Sistem tersebut mencakup penerapan operational excellence, kesetaraan produktivitas antara kebun inti dan plasma, pemberdayaan petani melalui program cash for works, korporatisasi kelembagaan petani, serta prinsip transparansi dalam pengelolaan kebun.
Setiyono menilai penerapan sistem tersebut mampu mendorong produktivitas kebun plasma hingga mendekati produktivitas kebun inti perusahaan sekaligus memperkuat tata kelola kemitraan yang lebih profesional dan berkeadilan.
Ia juga menilai transformasi yang dilakukan PTPN IV PalmCo dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan positif dalam hubungan kemitraan antara perusahaan dan petani, terutama melalui penguatan komunikasi, tata kelola, serta peningkatan fokus terhadap kesejahteraan petani plasma.
"Kalau B50 ingin berhasil, maka produktivitas petani harus naik. Dan cara paling efektif untuk mewujudkannya adalah melalui kemitraan yang sehat antara petani dan perusahaan," jelasnya.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Supriadi, menimpali pola kemitraan telah mengubah kehidupan masyarakat dan menggerakkan roda ekonomi di berbagai sentra perkebunan sawit di Provinsi Riau.
Menurutnya, hubungan antara Aspekpir dan PTPN IV tidak sekadar kerja sama, tetapi juga telah membangun ikatan sosial yang kuat di tengah masyarakat perkebunan.
Kemitraan yang terbangun selama puluhan tahun tersebut dinilai telah berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan petani, pertumbuhan ekonomi pedesaan, serta mendorong lahirnya pusat-pusat ekonomi baru di wilayah perkebunan.
"Kemitraan yang dilangsungkan oleh Aspekpir telah banyak mengubah kehidupan dan menggerakkan ekonomi di akar rumput. Saya sudah enam tahun di Riau, hampir seluruh acara saya ikuti. Dan kita sama-sama rasakan, setiap asosiasi atau kelompok biasanya punya nuansa berbeda. Di Aspekpir, suasananya sangat berbeda, penuh kekeluargaan, mungkin karena latar belakang berdirinya jadi berpengaruh terhadap substansi dan suasana kebatinan," terangnya.
Senada, Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyuda aminkan Supriadi. Ia menilai di tengah meningkatnya kebutuhan minyak sawit sebagai bahan baku pangan dan energi, penguatan kemitraan antara perusahaan dan petani menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pasokan minyak sawit nasional.
Peningkatan produktivitas kebun rakyat melalui pola kemitraan juga semakin memperkuat ketersediaan bahan baku crude palm oil (CPO) untuk mendukung implementasi program mandatori biodiesel B50 yang tengah dipersiapkan pemerintah.
"Kebijakan B50, yang meningkatkan campuran biodiesel berbasis minyak sawit menjadi 50 persen, diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan CPO domestik secara signifikan. Karena itu, keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi perkebunan perusahaan, tetapi juga pada kemampuan jutaan petani sawit rakyat dalam meningkatkan produktivitas dan mempercepat peremajaan kebun secara berkelanjutan," beber Arya.
Dengan luas perkebunan rakyat yang mencapai lebih dari 40 persen dari total areal sawit nasional, petani memegang peran strategis dalam menjaga keseimbangan pasokan bahan baku bagi industri pangan dan energi. Pada konteks tersebut, Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN IV PalmCo terus perkuat kemitraan yang saling menguntungkan dengan petani sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional, meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat, serta memastikan manfaat ekonomi industri sawit dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat. Program kemitraan sekaligus menjadi wujud komitmen perusahaan dalam membangun ekosistem sawit nasional yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Aspekpir Puji Holding PTPN Kemitraan PalmCo dan Petani Perkuat Masa Depan Sawit Indonesia
Diskusi pembaca untuk berita ini