“Kesalahan kecil dalam identifikasi part bisa bikin bongkar pasang ulang, buang waktu, bahkan biaya jadi lebih besar,” timpalnya.

Menariknya, Kenny mengklaim sistem SOP ketat tersebut berhasil menekan kesalahan identifikasi hingga mendekati nol.

“Kalau semua data lengkap dan prosesnya diikuti benar, sebenarnya kemungkinan salah identifikasi bisa sangat kecil,” imbuhnya lagi.

Saat ini Bravo Motor menangani penjualan melalui berbagai jalur, mulai dari toko offline, marketplace, WhatsApp, hingga webstore.

Dalam 12 hari aktif selama Mei 2026 saja, sistem internal mereka mencatat lebih dari 6.700 chat pelanggan dengan rata-rata lebih dari 560 percakapan per hari.

Angka tersebut menurut Kenny menunjukkan bahwa bisnis sparepart modern semakin bergeser menjadi bisnis berbasis komunikasi dan presisi data.

Dari Toko Sparepart Menjadi Precision Parts Sourcing

Didirikan oleh Hengky Purnomo pada 1996, Bravo Motor awalnya beroperasi sebagai toko sparepart konvensional di Surabaya dengan fokus utama kendaraan Honda.

Tetapi, seiring perkembangan industri otomotif dan perubahan perilaku konsumen, bisnis tersebut mulai berkembang menjadi layanan precision and reliable parts sourcing untuk berbagai merek kendaraan.

Menurut Kenny, masa depan industri sparepart tidak lagi hanya bergantung pada stok barang.

“Ke depan, yang paling penting bukan cuma punya barang. Tapi kemampuan menerjemahkan kebutuhan kendaraan menjadi identifikasi part yang akurat,” katanya.

Ia menilai toko sparepart modern kini berperan sebagai penghubung antara bahasa bengkel, data kendaraan, kebutuhan konsumen, dan informasi teknis produk.

Di tengah semakin terbukanya akses pembelian sparepart secara online, Kenny justru melihat edukasi dan konsultasi akan menjadi nilai paling penting dalam industri ini.

“Semakin mudah orang membeli sparepart sendiri, semakin penting juga komunikasi yang benar supaya tidak salah beli,” ulasnya.

Bagi Bravo Motor, transformasi bisnis sparepart bukan lagi sekadar menjual komponen kendaraan. Di era digital, akurasi informasi dan kemampuan membaca kebutuhan teknis pelanggan justru menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan jangka panjang.