Pekanbaru, katakabar.com - PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) membukukan laba bersih sebesar Rp27,9 miliar pada tahun 2025.
Dalam periode tersebut, perusahaan pelat merah itu juga mencatatkan surplus Rp2,86 triliun dari pengelolaan sekitar 1,7 juta hektar lahan sawit hasil penertiban Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH).
Besaran laba tersebut menuai sorotan dari kalangan petani sawit di Provinsi Riau. Mereka menilai keuntungan yang disampaikan manajemen Agrinas tidak sebanding dengan luas kebun yang dikelola.
Salah seorang petani sawit di Riau, Abdul Aziz, menyebut pernyataan Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara, Mohammad Abdul Ghani, sulit diterima secara logika.
"Pernyataan yang disampaikan Dirut Agrinas Palma Nusantara dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR, yang awalnya menyebut laba bersih selama 2025 hanya Rp2,7 miliar, menurut saya tidak masuk akal. Sehari kemudian pernyataan itu diralat menjadi Rp27 miliar," ujar Aziz saat diwawancarai di Pekanbaru, Jumat (10/7).
Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Sawitku Masa Depanku (SAMADE) itu, angka laba Rp27 miliar tetap dinilai terlalu kecil jika dibandingkan dengan aset perkebunan yang dikelola perusahaan.
Aziz mengacu pada penjelasan Dirut Agrinas yang menyebut dari total 1,7 juta hektar lahan, sekitar 730 ribu hektare merupakan areal yang telah ditanami sawit.
"Saya ikuti saja penjelasan Pak Abdul Ghani. Misalnya dari 730 ribu hektar itu, keuntungan bersihnya hanya Rp1 juta per hektar setiap bulan. Itu sudah hitungan yang sangat rendah, tanpa pemupukan dan hanya dipanen saja. Hasilnya sudah Rp730 miliar per bulan atau sekitar Rp4,38 triliun selama enam bulan pengelolaan," katanya.
Ia mempertanyakan ke mana kontribusi pendapatan dari 23 pabrik kelapa sawit (PKS) yang juga diserahkan Satgas PKH kepada Agrinas.
"Itu baru dari hasil kebun. Belum lagi ada 23 unit PKS yang ikut dikelola. Jadi menurut saya ada sesuatu yang sangat tidak lazim," ujarnya.
Kelola Lahan Sawit Sitaan 1,7 Juta Hektar, Agrinas Hanya Untung Rp27,9 Miliar, Petani Minta KPK Audit Investigatif
Diskusi pembaca untuk berita ini