur waktu, menentukan prioritas, menjaga ritme kerja, sampai mengatur waktu istirahat. Mesin saja bisa overheat kalau dipaksa terus bekerja, apalagi manusia. Setelah itu barulah kita bicara sistem dalam organisasi atau pekerjaan. Ketika kita berbicara tentang sistem, kita sedang berbicara tentang lima atau sepuluh tahun ke depan, bukan hanya apa yang kita kerjakan hari ini," bebernya. Sepanjang sesi berlangsung, antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang mengangkat isu kepemimpinan, pengembangan karier, AI, kewirausahaan, hingga bagaimana membangun daya tahan mental di tengah perubahan yang begitu cepat. Turut hadir mendampingi dalam kegiatan tersebut Tommy Tarumanegara, Chief Strategic & Execution Officer (CSEO) NS TRADE, yang mengikuti rangkaian forum serta menjalin diskusi dan networking bersama peserta, narasumber, akademisi, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan yang hadir. Melalui forum tersebut, Narko berharap semakin banyak generasi muda Indonesia mulai menggeser cara pandang mereka terhadap kesuksesan. Menurutnya, masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang memiliki motivasi terbesar, melainkan oleh mereka yang mampu membangun sistem terbaik untuk mengeksekusi setiap ide, beradaptasi terhadap perubahan, dan terus bertumbuh secara berkelanjutan. “Pada akhirnya, yang membedakan seseorang bukanlah seberapa besar ia bermimpi, tetapi seberapa disiplin ia membangun sistem yang membuat mimpi tersebut dapat diwujudkan," tandasnya.