Lepas Gempa Ambarawa

BPBD Kabupaten Semarang Dirikan Tenda Darurat

Jawa Tengah, katakabar.com - Gempa bumi dengan magnitudo M3,0 dirasakan warga di beberapa wilayah di Provinsi Jawa Tengah (Jateng), meliputi pasien yang dirawat di RSUD Ambarawa. Guna mengantisipasi dampak lanjutan, BPBD Kabupaten Semarang mendirikan tenda darurat untuk pasien di rumah sakit tersebut.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang mendirikan tenda darurat di halaman Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ambarawa. Itu untuk mengantisipasi dampak lanjutan gempa bumi dengan magnitudo M3,0 dirasakan warga di beberapa wilayah di Provinsi Jawa Tengah (Jateng), seperti pasien yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ambarawa.

Pengamatan sementara pada bangunan tersebut, terdapat retakan pada bagian gedung. BPBD menginformasikan pasien yang berada di lantai dua dan tiga merasakan guncangan gempa yang terjadi pada Sabtu dini hari (23/10) sekitar pukul 00.32 WIB lalu.

Tenda darurat ini tenda transit sebelum mereka dipindahkan sementara ke Rumah Sakit Ungaran.

Di wilayah lain di Provinsi Jateng, yakni di Kota Semarang dan Kota Salatiga, pemerintah daerah setempat melakukan pemantauan di lapangan lepas gempa.

Informasi sementara dari wilayah tersebut, sejumlah mengungsi sementara di sekitar rumah mereka.

Pusdalops BNPB menerima informasi, warga yang berada di kedua wilayah Jateng itu merasakan guncangan lemah saat gempa magnitudo (M)3,0 terjadi tengah malam.

BPBD Kota Semarang menginformasikan, warganya merasakan guncangan lemah dengan durasi 2 hingga 4 detik. Sedang Dinas Satpol PP Kota Salatiga mencatat guncangan berlangsung 1 hingga 2 detik.

Parameter gempa dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika menyebutkan gempa terjadi pada Sabtu (23/10) sekitar pukul 00.32 WIB lalu, dengan pusat gempa berada pada 13 kilometer barat laut Kota Salatiga dengan kedalaman 6 kilometer.

BMKG mengidentifikasi kekuatan gempa pada dini hari itu diukur dengan skala Modified Mercalli Intensity atau MMI, berada pada I – II MMI di wilayah Ambarawa, Jawa Tengah.

Sesudah gempa tersebut, Pusdalops BNPB telah melakukan koordinasi dengan BPBD terdampak maupun BPBD Provinsi Jateng. Informasi terdampak bakal disampaikan selanjutnya setelah mendapatkan data ataupun informasi yang terkonfirmasi dari pemerintah daerah setempat.

Rangkaian gempa dangkal terpantau 24 kali sejak gempa pertama pada Sabtu (23/10) sekitar pukul 00.32 WIB. Gempa susulan terjadi sekali, Pusdalops BNPB mencatat sejumlah gempa dengan magnitudo kurang dari M5,0 terjadi dari pagi.

Analisis inaRISK mengidentifikasi sebanyak 33 wilayah administrasi setingkat kabupaten dan kota berada pada potensi bahaya gempa bumi kategori sedang hingga tinggi. Beberapa wilayah itu meliputi Kota dan Kabupaten Semarang, Kota Salatiga maupun Ambarawa.

Meski magnitudo relatif kecil, masyarakat setempat diimbau untuk tetap waspada dan siap siaga terhadap potensi dampak guncangan gempa dangkal.

Dilihat dari catatan historis, beberapa gempa merusak pernah terjadi di sektiar wilayah utara, seperti gempa yang dirasakan di Salatiga (1872), Kota Semarang (1856), Ambarawa (1866) dan Kudus (1877).



Sumber: Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari. 

Editor : Sahdan

Berita Terkait