Pagi

Sorotan terbaru dari Tag # Pagi

Pagi di Jambi Bersama "Si Hitam Bahagia" Opini
Opini
Kemarin

Pagi di Jambi Bersama "Si Hitam Bahagia"

Oleh: Agung Marsudi katakabar.com - Duduk bersimpuh di tasyahud akhir, senarai empat sujud terakhir di sajadah merah mesjid Azizi, Sipin, Jambi. Setelah 117 menit, berjalan kaki menembus kabut asap di sepanjang trotoar jalan Sumantri Brojonegoro, Payo Lebar, kecamatan Jelutung, kota Jambi. Udara di negeri "Sepucuk Jambi Sembilan Lurah" pagi masih diselimuti kabut asap, meski kopi "Si Hitam Bahagia" arabica gunung Kerinci, seduhan Adinda Ratu Minang, terasa begitu nendang. Menurut mahasiswa hukum Universitas Jambi yang sudah empat bulan bekerja di kafe, sambil menunggu wisuda. Kopi Sumber Bahagia, sebuah kafe anak muda dengan ciri khas berwarna oranye, dan memiliki halaman yang luas. Berada tepat di depan Gramedia, kota Jambi. Kopi Sumber Bahagia adalah sebuah mimpi kecil untuk menciptakan ruang di mana setiap orang bisa berkumpul dan berbagi, menyebarkan kebahagiaan lewat setiap seduhan—memadukan biji kopi Nusantara pilihan yang dipanggang dengan hati. Pagi ini, saya orang pertama yang datang ke kafe. Lalu menyusul 4 siswi berseragam SMA yang baru saja keluar dari mobil putih. Saya duduk tepat di ujung pintu masuk, di samping kursi bar yang menghadap ke ruangan utama. Sekedar basa-basi, aku minta Adinda Ratu Mi untuk menambah kopiku dengan sedikit gula. Pagi yang pekat, mengingatkan saya, waktu terbang dari Jakarta ke bandara Sultan Thaha, dua hari sebelumnya. Saya duduk di samping seorang ibu muda dengan dua anak—satu anak laki-laki dalam gendongan, yang sepanjang perjalanan menangis. Bisa dibayangkan duduk di samping seorang ibu yang terlihat begitu gelisah. Lalu saya berpikir, bagaimana kalau syarat untuk menjadi presiden adalah bisa menghentikan tangisan seorang anak kecil dalam gendongan? Ya, seorang presiden yang bisa menghentikan airmata rakyatnya tanpa diminta. Mengerti, memahami bahasa paling sederhana rakyatnya. Yang tak pernah berhenti menggendong harapan.  Delapan Harapan Agung yang dijanjikan. "Si Hitam Bahagia" menemani catatan akhir tentang cerita politik negeri ini nun jauh dari Jambi, "Eight Great Hopes—How Prabowo Works".

'Malawu Pagi di Ngawi' Opini
Opini
Minggu, 20 April 2025 | 21:19 WIB

'Malawu Pagi di Ngawi'

Oleh: Agung Marsudi katakabar.com - Healing di segitiga perbatasan, kaki gunung Lawu, Karanganyar, Sragen, Ngawi, adalah menikmati oksigen bebas polusi, sejuk tiada henti. Apalagi dinikmati dalam suasana mendung, tanpa hujan. Dengan segelas _Liberica_ asli, dan Sego thiwul khas Ngawi. Rindu jadi melawu. Diskusi kecil tentang polemik ijasah palsu makin seru. Bahkan diskusi hanya jeda makan siang, sebab sudah menunggu nasi dan rendang asli Padang. Lalu dialektika meski kelas girli (pinggir kali) berlanjut dengan dokumen pernyataan sikap para purnawirawan prajurit TNI, yang menginginkan negara dan bangsa ini kembali ke Undang Undang Dasar 1945 asli. Bukan yang palsu. Kata "asli" dalam tulisan ini untuk membumikan betapa pentingnya kejujuran, dan keotentikan dalam berpikir, bersikap dan bertindak, terutama para petinggi dan pengelola negeri. "Buka dulu topengmu?" Dan ucapkan selamat tinggal kepalsuan. Bukan hanya berdalih di Pengadilan, ketika dibutuhkan, tapi juga dihadapan pemilik asli kedaulatan, yaitu rakyat. Palsu, dipalsukan, memalsukan, kepalsuan, adalah kosakata yang semestinya hilang dari kepala para petinggi negeri. Cinta rakyat untuk Indonesia, tidak pernah palsu. Kata seorang mahasiswi, inilah negara ajaib, "ijasah boleh palsu, tapi korupsinya kan gak palsu". Dalam skenario film, "Yogya, Rindu, Cinta" itu semua asli, digali dari kearifan lokal kebanggaan negeri. "Tidak ada yang palsu". Sebab sebagai bangsa, seharusnya kita punya "malu". Meneladani sosok putri sejati, putri Indonesia, harum namanya. Di mesin pencari ketika diketik nama "Jokowi" yang muncul pertama di top stories atas kiri, berjudul, "Jokowi Beri Arahan Peserta Sespimen Polri di Rumahnya" "Alamak!"